Pak Lutfi,

Pertanyaan Pak Lutfi : "Mengapa opal Banten yang begitu indah dan kaya warna kalah populer dengan opal Australia" ? Mang Okim coba jawab ya, mudah-mudahan rekan-rekan yang pernah bermukim atau mengunjungi tambang-tambang opal di New South Wales atau Australia Selatan dapat melengkapi.

1. Berbeda dengan di Australia, cadangan opal di Banten sangat terbatas. Sekitar tahun 1987, sebuah perusahaan Australia mencoba menambang opal Banten secara besar-besaran. Tumbler ukuran raksasa didatangkan ke lapangan untuk menyortir opalnya. Tak sampai 2 tahunan, perusahaan tersebut gulung tikar. Kolam-kolam besar bekas galian ditinggalkan begitu saja. Sementara itu, para penambang tradisional masih terus bertahan sampai saat ini. Hasil mereka langsung ditangkap oleh tengkulak untuk dibawa ke Jakarta. Dalam hal ini tak terlihat adanya perhatian serius dan apalagi kebanggaan dari pemerintah daerah akan potensi opalnya yang sampai saat ini tak ada duanya di Indonesia.

2. Kalau di Australia ada black opal, maka di Bantenpun ada juga black opal. Hanya black opal Banten oleh sebagian ahli yang tahu disebut sebagai soft opal. Sebabnya karena di antara black opal Banten tak sedikit yang kurang stabil, apalagi yang opal gelas, dimana dengan perubahan temperatur tertentu atau kelembaban udara yang rendah bisa meretakkan opal tersebut ( di kamar ber AC dll ). Mang Okim pernah diminta tolong oleh Bu Rini Soewandi ( sewaktu menjabat Menperindag ) untuk merevisi black opal Banten yang dibeli oleh beliau dalam suatu pameran di Surabaya (puluhan juta rupiah lho ). Opal beliau yang beratnya sekitar 60 karatan pecah jadi dua. Ketika mang Okim keker dengan loup, ternyata yang satu mengandung juga retakan rambut. Akhirnya, opal yang tadinya hanya satu butir langsung jadi tiga ( untung enggak ya ??? ). Tentu saja Bu Rini kecewa berat. Untung saja belinya tidak ke mang Okim, bisa runyem deh. Contoh lain, besan mang Okim punya satu set opal kristal gelas yang warnanya sangat indah. Rupanya opal tersebut disimpen di ruangan ber AC yang dinyalakan terus menerus ( maklum listriknya ditraktir ). Akibatnya, ketika mau kondangan dan opalnya mau dipakai, seluruh opalnya remek seperti kaca mobil kena benturan keras.

3. Tak jarang dalam opal Banten jenis kristal putih tiba-tiba muncul noktah putih seperti susu. Noktah ini yang bisa meluas, sangat mengganggu pancaran warna yang tadinya utuh. Nilai jualnya tentu saja akan jatuh berat. Inilah keluhan serius para pedagang opal yang sulit dicari pemecahannya.

4. Kisah di atas hendaknya tidak digeneralisir karena tak sedikit juga opal Banten yang stabil ( mudah2an yang dipakai Prof.Sukendar Asikin masih utuh ). Apakah ke- lunak-an atau ketidak stabilan opal Banten berkaitan dengan umurnya yang relatif muda ( Pliosen ) dibandingkan dengan opal Australia ( Pra-Tersier ?) ? Ataukah karena overburdennya yang tak seberapa di opal Banten dibandingkan dengan di opal Australia sehingga mempengaruhi kestabilannya ? Tolong bantu mikirin yaa.

5. Terlepas dari hal-hal di atas, opal masih terus diburu khususnya oleh para penggemar Jepang dan mereka yang lahir di bulan Oktober. Dan bagi mereka yang ingin tahu lebih jauh tentang opal Banten, ada tulisan mang Okim bersama Dr.Einfalt ( Bretten,Germany ) dan Dr.Hein ( Idar Oberstein, Germany ) di Journal of The Gemmological Association of Australia, Vol.22, No. 6, April-June, 2005, judulnya Opals from Java.

Nah, sekian dulu ya, nanti kalau ada jawaban lain disambung lagi. Salam batumulia, mang Okim

----- Original Message ----- From: "Achmad Luthfi" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Cc: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, November 17, 2005 6:44 PM
Subject: RE: [iagi-net-l] SEPUTAR BATU GIOK


Bulan lalu saya melihat cincin pria dengan mata dari opal banten sangat
indah warna-warninya dengan sinar lampu etalase di Bandara
Sukarno-Hatta, ternyata Opal Banten keindahannya tidak kalah dengan opal
Australia yang sangat terkenal dan mahal. Kenapa Opal Banten yang begitu
indah dan kaya warna kalah popular sama opal Australia? Tolong Pak Miko
brief kami. Trims

Salam,
Luthfi




---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke