Mas Awang,
Terimakasih komentarnya yang bagus sekali. Juga sarannya. Di tunggu dari
yang lain. 

Referensi saya, Einstein rumuskan relatifitas pada tahun 1905. Amat
sulit orang terima, dan baru 14 th kemudian, th 1919 di buktikan oleh
adanya gerhana. Saking senengnya beliau, dia katakan " seharusnya kalau
temannya percaya, maka waktu gerhana itu dia tidur saja, tak usah lihat
gerhana itu". Tapi dia kaget juga, merasa sebagian rumusannya salah di
sepuluh tahun kemudian, tentang bahwa jagad statis. Th 1929 itu, Hubel
perlihatkan galaksi yang menjauh, nyatakan jagad mengembang (dan
menyatakan rumusan Eistein "tentang dunia statis"nya salah). Tapi
salahnya ya tak semua. Kini banyak orang sudah percaya tentang
rumusannya. Tentu masih ada hal-hal yang dia nyatakan, tapi masih belum
terbukti. Teori terus di perbaiki, dimana rumusannya itupun perbaikan
dari telaah orang-orang sebelumnya. Dan masih banyak hal yang tak di
ketahui. Betapapun sudah lama dirumuskan, banyak hal yang masih berupa
imaginer bagi banyak orang karena bahasannya adalah tentang hal-hal yang
jarang ditemui orang banyak. Banyak orang, tanpa perlu tahu teorinya,
kini sudah menikmatinya. Lorentz sangat membantunya.

Ruang lengkung masih sulit untuk di cerna orang yang hidup di 3 dimensi
ini (Baiquni, 1996). Contoh-contoh dari Mas Awang untuk terangkan bidang
lengkung itu amat bagus juga. Walau banyak contoh lain, nanti segera di
tambahkan. Nah, tetang pengembangan SALAM yang bukan menganut kaidah
fisika lazim yang Mas Awang sebut itu, tentu saya pingin tahu. Karena
yang tahu kesalahan suatu rumus, itulah yang akan bisa menemukan rumus
barunya. Tak akan orang temukan rumusan baru kalau tak melihat kesalahan
rumusan lama. Semoga Mas Awang temukan rumusan barunya.

Saya memang berusaha menghubungkan semua hal, sebisanya. Kesimpulan dari
banyak hal, saya pikirkan akan lebih baik dari pada kesimpulan dari satu
atau beberapa hal. Efeknya, seperti loncat-loncat permasalahan dilihat
orang lain. Maunya, karena sekolah di Ilmu Alam, ya mempelajari semua
yang ada di Alam, tak terkecuali. Kalau saja hanya satu bidang biasanya
hanya lokal kesimpulannya, tak regional, atau universal. Untuk agar
universal ya harus semua hal diamati, tak terkecuali (tentu sebisanya).
Misal soal skala materi bahasan: atom, bumi, tatasurya, jagad. Sering
saya dapatkan "induksi" di tiap skala materi, menunjang kesimpulan yang
didapatkan pada skala materi lain. Misal, barusan: angka 10 di: a). 10
sesar di sub basin, b). 10 sesar basin, c). 10 massa di tasurya,
diperkuat oleh 10 pasang materi di setiap level atom untuk satu pereode
sifat. Yakni 9 pasang elektron maximumnya di kulit ke 4, 5, dan 6.
Tambahan satu massa di pusat, ya yang sembilan itu menjadi sepuluih.
Hasilnya digunakan untuk deduksi, dan minta bukti. Disinilah: awalnya
gathering data, analisa, korelasi, buat teori, induksikan, deduksikan,
untuk meramal/prediksi kedepan, atau ramal daerah yang kurang data.

Deduksi-deduksi tadi mengarahkan saya untuk cari data baru. Sekitar 1
Gb, 250 paper tektonostarigrafi telah di dapat, termasuk 40 paper
petroleum system bumi, tektonophysic, tectonic and planetary science,
dll. Kini sudah 3 kali lipat power point kubuat, dari sekitar 50 power
point di th 2003. Paling menunjang ya si buku-buku seperti "origin and
evolution of the earth", Astronomi tody, global tectonic, global sea
level change, dan global-global lain.

Juga sebaiknya inter disiplin. Misal siklus stratigrafi, kecocokannya
dengan siklus evolusi flora-fauna, pergerak muka laut, pergerakan
lempeng, mantel, temperatur, curah hujan, ekonomi, palentologi, sejarah,
dll. Kalau sudah meneliti, tapi tak diketemukan korelasinya, ya gag
apa-apa. Itu rejeki orang sesudah kita.  

Hanya saja, tentu fokus tetap pada: "apa yang akan berguna bagi
manusia". Dan kalau tak ada gunanya (walaupun saya sudah berusaha
sebisanya), ya tentu lupakan saja teori siapapun itu. Gitu Mas? Nah,
hayooo, yang memberi ilmu akan mendapat ilmu lebih banyak. Akan ada
sinergi: analisa dari ide banyak orang akan jauh lebih bagus dari pada
hasil sendiri-sendiri. Setiap pengritik akan dapat point kebaikan. Hayoo
siapa lagi? Di tunggu.

Salam,
Maryanto.

-----Original Message-----
From: Awang Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Tuesday, July 26, 2005 9:09 AM
To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED]
Subject: RE: [iagi-net-l] Tectonic Mars, Earth.


Mas Maryanto,
 
Kita semua tahu bahwa Einstein sekitar tahun 1916 merumuskan kembali
gravitasi Newton dua abad sebelumnya ke dalam teori relativitas umumnya
berdasarkan ruang-waktu berdimensi empat yang melengkung, bukan atas
unsur satu dimensi. Dan dalam teorinya, waktu tidak menjadi lebih cepat,
tetapi justru lebih lambat karena ia harus menempuh ruang melengkung,
bukan datar, maka dikatakan waktu pun melengkung. 
 
Secara singkat, Einstein mengatakan hadirnya gravitasi di alam ini
karena melengkungnya ruang waktu. Untuk membayangkannya, selembar taplak
karet melayang di angkasa (dimensi dua), kita taruh bola kaki di
tengahnya, maka taplak akan melengkung di sekitar bola kaki itu, membuat
ruang (3 dimensi). Kita taruh lagi bola tenis di dekatnya, ia pun
melengkungkan taplak, tetapi bola tenis akan cenderung bergerak ke
lengkungan bola kaki yang lebih dalam. Einstein mengatakan ketertarikan
itu adalah gravitasi akibat ruang yang melengkung. Kita analogikan bola
kaki = Bumi, dan bola tenis = Bulan. Ini analogi sederhana, tetapi biasa
dipakai untuk menerangkan ruang-waktu melengkung yang sulit dibayangkan
itu. Tentu ada rumusan2 matematika atas konsep ini. Lagipula hal ini
sudah terbukti atas gejala alam sendiri. Cahaya dan waktu juga
dibelokkan atau melengkung karena gravitasi di ruang melengkung ini.
 
Kembali ke Bumi. Dalam semangat ruang melengkung Einstein ini, lebih
baik baik kalau kita melihat gerak-gerak lempeng tektonik sebagai gerak2
di atas bola dan bukan di atas bidang datar. Di atas bola bumi, sebuah
segitiga tidak akan pernah punya sudut 180 deg bukan ? Sebab bidang
lengkung Bumi akan membelokkan sisi-sisi segitiga sehingga ia
bagaimanapun tidak lurus dan akan membuat jumlah sudutnya lebih tumpul.
Kemudian, gerak lempengnya tak murni translasi tetapi rotasi, sekecil
apa pun busur yang ditempuhnya. Kemudian, coba kita amati busur-busur
kepulauan dan busur palung atau busur MOR, semuanya mengindikasikan
gerak ayunan di atas sebuah bola. Maka, tak tepat kalau kita menerapkan
geometri bidang datar Euclidean kepada gerak-gerak dan dimensi lempeng
itu, harus menggunakan geometri bidang lengkung Euler. Harus kita akui
bahwa tak banyak riset tentang ini.
 
Mas, kalau boleh saya komentari sesuai janji saya dulu, kelihatannya
pengembangan SALAM menjadi loncat sana loncat sini, menyabet
sana-menyabet sini, mengaburkan benang merahnya yang semula. Kemudian,
terlalu menghubung-hubungkan satu dengan lain hal yang sebenarnya bagai
bumi dengan langit; dan maaf, menyalahi beberapa prinsip fisika atau
ilmu alam yang lazim. Kalau saya boleh sarankan, lebih baik membatasi
penelitiannya di riset siklus-nya saja, seperti saat diusulkan 2-3 tahun
yang lalu. Kalau itu bisa terbukti, itu sudah lebih dari cukup sebagai
suatu kontribusi buat pengetahuan Bumi (saja), bukan ke Alam Semesta.
 
salam, 
awang

"Maryanto (Maryant)" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Syukurlah dhen Mas Hery, mantab benar sudah banyak belajar tentang Mars,
yang tentu sudah ada "Mars Hery Harjono". Bagaimana isinya Mas? Lewat
"Selat Sunda" pun, kalau memang rahmat, ya sampai juga ke Mars.
Disinilah, saya lihat LIPI, juga dari gudang doktor-doktor bumi lain
(P3G, BPPT, Vulkanologi, BMG, Lemigas, BATAN, dll), ku semakin semangat
mengatakan ada yang segera menjawab pertanyaan Eisntein, guna
memperbaiki rumusnya, atau tambah data setidaknya. Mungkin Dr. hery,
atau Dr. Djedi, Dr. Bijaksana, di lain tempat ada Mas Awang, Mas
Rovicky, Mas Taufik, dll, atau yang sudah profesor, asuhan embahnya
geologi Prof. Koesoema et al., atau yang lain. Kedalaman geologi amat
membantunya, yang minim di ketahui oleh fisikawan (ilmuwan alam). Dari
pulang kampung seminggu, ku tulis (tak banyak sih hasilnya) : Oleh-Oleh
dari Sempol, di ambil di sini dengan abstract sbb:
http://www.geocities.com/maryanto7/OlehOleh.Dari.Sempol.pdf

Abstract:
Bidang lengkung Einstein jadikan alam berdimensi satu lebih banyak, akan
menganggap jarak amat jauh menjadi amat dekat, serasa satu titiknya
saja. Bukti-bukti pernyataan itu di tambahkan di sini. Di bahas dimensi
untuk langit ke 7 atas pendapat Prof. Achmad Baiquni, serta Ir. Agus
Mustofa, setelah Prof. Herman Johannes. "SALAM Calendar", "ARIF",
"SYUKUR" Flower Structure di korelasikan dengan tambahan level-level
atom, misal ada 9 pasang electron pada satu level atam untuk mencapai
satu pereode sifat unsure atom. Susunan atom sepertinya adalah prototipe
sekala kecilnya materi lain yang disusunnya, termasuk molekul, bumi,
tatasurya, galaksi, jagadraya. Tidakkah umumnya pada setiap cekungan ada
100 sub cekungan? Juga tidakkah satu sub cekungan terdapat 100 sub-sub
cekungan? End of abstract.

Ada yang tahu/punya buku tentang "Evolusi jagad" ? Misalnya: evalution
of the earth, atau global tectonic, atau global-global lain? Mohon japri
(beberapa sudah ku dapat seperti daftar di bawah).

Belum sempat lihat daftar buku di geologi UGM kemarin, walau sudah masuk
seperempat jam. Asyik ketemu Tom Heidrick di sana, walau belum diskusi
lama. Mungkin saja buku tsb ada di UNPAD, ITB, UI, Trisakti, atau yang
lain. 

Setelah membaca sebagian besar dari 7 buku tentang evolusi jagad di
dapat April lalu, diskusi dengan dosen fisika UNS, dan UGM, serta
tambahan 10 buku evolusi jagad kemarin, akan menambah perbaikan teori
SALAM. Semoga bisa cepat sarikan yang sudah di baca 7 buku itu
diantaranya: 
1. Kent C. Codie & Robert E. Sloan, 1998, Origin and Evolution of the
Earth. Prentice-Hall, Inc. 2. Kearey & Vine, 1996: Global Tectonic,
Blackwell Science. 3. Ronalds T. Merrill, et al. 1996, The Magnetic
Field of the Erath, Academic Press. 4. Neil D. Odyke & James E.T.
Channell, 1996, Magnetic Stratigraphy, Academic Press.

Seminggu cuti, ternyata nambah jawaban adanya pasangan superplume yang
kuharapkan waktu berangkat dulu. 
Setelah cabut PBUD anak semata wayang masuk Kedokteran Trisakti, lalu
urusin PBUD Kedokteran UNS, Solo. Dapat kost bagus dan murah banget,
pulang Sempol (Pakem, Sleman, Yogya) lalu balik lagi PKU. Asyiikkk..

Wassalam,
Maryanto.

-----Original Message-----
From: Hery Harjono.
Den bei Salam,
Tahun 1984 saya ditawari riset seismologi di Mars..... terus jadinya di
Selat Sunda he he he. Gimana kabarnya? Hery



---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke