Trenyuh juga baca cerita kayak begini. Masing masing kayaknya punya 
interest. Kapan nih negeriku tercinta bisa bangun? 
 
 On 8/26/05, Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
> 
> http://www.gatra.com/artikel.php?id=87585
> 
> Menolak Kesepakatan Tanpa Nama
> 
> AGUSTUS tahun lalu, beberapa jam setelah menjabat sebagai Direktur Utama 
> PT
> Pertamina, Widya Purnama langsung melontarkan pernyataan menantang. Pria
> bertubuh tinggi besar ini bertekad melawan siapa saja yang merugikan
> Pertamina. "Saya akan lawan mereka, bahkan saya siap mati melawan mafia
> perminyakan," katanya di hadapan wartawan cetak dan elektronik.
> 
> Masih belum puas. ''Aparat dapat bertindak tegas terhadap penyelundup. 
> Kalau
> perlu, tembak saja!'' katanya bersemangat. Sebagai orang dengan bekal nol
> pengalaman di bidang perminyakan, tekad Widya itu terdengar nekat. Pria 51
> tahun ini juga menyatakan akan menolak pihak lain yang mengobok-obok
> Pertamina.
> 
> Kenyataannya, selama satu tahun menjabat, kursi Widya justru sering
> digoyang. Pekan lalu, goyangan untuk melengserkan Widya makin kencang.
> Menteri Negara BUMN, Sugiharto, memberi isyarat bahwa jabatan Widya tak 
> bisa
> diperpanjang lagi. ''Insya Allah, akan diganti sebelum akhir bulan ini,''
> katanya.
> 
> Seperti sadar akan nasibnya, Jumat pekan lalu Widya mengundang wartawan ke
> kantornya. Tapi jumpa pers itu tidak didesain sebagai pertemuan 
> perpisahan.
> Semua anggota direksi Pertamina hadir lengkap. Seolah-olah ingin 
> menyatakan
> bahwa direksi kompak dan tidak ada masalah serius di Pertamina.
> 
> Dengan tetap bersemangat, Widya memaparkan kinerja Pertamina selama berada
> di bawah kekuasaannya. Misalnya, ia menyebutkan pemasukan bersih Pertamina
> di luar pajak, depresiasi, dan pengeluaran non-kas lain (EBITDA) dari 
> sektor
> hulu mencapai Rp 6,72 trilyun hingga pertengahan tahun ini. Widya yakin 
> akan
> melampaui target pemerintah Rp 10 trilyun di akhir tahun. EBITDA sektor
> hilir juga melampaui target.
> 
> Sekadar mengingatkan, ketika tiga bulan pertama menjabat sebagai direktur
> utama, Widya pernah mendapat surat teguran dari Sugiharto. Ia dinilai 
> belum
> mampu menghasilkan EBITDA sesuai target pemerintah. Dengan pemaparan itu,
> Widya seperti hendak menunjukkan bahwa kinerjanya selama ini makin baik.
> 
> Tapi, selantang apa pun pernyataan Widya, kekuatan yang hendak mencopotnya
> sulit tertandingi. Selain Sugiharto, Menteri Koordinator Perekonomian,
> Aburizal Bakrie, pun menyatakan bahwa Widya tidak akan dipertahankan lagi.
> Wakil Presiden Jusuf Kalla sudah memberi lampu hijau. Kepada lingkaran
> dalamnya, Aburizal dan Kalla beberapa kali mengungkapkan kejengahannya
> terhadap gaya kepemimpinan Widya.
> 
> Widya pun dianggap membangkang pada pemerintah dalam kasus sumur minyak
> Cepu. Blok yang mengandung 1,4 milyar barel minyak itu sempat 
> ditelantarkan
> ExxonMobil Oil Indonesia selama empat tahun. Perusahaan ini semula 
> memiliki
> konsensi menggarap sumur Cepu sampai 2010.
> 
> Namun perusahaan asal Amerika itu meminta perpanjangan kotrak hingga 20
> tahun. Exxon mengaku telanjur menggelontorkan uang hingga US$ 450 juta 
> untuk
> pembelian saham Humpuss dan biaya eksplorasi. Jika masa konsesinya hanya
> sampai 2010, Exxon mengaku tekor. Tapi Pertamina menganggap pengeluaran
> Exxon tak lebih dari US$ 147 juta.
> 
> Adalah Widya yang berani menghentikan kerja sama dengan ExxonMobil, 26
> Agustus tahun lalu. Alasannya, ExxonMobil tidak beriktikad baik. ''Semua
> anggota direksi Pertamina setuju. Jadi, ini keputusan resmi,'' kata Widya.
> Keputusan itu diambil melalui kajian finansial dan teknis.
> 
> Keputusan Widya mengundang kegeraman ExxonMobil. Sampai-sampai, kasus ini
> menjadi agenda pembicaraan antara Presiden Amerika Serikat George W. Bush
> dan Susilo Bambang Yudhoyono, saat keduanya berjumpa di pertemuan APEC,
> Cile, November tahun lalu.
> 
> Pulang dari Cile, pemerintah langsung berbenah. Menteri BUMN Sugiharto
> membentuk
> tim perunding dengan ExxonMobil, 29 Maret 2005. Tim itu diketuai Martiono
> Hadianto, yang kini menjabat sebagai Komisaris Utama Pertamina. Anggota 
> tim
> 10 orang, terdiri dari Martiono, Roes Aryawijaya, Lin Che Wei, Muhammad
> Abduh, Umar Said, Mustiko Saleh, Iin Arifin Takhyan, Achmad Rochjadi, M.
> Ikhsan, dan Rizal Mallarangeng.
> 
> Dalam daftar itu tidak tampak nama Widya. Direksi Pertamina hanya diwakili
> oleh
> Mustiko Saleh, Wakil Direktur Utama Pertamina. Sedangkan semua anggota
> komisaris Pertamina ada di sana. Lin Che Wei adalah tenaga ahli Sugiharto
> yang menjabat sebagai sekretaris dalam tim tersebut.
> 
> Saat ini, Lin sudah menjabat sebagai Direktur Utama Danareksa. Jauh 
> sebelum
> terlibat di Cepu, Lin Che Wei pernah menjadi anggota tim pemerintah untuk
> berunding dengan Cemex dalam kasus Semen Gresik. Sedangkan Ikhsan dan 
> Rizal
> tercatat sebagai tenaga ahli Aburizal di Kementerian Perekonomian.
> 
> Penunjukan anggota tim itu juga diikuti penetapan tiga anggota yang 
> memiliki
> kapasitas istimewa, yakni Martiono, Lin Che Wei, dan Roes Aryawijaya. 
> Tanpa
> ketiga orang ini, negosiasi dianggap tidak valid. Bahkan rapat sudah
> dianggap kuorum asal ketiganya hadir dalam perundingan. Tapi, kepada 
> Gatra,
> Martiono menyatakan bahwa sebagian besar anggota tim hadir setiap ada 
> rapat.
> 
> Pembentukan tim oleh pemerintah itu menyudutkan Widya. Dia berpendapat,
> seharusnya Pertamina-lah yang menjadi perunding dengan ExxonMobil. 
> Sikapnya
> itu didukung para anggota Dewan Perwakilan Rakyat, yang merasa bahwa
> pemerintah sedang dikadali oleh Amerika. ''Kami tak mengakui tim perunding
> itu,'' kata Alvin Lie dari Komisi VII DPR-RI yang membidangi energi.
> 
> Dalam perjalanan selanjutnya, Martiono makin tampak berseberangan dengan
> Widya.
> Tiba-tiba saja, Martiono mengumumkan dicapainya kesepakatan dengan
> ExxonMobil. Pengelola Blok Cepu adalah konsorsium yang terdiri dari
> Pertamina, ExxonMobil, dan pemerintah daerah. Pertamina mendapat saham 
> 45%,
> ExxonMobil 45%, dan pemda 10%. Konsep kesepakatan itu tertanggal 25 Juni
> lalu.
> 
> Widya merasa dirugikan dengan kepemilikan Pertamina yang minoritas itu. 
> Jika
> ada kasus, posisi Pertamina jadi lemah. Ia khawatir, asing akan menyetir
> perusahaan. Kesepakatan itu juga dianggap janggal, karena melibatkan tiga
> pemda yang berhak ikut dalam Blok Cepu. Yakni Bojonegoro dan
> Tuban --keduanya di Jawa Timur-- serta Blora, Jawa Tengah.
> 
> Kenyataannya, pemda tidak punya cukup uang untuk ikut mengelola minyak.
> Pemda mengundang pihak ketiga. Kabupaten Bojonegoro, misalnya, mendirikan 
> PT
> Asri Dharma untuk mengelola Cepu. Perusahaan ini menggandeng PT Surya 
> Energi
> Raya milik Surya Paloh, pengusaha yang juga Ketua Dewan Penasihat Partai
> Golkar.
> 
> Menurut versi Widya, pemda seharusnya tidak ikut mengelola. Sebaiknya 
> pemda
> mendapat jatah dari Pertamina. ''Semua kendali ada di Pertamina,'' 
> katanya.
> Bila saham pemda masuk ke Pertamina, maka Pertamina menjadi mayoritas
> tunggal, dengan kepemilikan saham 55%.
> 
> Dalam kesepakatan itu, Widya tidak ikut tanda tangan. Yang nongol adalah
> tanda tangan Martiono, tanpa nama. Hanya tertulis "ketua tim perunding 
> Blok
> Cepu" dalam bahasa Inggris. Pada posisi wakil pemerintah tertulis Menteri
> Koordinator Perekonomian plus tanda tangan Aburizal Bakrie di atasnya.
> 
> Anehnya, tak ada tanda tangan pejabat penting lainnya yang selama ini
> membidangi minyak dan gas. Misalnya Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Hulu
> Minyak dan Gas Bumi (BP Migas), Kardaya Warnika, atau Menteri Energi dan
> Sumber Daya Mineral, Purnomo Yusgiantoro.
> 
> Sedangkan dari pihak ExxonMobil terdapat tanda tangan pejabat dari Mobil
> Cepu Ltd dan seorang Managing Director Ampolex Pte Ltd. Semuanya tanpa 
> nama
> jelas. Ampolex adalah perusahaan asal Australia, mitra ExxonMobil di Cepu.
> 
> Penolakan Widya atas hasil kesepakatan dengan ExxonMobil adalah salah satu
> sikap ketegasannya kepada pemerintah. Tapi, bagi para menteri, sikap Widya
> malah bikin pusing. Apalagi bukan kali ini saja Widya membangkang 
> perintah.
> 
> Dalam kasus Karaha Bodas, Widya menolak membayar US$ 300 juta atas 
> kerugian
> akibat pembatalan proyek ini. Meski di tingkat Arbitrase Internasional,
> Indonesia dinyatakan kalah, Widya tetap ogah membayar sebanyak itu. 
> Menurut
> dia, Pertamina hanya pantas membayar sekitar US$ 50 juta, sesuai dengan
> biaya yang telah dikeluarkan Karaha. Kasus Karaha Bodas ini sampai 
> sekarang
> belum kelar (lihat: Copot Pucuk, Cari Celah).
> 
> Widya juga sempat dituduh sebagai biang keterlambatan pasokan bahan bakar
> minyak, Juni lalu. Waktu itu, di beberapa daerah terjadi antrean panjang
> kendaraan di SPBU. Menteri Keuangan, Jusuf Anwar, menyangka ada problem
> manajemen pembelian BBM di Pertamina.
> 
> Dalam kasus ini, Widya tak balik menyerang Jusuf. Tapi Widya menolak kalau
> dikatakan ada masalah manajemen pembelian BBM. Ia hanya mengatakan, dana
> untuk mengimpor BBM biasanya ditransfer ke Pertamina pada awal bulan.
> Faktanya, uang untuk membeli BBM tidak cukup. Ketika terjadi kelangkaan 
> itu,
> pemerintah kembali menyetor uang pada 24 Juni, sehabis sidang kabinet, 
> atas
> perintah presiden.
> 
> Besarnya kucuran uang dari Departemen Keuangan dengan kebutuhan Pertamina
> memang kadang berbeda. Sebab Jusuf Anwar menggunakan harga minyak yang
> dipatok anggaran. Sedangkan Pertamina membeli minyak berdasar harga pasar.
> Saat ini, kelangkaan BBM sudah tidak terjadi lagi.
> 
> Masih soal BBM, Widya juga pernah dituduh mendahului pemerintah, ketika
> Pertamina menaikkan harga Pertamax dan elpiji, akhir tahun lalu. Ketika 
> itu,
> pemerintah baru merencanakan menaikkan bensin dan solar. Kenaikan harga
> Pertamax itu langsung diantisipasi masyarakat untuk memprotes rencana
> kenaikan harga bensin dan solar. Pemerintah akhirnya menunda kenaikan
> premium dan solar. Widya pun mendapat peringatan dari Sugiharto.
> 
> Dalam hal ini, Widya sebetulnya tidak bersalah, sebab tanggung jawab
> kenaikan harga Pertamax memang ada di Pertamina. Pasalnya, Pertamax tidak
> mendapat subsidi dari pemerintah. Kalau harganya tidak dinaikkan, 
> Pertamina
> bisa rugi hingga Rp 500 juta per tahun. Kekeliruan Widya saat itu, ia 
> tidak
> berkonsultasi dengan menteri lain. Widya pun tidak melapor pada Sugiharto
> ketika mengangkat direksi dan komisaris salah satu anak perusahaan
> Pertamina.
> 
> Sederet dosa Widya itu menyeretnya ke ujung jurang. Pemerintah kini tengah
> menggodok nama-nama pengganti Direktur Utama Pertamina. Kali ini, proses 
> uji
> kelayakan dan kepatutan tidak seperti biasa. Kata Sekretaris Menteri BUMN,
> Said Didu, pihaknya tidak lagi menyodorkan daftar pendek calon kepada Tim
> Penilai Akhir (TPA) seperti yang sudah-sudah. "Kelihatannya TPA sudah 
> punya
> daftar sendiri," ujar Said. Kementerian BUMN menangani administrasinya 
> saja.
> 
> Calon terkuat adalah Martiono, kawan serumah Widya di Pertamina. TPA yang
> diketuai presiden itu dikabarkan sudah setuju dengan Martiono. Aburizal 
> dan
> Jusuf
> Kalla pun mendukung. Namun masih ada calon lain yang pantas 
> dipertimbangkan.
> Antara lain, Direktur Jenderal Migas Iin Arifin Takhyan dan Kepala BP 
> Migas
> Tubagus Haryono. Ketika dikonfirmasi, Martiono tidak berani menyatakan
> kansnya untuk menjadi Direktur Utama Pertamina. ''Pejabat yang berwenang
> saja belum menentukan, kok,'' katanya.
> 
> Pengamat perminyakan, Kurtubi, menyatakan bahwa Martiono tahu isi perut
> Pertamina. Saat menjabat sebagai Direktur Utama Pertamina di bawah 
> Presiden
> B.J. Habibie, Martiono dikenal sebagai tokoh yang dekat dengan karyawan 
> dan
> pejabat lain. ''Di saat senggang, dia kan pintar nyanyi. Direktur-direktur
> lain nggak pernah menyanyi," ujarnya.
> 
> Tapi Alvin Lie mempertanyakan mengapa harus Martiono. ''Apakah kita
> kekurangan kader sehingga harus daur ulang?'' katanya sengit.
> 
> Widya yang sedang menghadapi kemungkinan kehilangan jabatan mencoba tegar.
> ''Saya anak tentara, hidup di asrama. Saya akan loyal dan bilang: yes 
> Sir!''
> 
> Rihad Wiranto, Astari Yanuarti, Hatim Ilwan, dan Arief Ardiansyah
> [Laporan Utama, Gatra Nomor 41 Beredar Senin, 22 Agustus 2005]
> 
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina (Ratna.Asharina
> [at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
> Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
> Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
> Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
> Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau 
> [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
> Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
> ---------------------------------------------------------------------
> 
> 


-- 
Salam hangat

Shofi

Kirim email ke