Preambule

Hiruk-pikuk kampanye, debat, dan unjuk-opini yang berkaitan dengan penajaman 
proses menuju terpilihnya pimpinan baru IAGI telah dimulai. Luthfi, Lobo, Bat, 
Ben, dan Ridwan Jangkung masuk nominasi. Menjadi sangat penting bagi IAGI untuk 
membuat proses ini terpapar seluas mungkin ke khalayak anggota karena pada 
saat-saat inilah kita semua dibangkitkan dari kuburan ketidak-pedulian terhadap 
organisasi. Bangkit dan mulai tertatih-tatih menggapai IAGI, dengan berbagai 
motivasi dan drive; mungkin ada bara semangat purba yg terkobarkan oleh angin 
jaman baru, mungkin juga karena ada yang sengaja menggali-gali kuburan dan 
membangkitkan kita, mungkin juga karena kita ikut-ikutan (kalau gak ikut 
berarti gak gaul alias ketinggalan jaman). In any case, ini semua sangat 
bermanfaat buat IAGI karena momen-momen seperti ini bisa digunakan juga untuk 
introspeksi, cerita sejarah, mematok semangat, dan melontarkan janji-janji 
kreatif. Semua dibuka, semua dibedah. Ayo, kita lakoni bersama-sama; dan mari 
kita simak ide-ide yang berseliweran itu secara bijaksana sekaligus cerdas, 
sehingga kita semua mendapatkan manfaat sebesar-besarnya (disamping manfaat 
u/IAGI sebagai organisasi tentunya).

Internal

Secara sederhana, ada yang memaknai urusan internal IAGI dengan kesekretariatan 
yg rapi, rekrutmen (penambahan jumlah) anggota, penataan kelengkapan organisasi 
di pusat dan daerah2, penarikan (bayar) iuran, pertemuan ilmiah tahunan yg 
rutin, penyebaran Berita IAGI (news) 3 bulanan, dan penerbitan Majalah Geologi 
Indonesia yg tdk pernah terputus. Tapi ada pula yang merujuk istilah internal 
khusus untuk: peningkatan kwalitas saintifik majalah (para ahli) geologi 
Indonesia, peningkatan professionalisme anggota, kenaikan daya tawar 
(bargaining; baca:salary!) ahli geologi Indonesia (terutama) di perusahaan2 
yang berkaitan dengan ekstraksi sumberdaya kebumian (tambang, migas), 
peningkatan perkembangan ilmu geologi dari Indonesia oleh geologist Indonesia, 
semua anggota (100%) bayar iuran (yang gak bayar berarti bukan anggota), 
pelembagaan tradisi penghargaan-penghargaan, penataan informasi geologi 
Indonesia, bahkan sampai ke pembentukan Badan Geologi Nasional-pun bisa-bisa 
dianggap urusan internal (atau paling tidak: ujung dari urusan internal). 
Boleh-boleh saja, bisa-bisa saja, tapi musti juga diperhatikan prioritas, 
kemampuan (kompetensi), dan status logistik dari organisasi sehingga secara 
bijak (dan cerdas) harusnya kita juga memperhitungkan pembuatan (dan 
implementasi) program internal yang sekuensial, tidak loncat-loncat, 
berjenjang, dan makin lama makin kuat. Boleh juga, sich, sekali-kali menajajal 
kekuatan dengan melemparkan isu (eksternal) sertifikasi buat geologist expat 
dalam rangka penguatan bargaining (internal) geologist Indonesia. Itu telah 
dilakukan, dan ternyata permasalahannya lebih dari sekedar melempar; tapi harus 
juga ikut bermain, menekan, berteriak, dan menguasai opini pemegang kekuasaan. 
Nah,.. karena semua tantangan tsb tidak match dengan kemampuan dan logistik 
yang ada saat ini; maka mundur teraturlah kita. Belum lagi kalau masalah 
internal juga mencakup kreatifitas "sektor riil" seperti: routine luncheon 
talk, evening talk (fosi), guest lecturing, kursus terkait dengan PIT (maupun 
yg lepas - tidak terkait PIT), field trip yang terkait dg PIT, pembuatan 
data-base mineral Indonesia, data-base perguruan tinggi geologi Indonesia dan 
blueprint strategi pendidikannya, usaha sertifikasi ahli geologi perminyakan 
(sudah lebih dr 15 orang tersertifikasi), sertifikasi ahli geologi teknik 
(sedang dilakukan sosialisasi dan rekrutmen pendaftaran pasar, 17 oktober 
evaluasi, saat JCS diannounce), pembenahan aturan stratigrafi & peta geologi 
Indonesia yang sudah menerbitkan 3 buku dari 3 workshop terkait (jawa-1, 
jawa-2, sumatra-1), dan pelaksanaan seminar-seminar saintifik/profesional 
internal yg berkaitan sekaligus dengan peluncuran bukunya spt: Giant Field 
Seminar, Coal&Mineral Discovery, High P-T Metamophism in Indonesia, Potensi 
Karst Indonesia, dsb. Nah, kalau itu semua dimasukkan kedalam hitungan internal 
"affair" maka sebenarnyalah para pemimpin IAGI masa depan perlu untuk berpikir 
ulang dalam menambahkan agenda internalnya, karena tangan kita cuma dua, kaki 
kita cuma dua, dan kepala kita cuma satu. Yang kita butuhkan mengawal 
pemimpin-pemimpin IAGI masa depan adalah orang-orang yang bisa menggandakan 
kaki, tangan, dan kepala Presiden IAGI tanpa harus ribut status, tanpa harus 
repot muncul ke permukaan, tanpa harus menuntut. Merekalah para pengurus IAGI 
sejati; merekalah yang membuat IAGI berdenyut setiap saat, setiap waktu (paling 
tidak dalam nadi mereka sendiri).

Ar
Ariadi Subandrio, dia adalah presiden IAGI bayangan, sekjen IAGI sekaligus 
wakil Presiden IAGI untuk segala macam urusan, terutama urusan internal, tapi 
sering juga tampil menyuarakan IAGI eksternal, tandatangan a/n Ketua, ambil 
keputusan kesekretariatan, pengda2, dsb. Ar terkenal dengan panggilan "owner" 
(maksudnya owner-nya Pertamina), karena kalau dihitung-hitung selama 5 tahun 
ini dia lebih banyak ngantor di IAGI daripada di Pertamina. Siapa lagi yang 
bisa melakukan itu kalau bukan "owner"nya Pertamina,.. begitu celetuk 
kawan-kawan di sekretariat. Dia konsepor ulung, pengetahuannya tidak hanya 
terbatas di Migas, tapi sudah merambah ke berbagai macem masalah termasuk 
masalah intrik2/isu2 politik (khususnya ttg apa yang terjadi di Pertamina dan 
dunia seputaran gedung selatan Monas, Kuningan, dan Patrajasa). Tapi jangan 
kaget, selain konseptor ulung, Ar juga implementor yang handal. Kalau gak 
handal, mana mungkin IAGI bisa jalan kenceng selama ini..... :-) Beberapa event 
yang langsung digagas dan dikomandoi oleh Pak Sekjen yang patut kita 
ketengahkan disini adalah: Kerjasama Field Trip IAGI-BPMigas untuk nambah 
income IAGI, Pembentukan Pokja Info Air Bersih Aceh, Koordinasi pengeboran 10 
sumur di IAGI-RTI di Meulaboh, sponsorship rutin untuk penerbitan Berita (News) 
IAGI, 3 raker dan 2 munas IAGI, dll. 

HEW
Handoyo Eko Wahono alias HEW, alias Opa, dia adalah mesin pencari dan sekaligus 
penjaga keuangan IAGI; rapat/ketemu dg pengurus yang lain mungkin hanya 3-4 
kali dalam setahun (Rapat Pleno, Rapat Khusus, Raker, Munas, dan acara2 
khusus), tetapi keuangan berjalan lancar dan komunikasi baik lewat email dan 
terutama SMS oke-oke saja. Dalam mekanisme keuangan selalu harus ada 
tandatangan 2 dari 3 orang (Ketum, Bendahara Umum, dan Bendahara 1 - Shinta); 
sehingga setiap bulan sekali minimal kita pasti berhubungan lewat pembubuhan 
tandatangan di cek yang diantarkan oleh Pak Sutar (iagisek). HEW sangat concern 
dengan pemaksimalan pendapatan dari setiap event yang diadakan IAGI, termasuk 
sampai ke jualan buku-pun dia urusi. Salah satu hasil tangannya adalah 
penyerahan semua cetakan buku Petroleum Geology of Indonesia Basin (buku biru) 
yang 14 Volume dari MPS/BPMigas ke IAGI untuk dijual dan hasilnya masuk ke kas 
IAGI. Walaupun sedikit, tapi lumayan buat nambal pengeluaran kesekretariatan. 
HEW berkantor di Patra Jasa (tentunya di BPMigas) dan spesialisasinya yang 
tersohor adalah ahli tawar menawar harga sewa hotel, makanan, kamar, ruang, 
dsb-nya dalam rangka mengadakan event2 organisasi. Koneksi-networknya seabrek, 
mulai dari pejabat, eksplorasionis, ceo2 sampai sales manager hotel, spg, 
sampai ke MC-MC beken, sampai ke model-model yg bodi-nya aduhai;... yang 
biasanya dikerahkan untuk mengawal event2 yang diselenggarakannya (baik di 
BPMigas, IAGI, HAGI, atau yg lainnya). 

nDaru
Sukmandaru Prihatmoko alias nDaru, dia adalah Presiden IAGI sejati bagi 
kawan-kawan anggota yang kerja di mineral dan pertambangan, karena dia 
menguasai semua permasalahan teknis, saintifik, bisnis, ketenagakerjaan, dan 
politis (terutama kaitannya dg regulasi) tentang pertambangan. Dia adalah ahli 
geologi tambang, Ketua IAGI Bidang Pertambangan 2000 - 2005, selama masa 
kepengurusan ADB. nDaru adalah person dibalik sukses IMCD Seminar & Book 
(Indonesian Mineral and Coal Discovery) disamping tentunya Pak Chairul Nas sang 
Ketua Panitia, Kang Ipul yang "riil sector", dan kawan2 panitia lainnya. Kalau 
tidak salah nDaru menjabat sbg Exploraton Manager-nya Austindo yang punya 
tambang sedang FS di Cibaliung Banten sana. Dia seringkali tidak bisa dijumpai 
di rumahnya, karena spt umumnya kawan2 yang kerja di Mining, Mineral, Coal,... 
dia/mereka nongkrong di lokasi, di center of action langsung. Meskipun demikian 
kontak selalu dilakukan baik lewat email maupun sms. Kalo gak salah di Labuan 
pak nDaru sering jadi langganan warnet untuk monitor dan komunikasi dg kita2 di 
PP soal macem2. Diskusi Pertambangan internal IAGI, Usulan IAGI ttg RUU 
Minerba, RUU Tambang, RUU Sumberdaya Alam (yang gagal), kasus Buyat, 
White-Paper Road Map Pertambangan Indonesia, Database Mineral Indonesia adalah 
sebagian kecil dari hal-hal yang ditangani pak nDaru selama di IAGI. Yang 
pasti: kalau Presiden IAGI (yang notabene orang migas) butuh referensi soal 
mineral-pertambangan orang pertama yang dikontak adalah pak nDaru.

Ipul
Mohammad Syaiful alis Kang Ipul alias Mr. Riil Sector, adalah Ketua IAGI Divisi 
Professional / Divisi Kegiatan sejak 2004-2005. Sebelum itu di PP-IAGI kang 
Ipul ini pegang urusan Guest Lecture dan Staff Implementasi Khusus (2000-2004). 
Tapi karena Pak Kuntadi Nugrahanto yang Ketua Divisi Professional 2002-2005 
mengundurkan diri akhir 2004, maka mau gak mau kang Ipul didapuk menggantikan 
Uun (Kuntadi) terhitung sejak Januari 2005 kemarin. Sebelum dipegang Uun (dan 
Ipul), Divisi Professional ini juga pernah ditangani oleh Sanggam Hutabarat 
(2000-2002). Kenapa Kang Ipul disebut sebagai Mr. Riil Sector? Karena orangnya 
gak terlalu banyak urusan teori, tapi langsung-langsung saja implementasi. 
Sudah banyak hasil karya program-program ybs baik di FOSI, maupun terutama di 
IAGI (dan terakhir di IPA). Dan kebanyakan programnya berkaitan dengan 
ajar-mengajar, sumbang-menyumbang buku, peralatan, batu, dsb-nya. 
Specialisasinya dalam kepanitiaan (PIT, JCJ, JCS, IPA) adalah urusan teknis 
presentasi - makalah, yaitu urusan inti dalam setiap event ilmiah yang benar2 
memang mau ilmiah. Mr Riil Sector ini selalu cerewet dengan detail persiapan, 
dan memang kecerewetannya ini banyak membuahkan hasil kesempurnaan. Para 
pemimpin IAGI masa datang mutlak harus punya back-up orang-orang kayak kang 
Ipul ini. Coba saja kalau ada 10 saja orang macem Ipul ini di Jakarta, pasti 
semua organisasi kebumian sukses terus miting-miting dan guest lecturenya.

mas Agus
Agus Handoyo alias AHH, dia adalah Ketua IAGI bidang Keilmuan yang menjabat 
sejak 2003 sampai sekarang. Selain di IAGI mas Agus juga menjabat sebagai Ketua 
Departemen Teknik Geologi ITB. Nah,... sibuk sekali, khan?  Sebelumnya 
(2000-2002) jabatan Ketua Bidang Keilmuan ini dipegang oleh Kustomo Hasan dari 
P3G/Badiklat/Setjen ESDM. Pergerakan operasional mas Agus di IAGI agak 
terbatas, seperti umumnya Ketua-Ketua yang lain (kecuali IPUL dan Sekjen). 
Selain karena ybs harus mengurusi dosen, mahasiswa, dan beberapa kerjasama 
industri-geologi itb, dia juga harus mengajar rutin, ninjau mahasiswa ke 
lapangan, dsb, dsb; sehingga hanya dalam beberapa kesempatan saja mas Agus bisa 
mewakili IAGI secara eksternal di beberapa event dimana Ketum tidak bisa hadir 
(terutama di Bandung). Tetapi dalam komunikasi, kontak, dan pembahasan strategi 
dan operasionalisasi organisasi terutama yang menyangkut masalah keilmuan dasar 
(Komisi Sandi Stratigrafi, Komisi SDM/KNPGI, Komisi Karst Geowisata, Luncehon 
Talk, Kursus, dan Special Seminar) mas AHH ini hampir selalu bisa dipastikan 
hadir dan berkontribusi. Belum terhitung komunikasi2 sms dan email. Pleno 
tahunan PP-IAGI tak pernah absen.

Abib
Abdurrachman Assegaf alias Abib adalah Ketua IAGI Bidang GTL (Geologi Teknik 
dan Lingkungan) sejak 2003 sampai sekarang. Sebelumnya adalah mas Harris 
Pindratno yang ada di posisi ini 2000-2002. Mas Harris ini adalah pejabat di 
Distamben Prov DKI, sedangkan kang Abib dosen di Universitas Trisakti. Kalau 
melihat tampangnya yang brewokan kita pasti serem, tapi begitu mendengar 
suaranya yang lembut tapi macho (gentlemen) kita jadi betah berlama-lama 
diskusi dan berbincang dg ybs. Saat ini Abib sedang dikejar-kejar target untuk 
menggoal-kan sertifikasi GTL yang sudah digagas sejak 2002 yang lalu supaya 
pada JCS November bulan depan sudah ada yang dianugrahi sertifikat GTL IAGI di 
Surabaya. Abib juga mengkoordinasikan pendapat masukan IAGI untuk RUU 
Sumberdaya Air December 2003 yang lalu, dan aktif selama 2004 dalam 
kegiatan-kegiatan yang mengatasnamakan IAGI untuk pembuatan UU ttg air tanah. 
Pada saat IAGI membentuk Task Force Pokja Info Air Bersih Aeh, Abib dengan 
segera mengerahkan mahasiswa2nya begadangan di iagisek untuk membantu pokja 
tsb; bahkan ada pula yang bisa TA dan KP melalui kegiatan pokja tsb.

BPI
Bambang P Istadi atau Beng, atau BPI, adalah Ketua IAGI Bidang Migas 2004-2005. 
Sebelumnya berturut-turut di posisi ini adalah Bagus Setiardja (2000-2002), 
kemudian Bambang Manumayoso (2002-2004) yang karena tugas kerjanya pindah ke KL 
maka sementara di tangani oleh Landong Silalahi (2003-2004). Sempat juga sekali 
Pak Landong aktif di awal 2003 datang ke Mataram bersama Ketum dan Pak Alit 
untuk sosialisasi migas di NTB, tapi setelah itu karena kesibukan kerjanya 
beliau menghilang dari percaturan PP. Maka untuk mengisi kekosongan tsb mas BPI 
pun masuk sebagai Ketua Bidang Migas setahun terakhir ini. Selama hampir 
setahun menjabat, BPI banyak berperan dalam mensosialisasikan geologi migas ke 
LSM2 (Walhi-Jatam), menyelenggarakan a-day seminar ttg CEPU dan menangani 
masalah IP 10% Block Cepu dengan membentuk Task Force Tim Advokasi Cepu. Saking 
aktifnya mewakili PP- IAGI dalam berbagai pertemuan (termasuk di workshop 
stratigrafi sumatra di Duri), sempet juga mas BPI dapat peringatan dr kantor, 
shg sekarang agak mengerem untuk bisa keluar kantor ber IAGI ria, kecuali 
after-office hour tentunya. Jaman masih dipegang Pak Bagus, Bidang Migas ini 
berprestasi dengan menyelenggarakan Giant Field Seminar bersama dengan kawan2 
FOSI dan juga melakukan beberapa kunjungan/surat ke pejabat-pejabat 
Migas/Pertamina/BPPKA untuk menyumbangkan pemikiran mengenai 
eksplorasi&eksploitasi migas Indonesia. Pada akhir jaman Pak Bagus, Divisi 
beliau bekerjasama dengan Komisis Sertifikasi berhasil pula memberikan 
sertifikasi Geologi Perminyakan yang pertama kepada 8 anggota IAGI di Surabaya. 
Pada jaman mas mBong (Bambang Manumayoso) telah diterbitkan satu CD khusus 
sosialisasi Migas IAGI yang diujicobakan di NTB dan sekarang menjadi CD wajib 
yang bisa diakses oleh setiap anggota dengan mengontak iagisek. 

(bersambung)

Kirim email ke