Saya teruskan suatu artikel dari milis tetangga,

Seharusnya kita analisis secara lebih obyektif dan
pendekatan ilmiah dan juga ekonomi kerakyatan. Namun
minimal informasi ini dapat menambah wawasan berpikir
kita, tentang masalah umum di seputar kita saat ini.

Salam

TAM

=====================================================
FAQ Seputar Krisis BBM di Indonesia di bawah ini yang
disusun oleh Farid Gaban
=====================================================

PERTANYAAN YANG SERING DIAJUKAN (FAQ)
tentang Krisis BBM di Indonesia

Naskah ini juga bisa diakses dan didownload di bawah
ini
WEB: http://www.penaindonesia.org/bbm/
PDF: http://www.penaindonesia.org/bbm/subsidi.pdf
WORD: http://www.penaindonesia.org/bbm/subsidi.doc


PEMERINTAH MENGATAKAN, AKIBAT KENAIKAN HARGA MINYAK
DUNIA, SUBSIDI BBM YANG MENINGKAT DRASTIS AKAN
MENGANCAM DEFISIT ANGGARAN NEGERI KITA.
BENARKAH ?

TIDAK BENAR. 

Naiknya harga minyak dan gas dunia memang meningkatkan
jumlah subsidi BBM. Tapi, juga meningkatkan pendapatan
ekspor Indonesia dari sektor minyak dan gas.

Artinya: naiknya pengeluaran untuk subsidi diimbangi
oleh naiknya pendapatan ekspor migas. Anggaran akan
aman karenanya.

Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro mengatakan,
pendapatan ekspor migas  kita akan meningkat bersama
naiknya harga minyak di pasaran
internasional.

APAKAH SUBSIDI BBM MELEBIHI PENDAPATAN KITA DARI
EKSPOR MIGAS ?

TIDAK BENAR. 

Pendapatan ekspor migas lebih besar dari subsidi
minyak.

Menurut Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral,
pendapatan ekspor migas kita tahun 2005 ini mencapai
Rp 175 triliun.

Tahun 2004 lalu, pendapatan dari sektor migas ini
hanya Rp 122 triliun. Artinya ada kenaikan lebih dari
40%.

Sementara itu, masih menurut departemen yang sama,
subsidi BBM yang dihitung dengan harga minyak dunia
sekarang hanya sebesar Rp 135 triliun.

Artinya ada surplus dari ekspor migas. Dengan kata
lain, subsidi tidak akan mengancam defisit anggaran.

BENARKAH SUBSIDI BBM MERUPAKAN PENGELUARAN TERBESAR
NEGARA, SEHINGGA JIKA DIPERTAHANKAN BAKAL MENGANCAM
KEUANGAN NEGARA?

TIDAK BENAR. 

Di luar belanja rutin (gaji pegawai, pembelian barang
dan belanja pembangunan), pengeluaran terbesar
pemerintah pusat ditempati oleh pembayaran utang
negara.

Lihat Tabel di sini
http://www.penaindonesia.org/bbm/
http://www.penaindonesia.org/bbm/images/2004.jpg
http://www.penaindonesia.org/bbm/images/2005.jpg
http://www.penaindonesia.org/bbm/images/2005.jpg


BERAPA BESARNYA UTANG PEMERINTAH INDONESIA ?

Indonesia merupakan salah satu negeri pengutang
terbesar di dunia. Menteri Keuangan melaporkan pada
pertengahan September 2005, utang pemerintah Indonesia
mencapai Rp 1.200 triliun (seribu dua ratus
triliun rupiah), atau 52% dari Pendapatan Domestik
Bruto.

Indonesia juga salah satu negeri yang paling berat
beban utangnya. Sekitar 30-40% pengeluaran pemerintah
pusat beberapa tahun terakhir dipakai untuk membayar
cicilan pokok dan bunga utang negara. Makin sedikit
yang tersisa untuk belanja kesehatan dan pendidikan.

Pembayaran utang akan meningkat dalam tahun-tahun
mendatang : dari Rp 108,7 triliun pada 2004 menjadi Rp
118,5 pada 2006 depan.

WAKIL PRESIDEN JUSUF KALLA MENGATAKAN, KENAIKAN HARGA
MINYAK MERUPAKAN SATU-SATUNYA JALAN INDONESIA KELUAR
DARI KEBANGKRUTAN. 
BENARKAH PERNYATAAN ITU?

TIDAK BENAR. 

Pencabutan subsidi bukan satu-satunya jalan keluar
untuk mencegah kebangkrutan. Ada alternatif lain:

1. Mengurangi kebocoran belanja rutin, yang selama ini
banyak dikorupsi.
2. Mengurangi pembayaran utang dengan cara meminta
pemotongan jumlah utang.

MENTERI ABURIZAL BAKRIE MENGATAKAN: "PILIH MEMBAKAR RP
60 TRILIUN DI JALAN, ATAU SEKOLAH DAN RUMAH SAKIT
GRATIS". APA ARTI PERNYATAAN ITU ?

PERNYATAAN ITU MENYESATKAN. 

Sekolah dan rumah sakit gratis hanya janji kosong.
Pemerintah tidak akan mengalihkan Rp 60 triliun tadi,
jika ada, untuk belanja pendidikan dan kesehatan.

Tahun 2005, belanja sektor kesehatan hanya Rp 9,9
triliun, sementara pendidikan Rp 30,8 triliun.
Bandingkan dengan pengeluaran untuk pembayaran utang,
sebesar Rp 93,9 triliun.

Tidak hanya pendidikan kesehatan yang makin merana.
Pembangunan infrastruktur seperti jalan, air bersih
dan perumahan juga menyusut.

Belanja pembangunan terus merosot, sementara
pembayaran utang terus meningkat.

Lihat Tabel dan Bagan di sini
http://www.penaindonesia.org/bbm/images/utang.jpg

BENARKAH SUBSIDI BBM HANYA DINIKMATI ORANG KAYA, YAKNI
ORANG-ORANG YANG MEMAKAI BENSIN, SOLAR DAN LISTRIK
LEBIH BANYAK?

TIDAK BENAR. 

Baik orang kaya maupun orang miskin menikmati subsidi
BBM. Subsidi BBM adalah subsidi tidak langsung.
Artinya bukan bensin, solar atau minyak tanah itu
sendiri yang mempunyai arti.

Subsidi BBM menopang daya beli masyarakat. Jika
subsidi dicabut, daya beli masyarakat akan jatuh.

Bahan bakar merupakan komponen setiap barang dan jasa
yang kita konsumsi (pangan, sandang, perumahan,
obat-obatan, layanan pendidikan).

Jika subsidi dihapus, maka harga pangan, sandang,
perumahan, obat dan layanan pendidikan meningkat
drastis. Orang miskin akan semakin sulit menjangkau
kebutuhan pokok dan layanan dasar yang harganya
melambung.

Dampak kenaikan harga lebih besar bagi orang miskin
ketimbang bagi orang kaya.

TAPI, BUKANKAH ORANG KAYA MENGKONSUMSI ENERGI (MINYAK,
SOLAR DAN BENSIN) LEBIH BANYAK KETIMBANG ORANG MISKIN,
ARTINYA MEREKA MENERIMA SUBSIDI LEBIH BANYAK DARI
ORANG MISKIN?

BENAR. 

Orang kaya memang mengkonsumsi minyak dan energi lebih
banyak karena mereka punya rumah lebih besar (listrik
lebih banyak, untuk penerangan, kulkas dan AC) dan
punya mobil yang haus bensin.

Itu memang tidak adil. Harus ada cara untuk mengoreksi
ketidakadilan itu. Pencabutan subsidi bukan cara
satu-satunya. Kita tak perlu membakar rumah untuk
menangkap tikus.

ADAKAH CARA LAIN UNTUK MENGOREKSI KETIDAKADILAN ITU?

ADA. 

Ketidakadilan dalam konsumsi minyak bersubsidi bisa
dikoreksi dengan menerapkan pajak yang sangat tinggi
pada mobil pribadi, kulkas, AC, peralatan elektronik
dan sebagainya, untuk mengkomensasi tingginya
pemakaian bahan bakar mereka.

TAPI, BUKANKAH ORANG MISKIN DIBERI KOMPENSASI?

BENAR. 

TAPI JUMLAHNYA SANGAT SEDIKIT. Kompensasi pencabutan
subsidi pada Oktober 2005 ini hanya sebesar Rp 4,7
triliun untuk sekitar 15,5 juta keluarga. Bandingkan
angka itu dengan pembayaran utang negara yang mencapai
lebih dari Rp 90 triliun.

BUKANKAH SUBSIDI BBM MENYEBABKAN PENYELUNDUPAN?

BUKAN. 

Penyelundupan disebabkan oleh rendahnya kinerja
pemerintah dalam menegakkan hukum, di samping
merajalelanya korupsi. Gaji pegawai pemerintah terus
meningkat, tapi mengurus penyelundupan tidak bisa.

Belanja pegawai negeri meningkat dari Rp 54,2 tirliun
pada 2004, menjadi Rp 61,1 triliun dan diusulkan naik
lagi menjadi Rp 77,7 triliun pada 2004.





                
__________________________________ 
Yahoo! Mail - PC Magazine Editors' Choice 2005 
http://mail.yahoo.com

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke