>

  BRAVO .......................HIDUP SDM INDONESIA

  Si Abah.

  Republika, Kamis, 26 Januari 2006
>
> Wajah Lain TKI di Malaysia
>
>
>
> Sekitar 15 orang tampak duduk santai di sebuah kafe di kawasan apartemen
> Kampung Warisan, Kuala Lumpur (KL). Suasana Jumat malam pekan lalu itu,
> benar-benar mereka nikmati setelah sepekan penat bekerja di kantor.
> Sebagian besar tinggal di apartemen dekat kafe tersebut, tak heran kalau
> banyak yang saat itu bercelana pendek. Hangat, akrab, dan penuh ger-geran.
> Siapa mereka? Mereka adalah tenaga kerja Indonesia (TKI) yang mencari
> nafkah di Malaysia. Ada yang baru enam bulan, tapi ada juga yang lebih
> dari
> empat tahun. Mereka merasa kerasan di Malaysia karena selain iklim
> kerjanya
> enak, juga masih dekat dengan Indonesia, sehingga minimal setahun sekali
> bisa pulang.
> Tapi, jangan berpikir bahwa mereka adalah TKI yang selama ini sering jadi
> berita TKI yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan para pekerja
> kasar. Mereka memang tenaga kerja dari Indonesia, tetapi tenaga kerja
> kelas
> atas, para profesional, para ekspatriat. Kebanyakan lulusan perguruan
> tinggi ternama di negeri ini. Ada juga yang pascasarjana. Bahkan, nyambi
> jadi dosen S2 di sana.
> Mereka adalah profesional di bidang perminyakan dengan usia 35-45 tahun
> yang tergabung dalam Ikatan Ahli Teknik Minyak Indonesia (IATMI) cabang
> Kuala Lumpur (KL). Malam itu mereka sedang kumpul-kumpul. Banyak hal
> diperbincangkan, mulai dari prospek ketenagakerjaan di perminyakan sampai
> masalah copet di kereta api di KL.
> Jumlah ekspatriat perminyakan cukup banyak, sekitar 150 orang. Mereka
> tersebar di perusahaan minyak internasional, seperti Murphy Oil, Amerada
> Hess, Schlumberger, Haliburton, dan tentu saja yang terbanyak di Petronas
> -- lebih dari 20 orang. Selain di KL, mereka ada di Trengganu, Kerteh,
> Kinibalu-Sabah, sampai Miri-Sarawak.
> Selain di bidang perminyakan, di Johor, para tenaga kerja intelek (TK
> intelek, begitu sebutan populer untuk mereka) banyak bekerja di perusahaan
> kontruksi di bidang migas. Lebih dari 100 orang bekerja di Malaysia
> Shipyard and Engineering Sdn, Sime Sembcorp Engineering Sdn Bhd, Technip,
> dan Saibos. Profesi lain yang juga cukup banyak adalah pilot. Setidaknya
> ada 30 pilot Malaysia Airlines dan 50 pilot Air Asia, yang dibajak dari
> maskapai penerbangan Indonesia. Ada juga alumni dari PT Dirgantara
> Indonesia, yang sudah mahal-mahal dibiayai sekolah ke luar negeri, dibajak
> Malaysia, karena iklim bekerja di Indonesia kurang kondusif.
> Kehidupan sosial para ekspatriat tadi relatif tinggi. Apartemen yang
> ditinggali bersama keluarga, harga sewanya lebih dari 1.000 ringgit (Rp
> 2,6
> juta) per bulan. Mereka juga memiliki mobil yang harganya di atas 60 ribu
> ringgit, meski banyak juga yang ke kantor lebih memilih naik kereta --
> monorel atau light train. Gajinya, 2.000-8.000 dolar AS per bulan!
> Pada 2005 silam, butuh 2,5 juta TKI di seluruh dunia untuk menghasilkan
> devisa 2,5 miliar dolar AS, dan ditargetkan 4 miliar dolar AS pada tahun
> ini. Jika saja pendapatan ekspatriat tadi dihitung, dengan jumlah orang
> yang satu persen saja dari total TKI, mungkin akan menyumbang separuhnya.
> Gaji besar mereka akan mendatangkan devisa besar pula.
> Keberadaan mereka memang sedikit banyak menepis anggapan bahwa tenaga
> kerja
> Indonesia di luar negeri berketerampilan rendah. Kualifikasi mereka jelas
> sudah teruji. ''Kita nggak kalah sama mereka,'' kata Rovicky Dwi
> Putrohari,
> alumnus Geologi UGM yang sudah dua tahun menjadi TK intelek di Kuala
> Lumpur.
> Terbukti, kata Rovicky, hampir setiap proyek di lingkungan Petronas selalu
> ada pekerja TK intelek ini. Bahkan, karena reputasi itu pula, Human
> Resource Departement Petronas merasa perlu mengunjungi Fakultas Geologi
> UGM, dan universitas ternama lainnya untuk mencari bibit unggul. Saat ini
> tercatat 10 orang alumni geologi UGM bekerja di Petronas Malaysia.
> Mulai mengalirnya ekspatriat itu, terutama di perminyakan, bermula awal
> 2000-an. Kala itu dunia bisnis masih lesu karena terpaan krisis 1997,
> ditambah dengan gaji yang masih rendah, mereka memilih bekerja ke
> Malaysia.
> Di samping memang Malaysia juga butuh tenaga profesional untuk mengisi
> kekosongan SDM, lantaran begitu pesatnya pertumbuhan ekonomi.
> Cuma sayangnya, sampai sekarang belum ada tali silaturahim antara
> ekspatriat dengan tenaga Indonesia kelas bawah di Malaysia. Kebersamaan di
> rantau sangat diperlukan untuk memperkuat tali persaudaraan sesama orang
> Indonesiaa. Ketimpangan strata dan pendapatan dapat diredusir dengan
> semangat persaudaran agar tidak terjadi blok pemisah.
> Tapi apa pun, kehadiran ekspatriat ini melengkapi kesuksesan beberapa
> orang
> Indonesia di negeri jiran ini. Kita tahu grup band seperti Peterpan, SO7,
> Dewa sangat terkenal di negeri itu, begitu pula penyanyi seperti
> Krisdayanti. Kemudian di sepak bola, Bambang Pamungkas menjadi salah satu
> pemain pujaan di Malaysia, khususnya Selangor.
> Ada rasa kebanggaan memang ketika kita tahu bahwa tenaga kerja Indonesia
> di
> luar negeri bukan hanya yang unskill, tetapi juga banyak yang high skill.
> Memang, secara umum orang-orang Indonesia di sana masih dipandang rendah.
> Tapi, dengan makin banyaknya ekspatriat, kesan bahwa tenaga kerja
> Indonesia
> melulu unskill mulai terkikis.
> Hanya memang, kalau direnungkan lebih dalam, teramat sayang juga
> tenaga-tenaga terdidik kita harus pergi ke luar negeri (brain drain).
> Sementara banyak hal yang bisa dikerjakan di dalam negeri. Tapi, itu bisa
> dimaklumi ketika kondisi di Indonesia menurut mereka masih bikin kesal,
> bikin sebal, dan penuh dengan ketidakpastian.
> Tak heran kalau pertanyaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika
> berkesempatan makan malam bersama warga Indonesia di Malaysia beberapa
> waktu lalu, agak sulit mereka jawab. Pertanyaan itu, ''Apakah kalau
> Indonesia mulai membaik, saudara-saudara mau kembali?''
> ( anif punto utomo )
>
>
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina
> (Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
> Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
> Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
> Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
> Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau
> [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
> Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
> ---------------------------------------------------------------------
>
>





---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke