dari sudut pandang biostratigrafi, siklus sikuen strat. lebih mudah dilihat/diidentifikasi pada daerah tepi cekungan, tetapi resolusi umur lebih tinggi di daerah yang lebih dalam (bebas kontrol facies). dengan asumsi bahwa event naik dan turunya eustasi setidaknya berdimensi " basin scale" , maka menurut saya masalah umur bisa kita atasi.

dalam biostratigrafi surface yang relatif paling mudah dikenali adalah MFS, untuk daerah pinggir cekungan kita bisa melihat dari siklus perubahan lingkungan pengendapan (transgresive - regresive, dengan catatan interval sample harus cukup rapat), sedangkan di daerah yang dalam kita bisa lihat dari assosiasi foramnya (biostratigrapher akan bisa mengenali dimana kira-kira event maksimum depth (yang berasosiasi dengan condensed section). secata textbook, MFS berasosiasi dengan maksimum kelimpahan planktonik, tetapi menurut saya hal ini tidak semudah itu, karena beberapa MFS akan bisa menumpuk menajdi satu section yang sangat tipis dan sukar dipisahkan kalo dasarnya cuma maksimum kelimpahan planktonik. belum lagi masalah sample size yang tidak sama (karena analisa biostratigrafi biasanya tidak ditujukan secara spesific untuk analisa sikuen, sehinga sample size dan hal lain tidak diperhatikan). Dari identifikasi event ini kita bisa mendapatkan kandidat MFS beserta umurnya, selanjutnya kita bisa lakukan analisa kuantitatif biostratigrafi untuk menornalkan marker markernya, baru setelah itu kita korelasi termasuk MFS yang kita dapatkan baik di bagian yang dalam dan dangkal. Setelah kita dapatkan korelasi MFS ini (tentunya juga harus memperhatikan data lain termasuk seismiknya) serta marker yang lain, tentunya SB dan TS (kalo ada) akan lebih mudah diidentifikasi beserta umurnya. kombinasi foram dan nanno pada laut dalam akan bisa memberikan umur yang relatif detil untk MFS. Saat ini LAD dan FAD marker marker planktonik sudah banyak yang di dating sehingga umur absolutnya bisa diketahui.


salam
khoiril anwar



penamaan SB, makanya beliau suka untuk tidak menyebutkan angka-angka itu
dalam grafik-grafik paper resmi. Misalnya SB 21, maka bisa saja ini
umurnya bukan 21 Ma, dan mungkin  18 Ma hingga 24 Ma, sesuai dengan
braket lebarnya. Sayangnya, dalam membuat skala umur vs. Formasi, semua
hal tadi harus dilaksanakan, yang tentu SB21 diposisikan pada 21 Ma, dan
SB22 di possisikan pada skala waktu 22 Ma. Tak lain dari itu.  Kerja
sama beliau dengan Pak Ukat, dan sebutkan posisi SB21 adalah SB antara
Bekasap dan Duri Fm. SB22 antara Baji-Kedua Fm. Ini akibatkan suatu
pengertian sedimen yang amat tebal antara SB22-SB21 di Duri Field kalau
saja selisih umur itu, 22Ma-21Ma= 1 Ma, adalah setebal itu, amat jauh
lebih tebal di banding ketebalan sequence pada lokasi lainnya di CSB.
Atasi hal ini, anjuran saya, adalah batas bawah sequence itu 25.37,
berkurang 700 Ka, untuk batas bawah mulai (dalam Ma) 25.37 Menggala,
24.67 Dalam, 23.97 Jaga, 23.27 Baji, 22.57 Kedua, 21.87 Pertama, 21.17
LowerRindu, 20.47 Upper Rindu, 19.77 Duri1, 19.07 Duri2, dan 18.37
Telisa. Nadanya dengan ini, maka kecepatan pengendapan lebih
"reasonable", seiring transgresi mengangkat Duri menjadi paling tinggi
pengangkatannya di tengah CSB. Jadikan juga lapisan minyaknya dangkal,
kurang 650'-200 ' (230 - 70 m). Setara kedalaman orang ngebor untuk
sumur artesis (200'an m)  sudah dapatkan minyak.

Apakah memang begitu? Apakah ada data yang menolak hal ini?

Salam,
Maryanto.


Kirim email ke