Saya teruskan artikel yang bagus dari milis sebelah,
semoga bermanfaat.
TAM
================================
Membentuk Watak Diri dan Bangsa
Oleh Hj Rahmiana Zein PhD
Guru Besar Universitas Andalas
Senin, 30-Mei-2005, 20:45:32
Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal, aku
bermimpi ingin mengubah dunia. Seiring bertambahnya
usia dan kearifanku Kudapati bahwa dunia tidak kunjung
berubah ....
....(Kutipan An Anglian Bishop, 1100 AD, as written in
the Crypts of Westminster Abbey) ....
.... (dilanjutkan di bawah) ....
Dari kutipan puisi diatas dapat ditarik benang merah
bahwa kemungkinan untuk mengubah watak keluarga,
negeri bahkan dunia akan sangat dimungkinkan jika
kita mulai dari diri sendiri lebih dulu. Mungkin
banyak yang beranggapan bahwa the character building
too good to be true (terlalu indah untuk menjadi
kenyataan).
Bangsa Indonesia sedang "sakit dan menangis", tidak
seorangpun yang bisa membantahnya? Kita harus mulai
sesuatu dengan realitas yang ada. Yaitu dengan
melakukan apa yang bisa kita lakukan. Membentuk watak
adalah hal-hal yang dapat kita lakukan secara bertahap
mulai dari diri sendiri, lingkungan,
masyarakat dan terakhir watak bangsa.
Perubahan watak memang tidak dapat dilakukan langsung,
tapi butuh waktu bertahun-tahun, karena harus dimulai
dari anak mulai mengenal pendidikan.
Kemudian melalui sinergi secara bertahap akan bergulir
layaknya bola salju yang semakin lama semaki besar.
Mudah-mudahan upaya ini akan menyentuh dan
mengikutsertakan seluruh lapisan masyarakat kita.
Membentuk watak merupakan suatu proses yang tidak ada
hentinya. Watak yang terpuji membedakan seseorang yang
hanya menampilkan "sekedar" identitas pribadi dengan
seseorang yang menampilkan diri secara sesungguhnya
atau jati dirinya.
Dengan demikian dalam rangka mempersiapkan seseorang
yang dapat memberi teladan diperlukan adanya watak
terpuji. Watak yang tidak ABS (asal bapak senang)
saja.
Semakin jujur kita, akan semakin lebih tahu kita akan
diri kita. Apakah kita tergolong sedang dalam pikiran
yang dikomando oleh hati yang bersih dan bersyukur
atau oleh hati yang sakit, kotor atau terkotori?
Mudah-mudahan kita tidak dikomando oleh hati yang
mati.
Sebagai hasil introspeksi, membentuk watak harus
dimulai dari menemukan atau menemukan kembali jati
diri kita berarti kita telah kembali ke fitrah. Kita
telah membuka mata hati sehingga roh kita kembali
memberi sinar pada pemikiran, sikap dan perilaku kita.
Kitapun dapat melanjutkan dengan membangun jati diri.
Inilah yang dilakukan dalam membentuk watak.
Bagaimana carnya menemukan kembali dan membangun jati
diri kita? Yaitu dengan mengendalikan hawa nafsu
manusia sesuai dengan ketentuan agama dan dengan
menggunakan pertimbangan pemikiran dan akal sehat
kita.
Dengan cara ini Insyah Allah, kita kembali ke titik
"nol" ke titik awal, ke titik kesucian dan menjadikan
matahati kita terbuka kembali. Kondisi ini kita
gunakan untuk membangun jati diri kita artinya kita
membentuk watak dengan "menempa" lima sikap dasar yang
akan memberi tuntunanan yang sangat mendasar untuk
ditumbuh kembangkan dalam pemikiran sikap dan perilaku
kita untuk menjadi pribadi yang memiliki watak
terpuji.
Kouzes dan Posner menyatakan dari ciri-ciri
kepemimpinan yang sangat didambakan, yang dilakukan
melalui poling didapatkan enam ciri yang menempati
urutan teratas yaitu:
1. Kejujuran
2. Pandangan kedepan
3. Memberi inspirasi/punya ide yang berlian
4. Punya keahlian
5. Berani mengambil resiko dan bertanggung jawab
6. Memenuhi komitmen
Sikap dasar diataslah yang sebenarnya akan menjadi
tuntunan dasar dan fondasi yang kokoh untuk
dikembangkan sehingga menjadi watak yang terpuji.
Pada kebanyakan watak pimpinan Indonesia saat ini
adalah munculnya sikap cari aman dan cari selamat,
sehingga tidak berani melakukan perubahan-perubahan,
apalagi perubahan yang agak spektakuler.
Mudah mudahan ke depan pemimpin yang benar-benar dapat
menjadi panutan akan kita temui, bukan pemimpin yang
sekedar obral janji atau pemimpin yang hanya cari
selamat dan cari aman saja.
Orang bijak mengatakan bahwa: "Jika kekayaan hilang,
sesungguhnya tidak ada apapun yang hilang, jika
kesehatan yang hilang, maka ada sesuatu yang hilang,
sebaliknya jika watak atau karakter pribadi yang
hilang, maka sesungguhnya segalanya telah hilang.
Hj Rahmiana Zein PhD
Guru Besar Universitas Andalas
.... lanjutan (Kutipan An Anglian Bishop, 1100 AD, as
written in the Crypts of Westminster Abbey)....
Maka cita-cita itu pun agak kupersempit. Lalu
kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku, namun
tampaknya, hasrat itu pun tiada hasil.
Ketika usiaku semakin senja, dengan semangatku yang
masih tersisa, kuputuskan untuk mengubah keluargaku,
orang-orang yang paling dekat denganku. Tetapi
celakanya, mereka pun tidak mau diubah.
Dan kini, sementara aku berbaring saat ajal menjelang,
tiba-tiba kusadari "Andaikan yang pertama-tama kuubah
adalah diriku". Maka dengan menjadikan diriku teladan,
mungkin aku bisa mengubah keluargaku. Lalu berkat
inspirasi dan dorongan mereka, bisa jadi akupun mampu
mengubah negeriku. Kemudian siapa tahu, aku bahkan
bisa mengubah dunia.
=================================================
--- Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Semua orang sekarang gampang beringas dan lupa diri.
> Yang menyiksa copet dengan copetnya sendiri
> sama-sama bersalah. Kalau yang disiksa itu bukan
> copet, bagaimana urusannya, tentu di Atas yang akan
> membalas orang-orang yang menyiksa itu.
>
> Penegak hukum pun menyiksa dulu sebelum menanyai si
> tersangka. Dibawa ke pos polisi, PM, AURI memang
> aman dari amukan masyarakat tetapi belum tentu aman
> dari siksaan aparat keamanan.
>
> Orang-orang terpelajar pun sudah biasa tawuran, dari
> anak SD-mahasiswa tawuran, beringas dan lupa diri.
>
> Penonton bola Persita vs Persija tawuran karena
> kesebelasan pujaannya dihina supporter lawan.
> Beringas dan lupa diri, stadion dibakar,
> diawut-awut, lupa bahwa lalu tak bisa dipakai lagi
> untuk pertandingan sepak bola.
>
> Orang-orang terhormat yang duduk di lembaga
> pemerintah pun beringas dan lupa diri, sudah berapa
> kali kejadian kan sidang-sidang mereka lebih mirip
> adu debat kusir dan adu otot.
>
> Ah, susah sekali memperbaikinya. Moralitas, ramah
> tamah, sopan santun, jujur adalah barang2 langka di
> Indonesia. Atas nama agama pun mereka menyiksa dan
> membakar..., apalagi kalau bukan atas nama itu ...?!
>
> salam prihatin,
> awang
>
>
>
>
>
> sujatmiko <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> MASYARAKAT YANG BERINGAS DAN LUPA DIRI
>
>
>
>
> Rekan-rekan Ahli Geologi yang budiman,
>
> Beberapa hari yang lalu, sesaat setelah adzan
> magrib, terdengar suara ribut di depan rumah di
> Jl.Pajajaran Bandung.
>
> Seorang gadis pelajar SLTA tampak menangis histeris
> : "Handphone saya dicopet!". Serombongan orang
> berlari ke arah timur sambil berteriak : "Kejar,
> kejar!". Suasana kemudian hening dan saya pikir
> pasti si pencopet sudah berhasil kabur. Tetapi, tak
> sampai sepuluh menit kemudian, suara ribut kembali
> memecah keheningan : "Copetnya tertangkap, temannya
> yang dua kabur!" Seorang remaja umur dua puluh
> tahunan tampak digiring beramai-ramai ke arah barat.
> Saya mengajak Marwan, staff saya untuk mengikuti
> rombongan tersebut. Sekitar dua puluh meteran dari
> rumah, beberapa orang mulai unjuk kekuatan. Mereka
> bergantian menghantam rusuk si pencopet, meninju
> mukanya dan menendang dadanya.
>
>
>
> Darah mulai menetes dari mulut dan pipi si pencopet.
> Tak berapa lama, tubuhnya rubuh di aspal. Beberapa
> orang masih tega menendang kepala dan bagian tubuh
> lainnya. Saya tak tahan melihat pemandangan yang
> mengerikan itu. Dengan setelan jas yang masih saya
> pakai (baru pulang pertemuan Rotary) dan bekal
> Basmallah, saya berkeyakinan insyaallah dapat
> menjinakkan orang-orang yang sudah kemasukan setan
> tersebut. Saya langsung maju dan memegang serta
> mengangkat leher baju si pencopet. Satu dua
> tendangan dan pukulan masih mendarat.
>
>
>
> Saya berteriak mengingatkan mereka untuk tidak lagi
> menyiksa orang yang sudah tidak berdaya. Mereka
> mulai gentar dan saya memanfaatkan kesempatan
> tersebut untuk membawa si pencopet ke pos AURI yang
> letaknya tidak berapa jauh. Satu dua orang masih
> berani memukul. Sekitar dua puluh meteran sebelum
> pos AURI, si pencopet memeluk saya : "Terima kasih
> Pak, saya diselamatkan, tolong saya Pak, saya tidak
> mencopet !"
>
> Mendekati pos AURI, saya menjadi ragu karena tidak
> satupun dari orang-orang yang beringas tadi yang
> mengikuti saya. Saya mencoba meyakinkan hati saya
> bahwa dengan jas yang saya pakai insyaallah petugas
> provost tak akan bertingkah sembarangan. Allah Maha
> Besar, salah seorang dari dua petugas provost
> mendekat : "Ada apa Pak ?" Saya jawab : "Saya
> serahkan orang ini Pak, katanya nyopet handphone,
> tapi saya tak punya bukti. Saya hanya mencoba
> menolong dia karena kalau tidak, mungkin bisa mati
> dipukuli massa !" Seseorang datang ke pos AURI dan
> memberikan penjelasan : "Ya Pak, kalau tidak ada
> Bapak ini, pasti sudah mati !"
>
> Si pencopet kemudian dibawa masuk, dan langsung
> diperiksa. Ternyata dia tak membawa surat keterangan
> atau KTP. Petugas bilang : "Biar kau tidak mencopet,
> tetapi harus ditahan karena tidak bawa KTP !"
>
>
>
> Ketika saya siap-siap pergi, terlihat ada mobil
> angkutan kota yang berhenti. Seorang gadis
> berseragam SLTA yang ternyata pemilik handphone yang
> dicopet tampak meloncat keluar dari pintu mobil.
> Ketika melihat si pencopet, dia langsung menangis
> dan berteriak histeris : "Betul Pak, dia
> pencopetnya. Ayo kembalikan handphone saya !" Kedua
> petugas provost yang badannya besar-besar dan ukuran
> tangannya hampir sebesar betis saya, langsung
> memukul bergantian muka si pencopet yang masih
> meneteskan darah segar. Saya merasa tak berdaya
> untuk menghentikan amukan kedua petugas provost
> tersebut dan saya segera bergegas meninggalkan pos
> AURI karena tidak tega menyaksikan pemandangan yang
> begitu menyesakkan dada.
>
>
>
> Rekan-rekan Ahli Geologi yang budiman,
>
> Saya tidak tahu lagi, bagaimana nasib selanjutnya
> dari si pencopet, masih hidupkah atau sudah matikah
> akibat gegar otak atau luka dalam. Saya hanya bisa
> merenung, mengapa masyarakat kita termasuk
> mahasiswanya (sampai tega menyiksa secara fisik
> salah satu Pembantu Rektor di Surabaya) menjadi
> sedemikian lupa diri? Siapakah yang salah dan berapa
> generasikah diperlukan untuk menyembuhkannya?
> Bukankah kata Aa Gym : hati adalah lentera dan
> sekaligus cahaya Ilahi?
>
>
>
> Semoga pengalaman pribadi di atas ada manfaatnya
> untuk direnungkan agar kita tidak termasuk kedalam
> golongan orang-orang yang lupa diri. Semoga !
>
>
>
> Hormat, Sujatmiko
>
>
>
> ---------------------------------
> Start your day with Yahoo! - make it your home page
____________________________________________________
Start your day with Yahoo! - make it your home page
http://www.yahoo.com/r/hs
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]),
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------