Memang kalau dilihat konsumsinya masih kecil. tapi kan bukan berarti kalau konsumsinya besar itu boros, karena boros dan tidak boros, dipengaruhi oleh produktifitas yang akhirnya menyangkut efisiensi. Saat ini kapasitas pembangkit listrik kira kira 25.000 MW , namun dari data ternyata lossesnya kira kira di pembngkitan dan transmisi cukup besar mencapai lebih 10 %.. kalau satu hari bisa = 10% x 25.000 x 1000 x 24 atau sama dengan 60 juta KWh, atau kira kira Rp.18 M/hari , dengan asumsi biaya produksi per KWh Rp.300,-, Kalau seandainya lebih efisien lagi ( lossesnya ditekan, berapa rupiah kita dapat berhemat.Ini dari sisi suplai energinya, belum di sisi pemakainya, dimana banyak peralatan ataupun bangunan bangunan yang boros dalam hal pemakaian energi.( makanya sekarang ada audit energi, kalau sekarang ada BPK dan BPKP yang ngaudit keuangan/anggaran. maka barangkali nanti akan ada BPK/BPKP versi energi , cuma gak tahu nanti kalau ditemukan penyimpangan dilaporkannya kemana KPK,Polisi atau Kejaksaan atau siapa ........) Negara negara yang tdk mempunyai energy resources ternyata konsumsi energynya malah besar, Karena merasa tdk mempunyai resources tadi makanya dia berusaha efisien dimana energy konsumsinya digunakan untuk mendriver kegiatan produktif, makanya biasanya beban puncaknya pada siang hari , karena diwaktu itu kegiatan produktifnya meningkat.Tapi di sini justru beban puncaknya ada pada waktu malam dimana kegiatan produktifnya berkurang. Hampir semua energy resources dapat kita temui disini, mulai energy fosil ( Oil,Gas,Coal,gambut ), energy panas ( solar , geothermal ) energi gerak ( angin, gelombang/wave, hidro, pasang surut) dan banyak lagi. Namun dg karunia yg sebesar tsb ternyata pengelolaanya masih bisa dibilang amburadul, Geologis yang kerjanya nyari sumber energi, mungkin akan "panen pesanan" apabila terjadi krisis energi dimana harga energi akan melambung yang mengakibatkan usaha pencarian akan lebih diitensifkan.dan macam/jenis yang dicari semakin banyak, mungkin kalau beberapa waktu lalu usaha eksplorasi Geothermal dan Uranium sepi,kedepan mungkin akan ramai. Nah untuk kasus Indonesia ini, melimpahnya SDA energi ini suatu berkah atau malah musibah............ ( Ternyata negara seperti singapore mendapat berkah karena tdk mempunyai SDA.)

Ism


----- Original Message ----- From: "R.P. Koesoemadinata" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Thursday, July 21, 2005 7:46 PM
Subject: Re: [iagi-net-l] Fwd: Hemat Listrik Siapa targetnya ?


Saya heran kalau Indonesia itu oleh SBY dianggap negara yang paling boros energy (mungkin yang dimaksud paling murah, jadi paling boros) Ini dibawah ini data yang saya dapatkan mengenai per capita energy consumption per year:

E.1c  World Per Capita Total Primary Energy Consumption,1980-2003
        (Million Btu)

Region/Country      Fipscd 1980     1990     2000 2003

Cambodia                  CB     0.2     0.8     0.6         0.6
Ethiopia                      ET     0.8     1.1     1.0        1.1
Bangladesh                 BG     1.4     2.3     3.6       4.2
Papua New Guinea     PP      9.7     10.3     8.5      8.2
Vietnam                   VM      3.6     4.2       9.0     12.1
India                          IN      6.2     9.6     13.3     13.2
Philippines                 RP   11.9   11.9    16.5       15.7
Indonesia                  ID      7.5     12.3    19.4      21.5
China                       CH     17.5    23.4    30.4     34.9
Cuba                       CU     47.2    46.8    41.1      41.8
Thailand                  TH     10.9     23.0   42.3      49.7
Suriname                  NS   115.9   86.2    85.5       89.3
Malaysia                  MY     30.5    54.0     81.2    94.8
Hong Kong              HK     53.8    88.7    107.1  123.8
Kazakhstan              KZ     NA     NA     123.0   135.4
United Kingdom      UK   156.9   161.2   164.9   166.0
Japan                       JA   130.3    149.0  175.7    175.6
Saudi Arabia            SA  177.5   224.7  218.7     235.0
Australia                  AS 187.7    217.9   254.1    260.4
United States           US  345.7    339.3   350.7    339.9
Singapore                SN  183.3    265.1    377.5   413.4
Qatar                      QA  931.8    677.2  1,055.6   812.9

Indonesia masih jauh dibawah 100 million BTU di tahun 2003, kelihatannya negara2 maju semua di atas 100 million BTU Malaysia sudah mendekati dengan 94.8 million BTU, dan kita masih di bawah China (34.9), sedangkan Cuba yang tidak memiliki energy resources saja di atas Indonesia. India dan Filipina masih dibawah kita. Apakah bisa dikatakan Indonesia itu boros energi? Kalau Singapore (413.4) tanpa energy resources, dapat dikatakan ya boros, apalagi Qatar (812.9) yang paling boros energi di dunia Indonesia masih miskin dengan pemakaian energi, masih harus ditingkatkan untuk bisa dianggap negara maju. Perlu diketahui bahwa konsumsi energi per capita itu sering dipakai sebagai index peradaban, makin tinggi konsumsi energi per kapita, makin dianggap modern peradabannya. Tentu saja angka2 ini pukul rata, tentu banyak orang2 kaya di Jakarta yang konsumsi energinya mungkin di atas 1000 juta BTU, dan lebih banyak lagi di kampung2 di daerah mungkin kurang dari 1 juta BTU
Wassalam
RPK

----- Original Message ----- From: "ismail" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Thursday, July 21, 2005 4:18 PM
Subject: Re: [iagi-net-l] Fwd: Hemat Listrik Siapa targetnya ?


Bisa ya kalau dipahami PLN sebagai pabrik ( listrik) kemudian produksinya ( listrik) tidak ada yang beli / berkurang pembelinya / dihemat.(ibaratnya produsen mobil dimana mobilnya tidak laku/ pembelinya dikit ) Namun yang terjadi pabrik tsb mendapatkan bahan bakunya ( BBM ) mahal , padahal harga jual produk olahannya ( listrik) tidak bisa dinaikan. Oleh karena itu dianjurkan untuk Jangan membeli berlebihan, biar tekor nya tidak besar. Apakah listrik ini murah atau mahal ? itung itungan sederhannya : lampu neon dirumah kita 20 W untuk menerangi halaman dan kita hidupkan dari jam 6 sore sampai jam 6 pagi,, maka kita akan bayar ke PLN kira kira sbb : 20 W x 12 jam x 0.001 = 0.24 KWh dg harga jual PLN 1 KWh = Rp.600,-, maka yang harus kita keluarkan = Rp.144,- Nah hanya dengan uang tidak lebih dari 150 Rp, halaman rumah kita terang benderang semalam suntuk.Mungkin bagi yang tidak ada listrik suruh bayar 3 kali lipatnya pun mau.Apa masih kurang murah, padahal untuk membangkitkan 1 KWH listrik diperlukan kira kira 0.25 liter BBM.

Ism


ISM


----- Original Message ----- From: "R.P. Koesoemadinata" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Thursday, July 21, 2005 8:19 AM
Subject: Re: [iagi-net-l] Fwd: Hemat Listrik Siapa targetnya ?


Kalau penghematan BBM itu diterjemahkan penghematan listrik, apakah PLN tidak akan mengalami kerugian lebih besar lagi?
Sehingga BMUN ini harus disubsidi lagi?
RPK
----- Original Message ----- From: <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Cc: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, July 21, 2005 7:48 AM
Subject: Re: [iagi-net-l] Fwd: Hemat Listrik Siapa targetnya ?


Salut Mas Vicky, sudah ahli Geolistrik
sekedar tambahan, di kita ini serba kebalik, dimana beban
puncak pemakaian listrik justru di malam hari dimana listrik
besar tsb hanya untuk kegiatan komsumtif sambil nunggu tidur,
bahkan untuk begadangan. Berbeda di LN , di Jepang misalanya ,
data dari TEPCO ( PLN nya Tokyo) menunjukan bahwa beban puncak
pemakaian listrik terbesar ada pada jam 8 pagi sampai jam 6
sore, yang hebatnya ternyata pada jam istirahat ( jam 12 an )
kondisi listriknya langsung drop dimana semua pemakaian listrik
dihentikan karena semua istirahat.Kemudian tambahan lagi. listrik dari IPP itu bukan dari BBM ,
dari data ada 27 an IPP saat ini ( baik yg sudah jalan,ditunda,
dll ) dimana 11 dari PLTP/Geothermal , 14 dari PLTU (
gas/batubara) dan hanya 1 dari PLTD (BBM) yaitu di pare pare ,
itupun hanya 6x10 MW, dan hanya 1 dari PLTA yaitu Asahan 180
MW.Seperti dikatakan tadi kalau BBM yang dipakai listrik Hanya 10
an % saja ( Solar/HSD, MFO), atau setara dengan 11 jutaan kilo
liter ( data 2004 ini), sebetulnya tidak perlu dikawatirkan,
karena penggantinya sudah siap, yaitu Gas, Batubara, maupun
Geothermal, bahkan Nuklirpun sudah siap. sekarang ini kelihatannya bukannya krisis energi tapi lebih
tepatnya krisis BBM,
ISM

Hemat Listrik Siapa targetnya ?

By : rdp

Inpres no 10 tahun 2005 baru saja di luncurkan dua pekan
lalu.
Penerjemahan inpres inipun menjadi sesuatu kegiatan yg
populis
dikalangan pejabat pemerintah serta pengusaha swasta. Hampir
semua merasa telah melakukan "penghematan", namun seandainya
langkah yang diambil tidak tepat sasaran sangat mungkin yang
akan terjadi adalah mengurangi kenikmatan atau bahkan secara
tak sengaja menurunkan
produktifitas. Tulisan sederhana ini akan mencoba melihat
seberapa potensial yang efektif dari gembar-gembor hemat
energi ini akan
berdampak pada beban penyediaan listrik. Benarkah kebijakan
tak berjas ke kantor akan berdampak optimum, benarkah
menghilangkan siaran malam hari akan menurunkan beban
listrik ?
Ataukah semua itu hanya mencerminkan kepanikan rakyat dan
pemerintah ketika sedikit gejolak dunia dengan meningkatnya
harga minyak. Lantas apa yg bisa kita pelajari ?

Untuk melihat hal ini, penulis mengamati pemakaian listrik
pada`jaringan transmisi Jawa-Bali dipergunakan sebagai basis
acuan. Gambar 1 memperlihatkan bahwa Jawa-Bali yg memiliki
kapasitas
terpasang sekita 19 ribu MW ini merupakan sumbangan 70 %
dari daya listrik yg dihasilkan PLN sekitar 25 ribu MW. PLN
sendiri menghasilkan dari daya 16ribu MW. Dari daya sekitar
16ribu MW ini yang akan kita lihat bagaimana perilaku
pengguna listrik secara umum di Jawa.


Menurut data dari Depertemen ESDM dalam hitungan setara
dengan barel minyak sekitar 60rb SBM, maka energi listrik
ini hanya kurang dari 10% dari kebutuhan energi total di
Indonesia. Kebutuhan energi terbanyak tetap ada pada porsi
BBM sebesar 60%. Namun energi listrik yang hanya 10% ini
akan sangat mungkin berdampak pada perilaku masyarakat
karena hampir semua masyarakat akan berinteraksi dengan
listrik dalam
kehidupan sehari-harinya. Pendidikan masyarakat tentang
hemat energi dengan menggunakan media tentang listrik sangat
mungkin memberikan dampak yg lebih efektif dibandingkan
dengan metode sosialisasi hemat energi dengan BBM yang hanya
menyangkut masyarakat pengguna
transportasi. Memang penulis kali ini hanya mengamati kira2
70% saja tentang energi listrik Indonesia. Dengan demikian
sangat disadari
bahwa pengamatan ini sama sekali bukan ditargetkan pada
sebuah hal yg sangat berdampak besar. Namun diharapkan lebih
pada ketepatan sasaran.

Gambar ada di : http://putrohari.tripod.com/Putrohari/
Gambar. 1. Jenis sumber daya alam pembangkit listrik oleh
PLN.

Sumber listrik yang diperoleh dari pembangkit di Pulau jawa
diperoleh dari berbagai sumber daya alam. Namun terlihat
hampir 40% berasal dari minyak bumi. Dan  seandainya IPP
(Independent Power Producer) juga diasumsikan dengan diesel
maka hampir 25% memperoleh listrik dari BBM.

Data-data ini diambil dari database PLN yang tersedia di
www.pln.co.id. Data pengamatan penggunaan (beban) listrik
diambil
selama sepekan mulai tanggal 3 July hingga 10 July 2005.
Diharapkan data yang terakhir ini cukup mewakili, dimana
pada saat pekan ini
tidak ada gejolak pemakaian khusus. Tidak ada hari-hari
khusus dalam penggunaan serta kebutuhan listrik dalam waktu
pengambilan data ini.

Ada beberapa istilah penting dalam kajian ini yg  dibagi
sebagai berikut: - Beban minimum rumah tangga. Adalah beban
minimum pada saat tidak ada aktifitas bisnis/industri (hari
Minggu di siang hari)
- Beban perkantoran dan bisnis.
- Beban peralatan pabrik. Adalah selisih kegiatan ketika
istirahat siang - Beban penerangan malam hari (lampu
pertokoan)
Tentusaja pembagian ini berdasarkan segmen yg sederhana ini
hanya
didasarkan untuk kemudahan dimengerti sehingga memudahkan
penentuan target-tagret penghematan listrik. Sangat disadari
bahwa penerangan lampu dimalam hari ini tentunya juga untuk
kebutuhan rumah tangga dan bisnis.

Penggunaan listrik dalam sehari.

Grafik penggunaan listrik dalam sehari (gambar.2)
memperlihatkan
tipikal aktifitas sehari-hari. Terlihat jelas pada waktu jam
00:00 kebutuhan beban cukup rendah. Tentu saja ini bukan
hanya menunjukkan lampu lampu penerangan saja, namun juga
kebutuhan rutin lainnya.

Gambar 2. Peggunaan listrik pada hari kerja

Kebutuhan beban terendah pada pukul 7 pagi hari diperkirakan
karena aktifitas hanyalah melakukan perjalanan menuju tempat
bekerja.
Kegiatan pagi hari dimulai pada pukul 8 dengan peningkatan
hingga
pukul 11:00. Kegiatan istirahat siang mengurangi beban
sebesar
700-1000MW. Beban puncak di Jawa ini mulai menanjak pada
pukul 17:00 dan menurun pada pukul 22:00. Beban puncak ini
merupakan beban PLN untuk meyediakan sebesar 14 - 15 ribu
MW.

Penentuan target-target penghematan akan sangat jitu
seandainya
didasari oleh pengamatan perilaku harian ini. Sehingga
penerjemahan Inpres no. 10/tahun 2005 ini dapat
diterjemahkan dengan tepat sasaran.

Penggunaan listrik dalam sepekan.

Dalam periode satu pekan terlihat pemakaian atau beban
terbesar
sekitar 14-15 rb MW terjadi pada waktu malam hari di hari
kerja.
Sedangkan beban terkecil pada siang hari di hari Minggu
sebesar
kira-kira 8.5 ribu MW. Beban ini lebih kurang merupakan
pencerimanan kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Daya
sebesar ini masuk dalam
kategori "harus" tersedia, dan dapat dianggap merupakan
kebutuhan
primer saat ini. 8.5 ribu MW ini merupakan 60% dari beban
puncak.
Penghematan di segmen dasar ini tentunya akan berdampak
sangat
signifikan sesuai dengan besarnya angka. Namun tidak mudah
menurunkan konsumsi ini. Karena rakyat sudah terbiasa
berhemat dengan tarif yg dirasakannya cukup mahal ini.

Beban rata-rata harian di hari kerja minimal 10 ribu MW,
atau naik 1.5 ribu MW dari kebutuhan rumah tangga yg
tercermin pada hari minggu
siang. Ini diperkirakan merupakan beban minimal utk
kebutuhan rutin ditambah perkantoran dan bisnis, termasuk
AC, lift, lampu eskalator dll. Beban puncak siang hari
dicapai pada jam-jam kerja dengan beban total sekitar 12rb
MW. Atau bisa dianggap bahwa kebutuhan perkantoran dan
bisnis menelan sekitar 3.5rb MW atau sekitar 25% dari beban
puncak. Pada tengah hari ketika istirahat siang pukul 12-13
terjadi penurunan beban sebesar 700-1000 MW. Ini merupakan
pencerminan
berkurangnya penggunaan energi listrik di pabrik atau
industri
berbasis mesin dengan tenaga listrik. Beban sebesar ini
jelas jangan sampai dikurangi terlalu banyak, karena beban
energi ini merupakan energi produktif. Penghematan
pemanfaatan listrik semestinya bukan pada segmen produktif
ini.

Gambar 3. Fluktuasi beban listrik dalam sepekan di Pulau
Jawa.

Pengurangan yang dimungkinkan hanya pada sisi bisnis dan
perkantoran ini berpotensi dalam penghematan yang besarnya
2500 MW. Di segmen ini mungkin saja akan berdampak mungkin
cukup signifikan dalam penghematan beban energi listrik
walopun hanya merupakan 18% dari beban maksimum. Beban ini
cukup kecil namun karena dalam jangka operasinya 6-7 jam
sehari, jumlah potensi energi yang dihemat perlu dihitung
dengan lebih detil disesuaikan dengan MWH (Megawat jam).
Pemanfaatan AC diduga
menelan daya paling besar yg sangat mudah untuk dikurangi.
Namun
menurut penulis akan ada berdampak negatif disisi
produktifitas,
karena mengurangi kenyamanan dalam bekerja yg mungkin saja
mengurangi semangat bekerja. Salah satu langkah pengehematan
segmen ini adalah dengan kecermatan pemilihan alat-alat
listrik yg memiliki efisiensi tinggi. Penulis tidak begitu
yakin apakah memungkinkan dengan membuat sebuah regulasi
pemanfaatan alat hemat energi akan berdampak
signifikan.

Pertanyaan lain adalah apakah kalau langkah penghematan di
tempat
kerja ini berhasil maka mental hemat energi mungkin akan
terbawa
kerumah masing2 dengan berdampak pada penghematan beban
dasar minimal yg cukup besar?. Kalau yg menjadi sasaran itu
rakyat kecil,
kemungkinan tidak akan berdampak banyak karena tanpa inipun
rakyat sudah terbebani dengan tarif yang mahal. Maka
berhemat memang sudah tugasnya sehari-hari sejak dulu
sebelum adanya isu krisis energi kali ini. Sehingga
kemungkinan adanya tambahan dari segmen rakyat bawah
kemungkinan kecil, Selain itu juga karena data-data ini
diambil
sesudah ada himbauan PLN mengurangi lampu 50 wat per rumah
akibat
krisis pasokan gas pada pembangkit listrik bulan lalu.

Beban listrik lampu malam hari dari pertokoan dan mall.

Kalau dilihat beban penerangan malam terlihat bahwa
peningkatan
listrik yg merupakan beban puncak ini dimulai pukul 17:00
hingga pukul 22:00, dan terjadi pada setiap hari. Kegiatan
yg merupakan kegiatan rutin selama tujuh hari pada jam ini
hanyalah pertokoan serta mall, dan mungkin juga papan
reklame. Dengan demikian pembatasan pada segmen ini akan
berdampak pada tingginya atau besarnya beban puncak yg
tentusaja merupakan beban berat buat PLN. Karena kemampuan
penyediaan yg akhirnya sangat tinggi ini akan dinilai
sebagai tolok ukur kinerja serta kemampuan PLN.

Ketika malam hari listrik jatuh ('trip') tentunya beban PLN
bertambah dengan menerima keluhan pelanggan. Dan sudah dapat
dipastikan PLN akan ngotot untuk menyediakan/ membangun
pusat-pusat pembangkit untuk
mencegah rapor merahnya. Nah, tentusaja penyediaan mesin
pembangkit ini termasuk dalam biaya kapital /modal yg
biasanya diperoleh PLN dari hutang. Tentusaja hutang ini
akan membebani biaya produksi listrik yang akan dapat
dipastikan dibebankan kepada konsumen.

Salah satu cara pengurangan beban puncak diwaktu malam ini
adalah
pembatasan pada papan reklame. Papan reklame di Jakarta dan
Pulau Jawa pada umumnya masih banyak yg menggunakan lampu
penerangan yg sangat mahal, dan biaya lampu reklame ini
tentusaja nantinya menjadi biaya produksi yg akan ditanggung
oleh pemakai produk. Sistem pentarifan listrik untuk
kebutuhan ini walaupun menambah penghasilan PLN akan
berdampak tidak langsung pada harga produk yg akhirnya
ditanggung oleh konsumen. Sehingga target pembatasan
penggunaan lampu utk reklame ini harus dilakukan dengan
sangat selektif.

Pembatasan lampu penerangan umum bukan merupakan bagian dari
pembatasan segmen beban puncak dari pukul 17 hingga 22 ini,
karena setelah pukul 22 malam lampu penerangan jalan masih
menyala terang. Namun perlu dilihat bahwa pengurangan lampu
penerangan jalan tentusaja berkait dengan keamanan atau
perasaan aman dari masyarakat. Dengan demikian harus ada
usaha tambahan dalam pengamanan yg tentu saja bukan hanya
masalah penyedia listrik (PLN) saja.

Penutup

Dengan demikian terlihat bahwa pentargetan penghematan serta
langkah penerjemahan Inpres 10 tahun 2005 ini seharusnya
tidak diterjemahkan secara buru-buru yang terkesan panik.
Karena kepanikan mengambil
langkah  reaktif ini akan berdampak langsung pada kepanikan
publik.

Perlu diketahui juga bahawa pengamatan perilaku yg ditulisan
ini hanya berlaku di Pulau Jawa-Bali. Tiap-tiap daerah akan
memiliki
karakteristik pengguna yang sangat mungkin berbeda-beda,
sehingga
perlu diteliti lebih detil lagi untuk mempertajam target
sehingga
tepat sasaran.

Pengurangan penggunaan listrik misal penyejuk ruangan (AC)
yg secara langsung mengurangi kenikmatan ketika sedang
bekerja justru akan
sangat mungkin mengurangi produktifitas walaupun dipastikan
mengurangi penggunaan energi.

Sistem pentarifan harus dilakukan dengan sangat selektif
dibarengi pembatasan, cara ini masih mungkin dapat
mengurangi beban puncak,
namun karena penggunaan listrik merupakan salah satu bagian
dari biaya produksi akhirnya akan dibebankan kepada
konsumen. Untuk mengetahui hasil usaha penghematan serta
melihat efektifitas dari target-target penghematan ini perlu
pengamatan lanjutan dalam bulan-bulan mendatang untuk
melihat sejauh mana dampak inpres 10 tahun 2005 ini terhadap
penghematan penggunaan listrik. Serta dampaknya pada
produktifitas.

)* Penulis  [EMAIL PROTECTED]

Gambar bisa dilihat juga di blog saya :
http://putrohari.tripod.com/Putrohari/

<artikel bebas dikopi dan diterbitkan>


--
Education can't stop natural disasters from occurring,
but it can help people prepare for the possibilities ---



___________________________________________________________
indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id



---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina (Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------



---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina (Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------




---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina (Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------



---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina (Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------




---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke