ngobrol masalah hemat energi...
di koran ditulis...
rancangan untuk kenaikan tunjangan dan gaji anggota DPR dari 20 juta jadi
48 juta sudah diteken oleh BURT DPR dan akan segera diajukan ke
pemerintah....
48 juta * 1000 = 48 milyar perbulan.....fantastis kan....
Belum lagi anggaran "Melancong" 37 milyar.
Belum lagi uang rapat
Belum lagi mobil plat merah yang dijadikan mobil pribadi....
ditengah hiruk pikuk permintaan untuk melakukan pengehematan dan busung
lapar , itulah yang dilakukan oleh wakil rakyat yang telah anda pilih....



|---------+---------------------------->
|         |           "ismail"         |
|         |           <[EMAIL PROTECTED]|
|         |           id>              |
|         |                            |
|         |           13/07/2005 06:04 |
|         |           PM               |
|         |           Please respond to|
|         |           iagi-net         |
|         |                            |
|---------+---------------------------->
  
>-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------|
  |                                                                             
                                                |
  |       To:       <[email protected]>                                       
                                                |
  |       cc:                                                                   
                                                |
  |       Subject:  [iagi-net-l] Re: HEMAT ENERGI                               
                                                |
  
>-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------|




Kalau angka angkanya penggunaan BBM bervariasi/fluktuatif, namun yang
paling
penting sektor transportasilah yg paling banyak ( lebih 70 an % ), sisanya
sektor Listrik dan industri,. Untuk sektor yg pertama tsb hanya bisa
diganti
( yang paling siap ) dg Gas , namun infra strukturnya yg gak siap (
fasilitas pomp nya sedikit sekali) , padahal perubahan mesin dari BBM ke
Gas
relatif simpel. Sedangkan bahan bakar lain ( batubara cair,bio oil,biodisel

sampai Feulcell ) rasanya masih jauh, yang jelas pabriknya saja belum ada
( kayaknya masih wacana terus menerus , padahal pada waktu riset dilakukan
sudah dikatakan kalau sumber energi ini akan ekonomis pada harga minyak
diatas 35 dollar). Mungkin penambahan BBM untuk transportasi ini sudah
mencapai 10%/thn. , ini terutama dipacu dari masuknya mobil/motor baru.(
coba lihat di Senayan sudah berapa mobil terjual dalam Gaikindo Auto expo
2005 yang baru lima hari ini ).Memang akan dibuka perdagangan bebas
disektor
ini yang diharapkan ada pemain baru masuk, namun rasanya dg harga BBM di
transportasi ini yang tdk ditentukan oleh mekanisme pasar , mungkin para
pendatang baru akan menunda investasinya ( siapa sih mau rugi ).Kecuali
hanya jualan petramax saja.
Disektor Listrik mungkin tidak terlalu mengkawatirkan, karena BBM disini
hanya memainkan peran kira kira 20-30 % dari pembangkit yang ada, dan
penggantinya BBM disektor ini Ibaratnya yang sudah siap sudah Siap Ditempat

, yaitu Gas dan Geothermal, belum lagi batubara yang lebih duluan.( kalau
masih kurang tinggal panggil Nuklir ) Sedangkan untuk yang lain (
Solar,Wind,Biomass atau hidro masih banyak kendala, dan tidak bisa untuk
dipacu besar besaran diatas Ribuan KW ), begitu juga untuk Industri, Jadi
kalau diluar sektor transportasi kayaknya Tidak Begitu mengkawatirkan,
Dikoran pagi ini diberitakan kalau Medco akan bangun PLTP 350 MW, kalau ini

bisa terleaisir ( tdk dihambat birokrasi..... ini biasanya kendalanya ).Dg
kapasitas 350 MW tsb akan dihasilkan energi listrik kira kira 3024 juta
kwh/tahun, kalau 2,5 kwh dibangkitkan dari 1 liter BBM, maka akan hemat
pemakaian BBM sebesar 1209.6 juta liter BBM, lumayanlah.

ISM



>
> Sistem pasar bebas dan kompetitif sih okay saja, itu baik-baik sahaja
> (boleh tahan lak Pak Cik) , tapi dengan satu syarat bahwa komponen
> konsumen
> dalam pasar bebas itu tidak mempunyai gap yang besar, alias berimbang lah
> gitu. Dengan begitu masyarakat pengguna akan punya kekuatan untuk
memilih.
> Lha kalau sistem pasar bebas dalam hal BBM diterapkan di Indonesia yang
> mempunyai masyarakat sangat jomplang purchasing powernya, yak opo seh
rek?
> matek kabeh ne' ngono, mesti  ada sing nulungi (yang nalangi juga boleh).
> PELITA yang pernah dikerjakan oleh bangsa Indonesia sebenarnya mempunyai
> tujuan (salah satunya) untuk  mengecilkan gap purchasing power bangsa,
> sehingga waktu itu dijangkakan pada tahun ke 30, bangsa ini siap menuju
ke
> pasar bebas, yang menurut istilahnya lepas landas. Eh.... dilalah
ternyata
> setelah masuk tahun ke-30 bukannya lepas landas, malah nyungsep ke bumi
> lagi. Maknanya apa????? ada sesuatu yang salah dalam salah satu komponen
> design-nya. Atau designnya sudah okay, tapi ada faktor luar yang
tiba-tiba
> datang ... he...he....he..... wallahu a'lam.
>
> Omong-omong soal hemat BBM, ada gak yang punya map penggunaan BBM oleh
> masing-masing kelompok, misalnya yang digunakan oleh Pabrik berapa,
> Transportasi Umum berapa, de el el. Kemudian map penggunaan BBM oleh
> daerah-daerah propinsi misalnya.
>
> maksih banyak.
>
> rias
>
>
>
>
> |---------+---------------------------->
> |         |           [EMAIL PROTECTED]|
> |         |           onas.com.my      |
> |         |                            |
> |         |           13/07/2005 11:25 |
> |         |           AM               |
> |         |           Please respond to|
> |         |           iagi-net         |
> |         |                            |
> |---------+---------------------------->
>
>  >
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------|
>  |
> |
>  |        To:      <[email protected]>
> |
>  |        cc:
> |
>  |        Subject: Re: [iagi-net-l] Hemat BBM- share dari Rotarian
Subagio
> |
>
>  >
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------|

>
>
>
>
> kalau saya lebih percaya sistem pasar bebas yang kompetitif. harga bensin
> yang dikatrol subsidi merupakan harga semu  yang tidak menguntungkan
semua
> pihak, pasar menjadi semu dan tidak kompetitif. usulan saya adalah sbb:
>
> - hapuskan subsidi bbm secara total, sehingga harga komoditi bbm
merupakan
> harga pasar. tetapi harus dibarengi dengan pencabutan monopoli distribusi
> bbm oleh pertamina, sehingga perusahaan lain bisa bersaing dengan
> kompetitif untuk distribusi bbm. juga harus disertai penghapusan pajak
> kendaraan bermotor.
>
> salam -
>
>
>
>
>
>                      Harry Kusna
>
>                      <[EMAIL PROTECTED]         To:
[email protected]
>
>                      o.com>                   cc:
>
>                                               Subject: Re: [iagi-net-l]
> Hemat BBM- share dari
>                      13/07/2005 11:20         Rotarian Subagio
>
>                      AM
>
>                      Please respond
>
>                      to iagi-net
>
>
>
>
>
>
>
> Sebetulnya ada ide seorang teman (Pak Mac Sarwadhamana di ITB - TF75)
yang
> mengatakan
>
>
> bahwa mungkin ada baiknya subsidi BBM itu ditagih langsung dari pemakai
yg
> tidak "layak" menikmatinya dengan cara pembayaran dimuka, dengan hitungan
> sbb:
>
> Mobil2 plat hitam (dan juga plat merah) dapat diklasifikasikan
berdasarkan
> konsumsi BBM-nya. Misalnya mobil 1500 cc di Jakarta berjalan rata2
> 20000km/thn, dan konsumsi
> BBMnya adalah 1ltr/10km, sehingga konsumsi BBM setahunnya adalah 2000
> liter. Katakanlah misalnya subisidi BBM adalah Rp. 1000 / ltr, sehingga
> subsidi BBM yg dikonsumsi mobil tsb setahun adalah 2000 ltr/thn X
> Rp.1000/ltr = Rp. 2,000,000 /thn.
> Harga inilah yg harus ditagihkan ke mobil tsb di muka pada saat
> perpanjangan STNK.
> Semakin besar cc mobi, maka semakin boros pula konsumsi BBMnya, sehingga
> semakin besar pula nilai subsidi BBM yg harus dia bayar.
>
> Kalau pendapat saya, system ini lebih mengena, karena tidak akan mengenai
> rakyat banyak yg tidak punya mobil. Tetapi dampaknya, mobil2 simpanan yg
> tadinya sedikit berjalan, akan lebih banyak dipergunakan karena
pemiliknya
> merasa telah membayar subsidinya dan akan merasa rugi jika tidak
> menggunakannya. Tidak tahu berapa persen mobil yg bersifat seperti ini
> (mobil simpanan?). Akibatnya lagi, jalan di Jakarta akan semakin macet.
>
>
>
> Ttg penarikan uangnya dan kemungkinan korupsi yg akan semakin marak, saya
> kira dengan era komputer dan budaya anti korupsinya Pak SBY sekarang,
hal2
> di atas seharusnya dapat diatasi.  Data mobilnya jelas, system inventory
> dan postingnya ada secara komputer dan terintegrasi dng system2 lain
> (samsat dsb), jadi saya rasa "agak" sulit untuk diakali.  Yang akan
banyak
> terjadi adalah mungkin dampak sosialnya saja, ant. lain spt.:
>
>     Bgmn dng mobil2 tua yg cc-nya besar2 yg masih digunakan?  Logikanya
> mobil2 spt ini  digunakan oleh kalangan yg ekonominya tertinggal, krn
> mereka tdk mampu membeli yg lebih baru?  Apakah ini berarti mereka2 tidak
> boleh bermobil-ria lagi?  Padahal selama system transportasi belum
> memadai,
> mobil masih akan menjadi kebutuhan primer di masyarakat kita.
>
>     Bgmn dng harga BBM yg murah, yg memungkinkan terjadinya
penyelundupan?
> Dng membayar subsidinya di muka, berarti harga BBM di pasar akan dijual
> dng
> harga bersubsidi (lebih murah dari harga sebenarnya).  Jika dijual ke
> negara tetangga yg harga BBMnya lebih mahal, hal ini akan memberikan
> keuntungan yg menarik.  Bgmn kita mencegahnya?
>
>      Mungkin banyak lagi bagaimananya, yg harus dipikirkan, dan rasanya
> menjadi kewajiban moral kita semua untuk memberi masukan2 ini.
>
> Wassalam - HK
>
> Paulus Tangke Allo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> kalau pakai warna, harga bbm-nya tambah mahal ndak?
> maksudnya, apa perlu pewarna khusus utk mewarnai bbm?
>
> lagipula, kalau sampai berbekas di tangki,
> apa nanti tidak berbekas juga di komponen mesin lainnya?
> bahayakah?
>
>
> --pta
>
> On 7/13/05, [EMAIL PROTECTED]
> wrote:
>>
>> Pengusaha yang punya angkot isi bensin, terus dkeluarin, dijual di
> pinggir
>> jalan dengan harga di antara harga bbm untuk angkot dan bbm untuk
>> kendaraan pribadi ....pasti laku keras...
>> kenapa kok enggak pakai sistem warna saja ya...? kalau angkot mis : bbm
>> warna hijau dan pribadi warna merah...dan ada bekasnya di tangki....
>
>
>
>
> ---------------------------------
> Do you Yahoo!?
> Yahoo! Mail - You care about security. So do we.
>
>
>
>
>
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina
> (Ratna.Asharina[at]santos.com)
> -http://fosi.iagi.or.id
> Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
> Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
> Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
> Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau
> [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
> Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
> ---------------------------------------------------------------------
>
>
>
>
>
>
>
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
>IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina
> (Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
> Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
> Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
> Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
> Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau
> [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
> Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
> ---------------------------------------------------------------------
>
>


---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina (Ratna.Asharina[at]santos.com)
-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau
[EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------






This e-mail (including any attached documents) is intended only for the
recipient(s) named above.  It may contain confidential or legally
privileged information and should not be copied or disclosed to, or
otherwise used by, any other person. If you are not a named recipient,
please contact the sender and delete the e-mail from your system.



---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke