Vick oleh2 Anda berdialog dgn P' SBY menyegarkan forum IAGI-net. Kalau sekarang teman2 geologist/geophysicist dari CPI (Chevron PI/dulu Caltex PI) dan Total Indonesie pindah ke Petronas Malaysia bisa dimaklumi karena perbedaan kesejahteraan cukup mencolok, tapi saya gak tahu apa ini yang menjadi mendasari kepindahan teman2 tsb. Memang operator PSC pelit terhdp national staff, seiring dgn itu sering kali juga dipersoalkan oleh institusi di negeri kita sendiri bila teman2 kita di PSC dibayar dgn nilai yg exclusive, memang setan masih melingkar di negeri kita (lingkaran setan). Pak SBY memang tahu penemuan jeruk karena pernah dipresentasikan oleh Santos dihadapan beliau dan beberapa Menteri di Istana Negara, kebetulan waktu itu saya berada dalam presentasi itu, susahnya kalo bule Santos me-markup cadangan di forum spti ini susah menghentikannya, sehingga percepatan pengembangan Jeruk mendapat prioritas, namun apa daya Jeruk masih perlu dilakukan evaluasi geologi yang mendalam, ini senjata untuk memperlambat laju aktifitas pengembangan jeruk. Sebetulnya yang mendapat komersialitas pertama di blok ini adalah struktur Oyong, kalo dlm iklan ada Jeruk makan Jeruk, maka dengan cadangan Jeruk kalo pengembangannya tidak dilakukan evaluasi geologi yg mendalam maka bisa terjadi Jeruk makan Oyong (revenue dari Oyong dimakan cost untuk Jeruk). Soal PSC Indonesia, memang ada sebagian PSC yang mengatakan perlu insentip agar mereka bersedia going to frontier. Saya punya pengalaman ikut dalam tim membuat paket insentip '94, draft paket '94 didiskusikan dengan kel. IPA secara insentip, perkiraannya dengan insentip '94 investasi di frontier akan meningkat karena paket '94 khusus dirancang untuk menarik investor ke daerah frontier. Setelah paket '94 diterbitkan ternyata tidak banyak berdampak karena perubahan lingkungan bisnis minyak sangat sensitive terhadap parameter keekonomian lahan. Seringkali kita merespon sesuatu yg tidak pas, ibaratnya lain yang gatal lain yang digaruk, maka persoalannya menjadi berlarut-larut. Menurut hemat saya yang sekarang menjadi hambatan bagi investor adalah kemudahan akses ke data, bisa dianalogkan begini, kalo lahan baru itu layaknya mobil baru, ada investor yang ingin beli mobil tentu dia ingin mendapatka info ttg spesifikasi dan kenyamanan mobil itu, investor untuk mendapatkan brosur harus beli, setelah beli brosur, dia ingin masuk ke show room ternyata harus bayar tiket, setelah masuk ternyata sampai didalam mobilnya masih ditutup dengan cover dan untuk membuka cover harus bayar lagi. Yah inilah yang bikin ribet buat investor, belum lagi masalah spec survey yang membelit. Kalo di Negara maju, misalnya northsea/Norwegian sector data mudah diakses karena mereka berprinsip data untuk bersama dan bersaing dalam interpretasi/evaluasi, jadi yang dikompetisikan adalah "brainware" bukan kekuatan untuk mengakses data. Masalah Pertamina, ada yang menarik dari pengalaman Statoil (Pertaminanya Norway), 2 minggu lalu di kantor kami ada seminar dengan NPD (Norwegian Petroleum Directorate)dan CCOP tentang Upstream & Downstream. Salah satu topic yang menarik adalah bagaimana Pemerintah Norway memajukan Statoil, hasil studi mereka dari berbagai perusahaan Negara di dunia, mereka membuat 2 model yang disebut old fashion dan new fashion. Dulu Statoil masuk dalam kategori old fashion karena penentuan board of commission, board of directors dan CEO didominasi oleh dunia politik, dari hasil studi tersebut maka pemerintah Norway memodifikasi peraturan perundangannya agar Statoil bisa ditransfer ke new fashion yaitu penentuan Board of Commission, Board of Directors dan CEO berdasarkan administrative dan professional criteria dan bukan berdasarkan political criteria. Apakah PT. Pertamina akan cepat maju ? sebetulnya saya selalu optimistic attitude, namun melihat di negeri kita untuk jabatan2 tertentu masih disebut jabatan politik (tentu ada political concern) kayaknya kalo mengacu studi Norway untuk Statoil koq rasanya PT. Pertamina masih jauh panggang dari api. Salam, LTH -----Original Message----- From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Thursday, December 15, 2005 12:31 AM To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED] Subject: [iagi-net-l] Dinner dengan Pak Presiden SBY FYI: Saya mewakili IATMI-KL (Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia - Kuala Lumpur) utk dinner bersama Pak SBY tadi malam. Saya sendiri tidak menyangka ternyata saya duduk satu meja dengan beliau ... Berikut uraian ringkasnya ... sambungannya besok ya ================================= Acara dinner dengan Pak SBY aku ulas sementara sekilas dulu, berhubung aku sampai dirumah sudah jam 12 malam. Alhamdulillah semua "point concerns" IATMI-KL sudah saya sampaikan ke pak SBY. Beliau juga menanggapi dengan sangat-sangat serius. Surat yg sudah dibuat konsepnya oleh Pak Jurtul Hariprimadi sudah disampaikan ke Pak Andi Malarangeng sesuai saran Pak SBY sendiri ketika "ngobrol" sambil makan malam. Seteah diperkenalkan oleh Pak Dubes saya memperkenalkan ttg keberadaan IATMI-KL dengan pasukannya sebanyak 150 orang. Beliau sangat mengerti bahwa kondisi perekonmian Indonesia masih belum pulih sempurna walaupun jelas menunjukkan hal-hal yg membaik. Beliau akhirnya bertanya ke saya "Jadi nanti kalau Indonesia sudah membaik bersedia membangun negeri sendiri kan ?". (duh njawab piye ya ) ... aku hanya menjawab "Kalau memang kondisinya sudah memungkinkan tentunya banyak teman-teman IATMI-KL bersedia membangun kembali ke Indonesia, Pak". Beliau berjanji akan mengundang ulang ahli-ahli Indonesia. Hal ini juga ditegaskan lagi oleh Ibu Ani (Ibu Presiden) untuk mengundang ahli-ahli profesional Indonesia. Kebetulan dalam satu meja ada juga bekas pegawai IPTN yg saat ini bekerja di kedirgantaraan di Malaysia. - PSC Term Saya memberitahukan tentang bagaimana Petronas dahulu belajar dr Indonesia, dan mereka sedikit merubah PSC term, Dan hasilnya cukup bagus seperti yg diutarakan teman2 di IATMI yg bekerja di Petronas. Beliau menanggapi bahwa memang PSC term saat ini sedang mengalami ujian di beberapa negara. hal ini terjadi sehubungan dengan perkembangan harga minyak, fiscal term dll. PSC term yg diadopsi juga oleh negara2 lain ini juga beliau rasakan utk dilihat lagi. Menurut Pak SBY, PSC term harus menguntungkan negara, itu harus. Namun juga harus mampu untuk bersaing mengundang investasi. Saya juga bercerita bagaimana Petronas merubah sistem relinguishment sehingga menjadi cycle (recycle) explorasinya lebih maju. - Pertamina. Saya bertanya, bagaimana dengan Pertamina pak, apakah masih belum bisa disejajarkan dengan Petronas. dahulu Petronas belajar ke kita kan ? Beliau menyatakan sudah memiliki sebuah policy tersendri untuk Pertamina. Policy beliau adalah dengan membuat play ground sesuai dengan kemampuan Pertamina dibanding dengan pesaing2nya. Beliau membuat sebuah strategy sehingga pertamina paling tidak didalam negeri mampu untuk bersaing dengan cara membuat regulasi (red perlindungan) sehingga kalau dipertandingkan dengan BP, Chevron, dll pertamina yg masih jauh dibawah ini tidak langsung mati. Beliau tahu bahwa Pertamina masih perlu proteksi, namun sulitnya jangan sampai keenakan. Proteksi ini harus bertahan dikurangi sampai pertamina mampu. Contoh tentang BBM yg diperbolehkan diusahakan oleh perusahan dr luar. Ini semestinya menjadi ajang Pertamina untuk belajar mandiri.... (tantangan nih buat Pertamina mas mBong !) Beliau juga tahu dan mengerti bahwa telah terjadi salah urus di Pertamina dimasa lampau. Termasuk beban-beban yg ditanggung Pertamina. Termasuk beban utk pemerintah, partai2, serta pribadi2 yang ... (sambil beliau memasukkan tangan ke saku .. maksudnya banyak koruptor di Pertamina, rdp). Beliau mengerti tetapi proses hukum merupakan prioritas dalam menangani kasus2 korupsi/penyelewengan seperti ini. (note: hampir selalu Pak SBY menyatakan segala sesuatu penyeleseian kasus pelangaran harus dengan proses hukum/peradilan, dalam dialog terbukanya beliau juga menyatakan tidak senang dengan laporan yg katanya si anu.) - Cepu. Saya memberitahukan bahwa potensi Cepu sangat besar. Lapangan disana mampu memproduksi 200 rb bph. Prosesnya sudah berlarut-larut sehingga produksi bisa tertunda lama. Beliau menanggapi --> Masalah cepu yang G to G (Government to Government) sudah selesei, sekarang tinggal masalah B to B (Bussines to Bussiness) . Beliau menyatakan juga bahwa kita saat ini Indonesia memerlukan income dari minyak tersebut. Sehingga masalah B to B harus diseleseikan secepatnya. (jadi bener dugaan saya bahwa dahulu diawali dialogue G to G, wich is beyond my knowledge). Beliau juga menginginkan Jeruk Field (note: wah SBY tahu juga Jeruk discovery) serta beberapa lapangan baru untuk segera onstream. Wah ini tantangan ... pak SBY sangat ingin produksi migas Indonesia kembali meningkat. - Investasi Saya bertanya bagaimana dengan investasi, masih perlukah dana dari luar ? Kan Indonesia banyak orang kaya ? Beliau menangggapi soal dananya orang Indonesia yg sempat parkir di luar negeri. Beliau menyatakan ini masalah yg cukup kompleks dan menyatakan sudah memiliki policy utk menarik kembali salah satunya mungkin dengan memutihkan pajaknya. Sehingga dana-dana itu bisa kembali utk diinvestasikan di Indonesia. Note : Dalam hal pelanggaran hukum, beliau lagi-lagi menekankan harus melalui proses ini. Namun kita tidak boleh mengungkit-ungkit masa lalu. Kesalahan masa lalu memang ada, namun kelebihannya juga ada. Kita harus mulai dari sekarang ke depan. Beliau menyatakan lebih menatap kedepan ketimbang menyeleseikan masalah2 masa lampau. Kesan-kesan lain tentang makan malam dengan beliau : - Rileks - Santai - Sederhana - Tidak banyak bertanya, namun menjawab serta menanggapi pertanyaan dan pernyataan dengan serius. Sekian dulu deh, .... dah setengah dua malem nih .... besok aku terusin dengan : - Tsunami Aceh - IPTN - Demokrasi yg kebablasan - Guyon dan lelucon SBY RDP -- --Writer need 10 steps faster than readeR -- -- --Writer need 10 steps faster than readeR -- --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina (Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id) Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id) --------------------------------------------------------------------- --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina (Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id) Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id) ---------------------------------------------------------------------

