Ada nasihat yang sangat bagus:
KALAU DI INDONESIA BERBUAT KEJAHATAN SEPERTI MALING JANGAN
TANGGUNG-TANGGUNG, MALINGLAH MILYARAN RUPIAH. WALAUPUN ANDA TETAP MASUK
PENJARA, TETAPI DIADILI SECARA ADIL DAN DILINDUNGI HAM, MASUK PENJARA
DENGAN TERHORMAT. DI DALAM PENJARAPUN ANDA TETAP DIHORMATI.
salam,
pr
At 10:43 PM 7/17/2005 -0700, you wrote:
Semua orang sekarang gampang beringas dan lupa diri. Yang menyiksa copet
dengan copetnya sendiri sama-sama bersalah. Kalau yang disiksa itu bukan
copet, bagaimana urusannya, tentu di Atas yang akan membalas orang-orang
yang menyiksa itu.
Penegak hukum pun menyiksa dulu sebelum menanyai si tersangka. Dibawa ke
pos polisi, PM, AURI memang aman dari amukan masyarakat tetapi belum tentu
aman dari siksaan aparat keamanan.
Orang-orang terpelajar pun sudah biasa tawuran, dari anak SD-mahasiswa
tawuran, beringas dan lupa diri.
Penonton bola Persita vs Persija tawuran karena kesebelasan pujaannya
dihina supporter lawan. Beringas dan lupa diri, stadion dibakar,
diawut-awut, lupa bahwa lalu tak bisa dipakai lagi untuk pertandingan
sepak bola.
Orang-orang terhormat yang duduk di lembaga pemerintah pun beringas dan
lupa diri, sudah berapa kali kejadian kan sidang-sidang mereka lebih mirip
adu debat kusir dan adu otot.
Ah, susah sekali memperbaikinya. Moralitas, ramah tamah, sopan santun,
jujur adalah barang2 langka di Indonesia. Atas nama agama pun mereka
menyiksa dan membakar..., apalagi kalau bukan atas nama itu ...?!
salam prihatin,
awang
sujatmiko <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
MASYARAKAT YANG BERINGAS DAN LUPA DIRI
Rekan-rekan Ahli Geologi yang budiman,
Beberapa hari yang lalu, sesaat setelah adzan magrib, terdengar suara
ribut di depan rumah di Jl.Pajajaran Bandung.
Seorang gadis pelajar SLTA tampak menangis histeris : "Handphone saya
dicopet!". Serombongan orang berlari ke arah timur sambil berteriak :
"Kejar, kejar!". Suasana kemudian hening dan saya pikir pasti si pencopet
sudah berhasil kabur. Tetapi, tak sampai sepuluh menit kemudian, suara
ribut kembali memecah keheningan : "Copetnya tertangkap, temannya yang dua
kabur!" Seorang remaja umur dua puluh tahunan tampak digiring
beramai-ramai ke arah barat. Saya mengajak Marwan, staff saya untuk
mengikuti rombongan tersebut. Sekitar dua puluh meteran dari rumah,
beberapa orang mulai unjuk kekuatan. Mereka bergantian menghantam rusuk si
pencopet, meninju mukanya dan menendang dadanya.
Darah mulai menetes dari mulut dan pipi si pencopet. Tak berapa lama,
tubuhnya rubuh di aspal. Beberapa orang masih tega menendang kepala dan
bagian tubuh lainnya. Saya tak tahan melihat pemandangan yang mengerikan
itu. Dengan setelan jas yang masih saya pakai (baru pulang pertemuan
Rotary) dan bekal Basmallah, saya berkeyakinan insyaallah dapat
menjinakkan orang-orang yang sudah kemasukan setan tersebut. Saya langsung
maju dan memegang serta mengangkat leher baju si pencopet. Satu dua
tendangan dan pukulan masih mendarat.
Saya berteriak mengingatkan mereka untuk tidak lagi menyiksa orang yang
sudah tidak berdaya. Mereka mulai gentar dan saya memanfaatkan kesempatan
tersebut untuk membawa si pencopet ke pos AURI yang letaknya tidak berapa
jauh. Satu dua orang masih berani memukul. Sekitar dua puluh meteran
sebelum pos AURI, si pencopet memeluk saya : "Terima kasih Pak, saya
diselamatkan, tolong saya Pak, saya tidak mencopet !"
Mendekati pos AURI, saya menjadi ragu karena tidak satupun dari
orang-orang yang beringas tadi yang mengikuti saya. Saya mencoba
meyakinkan hati saya bahwa dengan jas yang saya pakai insyaallah petugas
provost tak akan bertingkah sembarangan. Allah Maha Besar, salah seorang
dari dua petugas provost mendekat : "Ada apa Pak ?" Saya jawab : "Saya
serahkan orang ini Pak, katanya nyopet handphone, tapi saya tak punya
bukti. Saya hanya mencoba menolong dia karena kalau tidak, mungkin bisa
mati dipukuli massa !" Seseorang datang ke pos AURI dan memberikan
penjelasan : "Ya Pak, kalau tidak ada Bapak ini, pasti sudah mati !"
Si pencopet kemudian dibawa masuk, dan langsung diperiksa. Ternyata dia
tak membawa surat keterangan atau KTP. Petugas bilang : "Biar kau tidak
mencopet, tetapi harus ditahan karena tidak bawa KTP !"
Ketika saya siap-siap pergi, terlihat ada mobil angkutan kota yang
berhenti. Seorang gadis berseragam SLTA yang ternyata pemilik handphone
yang dicopet tampak meloncat keluar dari pintu mobil. Ketika melihat si
pencopet, dia langsung menangis dan berteriak histeris : "Betul Pak, dia
pencopetnya. Ayo kembalikan handphone saya !" Kedua petugas provost yang
badannya besar-besar dan ukuran tangannya hampir sebesar betis saya,
langsung memukul bergantian muka si pencopet yang masih meneteskan darah
segar. Saya merasa tak berdaya untuk menghentikan amukan kedua petugas
provost tersebut dan saya segera bergegas meninggalkan pos AURI karena
tidak tega menyaksikan pemandangan yang begitu menyesakkan dada.
Rekan-rekan Ahli Geologi yang budiman,
Saya tidak tahu lagi, bagaimana nasib selanjutnya dari si pencopet, masih
hidupkah atau sudah matikah akibat gegar otak atau luka dalam. Saya hanya
bisa merenung, mengapa masyarakat kita termasuk mahasiswanya (sampai tega
menyiksa secara fisik salah satu Pembantu Rektor di Surabaya) menjadi
sedemikian lupa diri? Siapakah yang salah dan berapa generasikah
diperlukan untuk menyembuhkannya? Bukankah kata Aa Gym : hati adalah
lentera dan sekaligus cahaya Ilahi?
Semoga pengalaman pribadi di atas ada manfaatnya untuk direnungkan agar
kita tidak termasuk kedalam golongan orang-orang yang lupa diri. Semoga !
Hormat, Sujatmiko
---------------------------------
Start your day with Yahoo! - make it your home page
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]),
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------