Salut Mas Vicky, sudah ahli Geolistrik
sekedar tambahan, di kita ini serba kebalik, dimana beban
puncak pemakaian listrik justru di malam hari dimana listrik
besar tsb hanya untuk kegiatan komsumtif sambil nunggu tidur,
bahkan untuk begadangan. Berbeda di LN , di Jepang misalanya ,
data dari TEPCO ( PLN nya Tokyo) menunjukan bahwa beban puncak
pemakaian listrik terbesar ada pada jam 8 pagi sampai jam 6
sore, yang hebatnya ternyata pada jam istirahat ( jam 12 an )
kondisi listriknya langsung drop dimana semua pemakaian listrik
dihentikan karena semua istirahat.Kemudian tambahan lagi. listrik dari
IPP itu bukan dari BBM ,
dari data ada 27 an IPP saat ini ( baik yg sudah jalan,ditunda,
dll ) dimana 11 dari PLTP/Geothermal , 14 dari PLTU (
gas/batubara) dan hanya 1 dari PLTD (BBM) yaitu di pare pare ,
itupun hanya 6x10 MW, dan hanya 1 dari PLTA yaitu Asahan 180
MW.Seperti dikatakan tadi kalau BBM yang dipakai listrik Hanya 10
an % saja ( Solar/HSD, MFO), atau setara dengan 11 jutaan kilo
liter ( data 2004 ini), sebetulnya tidak perlu dikawatirkan,
karena penggantinya sudah siap, yaitu Gas, Batubara, maupun
Geothermal, bahkan Nuklirpun sudah siap. sekarang ini kelihatannya
bukannya krisis energi tapi lebih
tepatnya krisis BBM,
ISM
Hemat Listrik Siapa targetnya ?
By : rdp
Inpres no 10 tahun 2005 baru saja di luncurkan dua pekan
lalu.
Penerjemahan inpres inipun menjadi sesuatu kegiatan yg
populis
dikalangan pejabat pemerintah serta pengusaha swasta. Hampir
semua merasa telah melakukan "penghematan", namun seandainya
langkah yang diambil tidak tepat sasaran sangat mungkin yang
akan terjadi adalah mengurangi kenikmatan atau bahkan secara
tak sengaja menurunkan
produktifitas. Tulisan sederhana ini akan mencoba melihat
seberapa potensial yang efektif dari gembar-gembor hemat
energi ini akan
berdampak pada beban penyediaan listrik. Benarkah kebijakan
tak berjas ke kantor akan berdampak optimum, benarkah
menghilangkan siaran malam hari akan menurunkan beban
listrik ?
Ataukah semua itu hanya mencerminkan kepanikan rakyat dan
pemerintah ketika sedikit gejolak dunia dengan meningkatnya
harga minyak. Lantas apa yg bisa kita pelajari ?
Untuk melihat hal ini, penulis mengamati pemakaian listrik
pada`jaringan transmisi Jawa-Bali dipergunakan sebagai basis
acuan. Gambar 1 memperlihatkan bahwa Jawa-Bali yg memiliki
kapasitas
terpasang sekita 19 ribu MW ini merupakan sumbangan 70 %
dari daya listrik yg dihasilkan PLN sekitar 25 ribu MW. PLN
sendiri menghasilkan dari daya 16ribu MW. Dari daya sekitar
16ribu MW ini yang akan kita lihat bagaimana perilaku
pengguna listrik secara umum di Jawa.
Menurut data dari Depertemen ESDM dalam hitungan setara
dengan barel minyak sekitar 60rb SBM, maka energi listrik
ini hanya kurang dari 10% dari kebutuhan energi total di
Indonesia. Kebutuhan energi terbanyak tetap ada pada porsi
BBM sebesar 60%. Namun energi listrik yang hanya 10% ini
akan sangat mungkin berdampak pada perilaku masyarakat
karena hampir semua masyarakat akan berinteraksi dengan
listrik dalam
kehidupan sehari-harinya. Pendidikan masyarakat tentang
hemat energi dengan menggunakan media tentang listrik sangat
mungkin memberikan dampak yg lebih efektif dibandingkan
dengan metode sosialisasi hemat energi dengan BBM yang hanya
menyangkut masyarakat pengguna
transportasi. Memang penulis kali ini hanya mengamati kira2
70% saja tentang energi listrik Indonesia. Dengan demikian
sangat disadari
bahwa pengamatan ini sama sekali bukan ditargetkan pada
sebuah hal yg sangat berdampak besar. Namun diharapkan lebih
pada ketepatan sasaran.
Gambar ada di : http://putrohari.tripod.com/Putrohari/
Gambar. 1. Jenis sumber daya alam pembangkit listrik oleh
PLN.
Sumber listrik yang diperoleh dari pembangkit di Pulau jawa
diperoleh dari berbagai sumber daya alam. Namun terlihat
hampir 40% berasal dari minyak bumi. Dan seandainya IPP
(Independent Power Producer) juga diasumsikan dengan diesel
maka hampir 25% memperoleh listrik dari BBM.
Data-data ini diambil dari database PLN yang tersedia di
www.pln.co.id. Data pengamatan penggunaan (beban) listrik
diambil
selama sepekan mulai tanggal 3 July hingga 10 July 2005.
Diharapkan data yang terakhir ini cukup mewakili, dimana
pada saat pekan ini
tidak ada gejolak pemakaian khusus. Tidak ada hari-hari
khusus dalam penggunaan serta kebutuhan listrik dalam waktu
pengambilan data ini.
Ada beberapa istilah penting dalam kajian ini yg dibagi
sebagai berikut: - Beban minimum rumah tangga. Adalah beban
minimum pada saat tidak ada aktifitas bisnis/industri (hari
Minggu di siang hari)
- Beban perkantoran dan bisnis.
- Beban peralatan pabrik. Adalah selisih kegiatan ketika
istirahat siang - Beban penerangan malam hari (lampu
pertokoan)
Tentusaja pembagian ini berdasarkan segmen yg sederhana ini
hanya
didasarkan untuk kemudahan dimengerti sehingga memudahkan
penentuan target-tagret penghematan listrik. Sangat disadari
bahwa penerangan lampu dimalam hari ini tentunya juga untuk
kebutuhan rumah tangga dan bisnis.
Penggunaan listrik dalam sehari.
Grafik penggunaan listrik dalam sehari (gambar.2)
memperlihatkan
tipikal aktifitas sehari-hari. Terlihat jelas pada waktu jam
00:00 kebutuhan beban cukup rendah. Tentu saja ini bukan
hanya menunjukkan lampu lampu penerangan saja, namun juga
kebutuhan rutin lainnya.
Gambar 2. Peggunaan listrik pada hari kerja
Kebutuhan beban terendah pada pukul 7 pagi hari diperkirakan
karena aktifitas hanyalah melakukan perjalanan menuju tempat
bekerja.
Kegiatan pagi hari dimulai pada pukul 8 dengan peningkatan
hingga
pukul 11:00. Kegiatan istirahat siang mengurangi beban
sebesar
700-1000MW. Beban puncak di Jawa ini mulai menanjak pada
pukul 17:00 dan menurun pada pukul 22:00. Beban puncak ini
merupakan beban PLN untuk meyediakan sebesar 14 - 15 ribu
MW.
Penentuan target-target penghematan akan sangat jitu
seandainya
didasari oleh pengamatan perilaku harian ini. Sehingga
penerjemahan Inpres no. 10/tahun 2005 ini dapat
diterjemahkan dengan tepat sasaran.
Penggunaan listrik dalam sepekan.
Dalam periode satu pekan terlihat pemakaian atau beban
terbesar
sekitar 14-15 rb MW terjadi pada waktu malam hari di hari
kerja.
Sedangkan beban terkecil pada siang hari di hari Minggu
sebesar
kira-kira 8.5 ribu MW. Beban ini lebih kurang merupakan
pencerimanan kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Daya
sebesar ini masuk dalam
kategori "harus" tersedia, dan dapat dianggap merupakan
kebutuhan
primer saat ini. 8.5 ribu MW ini merupakan 60% dari beban
puncak.
Penghematan di segmen dasar ini tentunya akan berdampak
sangat
signifikan sesuai dengan besarnya angka. Namun tidak mudah
menurunkan konsumsi ini. Karena rakyat sudah terbiasa
berhemat dengan tarif yg dirasakannya cukup mahal ini.
Beban rata-rata harian di hari kerja minimal 10 ribu MW,
atau naik 1.5 ribu MW dari kebutuhan rumah tangga yg
tercermin pada hari minggu
siang. Ini diperkirakan merupakan beban minimal utk
kebutuhan rutin ditambah perkantoran dan bisnis, termasuk
AC, lift, lampu eskalator dll. Beban puncak siang hari
dicapai pada jam-jam kerja dengan beban total sekitar 12rb
MW. Atau bisa dianggap bahwa kebutuhan perkantoran dan
bisnis menelan sekitar 3.5rb MW atau sekitar 25% dari beban
puncak. Pada tengah hari ketika istirahat siang pukul 12-13
terjadi penurunan beban sebesar 700-1000 MW. Ini merupakan
pencerminan
berkurangnya penggunaan energi listrik di pabrik atau
industri
berbasis mesin dengan tenaga listrik. Beban sebesar ini
jelas jangan sampai dikurangi terlalu banyak, karena beban
energi ini merupakan energi produktif. Penghematan
pemanfaatan listrik semestinya bukan pada segmen produktif
ini.
Gambar 3. Fluktuasi beban listrik dalam sepekan di Pulau
Jawa.
Pengurangan yang dimungkinkan hanya pada sisi bisnis dan
perkantoran ini berpotensi dalam penghematan yang besarnya
2500 MW. Di segmen ini mungkin saja akan berdampak mungkin
cukup signifikan dalam penghematan beban energi listrik
walopun hanya merupakan 18% dari beban maksimum. Beban ini
cukup kecil namun karena dalam jangka operasinya 6-7 jam
sehari, jumlah potensi energi yang dihemat perlu dihitung
dengan lebih detil disesuaikan dengan MWH (Megawat jam).
Pemanfaatan AC diduga
menelan daya paling besar yg sangat mudah untuk dikurangi.
Namun
menurut penulis akan ada berdampak negatif disisi
produktifitas,
karena mengurangi kenyamanan dalam bekerja yg mungkin saja
mengurangi semangat bekerja. Salah satu langkah pengehematan
segmen ini adalah dengan kecermatan pemilihan alat-alat
listrik yg memiliki efisiensi tinggi. Penulis tidak begitu
yakin apakah memungkinkan dengan membuat sebuah regulasi
pemanfaatan alat hemat energi akan berdampak
signifikan.
Pertanyaan lain adalah apakah kalau langkah penghematan di
tempat
kerja ini berhasil maka mental hemat energi mungkin akan
terbawa
kerumah masing2 dengan berdampak pada penghematan beban
dasar minimal yg cukup besar?. Kalau yg menjadi sasaran itu
rakyat kecil,
kemungkinan tidak akan berdampak banyak karena tanpa inipun
rakyat sudah terbebani dengan tarif yang mahal. Maka
berhemat memang sudah tugasnya sehari-hari sejak dulu
sebelum adanya isu krisis energi kali ini. Sehingga
kemungkinan adanya tambahan dari segmen rakyat bawah
kemungkinan kecil, Selain itu juga karena data-data ini
diambil
sesudah ada himbauan PLN mengurangi lampu 50 wat per rumah
akibat
krisis pasokan gas pada pembangkit listrik bulan lalu.
Beban listrik lampu malam hari dari pertokoan dan mall.
Kalau dilihat beban penerangan malam terlihat bahwa
peningkatan
listrik yg merupakan beban puncak ini dimulai pukul 17:00
hingga pukul 22:00, dan terjadi pada setiap hari. Kegiatan
yg merupakan kegiatan rutin selama tujuh hari pada jam ini
hanyalah pertokoan serta mall, dan mungkin juga papan
reklame. Dengan demikian pembatasan pada segmen ini akan
berdampak pada tingginya atau besarnya beban puncak yg
tentusaja merupakan beban berat buat PLN. Karena kemampuan
penyediaan yg akhirnya sangat tinggi ini akan dinilai
sebagai tolok ukur kinerja serta kemampuan PLN.
Ketika malam hari listrik jatuh ('trip') tentunya beban PLN
bertambah dengan menerima keluhan pelanggan. Dan sudah dapat
dipastikan PLN akan ngotot untuk menyediakan/ membangun
pusat-pusat pembangkit untuk
mencegah rapor merahnya. Nah, tentusaja penyediaan mesin
pembangkit ini termasuk dalam biaya kapital /modal yg
biasanya diperoleh PLN dari hutang. Tentusaja hutang ini
akan membebani biaya produksi listrik yang akan dapat
dipastikan dibebankan kepada konsumen.
Salah satu cara pengurangan beban puncak diwaktu malam ini
adalah
pembatasan pada papan reklame. Papan reklame di Jakarta dan
Pulau Jawa pada umumnya masih banyak yg menggunakan lampu
penerangan yg sangat mahal, dan biaya lampu reklame ini
tentusaja nantinya menjadi biaya produksi yg akan ditanggung
oleh pemakai produk. Sistem pentarifan listrik untuk
kebutuhan ini walaupun menambah penghasilan PLN akan
berdampak tidak langsung pada harga produk yg akhirnya
ditanggung oleh konsumen. Sehingga target pembatasan
penggunaan lampu utk reklame ini harus dilakukan dengan
sangat selektif.
Pembatasan lampu penerangan umum bukan merupakan bagian dari
pembatasan segmen beban puncak dari pukul 17 hingga 22 ini,
karena setelah pukul 22 malam lampu penerangan jalan masih
menyala terang. Namun perlu dilihat bahwa pengurangan lampu
penerangan jalan tentusaja berkait dengan keamanan atau
perasaan aman dari masyarakat. Dengan demikian harus ada
usaha tambahan dalam pengamanan yg tentu saja bukan hanya
masalah penyedia listrik (PLN) saja.
Penutup
Dengan demikian terlihat bahwa pentargetan penghematan serta
langkah penerjemahan Inpres 10 tahun 2005 ini seharusnya
tidak diterjemahkan secara buru-buru yang terkesan panik.
Karena kepanikan mengambil
langkah reaktif ini akan berdampak langsung pada kepanikan
publik.
Perlu diketahui juga bahawa pengamatan perilaku yg ditulisan
ini hanya berlaku di Pulau Jawa-Bali. Tiap-tiap daerah akan
memiliki
karakteristik pengguna yang sangat mungkin berbeda-beda,
sehingga
perlu diteliti lebih detil lagi untuk mempertajam target
sehingga
tepat sasaran.
Pengurangan penggunaan listrik misal penyejuk ruangan (AC)
yg secara langsung mengurangi kenikmatan ketika sedang
bekerja justru akan
sangat mungkin mengurangi produktifitas walaupun dipastikan
mengurangi penggunaan energi.
Sistem pentarifan harus dilakukan dengan sangat selektif
dibarengi pembatasan, cara ini masih mungkin dapat
mengurangi beban puncak,
namun karena penggunaan listrik merupakan salah satu bagian
dari biaya produksi akhirnya akan dibebankan kepada
konsumen. Untuk mengetahui hasil usaha penghematan serta
melihat efektifitas dari target-target penghematan ini perlu
pengamatan lanjutan dalam bulan-bulan mendatang untuk
melihat sejauh mana dampak inpres 10 tahun 2005 ini terhadap
penghematan penggunaan listrik. Serta dampaknya pada
produktifitas.
)* Penulis [EMAIL PROTECTED]
Gambar bisa dilihat juga di blog saya :
http://putrohari.tripod.com/Putrohari/
<artikel bebas dikopi dan diterbitkan>
--
Education can't stop natural disasters from occurring,
but it can help people prepare for the possibilities ---
___________________________________________________________
indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau
[EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A.
Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------