98.7 % from target .... Sebuah angka yg cukup bagus sebagai pembanding
antara goal set
(target) dan pencapaian riil. Angka-angka 98.7 ini tentunya menunjukan
kesuksesan pengusaha perminyakan dalam meningkatkan dan atau
mempertahankan produksi minyak.

Namun, perlu kehati-hatian menggunakan angka "kotor" ini dalam APBN.
Maksud saya, mestinya ada angka riil GOI (Govermenment Intake), jumlah
bersih yg diterima negara karena harus ada potongan-potangan dari Cost
Recovery serta production sharing dengan KPS. Sehingga kita tahu
persis berapa dari sisi pendapatan negara.
Adakah yg tahu berapa nilai riil GOI-nya ?

Nah kalau APBN didasarkan pada produksi kotor tentunya angka-angka
total volume minyak tidak dapat dipakai sebagai patokan kesuksesan
atau performance.
Akan lebih bagus (riil) kalau APBN didasarkan atas berapa pendapatan
bersih dari sektor migas, bukan dari volume total produksi dalam bbl.

Saya yakin riil saat ini (hari ini) sudah dibawah 1 juta bopd. Namun
jelas saya bersyukur Indonesia masih berproduksi diatas 1 juta bopd
(rata-rata dalam satu tahun). Angka 1 juta ini merupakan sebuah angka
psikologis buat ekonomi di Indonesia. Perubahan digit ini sangat rawan
dipergunakan dalam percaturan.

RDP

On 12/29/05, Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Bagian GOI yang murni hanya dari FTP 10-20 % produksi yang tidak diberlakukan 
> di semua blok. Kemudian dari bagian share Pemerintah, tetapi akan banyak 
> terpangkas oleh beban cost recovery yang ditagihkan oleh Kontraktor, dan juga 
> dari pendapatan pajak. Maka, pendapatan GOI jelas tak akan 85 % seperti 
> split-nya, tetapi jelas lumayan signifikan di bawah itu.
>
>   Penemuan cadangan baru menurun tajam dibandingkan tahun 2004. Bagaimana mau 
> menemukan cadangan baru kalau banyak sumur eksplorasi dibatalkan atau tak 
> bisa direalisasikan ? Seharusnya, kita sama-sama belajar dari sejarah : 
> semakin banyak sumur eksplorasi dibor semakin banyak cadangan baru ditemukan. 
> Tahun ini, kita melakukan yang sebaliknya, maka terimalah dengan hati lapang 
> kalau cadangan baru sedikit ditemukan. Buah kesalahan ini akan kita petik 
> 5-10 tahun ke depan, tak akan ada cadangan baru yang akan menggantikan 
> produksi yang menurun terus !
>
>   Apakah kita, para eksplorasionis, akan membiarkannya ??!  Kalau tidak, 
> borlah sumur2 yang sudah direncanakan dan disetujui, hanya pahat bor yang 
> membuktikan penemuan minyak, bukan studi atau survey.
>
>   salam (prihatin eksplorasi 2005),
>   awang
>
> Ariadi Subandrio <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>   Brp persen bagian GOI dr produksi 2005 yang sekitar 385an juta barel itu?
> ar-.
>
>
> 12/26/2005 12:22:59 PM
> REALISASI PRODUKSI MINYAK INDONESIA 2005 CAPAI 98,7 PERSEN
>
> JAKARTA – Realisasi produksi minyak mentah Indonesia sepanjang 2005 rata-rata 
> mencapai 98,7 persen dari target APBN-Perubahan 2005, atau mencapai 1,061 
> juta barel per hari (bph). Banyak faktor yang menjadi penyebabnya, tetapi 
> yang paling menonjol adalah kondisi geografis dimana sebagian besar lapangan 
> mulai tua, sehingga produksinya menurun secara alami.
>
> "Sekitar 88 persen lapangan produksi sudah mulai tua (mature dan depleted). 
> Laju penurunan alami berkisar 5-15 persen per tahun. Jika tidak dilakukan 
> upaya apapun, tingkat produksi Indonesia tahun 2005 diperkirakan hanya 
> mencapai 900 ribu barel per hari, atau 83,7 persen dari target APBN 2005 yang 
> ditetapkan sebesar 1.075.000 barel per hari," kata Kepala BPMIGAS, Kardaya 
> Warnika, dalam jumpa pers akhir tahun, di Bandung, beberapa waktu lalu.
>
> Penemuan cadangan baru belum menyumbang upaya peningkatakan produksi secara 
> signifikan, sebab walaupun sepanjang tahun 2005 terjadi peningkatan wilayah 
> kerja baru sebesar 32 persen dari tahun sebelumnya, kegiatan lapangan yang 
> dilakukan hanya berhasil menemukan cadangan minyak dalam ukuran yang relatif 
> kecil.
>
> Berbagai masalah yang muncul di lapangan, menambah tingkat kesulitan upaya 
> peningkatan produksi, misalnya kendala perizinan, pembebasan lahan dan 
> pengadaan material (misalnya di lapangan Tiaka, Salawati dan Oyong). Selain 
> itu juga ada berbagai gangguan seperti banjir, pencurian dan gangguan listrik 
> juga menjadi penyumbang kesulitan peningkatan produksi. Kegiatan-kegiatan 
> maintanance di beberapa lapangan produksi, juga ikut menjadi penyebab 
> produksi suatu lapangan menurun untuk sementara waktu.
>
> Akibat dari berbagai keadaan tersebut, jumlah KKKS yang memenuhi komitmen 
> pasti hanyalah 42 KKKS, sedang jumlah KKKS yang tidak memenuhi komitmen pasti 
> berjumlah 45 KKKS, walaupun sebagian besar KKKS melakukan survey sesmik dan 
> pemboran.
>
> Untuk mengatasi masalah, Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas 
> Bumi (BPMIGAS), melakukan berbagai langkah terobosan. Usaha-usaha yang 
> dilakukan antara lain mengusahakan penambahan pemboran sumur, mengusahakan 
> penambahan work over dan reaktivasi sumur serta mendorong pengembangan 
> lapangan produksi (misalnya pengembangan Lapangan Tiaka di Sulawesi Tengah 
> dan Sukowati di Jatim).
>
> Melalui usaha-usaha jangka pendek ini, laju penurunan produksi bisa ditekan. 
> Hasilnya sepanjang tahun 2005 realisasi tingkat produksi minyak rata-rata 
> menjadi 1.061.000 barel per hari, atau 98,7 persen dari target APBN 2005 
> (data sampai bulan November). Selain itu juga berhasil ditemukan cadangan 
> minyak sebesar 134,6 juta barel. Peningkatan cadangan minyak terbesar berasal 
> dari lapangan-lapangan yang dikelola oleh Pertamina, BP-ONWJ dan 
> ConocoPhillips. ). Sebagai informasi, pada awal tahun 2005, cadangan terbukti 
> dan potensial minyak dan gas bumi Indonesia adalah 8,17 miliar barel minyak 
> dan 180 TCF gas.***
>
>
> ---------------------------------
> Yahoo! Shopping
> Find Great Deals on Holiday Gifts at Yahoo! Shopping
>
>
>
> ---------------------------------
> Yahoo! for Good - Make a difference this year.
>


--
--Writer need 10 steps faster than readeR --

Kirim email ke