Bikin public transportasi yang bagus...pajak mobil naikin sampai
pol....jadi orang akan milih public transportasi dibandingkan kendaraan
pribadi....
asal enggak pake KKN pasti bagus....
Regards
Kartiko-Samodro
Telp : 3852
"Bambang Murti" <[EMAIL PROTECTED]>
23/06/2005 12:39 PM
Please respond to iagi-net
To: <[email protected]>
cc:
Subject: [iagi-net-l] Transportasi Kota - Social Cost
Puyeng mengenai BBM, mendadak aku kok kepikiran dengan masalah yang satu
ini. Kemacetan di jalan.
Ini asumsi kasar saja, untuk di Jakarta dan sekitarnya dulu. Misal real
value dari BBM 3000 perak.
Seandainya, jumlah mobil ada 4 juta (ini realistis ndak ya?). Misalnya,
yang aktif klayapan ada 2 juta dan tiap kendaraan menghabiskan 10 liter
perhari dan 40%-nya terbuang karena in-efisiensi (macet, nunggu VVIP
lewat, nunggu bini belanja di pasar, etc), maka dalam sehari sudah
terbuang 4 liter x 2 juta, sudah 8 juta liter yang terbuang. Ini real
value-nya sudah mencapai 24 Milyar per hari, sebulan ? setahun ?
Angkot (heran, di kota metropolis koq masih ada ya), ini biang
kemacetan, katakanlah juga ada 100,000 kendaraan. Lantas mereka
menghabiskan 50 liter sehari, karena mereka biang kemacetan, kita pakai
tingkat konsumsi yang lebih ekstrim, 50% in-efisiensi, jadi per angkot
akan membuang 25 liter per hari, artinya setara dengan 2,5 juta liter
perhari. Ini sama saja, 7,5 milyar perak per hari. Lah, supir-supir
angkot dapetnya berapa? Paling juga 30 - 40 ribu per hari.
Seandainya angkot dihapus, trus subsidi BBM dikasihin ke mereka,
biarlah, anggap saja social cost, tiap supir sudah dapet 75 ribu per
hari. Bayangkan tuh, udah 2 kali lipat dari pendapatan harian mereka!!
VVIP lewat, hmm, kalau mereka mau pakai helikopter aja, misalnya per jam
sewanya US$ 2,000, dan karena mereka mau lewat, maka kendaraan pada
nunggu, 15 menit aja dan ada 10,000 kendaraan yang terkendala sepanjang
perjalanan, mereka rata-rata ngebuang 1 liter saja, sudah 10,000 x
3,000, jauh lebih mahal dari sewa helikopter, paling juga 10 - 15 menit.
Kerugiannya ndak terlalu muncul, karena menjadi eksternal cost yang
ditanggung rame-rame. Padahal, kalau ini dianggap sebagai biaya subsidi
yang hilang, duh, sudah 10 juta sendiri tuh sekali lewat.
Bini belanja di pasar? Wah, kalau yang ini ndak bisa diganggu gugat,
bisa terjadi drama 1 babak :-(
BSM
----------------------------------------------------------------------
This e-mail, including any attached files, may contain confidential and
privileged information for the sole use of the intended recipient. Any
review, use, distribution, or disclosure by others is strictly prohibited.
If you are not the intended recipient (or authorized to receive
information for the intended recipient), please contact the sender by
reply e-mail and delete all copies of this message.
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]),
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------