biasalah...otoritas yang lagi kebakaran jenggot tiba-tiba seperti
kelimpahan data-data dan bukti-bukti dari langit...

yang kerennya lagi...mereka sadar bahwa terjadi disparitas harga yang
menyebabkan rawannya penyelundupan..ternyata mereka gak bego-bego amat
ya?

yah..mudah-mudahan pemerintah dan seluruh tangan-tangannya akhirnya
sadar bahwa disparitas harga ini terjadi karena subsidi BBM yang TOLOL
!!

Subsidi BBM dicabut rakyat menderita? Ah, kata siapa itu....wong
ekonomi kita itu hampir 50% dibebani oleh siluman kok...kalo siluman2
itu diberantas..ya gak terlalu menderita rakyatnya..

On 9/11/05, Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Wah wah .... 
> Jangan sampai ini kebablasan nih. Lah wong aturan cost recovery-nya
> memperbolehkan lebih dari 50-50 kok. Menurut catatanku, perbandingan
> maksimum cost recovery limit itu :
>  - Brunei = none
>  - China = offshore (50-62.5 %), onshore (60%)
>  - India = none
>  - Indonesia = 80-85 % for oil, none for Gas
>  - Malaysia = 50% for oil, 60 % for gas
>  - Pilipines = 70%
>  - Vietnam = 40%
> 
> Rasanya aku pingin ngasi tahu pak jendral bintang satu ini tentang
> bagaimana PSC term ini bisa dibelokkan sana-sini dan sangat rawan. Pak
> Jendral, jangan sekedar menyalahkan KPS-nya tetapi emang term dan
> pengawasannya yg harus diperbaiki. Cost recovery emang boleh sampai
> 80%, Pak.
> 
> --- quote 
> "Tapi, ada juga yang kami temukan pembagiannya sampai 50-50 persen.
> Nah, kami curiga ada permainan di dalamnya. Ingat, semua itu dibayar
> dengan minyak, bukan dengan uang. Jadi, kebocoran BBM melalui KPS itu
> juga cukup tinggi," tegas jenderal berbintang satu tersebut.
> --- end quote =
> ============
> 
> Cost recovery bukanlah hal yg buruk, hany aperlu pengawasan ketat. Dan
> disinilah kelemahannya. Ini yg perlu disadari bersama
> 
> rdp
> ------------------
> Minggu, 11 Sept 2005, JawaPosdotcom
> KPS Migas Dicurigai
> 
> Curi Minyak lewat Pelanggaran Kontrak
> JAKARTA - Pencurian minyak tidak hanya dilakukan di laut lewat
> penyelundupan. Kerugian negara miliaran rupiah juga disebabkan
> banyaknya pelanggaran kontrak bagi hasil migas yang dilakukan
> perusahaan-perusahaan kontraktor production sharing (production
> sharing contract/KPS).
> 
> Mabes Polri saat ini sedang menyelidiki dugaan tersebut. "Selain fokus
> pada kasus pencurian di Balikpapan, kami memperhatikan kontrak-kontrak
> KPS yang dibuat selama ini. Di situ juga terjadi ketidakberesan yang
> luar biasa," kata sumber Jawa Pos di Mabes Polri kemarin.
> 
> Bagaimana modusnya? Pola bagi hasil pengelolaan minyak dengan KPS
> dimulai sejak 1966. Di area minyak dan gas yang dioperasikan
> perusahaan asing di bawah KPS, kontraktor diperbolehkan mendapatkan
> pendapatan setelah pajak serta biaya perbaikan 15-35 persen. Sedangkan
> untuk minyak dan gas 30-45 persen. Artinya, yang dibagi adalah ongkos
> produksi, bukan keuntungan yang didapat.
> 
> "Tapi, ada juga yang kami temukan pembagiannya sampai 50-50 persen.
> Nah, kami curiga ada permainan di dalamnya. Ingat, semua itu dibayar
> dengan minyak, bukan dengan uang. Jadi, kebocoran BBM melalui KPS itu
> juga cukup tinggi," tegas jenderal berbintang satu tersebut.
> 
> Sementara itu, kemarin manajemen PT Pertamina menemui Kapolri Jenderal
> Pol Sutanto di Mabes Polri Jakarta. "Senin (besok, Red) kami akan
> kembali menemui Kapolri untuk menjelaskan berbagai permasalahan yang
> ada. Sekaligus, melakukan koordinasi terkait dengan penanganan kasus
> yang saat ini terjadi," ujar Direktur Sumber Daya Manusia PT Pertamina
> (Persero) Supriyanto di Jakarta kemarin.
> 
> Menurut Supri -panggilan akrabnya-, koordinasi dengan Kapolri tersebut
> akan melibatkan Direktur Utama Pertamina Widya Purnama, Direktur
> Pengolahan Suroso Atmomartojo, serta Direktur Niaga dan Pemasaran Ari
> Sumarno. "Itu dilakukan agar kinerja satuan pengawas internal (SPI)
> kami bisa bersinergi dengan aparat kepolisian," jelasnya.
> 
> Lebih lanjut, Supri mengemukakan bahwa SPI itu tidak akan berhenti
> dengan ditemukannya berbagai kasus yang terjadi. "Tidak. SPI tersebut
> akan terus bergerak untuk menindak tegas mereka yang menyimpang,"
> sebutnya.
> 
> Lembaga yang dipimpin Luhur Budijatmiko itu memang selama ini banyak
> menindak tegas pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan karyawan PT
> Pertamina (persero).
> 
> Dari data yang dirilis Pertamina, SPI telah menindak 89 karyawan yang
> terlibat penyalahgunaan BBM maupun pelanggaran yang lain. Dari jumlah
> itu, 30 orang karyawan dipecat, 16 orang diturunkan pangkatnya, 9
> orang mendapat surat peringatan pertama (SPI) dan terakhir, 25 orang
> dikenakan SP I, 4 orang mendapat surat teguran, dan 5 orang dimutasi.
> 
> Juru Bicara PT Pertamina M. Harun menambahkan bahwa Pertamina secara
> khusus meminta aparat terkait menghukum pelaku dengan pasal berlapis.
> 
> "Kalau hanya menggunakan UU Minyak dan Gas Bumi No 22 Tahun 2001,
> penyalahgunaan angkutan dan niaga BBM hanya dipenjara 6 tahun. Kalau
> bisa, pelaku juga dikenai pasal perbuatan tidak menyenangkan atau
> pasal subversif biar memiliki efek jera," paparnya.
> 
> Dia menjelaskan, kondisi negara yang mengalami krisis akibat kenaikan
> harga minyak justru dimanfaatkan sekelompok orang untuk mengeruk
> keuntungan. Selain itu, Harun menyebutkan bahwa faktor pendorong
> terjadinya pencurian BBM adalah disparitas harga yang terjadi akibat
> subsidi.
> 
> Pengamat perminyakan Kurtubi mengatakan, Pertamina harus lebih tegas
> menindak pelaku. Salah satu di antaranya, menyerahkan pejabat yang
> benar-benar terlibat.
> 
> "Masak yang kena cuma pengawas jaga. Seharusnya pejabat nomor satu di
> kilang Balikpapan juga segera dicopot. Penyelundupan menggunakan
> tanker dan terjadi berulang-ulang ya nggak mungkin kalau dia nggak
> tahu," imbuhnya.
> 
> Meski demikian, Kurtubi menolak mengemukakan bahwa ada keterlibatan
> hingga tingkat direksi. "Kalau di tingkat direksi, saya tidak tahu.
> Kalau pejabat daerah, pasti dia terima setoran dari maling-maling
> tersebut," sebutnya.
> 
> Menurut Kurtubi, minyak mentah light crude yang dicuri dari Lawe-Lawe
> memang jenis minyak yang mudah diperjualbelikan.
> 
> "Kalau untuk minyak jenis ini, baik pasar spot, KPS, maupun industri
> membutuhkan. Sehingga kalau harga minyak USD 57 per barel, terus
> dijual USD 35, ya rebutan," ungkapnya.
> 
> Sumber Jawa Pos/Indo Pos di BUMN perminyakan tersebut mengemukakan
> bahwa aparat kepolisian harus segera menindak tegas pelaku-pelaku yang
> diduga melibatkan oknum TNI itu.
> 
> "Contohnya untuk kasus di Batam, yang terjadi adalah kapal TNI
> memiliki alokasi BBM bersubsidi yang mangkrak. BBM bersubsidi tersebut
> kemudian dijual ke agen Pertamina dan kapal-kapal milik asing,"
> sebutnya.
> 
> Pemerintah dan aparat diimbau untuk menuntaskan permasalahan itu
> dengan cermat. "Media massa juga harus mengawal karena kalau tidak,
> bukan tidak mungkin semua ini ditutup dengan duit karena ini uang
> besar. Pelaku sendiri mengemukakan bahwa untuk order saja, uang yang
> diberikan mencapai Rp 770 juta," ungkapnya.
> 
> 
> Polisi Air
> 
> Pada kesempatan terpisah, Direktur Polair Brigjen Pol Nengah Sutisna
> mengatakan bahwa tak ada anak buahnya yang terlibat dalam praktik
> haram menyelundupkan minyak di Lawe-Lawe. Hal itu dikatakan Nengah
> ketika dihubungi Jawa Pos tadi malam.
> 
> "Saya sudah cek ke Dir Polair Polda Kaltim Kombes Pol Sutriono dan
> dilaporkan bahwa anggota kita tidak terlibat," katanya.
> 
> Bahkan, masih kata Nengah, saat pertama kasus itu mencuat ke
> permukaan, Dir Polair Polda Kaltim pun mengaku tidak menahu-nahu
> masalah tersebut. "Tapi kalau ada orang dalam yang terlibat, kita akan
> periksa betul. Untuk sementara, satu per satu anggota kita diawasi
> gerak-geriknya. Saya juga minta laporan segera," lanjutnya.
> 
> Nengah melanjutkan, Dir Polair Polda Kaltim sampai kebobolan dengan
> kejadian itu karena kegiatan tersebut berlangsung rutin. "Kapal-kapal
> tanker rutin, yang biasa beroperasi di situ, membuat kita tidak
> curiga. Tapi, kita akan meningkatkan kewaspadaan. Yang kita curigai
> akan kita kejar," lanjutnya. (iw/naz)
> 
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina
> (Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
> Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
> Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
> Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
> Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau
> [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
> Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
> ---------------------------------------------------------------------
> 
>

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke