Pak Kartiko Yth, Soalnya saya kesel banget sama pembesar2 kita yang hidup bermewah2, apalagi korupsi. Sementara banyak anak2 yang busung lapar, polio, sedih banget,
Slm, tt ----- Original Message ----- From: <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Friday, June 17, 2005 10:30 AM Subject: Re: [iagi-net-l] OOT:Fenomena Mobil Mewah di Negeri Miskin (mungkin berhubungan dengan otoda di daerah kaya minyak..) > baru sekali ini mbak Titi ngomentarin email di iagi :-)) > > Regards > > Kartiko-Samodro > Telp : 3852 > > > > > > "Titi Tabusalla" <[EMAIL PROTECTED]> > 17/06/2005 11:14 AM > Please respond to iagi-net > > > To: <[email protected]> > cc: > Subject: Re: [iagi-net-l] OOT:Fenomena Mobil Mewah di Negeri Miskin (mungkin > berhubungan dengan otoda di daerah kaya minyak..) > > > Ember, > tt > ----- Original Message ----- > From: "Noor Syarifuddin" <[EMAIL PROTECTED]> > To: <[email protected]> > Sent: Thursday, June 16, 2005 3:22 AM > Subject: Re: [iagi-net-l] OOT:Fenomena Mobil Mewah di Negeri Miskin > (mungkin > berhubungan dengan otoda di daerah kaya minyak..) > > > > Soal "Pakem" memang agak susah ya pak Leo..... > > > > = para menteri akan merasa tidak "wibawa' kalau cuman naik kijang...jadi > > walaupun harus utang kanan kiri, negara harus beli mobil sedan yang jauh > > lebih mewah.... > > > > = para menteri akan merasa kurang percaya diri kalau kursi kerjanya dari > > kursi ukir jepara, jadi haru beli ya impor dari Italy....(liat foto-foto > di > > Tempo kalau seorang menteri diwawancara...). > > > > = kita akan merasa "ketinggalan mode" kalau masih pakai HP yang tidak > triple > > band, tidak mendukung GPRS atau tidak ada alat photonya....(padahal HP > kita > > cuman dipakai telepon dan kirim SMS doang).... > > > > Kita memang sudah dibelenggu "pakem-pakem" itu yang entah asalnya > > darimana..... > > Dari dunia modern...? ini maksudnya dunia yang mana... Eropa, Amerika..? > > rasanya tidak juga...... > > Karena di sini (Eropa) orang betul-betul dihargai dari prestasi dan > > kontribusinya ke masyarakat, bukan dari dia naik Ferari atau naik bus > > umum.....Tony Blair sering banget naik tube di London, PM Perancis > > kendaraannya tidak lebih dari Peugeot 307 sajah, menetri di Belanda > masih > > suka naik sepeda.........bahkan makan siangnya di kantin yang ramenya > bukan > > main....... > > > > Kalau soal suka pamer kekayaan, maka saya justru curiga ini asalnya dari > > negara ketiga (hik...). Coba saja perhatikan orang Afrika di mana saja > > (termasuk yang sudah mengaku jadi afro-amerika)..... mereka paling suka > > "pamer" kekayaan........kalung emas, rantai emas, sampai mobil > mewah....... > > > > salam, > > > > ps. semboyan kita memang : biar miskin yang penting gaya he he he > > > > > > > > ----- Original Message ----- > > From: "Leonard Lisapaly" <[EMAIL PROTECTED]> > > To: <[email protected]> > > Sent: Wednesday, June 15, 2005 2:50 AM > > Subject: RE: [iagi-net-l] OOT:Fenomena Mobil Mewah di Negeri Miskin > (mungkin > > berhubungan dengan otoda di daerah kaya minyak..) > > > > > > > > > > Suka atau tidak suka, dimana saja orang terbelenggu oleh "pakem" dunia > > modern > > (bukan kultur Indonesia menurut saya) bahwa penampilan adalah nilai > tambah. > > Saya ingat banyak orang ribut ketika melihat pengusaha Bob Sadino ikut > rapat > > di DPR dengan dengan celana pendek. Sebaliknya banyak juga sih orang > yang > di > > kantor rapi luar biasa, tapi kalau sudah di luar kantor bisa super cuek > > dengan penampilannya. Yang perlu disorot mungkin orang yang gagah2an > berkat > > uang haram. Kalau ada dua orang kaya, yang satu memilih berpenampilan > > sederhana, sedang yang satu mengikuti trend, mungkin mereka memang > (meminjam > > istilah iklan) bedaaa .... > > > > LL > > > > -----Original Message----- > > From: Noor Syarifuddin [mailto:[EMAIL PROTECTED] > > Sent: Sunday, June 12, 2005 10:32 PM > > To: [email protected] > > Subject: Re: [iagi-net-l] OOT:Fenomena Mobil Mewah di Negeri Miskin > (mungkin > > berhubungan dengan otoda di daerah kaya minyak..) > > > > Balik ke akar dasar kultur kita : Orang dihargai dari penampilan....... > > > > - kalau dia pakai jas dan dasi, maka dia akan dihargai oleh orang karena > > dianggap eksekutif..... > > - kalau orang naik mobil mewah, dia lebih dihargai oleh orang karena > > dianggap > > sukses > > > > TAPI, pernahkan masyarakat kita menghargai : > > - para anggota pemadam kebakaran yang setiap saat harus berjuang dengan > maut > > dalam pekerjaannya..? > > - para guru sekolah negeri yang harus menyambung hidup dengan mengojek > di > > malam hari..? > > > > Jadi penghargaan lebih cenderung karena penamipilan dan kekayaan.... > TIDAK > > PEDULI kekayaan itu datangnya dari hasil korupsi atau hasil merampok > uang > > rakyat...... > > > > > > salam, > > > > (pernah dianggap security VICO oleh kasir bank, karena ngantornya gak > pake > > dasi...hik..hik...) > > > > > > > > > > > > ----- Original Message ----- > > From: <[EMAIL PROTECTED]> > > To: <[email protected]> > > Sent: Friday, June 10, 2005 3:09 AM > > Subject: [iagi-net-l] OOT:Fenomena Mobil Mewah di Negeri Miskin (mungkin > > berhubungan dengan otoda di daerah kaya minyak..) > > > > > > > Sori rada enggak nyambung ama geologi... > > > mungkin berhubungan dengan otoda di daerah kaya minyak juga... > > > > > > ----------------------------------- > > > Fenomena Mobil Mewah di Negeri Miskin > > > > > > Walau masuk dalam deretan negeri termiskin (dan terkorup) di dunia, > > > gaya hidup pejabat Indonesia amatlah glamour. Ada kisah menarik dari > Prof. > > > Nurcholish madjid. Kala masih sehat. Menjelang pemilu legislative 2004 > > > lalu, Cak Nur menyempatkan diri berkunjung ke Redaksi Pikiran Rakyat, > > > Bandung. Saat itu Cak Nur didaulat berbagai komponen masyarakat untuk > > > mencalonkan diri jadi presiden. Dalam kesempatan itu, Cak Nur > > > menyinggung gaya hidup para pejabat tinggi Indonesia yang sering jadi > > > bahan perbincangan sinis para petinggi negara-negara lain. "Mereka > > > bilang, Indonesia itu dikenal sebagai negara yang utang luar negerinya > > > sangat besar, tapi gaya hidupnya mewah," ujar Cak Nur. > > > > > > Ia memberi contoh konkret. Ketika para pejabat tinggi kita melawat ke > > > luar negeri untuk menghadiri sidang-sidang bilateral, multilateral > > > atau berskala internasional lainnya. Rombongan delegasi kita itu > > > datang ke tempat sidang dengan mengendarai mobil mewah. Sebaliknya > > > delegasi dari negara-negara lain yang juga datang ke sidang yang sama > > > justru mengendarai trem atau kendaraan umum. "Padahal mereka adalah > > > para pejabat tinggi dari negara-negara kaya, termasuk yang memberi > > > utang kepada Indonesia," ujar Cak Nur. > > > > > > Orang asing pun heran melihat kenyataan sehari-hari di Indonesia pada > > > tahun-tahun awal krisis moneter yang berlanjut jadi krisis ekonomi. > > > Dalam suasana krisis pun, mobil mewah tetap berseliweran di jalanan > > > kota-kota besar di negeri ini. Sebagian masyarakat tetap menjalani > > > hidup mewah layaknya tanpa suasana krisis. > > > > > > Sense of crisis agaknya memang barang teramat langka yang dimiliki > > > pejabat kita. Belum kering daratan Aceh akibat terjangan tsunami tiga > > > bulan lalu, pemerintah SBY-kalla sudah menghambur-hamburkan uang > > > rakyat untuk membeli 60 unit mobil Toyota Camry untuk pejabat negara > > > senilai Rp > > > 21 miliar, yang awalnya dipakai untuk mobil delegasi peserta KTT Asia > > > Afrika di Bandung kemarin. Padahal Aceh dan pelosok negeri, masih > > > teramat banyak orang kelaparan. > > > > > > Setelah digunakan untuk kegiatan KTT Asia Afrika, semua mobil itu akan > > > dijadikan mobil dinas pejabat negara. Sekretaris Negara Yusril Ihza > > > Mahendra memaparkan, 18 unit mobil akan digunakan oleh ketua dan wakil > > > ketua lembaga negara, 35 unit untuk para menteri, satu unit untuk > > > pejabat setingkat menteri, dua unit untuk isteri presiden dan wapres, > > > serta empat unit untuk cadangan. > > > > > > "Anggarannya akan diambil dari APBN," ucapnya enteng. Tidak dikatakan > > > bahwa APBN itu asalnya uang rakyat yang dipajakin negara. Dengan kata > > > lain, rakyat Indonesia gajinya dipotong guna membelikan para pejabat > > > yang sudah makmur itu, termasuk isteri SBY dan isteri Kalla yang > > > sebenarnya tidak ikut dipilih rakyat, sebuah mobil Camry luks berikut > > > biaya perawatan dan segala aksesorisnya. > > > Walau "hanya" seharga Rp 350 juta per unit, hal ini juga dianggap > > > pemborosan. Sebab, mobil dinas para pejabat yang sekarangpun > > > sebenarnya masih sangat bagus. > > > > > > Kalau pun untuk 'menjamu' kepala negara delegasi KTT,maka mengapa > > > tidak menyewa mobil secara harian saja. Harga rental mobil mewah hanya > > > sekitar > > > 5 juta perhari lengkap dengan supir dan biaya perawatan. Dengan sewa > > > 60 unit mobil mewah hanya butuh biaya Rp 300 juta. Bukankah ini jauh > > > lebih murah ketimbang harus merogoh kocek Rp 21 miliar? Banyak > > > kalangan menyatakan ini hanyalah akal-akalan pejabat negara untuk > > > ganti mobil baru. Gila, memang. > > > Sikap rezim SBY-Kalla tidak ada bedanya dengan kelakuan rezim-rezim > > > sebelumnya. Saat Mega berkuasa, saat KTT ASEAN di Bali 7-8 Oktober > > > 2003, pemerintah memborong mobil BMW Seri 7 untuk para kepala negara > > > dan Seri > > > 5 untuk pejabat setingkat menteri. > > > Harga BMW Seri 7 yang termurah (735Li) adalah Rp 1,88 miliar, sedang > > > harga termurah BMW Seri 5 (tipe 530) adalah Rp. 815 juta. Dengan > > > demikian, dana yang diperlukan minimal sekitar Rp. 50 miliar. Ini > > > taksiran terendah dan belum termasuk biaya pemeliharaan dan > sebagainya. > > > Waktu Gus Dur menghuni istana negara, ia juga bersikap sama.Pada KTT > > > G15 (konperensinya negara-negara miskin) pemerintahan Gus Dur > > > menyediakan 50 mobil mewah (dari rencana sebelumnya 400 unit) yang > > > terdiri dari Mercedes Benz Seri S-500, S-600, ML-320, Audi A-6, Nissan > > > Patrol, dan VW Caravelle. Puluhan miliar rupiah uang rakyat > > > dihambur-hamburkan. Negara dirugikan Rp 140 miliar dari kasus ini. > > > Di era Soeharto, untuk para kepala ekonomi negara-negara APEC pada > > > pertemuan di Istana Bogor (1994), 200 mobil mewah seperti Mercedes > > > Benz S-600 dan BMW 740 diimpor. Sebelumnya, pada KTT ke-10 Nonblok > > > tahun 1992, Soeharto juga mengimpor monil luks built-up Mercedes Benz > > > 300 SEL (110 unit), Volvo 960 (210 unit), Nissan Patrol (210 unit), > > > dan VW Caravelle (210 unit) untuk para delegasi. > > > Tabiat pejabat negara ternyata dengan amat baik diteladani oleh > > > pejabat daerah. Baru-baru ini, Gubernur Riau Rusli Zainal dikabarkan > > > membeli dua unit Mercedes Benz yang hanya akan dipakai selagi berdinas > di > > Jakarta. > > > Hal ini menuai protes. Ketua LSM Forum Masyarakat Peduli Indragiri > > > Hulu > > > (FMPI) Dedi Yusnianto menuntut agar pembelian dua unit Mercedes Benz > > > senilai Rp 2 miliar itu diusut. > > > Dedi menilai, hal itu amat menyakitkan hati warga Riau. Sebab, selama > > > ini Rusli Zainal dalam acara-acara resmi pemerintahan, selalu > > > mengklaim angka kemiskinan di Riau lebih dari 40 persen. Tapi aneh, di > > > tengah kemiskinan rakyatnya, Rusli tega membeli mobil mewah. > > > "Ini aneh, tiap kali bicara, selalu saja rakyat Riau miskin. Tapi > > > mobil dinasnya di Jakarta harganya malah lebih mahal dari mobil dinas > > > menteri yang hanya Toyota Camry seharag Rp 350 juta,"kata Dedi. > > > Yang anehnya lagi, kata Dedi, mobil dinas gubernur di Pekanbaru saja > > > hanya sebuah mobil Toyota Crown. Itu artinya, dalam aktivitas > > > sehari-hari di Riau, Rusli Zainal ingin menunjukan kesederhanaan pada > > > rakyatnya. > > > "Eh, giliran berdinas di Jakarta, dia malah pakai Mercy. Ini > > > menyakitkan hati masyarakat Riau. Tega-teganya ditengah kemiskinan > > > warganya dia enak-enakan di Jakarta pakai Mercy. Ini baru setahun dia > > > menjabat, bagaimana empat tahun lagi?"sindir Dedi. > > > Di tahun 2003, Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) Asmawi Agani > > > mengusulkan pembelian empat mobil mewah senilai Rp 5,7 milyar dalam > > > RAPBD 2003. Usulan ini mendapat reaksi keras. Di kalangan DPRD > > > Kalteng, ada yang pro ada pula yang kontra. > > > Menurut informasi yang ada, yang ingin dibeli adalah dua unit Volvo > > > SERI 960 denagn nilai Rp 3 miliar, satu unit Jeep Land Rover Discovery > > > (4x4) senilai Rp 1,5 miliar, dan sebuah bus eksekutif seharga Rp 1 > miliar. > > > Total Rp 5,7 miliar. > > > Usulan ini timbul di tengah kondisi masyarakat Kalteng yang > > > mengenaskan. Dari 394.354 keluarga yang ada, sekitar 118.306 keluarga > > > (30%) masih hidup dibawah garis kemiskinan. > > > Di Kalimantan Timur, di bulan Mei 2003, pejabat dan anggota DPRD > > > Kabupaten Panajam Paser Utara yang baru terbentuk 10 bulan juga > > > dikecam lantaran mendahulukan membeli mobil mewah seperti Nissan > > > Terano untuk dinas, ketimbang mendahulukan pengerjaan pelayanan kepada > > > masyarakat seperti menyediakan air bersih, jaringan listrik, dan > > > pembangunan jalan menuju permukiman. > > > "Sudah puluhan tahun kami tinggal disini, tetapi belum mendapatkan > > > aliran listrik dan air bersih," ujar seorang warga Desa Sebakung, > > > Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara. > > > Untuk penerangan, selama puluhan tahun mereka terpaksa menggunakan > > > lampu minyak tanah. Sedang air bersih sangat sulit diperoleh sehingga > > > warga terpaksa membeli air pikulan seharga Rp 2.500 per jerigen isi 20 > > liter. > > > Menurut penduduk, keluhan soal air bersih dan listrik serta pembelian > > > mobil mewah oleh aparat pemerintah kabupaten sudah disampaikan kepada > > > Wakil Gubernur Kalimantan Timur Bidang Kesejahteraan Rakyat Yurnalis > > > Ngayoh, saat mengunjungi Desa Gunung Intan yang lokasinya berdekatan > > > dengan Desa Sebakung. > > > Wakil Gubernur menyarankan agar penduduk jangan mengandalkan sambungan > > > air ledeng, tetapi berupaya membuat pompa air sendiri, sedang listrik > > > memang belum ada jaringan. "Justru masalahnya disini tidak ada listrik > > > sehingga tidak mungkin membuat pompa air," tukas seorang warga. > > > Di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat pada April 2003, DPRD setempat juga > > > memberi izin Pemkab Ciamis untuk membeli mobil mewah jenis Land Rover > > > Discovery seharga lebih dari Rp 1 miliar untuk kendaraan dinas Bupati. > > > Ironisnya, hal tersebut terjadi saat Kabupaten Ciamis masih mempunyai > > > pekerjaan rumah yang terbengkalai di sana-sini. Menurut catatan Pemkab > > > sendiri, Ciamis saat itu masih ada 17.000 balita kekurangan gizi, 400 > > > balita bergizi buruk, lebih dari 113 bangunan SD rusak berat, 75% > > > puskesmas rusak, dan masih banyak sarana serta fasilitas umum lain > > > yang rusak dan memerlukan perhatian. > > > Dari Padang, pada Oktober 2004 pimpinan DPRD -nya malah meminta > > > fasilitas mobil baru. Pos pengadaan kendaraan bermotor pada > > > sekretariat daerah bertambah bengkak Rp 2,9 miliar. Anggaran itu > > > dialokasikan untuk membeli 13 unit mobil. Satu unit Toyota Camry untuk > > > ketua DPRD dan 3 unit Toyota Altis untuk wakil-wakilnya. > > > Cirebon tidak mau ketinggalan. Di awal Desember 2004 DPRD Kabupaten > > > Cirebon berniat membeli sejumlah kendaraan beroda empat yang dikatakan > > > untuk keperluan kendaraan operasional atau dinas. Pos anggaran untuk > > > keperluan pembelian mobil mewah itu sudah dirancang dan besarnya > > > mencapai Rp 1,5 miliar. > > > Mobil itu diperuntukkan bagi unsur pimpinan, dari mulai wakil ketua > > > sampai ketua fraksi dan ketua komisi-komisi. Untuk dua wakil ketua > > > dewan, direncanakan diberi jantah sedan Toyota Altis seri terbaru yang > > > harganya di atas Rp 250 juta. > > > Saat dikonfirmasikan wartawan, Ketua DPRD Cirebon Tasiya Soemadi > > > Al-Gotas,S.E., menyatakan hal itu sebenarnya wajar. "Lihat saja, > > > Majalengka yang PAD-nya jauh lebih kecil dari Cirebon saja (kendaraan > > > dinasnya) sudah sekelas Nissan Terrano dan (Mitsubishi) Kuda," > ujarnya. > > > Sikap yang lebih pede datang dari Bekasi. Pada Oktober 2004, Wakil > > > Ketua DPRD Kota Bekasi Dadang Asgar Noor menuntut fasilitas kendaraan > > > dinas Nissan Terrano untuk pimpinan dewan. Alasannya, menurut > > > undang-undang, pimpinan dewan memiliki derajat sama dengan walikota. > > > Dengan begitu, strata sosialnya lebih tinggi dibandingkan masyarakat > > > biasa sehingga berhak memiliki mobil mewah. > > > "Kita minta hanya sesuai dengan porsinya, masa wakil rakyat nanti > > > hanya diberi mobil Toyota Avanza," kata Dadang dari Fraksi Partai > > > Demokrat, daerah pemilihan Kelurahan Jati Asih. > > > > > > Sebenarnya Bagian Perlengkapan DPRD Kota sudah menawarkan kendaraan > > > dinas Suzuki Escudo yang sebelumnya digunakan Wakil Ketua DPRD periode > > > 1999-2004, Salim Musa, tapi Dadang menolak mentah-mentah. > > > Dadang tetap berkukuh mendapatkan mobil mewah. Mengenai gerakan anti > > > mobil mewah yang saat ini mulai berdengung secara nasional, Dadang > > > mengaku tidak perduli. "Kami mintanya yang tidak malu-maluinlah, saya > > > ini mewakili 25 ribu orang di daerah saya," kata dia. > > > Hanya saja Dadang tidak sadar, ke 25 ribu orang yang merupakan > > > 'tuannya' kebanyakan belum mampu beli mobil, mosok wakilnya saja minta > > > mobil mewah. Ini sungguh-sungguh memalukan! > > > > > > Kegilaan pejabat Indonesia terhadap mobil mewah bisa dilihat dari > > > temuan yang terjadi di Jakarta Motor Show (JMS) 2004 di Senayan. Dalam > > > acara yang banyak memajang mobil super mewah itu, antara lain mobil > > > Bentley seharga Rp 5 miliar per unitnya, pada posisi tanggal 9 > > > September 2004 sudah tercatat belasan orang yang membeli mobil Bentley > > > tersebut dengan cara indent! > > > Berita ini kurang menggema di masyarakat Indonesia karena tersaput > > > berita bom besar yang meledak di depan Kedubes Australia di Kuningan > > > pada tanggal yang sama. > > > > > > Fenomena mobil mewah yang banyak digilai para pejabat Indonesia -untuk > > > membelinya pakai uang rakyat- menggambarkan betapa para pejabat kita > > > sama sekali tidak berpihak pada rakyatnya melainkan berpihak pada hawa > > > nafsunya semata. "Dari sepuluh peraturan yang dikeluarkan birokrat, > > > sembilan buahnya berpihak pada kantongnya," tulis Sosiolog Arief > > > Budiman yang kini menetap di Australia dalam sebuah bukunya. > > > > > > Satu contoh yang paling baik tentang 'kepedulian' pemerintah terhadap > > > rakyatnya adalah perbandingan besarnya anggaran untuk Gubernur DKI > > > Jakarta Sutiyoso dan anggaran untuk Komisi Nasional Perlindungan Anak. > > > RAPBD DKI Tahun 2005 telah mengesahkan dana belanja Sutiyoso selama > > > satu tahun adalah sebesar Rp 4,429 miliar. Dana itu antara lain > > > terdiri dari pos biaya baju Gubernur Sutiyoso Rp 40 juta, alat tulis > > > gubernur Rp 151 juta, pemeliharaan ruangan kerja gubernur Rp 400 juta, > dan > > sebagainya. > > > Coba bandingkan besarnya belanja Sutiyoso itu dengan jatah untuk > > > Komnas Perlindungan Anak. Untuk biaya operasional Komnas Perlindungan > > > Anak, yang berasal dari APBN, satu tahun pemerintah hanya memberikan > > > dijatah Rp 22 juta! Inilah contoh bagus bentuk kepedulian pemerintah > > > kita terhadap rakyatnya. > > > > > > Majalah Saksi No. 16 Tahun VII 11 Mei 2005 > > > > > > > > > > > > Regards > > > > > > Kartiko-Samodro > > > Telp : 3852 > > > > > > > > > --------------------------------------------------------------------- > > > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > > > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit > > > IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: > > > http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > > > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > > > Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina > > (Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id > > > Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id) Komisi > > > Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id) Komisi Sertifikasi : > > > M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com) Komisi OTODA : Ridwan > > > Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau > > [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id) > > > Komisi Database Geologi : Aria A. > > > Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id) > > > --------------------------------------------------------------------- > > > > > > > > > > > > > > --------------------------------------------------------------------- > > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI > > Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: > > http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > > Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina > > (Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id > > Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id) Komisi > Karst > : > > Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id) Komisi Sertifikasi : M. > > Suryowibowo(soeryo[at]bp.com) Komisi OTODA : Ridwan > > Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi > > Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id) > > Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id) > > --------------------------------------------------------------------- > > > > > > --------------------------------------------------------------------- > > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > > Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina > > (Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id > > Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id) > > Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id) > > Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com) > > Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau > > [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id) > > Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id) > > --------------------------------------------------------------------- > > > > > > > > > > > > --------------------------------------------------------------------- > > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > > Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina > (Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id > > Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id) > > Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id) > > Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com) > > Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau > [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id) > > Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id) > > --------------------------------------------------------------------- > > > > > > --------------------------------------------------------------------- > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina > (Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id > Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id) > Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id) > Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com) > Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau > [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id) > Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id) > --------------------------------------------------------------------- > > > > > > --------------------------------------------------------------------- > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina (Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id > Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id) > Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id) > Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com) > Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id) > Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id) > --------------------------------------------------------------------- > --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina (Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id) Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id) ---------------------------------------------------------------------

