>
Mang Okim yang baik hati Tergelitik juga dengan e-mail yang dikirimkan terakhir mengenai asli atawa palsunyaGemstone. Susah juga ya ! Kebetuan batu kecubung(?) yang selalu ada dijari manis kiri sayasangat berarti secara histors dan emosional , karena merupakan hadiah ultah saya yang ke 44 dari Almarhum Isteri , sewaktu di Palembang. Kalau Mang Okim tidak lupa (semoga) , saya pernah memperlihatkan batu pirus yg diberikan oleh ayah saya (Almarhum) , dan waku itu dikayakan oleh Mang Okim sebagai batu masak (alias palsu). Batu itu sekarang pecah , dan ternyata rekahnya tidak sampai kedalam. Pertanyaannya sekarang: Apakah hal ini dapat dikatagorikan sebagai penipuan ? Mengingat transakasi yang dilakukan bisa berjumlah tidak terhingga , bagaimana Prosedur transaksi yang paling aman ? Si Abah Dear Gemstone Lovers, > Pada suatu hari, seorang pengusaha yang konon bergerak di perdagangan > helikopter datang ke Serambi Batumulia di Jalan Pajajaran Bandung. Di jari > tangannya terlihat sebuah cincin yang batunya memancarkan kilau labrador ( > labradorescence ).Pengusaha ini berkisah bahwa batu cincin yang dipakainya > merupakan hadiah dari seorang tua yang tidak dia kenal, yang kebetulan > berjumpa secara tidak sengaja di suatu tempat. Ada nuansa supranatural > dalam ceritanya. Mang Okim yakin, dibalik cerita tersebut, ada transaksi > yang tidak diungkapkan. Dan hal yang sering mang Okim khawatirkan terjadi > beneran. Dia menanyakan tentang jenis batu, keaslian, nilai komersilnya, > dan lain-lain. Mengapa khawatir ? Coba Anda bayangkan, gimana ngejawabnya > kalau batunya murah, sintetis , atau imitasi, sedangkan yang makenya > orang beken. > Dear Gemstone Lovers, > Sebetulnya, pada lirikan pertama, mang Okim sudah bisa menebak jenis batu > yang dipakai pengusaha helikopter ini. Bagi mereka yang sering keluar > masuk gedung-gedung bertingkat di Jakarta (kantor Total/Vico di Kuningan > Plaza) atau di Bandung (kantor BCA di Jalan Asia Afrika), pasti sangat > familiar dengan bahan batu cincin tersebut, karena jenisnya sama dengan > batu ornamen yang menghiasi lantai dan tembok gedung tersebut yaitu batuan > Labradorite ( kelompok plagioklas yang di perdagangan popular dengan nama > Labrador Chiaro ). > Coba pikir, pantas enggak siih kalau seorang pengusaha atau seorang > pejabat, apalagi seorang ahli geologi memakai batu cincin yang berasal > dari limbah batu ornamen yang namanya labradorite ? Rasa-rasanya > ngisin-ngisinkeun (malu-maluin) kan ? Walaupun mang Okim keturunan > pencinta sapi kerapan, karena Mang Okim bukan tipe orang tegaan, maka yang > bisa mang Okim jelaskan adalah bahwa batunya asli, namanya Labradorite, > diimpor dari Norwegia, kekerasannya 6 skala Mohs, berat jenisnya sekitar > 2,7 dan di Indonesia langka. Sedangkan harga komersilnya, sangat relative > dan tak punya standard, tergantung suka atau tidak suka. Alhamdulillah, > dengan jawaban diplomatis tersebut, mang Okim lolos dari situasi sulit > tanpa menanggung beban guilty feeling ( konsultasinya gratis lho ). > Sekedar catatan, sebetulnya ada siih labradorit yang berkualitas > batumulia. Warnanya biru berkilauan , sering memancarkan warna spectrum > yang indah, dan harganya lumayan mahal. > Dear Gemstone Lovers, > Di kalangan IAGI, khususnya yang seniors, ada juga siih yang pakai > batumulia beneran seperti misalnya Al Mukarrom Prof. Dr. Sukendar Asikin. > Beliau sering memakai batumulia opal, warnanya putih, opalescent nya kuat, > asalnya mungkin dari Banten atau Australia. Selain beliau, ada juga > senior dan satu-dua anggota IAGI lapis dua yang sering kelihatan memakai > Alexandrite yang sebenarnya adalah synthetic corundum alias jenangan. > Warnanya bisa ungu seperti kecubung asli yang dipakai Abah Yanto, atau > kemerahan seperti mirah delima, tergantung kepada lingkungannya, di bawah > sinar matahari atau lampu listrik. Memang pantas, apalagi kalau warnanya > dirasa cocok oleh pemakainya, dan punya nilai kenang-kenangan ( misalnya > dibeli sewaktu survey di Pacitan, Sukabumi atau di Restoran Puncak/Cipanas > ). > > Nah, itu dulu ya, yang bisa mang Okim dongengkan di akhir minggu yang rada > panas ini. Kalau Anda punya pengalaman lain, tolong di posting juga ya, > biar rame. Sampai cerita lainnya nanti, Salam batumulia, Mang Okim > --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina (Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id) Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id) ---------------------------------------------------------------------

