Saya Pak Rovicky ??? Masih pak .... saya masih subscribe kok di milist ini, belum ada keinginan untuk unsubscribe tuh .. :-)
Penghematan BBM .... saya setuju sekali. Saya percaya teman2 di IAGI terutama yang bekerja di sektor minyak memiliki data (minimal perkiraan kasar) tentang berapa besar jumlah kandungan minyak yang kita miliki. Kalau teman2 tidak menemukan sumber2 baru atau cara2 baru untuk pengangkatan minyak ... tentunya sudah bisa dihitung, sampai berapa tahun lagi kita dapat disebut sebagai negara penghasil minyak. Oleh karena itu ..... penghematan BBM memang harus dimulai dari diri kita sendiri .... rasanya tidak perlu menunggu adanya suatu keputusan pemerintah. Suatu contoh misalnya penggunaan kendaraan ..... apakah memang diperlukan misalnya si A di Jakarta menggunakan mobil yang ber-cc > 2000, padahal kendaraan tersebut hanya digunakan dari rumah ke kantor dan sebaliknya. Mengapa tidak memilih untuk menggunakan kendaraan dengan cc yang lebih kecil? Pak Rovicky ... PKB (Pajak Kendaraan Bermotor) .... maaf saya tidak bisa share tentang hal ini, karena PKB diadministrasikan oleh Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) dan penerimaan PKB ini dicatat dalam APBD bukan APBN. hanya pendapat. Regards, Ardhie ----- Original Message ----- From: "Rovicky Dwi Putrohari" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Wednesday, July 13, 2005 11:09 AM Subject: Re: [iagi-net-l] Hemat BBM- share dari Rotarian Subagio Aku lebih "mathuk", ikutan manggut2 dengan "Aris style" ... pasar !!! Problem utamanya adalah subsidi komoditi ini akan merancukan pasar. Namun saya bukan penyokong 'free trade' saya lebih suka "FAIR TRADE" .... keseimbangan pasar (penjual-pembeli), bukan kebebasan. Untuk dalam negeri emang tanpa subsidi terlihat akan kompetitif dan natural. Kemandirian akan ada, walopun kita boleh saja kita bersedih bahwa "survival of fittest" masih terlihat kentara disini .... Namun juga bukan bebas pajak .... pajak kendaraan bermotor menurut saya masih diperlukan, karena sehubungan dengan fasilitas jalan yg dilewatinya. Namun dasar pemikirannya karena beban penggunaan jalan ' fair tax'. Jadi disesuaikan dengan beban jalan atau "sesuai berat kendaraan". Kendaraan ringan pajaknya juga ringan. Truk tanah yg sering ngrusak jalan pajaknya mestinya lebih besar. Pajak kendaraan semestinya tidak disesuaikan dengan besarnya cc ataupun harga, ini pemerasan yg mengaku wong mlarat pada wong sugih. Enakan wong sugih ? .. Tunggu dulu ... Pajak "wong sugih" semestinya dimasukkan dalam komponen pajak pendapatan, bukan pada pajak pembelanjaan. Pajak wong sugih ini sebagai bagian karena menikmati perolehan yg berlebih, jg kewajiban menolong wong mlarat ... (hehehe menolong kok dipaksa ya :) btw, tukang palak, .... eh tukan pajak yg di milist masih enggak ya ? RDP --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina (Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id) Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id) ---------------------------------------------------------------------

