Kawans,
 
Mari kita teruskan obrolan seputar program kegiatan IAGI. Dari 9 kategori 
kegiatan IAGI beberapa tahun belakangan ini (email bat 28 Sep), maka 
kategori yang berkembang baik menurut Abah adalah (terlampir): sosialisasi 
(terutama ke pemda)& publikasi, selain tentu saja konvensi tahunan kita. 
Sedangkan kategori yang dinilai tersendat (dengan berbagai sebabnya) adalah: 
sertifikasi, pembentukan badan-badan(yakni dewan kehormatan & penghargaan), 
soal keuangan dan semangat kebersamaan.
 
Saya kira kita semua setuju bahwa Konvensi tahunan dan publikasi (4 moda: 
majalah, warta, website, milis) mesti diteruskan. Saya kira tugasnya IAGI 
memang menyediakan wadah bagi orang perorang untuk membagi temuan risetnya, 
tetapi bukan melakukan riset itu sendiri. Orang perorang itu bisa melakukan 
risetnya (dalam arti luas) di kantor atau di kampus dll. Proyek-proyek 
sosialisasi ke berbagai pihak (pemda, legislatif, sekolah, umum) juga mesti 
diteruskan, terutama melalui kerja sama dengan pengda-pengda. Hanya saja 
mungkin kita perlu mengatur prioritas dan bagi tugas; misalnya, kita atur 
target jumlah obrolan ditingkat pusat (oleh PP), maupun ditingkat propinsi 
(oleh Pengda + PP?). 
 
Soal sertifikasi dan pembentukan badan nampaknya perlu ditinjau serius. 
Secara konsep kita tentu sudah berpikir berpanjang lebar tentang perlunya 
kegiatan tersebut. Tetapi dalam realitanya anggota tidak menanggapi serius. 
 
Tentang sertifikasi, apakah hal ini memang terasa manfaatnya terutama dari 
sisi karir ?. Apakah IAGI memang sudah dipandang layak mengeluarkan 
standarisasi tingkatan profesi tsb ?. Soal kelayakan, mungkin ada 2 hal 
disini, yakni kelayakan kapasitas penguji dan kelayakan / posisi lembaga 
IAGI. Berbagai perusahaan besar membangun / mempunyai jenjang senioritas 
kalangan profesionalnya secara ketat. Setiap tahun ditetapkan matriks 
kompetensinya dan diadakan pemeriksaan. Masing-masing perusahaan ini tidak 
selalu sama ukurannya dan kategorinya. Sekali lagi, apakah kita memandang 
perlu dan doable kegiatan penting ini ?. 
 
Soal (pembentukan) badan badan, ada empat badan yang dibicarakan disini: 
Badan Geologi Nasional (BGN), Forum Teknis Geoscience Untuk Tanggap Bencana 
Nasional, Kelompok Kerja Nasional Pengelolaan Kawasan Kars, dan Dewan 
Kehormatan & Penghargaan. Tanggapan dan gugatan mungkin perlu diarahkan 
terutama soal Dewan Kehormatan & Penghargaan ini, seberapa perlu ya ?.
 
Kalau soal keuangan / iuran..wah ini soal klasik di macam-macam organsasi 
dibanyak tempat. Bagaimana mengatasinya ? Belum pernah saya ketemu obat 
mujarab. Kelemahan kita semua adalah pada maintenance soal-soal kecil, 
semisal membiasakan diri membayar iuran ini. Kita toh tidak mempunyai 
mekanisme penalty yang cukup untuk membuat jera, jadi kita akan terutama 
bergerak pada level menghimbau dan mengajak, serta dengan memberikan contoh 
produk yang memikat (semisal publikasi dan kegiatan lain yang langsung 
mengena pada anggota).
 
Soal kebersamaan, nah ini soal yang buat saya penting sekali dalam rangka 
memajukan diri bersama-sama. Seperti kata rekan Gantok Subiyantoro dari 
Caltex – Riau, saya beberapa tahun didaulat menjadi kepala suku dari sebuah 
paguyuban para ahli Kebumian di kota Duri-Riau. Jumlah anggota mencapai 90 
orang (karena bergabungnya para engineers yang menjadi suka belajar geologi 
setelah kembali dari fieldtrip rutin kita). Dalam paguyuban tsb, prinsip 
saling memajukan diterjemahkan dalam pola yang lebih senior berbagi ilmu 
Kebumian dan kiat-kiat karir / pekerjaan melalui brown bag meeting 
dwimingguan. Disini tak harus dibicarakan hal yang tinggi2 amat, focus malah 
pada soal-soal praktis. (Sebuah milis antar geoscientists muda di Jakarta 
baru-baru ini berdiskusi soal RKB dan perbedaan datum antara driller dan 
logger misalnya). 
 
Keguyuban diusahakan melalui berbagai kegiatan olah raga / social bersama 
(fresh graduate geologist bareng dengan manager dll); semacam bareng 
bersepeda santai sekali seminggu dll (tidak harus golf tak iya...). Kita 
juga memelihara tradisi berbuka puasa bersama, terutama dikediaman senior 
atau kepala suku. Belajar dari sana, saya melihat kita di Jakarta punya 
peluang untuk membangun kebersamaan ini. Contoh: secara sendiri-sendiri kita 
jarang berolah-raga (yang muda malah lebih suka dugem mungkin ya), tetapi 
kalau serombongan jogging ke Senayan after office hour kan enak juga 
rasanya, apalagi ditambah tehbotol dan semangkuk bubur ayam. Toh kebanyakan 
kantor kita diseputaran segi tiga emas ini. Di usia mulai kepala 4 ke atas, 
menjaga sehat badan adalah soal penting banget.  
 
Halo abang, adek, bapak, dan ibu, mohon tanggapannya ya... 
Hampir setahun lalu saya lontarkan soal Friday’s Joke di milis ini, toh 
masih bertahan hingga kini..tapi soal program...sepi kali rasanya bah...IAGI 
adalah kumpulan orang yang utuh, bukan sekedar mahluk rasio, maka 
kegiatanpun sepatutnya tidak direduksi pada kegiatan oleh pikir saja. Ahli 
Kebumian tetaplah hanya seorang manusia yang sengaja menempa dirinya untuk 
paham atau agak paham soal bumi, karenanya kebutuhannya tidak terbatas pada 
berseminar dan beradu poster, melainkan juga nongkrong di warung Yu Juminten 
misalnya, ngobrolin akibat penambangan serakah terhadap alam dan orang 
disekelilingnya sambil nyeruput wedang jahe dan pisang rebus…, atau sambil 
mendengarkan permainan biola seorang guru besar di teras rumahnya.
 
 

Kirim email ke