Wah diskusi iuran anggota dibawah sana cukup menarik nih.

Idealnya apa yg diungkap pak Waluyo benar bahwa sebagai anggota
haruslah berfikir apa yg saya beri ke organisasi. Namun kita juga
sadar hal ideal ini perlu kerja keras juga, karena sering hanya
menjadi retorik saja. Kesadaran ini bukan muncul dengan sendirinya.
Tentunya sebagai Caketum HAGI, Pak Waluyo sudah mempersiapkan
jurus2-nya, paling tidak akan disosialisasikan pas kampanye .... eh
boleh kampanye belom sih.

Untuk apa iuran anggota ?
Ini bisa dilihat dari dua sisi. Sisi anggota dan sisi pengurus (organisasi). 

Dari sisi anggota, (atau "rakyat" pada umumnya di Indonesia ini)
adalah menuntut haknya setelah kewajiban iuran dipenuhi. Ini hal yang
wajar, dimana-mana akan begitu. Paling tidak dalam bentuk "say hello
!" dari pengurus ke anggota yg sudah memenuhi membayar iurannya (ini
dilakukan AAPG dengan rutin memberikan "say hello" dalam bentuk surat
kecil). Entah berwujud kartu anggota, selebaran (leaflet), hingga
buletin rutin. Bahkan AAPG memberikan 10 years certificate bagi yg
keanggotaannya melebihi 10 tahun. Sebuah ucapan terimakasih yg hanya
selembar kertas seharga kurang dari setengah dolar dibanding iuran
yang 80 dolar. FOSI (anaknya IAGI) tidak menuntut iuran tahun kemaren
karena tidak bisa memenuhi kewajibannya memberikan buletin rutinnya.
Sebuah keputusan FOSI yg menarik utk disimak bagi yg konsen dengan
organisasi profesi. Tuntutan anggota ini memang tanggung jawab
pengurus (pemimpin, dimanapun dia). Hak-hak anggota harus dipenuhi,
termasuk hak memilih dan dipilih dalam kepengurusan. Juga hak
mendapatkan informasi kegiatan organisasi. IPA sangat rajin
mengirimkan info kegiatannya ke saya yang menjadi anggotanya yg sedang
jauh dimata ini, tapi kan deket di hatinya Titi Tabusalla dkk ... :p.
Info ini bentuknya mulai dari yang sangat murah berupa imil, surat
leaflet, hingga buletin.

Dari sisi organisasi (pengurus). 
Iuran dapat berarti uang masuk untuk kegiatan operasi harian. Bila
keuangan organisasi sangat mepet dan iuran menjadi tulang punggung
penggerak kegiatan kesekretariatan, maka jumlah besarnya iuran dan
jumlah yg membayar menjadi sangat penting. Jalannya organisasi akan
ditentukan oleh dana ini. IAGI sangat konsen dengan ini, karena IAGI
memiliki sekretariat lengkap dengan pegawai2 yang harus digaji sesuai
pekerjaannya. Sehingga IAGI sangat memerlukan iuran anggota (eh udah
bayar belum ya gwe ? ;). Iuran IAGI yg hanya "segitu" saja sulit
ditagih, tapi sekretariat harus tetap berjalan karena disitulah titik
awal kegiatan organisasi.
Selain itu iuran anggota juga berarti kontrol keanggotaan. Jumlah
anggota yang sudah membayar iuran tahunan saja yang dapat diklaim
sebagai anggota di tahun berjalan. Dengan demikian akan terkontrol
berapa sebenernya jumlah anggotanya dari tahun ketahun. Ini tantangan
berat !. Pengurus harus aktif menagih ! seperti AAPG dan SEG yg selalu
mengirimkan surat tagihan. Apabila tidak membayar ya tidak diberi
fasilitas apapun dari organisasi. Ini sangat adil fair dan harus
dilihat sebagai kewajaran. IPA melakukan hal yang sama. Iuran menjadi
kontrol jumlah anggota. Nah iuran sebagai kontrol ini mudah dilakukan
apabila organisasi sudah cukup matang, keuangan sudah mantap (ada
income penjualan buku, seminar, lunch talk dll) dan kegiatan
organisasi yg sangat didukung oleh sponsorship (IPA, SPE, IATMI dll)
biasanya organisasi yg deket (langsung) dengan industri.

Jadi ? 
"Ya ... bayar iuran lah yaw ..."

salam.
RDP

On 7/8/05, Waluyo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> SUSAH MENARIK IURAN,  saya rasa ini yang harus bisa KITA RUBAH menjagi MUDAH
> MENARIK IURAN.
> Soal apa yang kita bisa berikan untuk anggota HAGI, tentu kita bisa pikirkan
> dengan lebih baik, yang saya ingin garis bawahi bahwa kita sebagia anggota
> HAGI yang notabene adalah para professional dan juga mengacu kepada AD/ART
> HAGI, sebaiknya kita memulai dengan APA YANG BISA KITA BERIKAN bukan APA
> YANG BISA KITA DAPAT.
> Salam
> 
> Waluyo
> Ps. Huruf besar diatas saya maksudkan sebagai key phrase, bukan berarti yang
> lain
> 
> -----Original Message-----
> From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> 
> Lho menagih iuran sebesar 75,000 saja susah ..... apalagi kalau iurannya
> menjadi 200,000, yang lebih mahal dari IPA.
> Sedangkan dari IPA sendiri para anggota banyak bisa mendapatkan benefit.
> Nah sekarang yang menjadi pertanyaan apa yang bisa HAGI berikan untuk para
> anggota nya dengan iuran sebesar 150-200,000 rupiah  tadi ?
> 
>

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke