Ikut nimbrung sedikit untuk meramaikan wacana marketing lulusan geologi

Selain yang dikemukakan Kang Danny Hilman, sebenarnya ada satu market buat 
lulusan geologi terbaik kita yang memang prosentasinya kecil:

Jadilah Earthscientist atau Researcher atau Lecturer di lembaga-lembaga riset, 
akademis atau universitas/institut di LN.
Tapi memang untuk karier seperti itu, diperlukan minat dan bakat kearah dunia 
akademis dan ini merupakan suatu pilihan hidup.

Memang selama ini geoscientist terbaik kita (walaupun banyak bukan S3) banyak 
bekerja di kumpeni migas dan mineral di LN seperti di ME, Malaysia, North 
Sea,  Amerika dll. Ini yang saya perhatikan di milist IAGI.

Salah satu cara simple tapi tidak mudah adalah ambil S1, S2 di DN, terus cari 
peluang untuk S3 di LN, kalau perlu kerja dulu di kumpeni 2-3 tahun untuk 
ngumpulin modal awal sekolah S3 utk thn 1 atau ke2 di LN, karena berdasarkan 
pengalaman saya pribadi ternyata sangat mudah untuk mendapatkan beasiswa kalau 
sudah diterima dalam PhD program. Publikasikan risetnya dalam jurnal-jurnal 
international ternama (terutama yang memiliki Citation Index yang tinggi), ini 
merupakan modal besar untuk melanjutkan karier di dunia akademis.

Setelah S3, ambil program post doctoral 2-5 tahun sebelum mencari permanen 
position sebagai assisten proffesor, terus berlanjut jadi associate proffessor 
dan akhirnya full professor. Tapi ingat cari program post doct yang terbaik 
dan gaji yang memadai , bukan menjadi ‘slave’ dari professor yang menggajinya.

Yah memang dibandingkan dgn bekerja di kumpeni, gaji memang relatif kecil, di 
US mungkin sekitar 2500-5000 $ per bulan untuk post doc, 3500-6000 $ untuk 
assisten atau associate prof. Tapi profesi ini cukup menjanjikan, dan menjamin 
kebebasan akademik.

Ingat dua tahun lalu, ada wacana “Malaysia menculik doctor-doktor terbaik 
kita”. Atau dalam kata lain Malaysia memperkerjakan doktor-doktor terbaik kita 
untuk bekerja di instansi penelitian atau akademisi mereka, dgn iming-iming 
gaji yang tinggi. Memang sayangnya yang diculik adalah staf pengajar terbaik 
kita di PTN atau PTS ternama.

Yah itulah kenyataan yang terjadi saat ini, bukan hanya melulu berpikir dalam 
kerangka ‘nasionalism’ atau ‘brain drain’, tetapi suatu peluang karier buat 
lulusan geologi terbaik kita.

Conto yang terbaik adalah Prof. Sangkot Marzuki (direktur Lembaga Biologi 
Eijkman), sebelum dipanggil pulang oleh Habibie. Beliau adalah Proffesor di 
salah satu universitas di Australia, setelah memiliki labnya sendiri, beliau 
mempekerjakan banyak staf PhD dan mhs PhD dari Indonesia untuk menunjang 
risetnya.

Conto yang lain Dr Joni Setiawan yang bekerja di Max Planct Institute, Jerman 
atau Dr. Roby Muhammad di New York, dan banyak conto-conto yang lain. 
Di bidang lain seperti IT, Biologi, Fisika dll banyak sekali scientist kita 
berkiprah di LN, tapi kenapa di bidang G & G tidak terdengar gaungnya.
Selama ini market tersebut diisi oleh geoscientist dari China, Jepang, India, 
Pakistan, Mesir dll.

Salam

Ade Kadarusman
von Humboldt Research Fellow
Institut fuer Mineralogie und Kristallchemie, 
Universitaet Stuttgart, Azenbergstr. 18, 70174, 
Stuttgart, Germany

On leave from Puslit Geoteknologi-LIPI Bandung


Quoting "D.H. Natawidjaja" <[EMAIL PROTECTED]>:

> Halo Bung Rovicky apa kabar? 
> Iya betul tuh.  Apakah universitas mau ngikutin pasar aja atau mau
> berinovasi untuk menciptakan pasar baru?.  Kelihatannya Pendidikan
> Geologi Indonesia sekarang masih sangat ditujukan untuk memasok pasar
> tenaga kerja di bidang ekplorasi dan eksploitasi SDA (MiGas dan Mineral)
> ya ?
> Alasannya: kayanya kita semua sudah pada tahu... bidang geologi lain
> yang non-migas dan mineral tidak begitu diketahui atau mungkin tidak
> dihargai oleh masyarakat, pemerintah dan dunia bisnis...sehingga
> lapangan kerjanya sempit (padahal seharusnya bisa besar)...dan kalaupun
> ada kerjaannya imbalannyapun mungkin tidak sebesar didunia MiGas.
> Dampaknya: sebagian besar lulusan yang terdidik di bidang geologi (baca:
> urusan ekplorasi minyak dan mineral) tidak tertampung di dunia-nya
> sehingga harus kerja di dunia lain, termasuk di dunia geologi
> non-migas/mineral seperti di lembaga penelitian dan instansi pemerintah.
> Artinya: lapangan kerja geologi di bidang non migas mineral diisi oleh
> para geologiawan yang notabene kurang ahli dengan bidang pekerjaan
> barunya ini.
> Tentu ini berakibat profesi  geologi di bidang non-migas/mineral ini
> akan kurang berkembang atau akan kurang dihargai/dipercaya oleh
> masyarakat/bidang disiplin ilmu lainnya yang berkaitan.
> 
> Sekedar ilustrasi.  Sekarang ini ada timbul kesadaran di masyarakat
> tentang pentingnya mitigasi bencana alam.  Mitigasi bencana ini katanya
> sudah seharusnya diperhitungkan dalam pendidikan, kemasyarakatan dan
> pembangunan infrastruktur wilayah dan termasuk juga sudah seharusnya
> dimasukkan dalam kurikulum sekolah mulai dari SD. Nah, bagaimana
> "kesempatan lapangan pekerjaan" ini bisa dilaksanakan kalau para ahli
> kebumian kita hanya ahli dimasalah migas dan mineral?  Kecuali kalau
> kita beranggapan bahwa bidang geologi seperti ini engga perlu
> training/pendidikan  khusus, tapi cukup pengetahuan geologi umum
> sedikit-sedikit tambah logika... beress.  Dan pada prakteknya mungkin
> biar kerjaannya ngawurpun engga apa-apa karena yang meriksa juga engga
> tahu itu ngawur atau engga :-)... Mudah-mudahan engga begitu ya.
> 
> Dari dulu kita juga suka mengeluhkan bahwa kalangan sipil kurang
> menghargai profesi ahli geologi dalam teknik sipil.  Tapi coba telaah
> lebih dalam, kenapa begitu?  Apakah karena lulusan geologi kita yang
> kerja di bidang ini kerjanya ngawur?  
> Saya ingat dulu ada ahli geologi yang mengatakan kalau ada kota yang
> dilewati sesar aktif sarannya enak aja: "sebaiknya dipindahkan aja
> kotanya".  Tentu saja para ahli bidang lain dan pemerintah cuma ketawa
> ngakak dengernya kan?
> Sebulan lalu saya pernah diundang untuk berbicara dihadapan para ahli
> arsitek senior dan beberapa planolog.  Waktu itu saya khusus memberi
> penjelasan tentang apa itu sesar aktif dan bagaimana bahayanya kalau
> keberadaannya tidak diperhitungkan dalam pembangunan infrastruktur.
> Responnya: mereka cukup terperangah.  Mereka bilang kok kita engga
> pernah tahu tentang masalah ini, kan ini hal yang sangat penting untuk
> diperhitungkan oleh para arsitek, ahli sipil dan planolog?  Saya
> terusterang ikut heran juga... apa benar informasi geologi ini tidak
> pernah sampai ke bidang lain?  Segitu lemahnya gaung geologi di bidang
> non migas dan mineral.
> 
> Saya heran kok banyak lulusan geologi yang tidak mengerti bahwa sumber
> gempa itu adalah bidang sesar yang bergerak bukan berupa titik ledak.
> Engga ada bedanya dong dengan lulusan geofisika yang mengira bahwa
> sumber gempa itu adalah titik episenter meskipun gempanya berskala
> (Richter) lebih dari 7.  Padahalkan mereka ini dapat pelajaran tektonik
> dan geologi struktur ya ?  Hanya mungkin terlalu difokuskan kepada
> pemetaan sesarnya untuk ekplorasi saja, tidak mendalami proses alamnya
> sendiri.
> 
> Sekian saja, sekedar wacana untuk meramaikan diskusi.
> 
> Salam,
> Danny
> 
> 
>


---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke