Dugaan saya, pembentukan evolusi "life" dengan analisa DNA akan lebih
bak di banding dengan tanpa itu dan misal dengan kenampkaan physics
lainnyaa. Alat-ku, kalender SALAM- di turunkan dari banyak parameter
physics, perlihatkan rekaan evolusi dng DNA lebih baik bila di banding
rekaan tanpa DNA. Ini data Mader 1983 saya pakai.

Pointnya, kalau sudah ada rekaan evolusi (life) dng DNA, tentu aku lebih
suka memakainya. Ini dugaanku akan tunjukkan umur lebih baik. Natutal
science yang lain memang harus di perhatikan, misalnya ekonomi itu.
Memang mahal sekali ya ?

Discovery seminggu lalu saya lihat bagaimana evolusi manusia di
ceritakan. Yang saya tangkap ceritanya begini. Mulai dari Mesopotamia
(80.000 annum lalu) (deviasi 15.000 tahun ?), menjadi sumber seluruh
manusia dunia sekarang. Ini daerah pertemuan Gonwana dan Laut Tethys,
merupakan sungai Tigris dan Euphrat, juga daerah subur dekatnya ya
lembah sungai Pakistan. Migrasi manusia dari situ masa itu, ke segala
arah, termasuk ke Eropa, yang menggantikan Neanderthal. Juga ke Afrika,
Asiatimur, Selat Bering, Amerika. Migrasi adalah waktu dingin. 

Kalau saya kaitkan dengan siklus-ku, (amplitudo lebih kecil bila
siklusnya lebih pendek), siklus dingin 70.000 adalah 87.500 BC, lalu
yang relatif sama kondisinya dengan th. 17.500 BC. Dengan siklus
7.000-nya, yakni 17.500 BC, 10.500 BC, 3.500 BC. Dan siklus 700
tahunnya, adalah 3500 BC, 2800BC, 2100BC, 1400BC, 700 BC, 0, 700 AD,
1400AD, 2100AD (sekarang), akan ada 2800AD, dst. Dingin di 17.500 BC ya
seluruh sundaplate tak di batasi laut. Waktu migrasi, ya wajtu global
temperature rendah, muka laut rendah, compressi lempeng maximum,
low-stand. Yah, kecocokan tinggi juga dengan analisa discovery itu ?


Salam,
Maryanto.



-----Original Message-----
From: Awang Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED] 

Tolong disebutkan saja PCR = polymerase chain reaction, reaksi berantai
untuk menguatkan DNA. Dari satu molekul DNA dipisahkan dua DNA strands
(pisahan), tambahkan primer-nya. Masuk ke siklus pertama tambahkan DNA
polymerase (ini sejenis enzim), lalu pisahkan dua DNA strands, tambahkan
primer. Masuk ke siklus kedua tambahkan lagi DNA polymerase, pisahkan
lagi dua DNA strands dan tambah lagi primer, dst, dst sampai DNA
teramplifikasi.
   
  Metode amplifikasi DNA melalui PCR ditemukan Kary Mullis, ilmuwan
eksentrik yang dihadiahi nobel kimia tahun 1993. Sejak itu dia makin
eksentrik saja. Kredibilitasnya rusak saat dia berteori bahwa AIDS bukan
disebabkan HIV.
   
  Kalau ke Tarsius sp (sejenis monyet mini) memang perlu dilakukan
penguraian sekuen DNA untuk lebih memahaminya, kalau ke polen atau foram
? Kalau kita hanya ingin mengenal taxa-nya atau spesiesnya, ah ..
berlebihan. Lagipula taxa dan spesies polen atau foram sudah dibuktikan
dengan penerusnya yang hidup pada masa kini. Silakan baca "History of
Tropical Mangrove", yang bercerita tentang polen purba dan masa kini,
oleh Bob Morley (palinologist terkenal yang tinggal di Bogor).
   
  Buat saya, DNA untuk polen/foram hanya bagus (mungkin) untuk riset,
bukan untuk routine job. Morfometrik telah terbukti bagus buat mereka.
   
  salam,
  awang

Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  ---------- Forwarded message ----------
------------------------------------------------------------------------
--

Mengapa analisis DNAnya tidak berhasil, penjelasannya kurang lebih
begini. Saya jelaskan sebelumnya bahwa DNA dalam fosil sudah
terfragmentasi dan dalam jumlah yang sangat sedikit. Untuk diamplifikasi
menggunakan PCR kita memerlukan yang namanya primer, yaitu sekuens DNA
pembantu yang mengapit DNA yang akan kita amplifikasi. Kalau tujuan
forensik dan diagnostik primernya sudah tersedia secara komersial.
Kemungkinan kegagalan amplifikasi karena primernya tidak tepat, sehingga
DNA tidak teramplifikasi. Sebaiknya pakai adaptor (ini sudah terlalu
teknis), jadi DNA mana pun yang sudah terfragmentasi bisa diamplifikasi.
Saya nggak tau apakah ini juga sudah dilakukan. Kalau tidak
teramplifikasi, bisa dilakukan yang namanya re-PCR, dari hasil PCR awal
yang tidak terdeteksi. Kalau alatnya menggunakan real time PCR, kita
bisa tahu seberapa banyak DNA yang teramplifikasi sehingga kita bisa
estimasi perlu tidaknya re-PCR.

Menurut Bapak-bapak yang lainnya yang menganggap bahwa tanpa DNA saja
sudah cukup dan bahwa analisis molekuler dalam biostratigrafi atau
lainnya dianggap rame-ramein saja, itu sih mah sah-sah saja, seperti
yang saya bilang di awal, masing-masing peneliti punya argumentasi, dan
mestinya kalau pijakannya sama maka argumenasi bisa lebih terarah.

Tentang mahalnya PCR, sebetulnya ga juga. Kalau di Mikro UI (dan di
tempat-tempat lain, misalnya di Biotek UNPAD, dll) sekali PCR bisa di
atas Rp.
100.000, ya wajar karena mereka profit oriented.
Sebetulnya modalnya ga sampai Rp 40.000 sekali running. Yang mahal
adalah sekuensing DNAnya yang sejauh ini masih dilakukan di Eijkman
Institute for Molecular Biology di Jakarta, sekali sekuensing itu Rp.
165.000 or so. Modalnya ga sampai segitu lah kalau punya alat sekuensing
(yang mahal harganya).

Perlu diketahui juga bahwa walaupun sekuens DNA itu 10 pangkat sembilan
panjangnya untuk masing-masing kromosom (kalau di urai bisa mengelilingi
bumi), tetap bagi kami molecular biologist, punya genetic marker untuk
menentukan masing-masing kedudukan living organism dalam pohon
filogenetiknya, karena dalam sekuens DNA itu ada yang namanya highly
variable (yaitu urutan DNAnya sangat bervariasi, disebabkan oleh
rentannya mutasi di daerah tersebut, digunakan untuk menentukan
subspesies bahkan spesies kriptik) dan yang higly conserved, yaitu DNA
yang sangat terkonservasi untuk menentukan kedudukan taksonomi di atas
ordo. Dan kami juga punya bidang ilmu yang namanya bioinformatics yang
urusannya membantu para ahli filogenetik untuk menjajarkan sekuens DNA
dan kemudian menempatkan masing-masing ke dalam posisi taksonominya,
otomatis keluar dengan titik percabangan evolusinya ada di mana, indeks
keanekaragaman genetiknya bagaimana dan lain-lain.

Jadi, kesimpulan whether or not you are interested in using DNA sequence
for your own research, it is up to you, folks.

wassalam,
Trina


> ---------------------------- Original Message
> ----------------------------
> Subject: Re: [iagi-net-l] Re: DNA on fossil --> Re:

>
------------------------------------------------------------------------
--
>
> Teman2,
>
> Rasanya memang berlebihan seperti kata Pak Awang analisis DNA untuk 
> fosil polen dan foram, meski jika dipandang dari sudut ilmu 
> pengetahuan hal tersebut ya sah-sah saja.
> Saya pernah mencoba melakukan analisis DNA - sebut saja paleo-DNA 
> untuk fosil vertebrata, tepatnya tulang metatarsal dari fosil Bovidae 
> (kelompok kerbau-sapi dan banteng) berumur Plestosen Tengah dari 
> Formasi Kabuh, Perning, Jawa Timur. Fosil yang saya pilih, secara 
> megaskopis sangat sedikit mengalami ubahan ataupun proses 
> mineralisasi, karena untuk analisis DNA yang diperlukan salah satunya 
> yang penting adalah kandungan/unsur zat organiknya, berupa protein.
> Analisis saya lakukan di
> Laboratorium DNA Prodi (dulu namanya Departemen) Biologi ITB, yang 
> alatnya cukup canggih, hasil kerjasama dengan pihak Jepang, kalau 
> tidak salah dari University of Nagoya. Sayang tidak berhasil, karena 
> ternyata yang namanya fosil, semua unsur organiknya sangat2 sedikit 
> bahkan dapat dikatakan sudah hilang akibat proses ubahan/mineralisasi 
> dan impurities yang terjadi selama proses fosilisasi. Jadi ya sayang 
> sekali, karena tadinya saya berharap bisa melacak garis keturunan 
> fosil yang saya analisis tersebut melalui paleo-DNA.
>
> Wassalam,
>
> Yahdi Zaim
> Prodi Teknik Geologi
> KK Geologi dan Paleontologi
> FIKTM - ITB
>
>
> ----- Original Message -----
> From: "Awang Satyana" 
> To: ;
> 
> Sent: Wednesday, February 08, 2006 3:54 PM
> Subject: Re: [iagi-net-l] Re: DNA on fossil --> Re:
> [iagi-net-l]
> Biostratigraphi di shelf atau delta
>
>
> > Wah, apa perlunya mengurai sekuen DNA suatu
> spesies pollen atau foram
> ?Palinologist mendeskripsi polen untuk mengetahui spesiesnya agar 
> diketahui zonasi umur dan tempat hidupnya untuk membantu penafsiran 
> stratigrafi dan lingkungan pengendapan batuan yang mengandung polen 
> itu.
> >
> > Kalau sang palinologist sudah tahu itu
> Florschuetzia trilobata yang biasa
> > hidup di antara 35-25 Ma, atau F. levipoli yang
> biasa hidup di 25-10 Ma,
> dan puluhan ribu taxa lagi (diversitas di Indonesia untuk Recent taxa 
> sangat ekstrim, sampai 30.000 taxa kata Haseldonck, 1977), apakah 
> perlu mengurai sekuen DNA-nya ? Info apa lagi yang mau diambil selain 
> identifikasi jenis yang sudah bisa dilakukan tanpa mengurai kode2 
> genetik yang terkunci di sekuen DNA pun.
> >
> > Memang sih kita juga tahu bahwa DNA itu memuat
> informasi yang
> > menakjubkan. Empat nukleotida pada inti DNA : ATCG
> (adenin, timin,
> sitosin, guanin) pada komosom manusia bisa membuat variasi sekuen yang

> jumlahnya luar biasa. 23 kromosom setiap sel sperma atau telur 
> misalnya bisa berisi sekitar 3 miliar nukleotida. Tapi, semaju 
> sekarang pun biologi molekuler, miliaran kode sekuen itu hanya mirip 
> "celotehan-celotehan" yang riuh rendah karena kita tak memahami bahasa

> mereka.
> >
> > Dalam biomedis, DNA memang butuh, sebab kita
> perlu menggali lebih banyak
> > info yang dibawa satu spesies, Homo sapiens -
> manusia. Mengenal manusia
> tanpa melibatkan biomolekuler memang dangkal - tapi untuk 
> mengidentifikasi fosil polen atau foram dengan melibatkan DNA, padahal

> tujuannya hanya identifikasi spesies yah buat saya sih berlebihan, 
> sementara kita pun belum bisa menguraikan kode miliaran kombinasi 
> sekuen nukleotida itu. Perlukah kita mengetahui seluruh aspek 
> kehidupan Florschuetzia
> > meridionalis, dari mana asalnya, bagaimana
> hidupnya, perkawinan2 yang
> pernah dialaminya, dll. Kalau kita jawab : perlu, yah memang mengurai 
> sekuen DNA yang ada di selnya memang diperlukan sebab itu tak bisa 
> diperoleh dari sekedar deskripsi.
> >
> > Hanya, saat ini rasanya belum perlu. Teknik2 DNA
> adalah alat utama di
> > biomedis dan paleoantropologi - sebab kita hanya
> berhubungan dengan satu
> spesies : manusia (atau hominid), sementara kita ingin menggali banyak

> informasi daripadanya. Kalau kita hanya ingin mengenal spesies dari 
> puluhan ribu taxa pollen ? Deskripsi pun sudah cukup.
> >
> > salam,
> > awang
> >
> > Rovicky Dwi Putrohari wrote:
> > Dear Trina,
> > Apakah teknik2 PCR yang anda lakukan ini juga
> dilakukan di Indonesia ?
> Saya tahu beberapa alat PCR di Lab Mikrobiologi UI.
> Tetapi mereka
> menggunakannya utk mikrobiologi klinik. Belum sampai ke fossil,
> > tentunya sampel preparasinya akan sangat berbeda.
> Namun masih manual,
> belum otomatis. Apakah alat-alatnya juga sama ?
> >
> > Selama ini sepertinya biaya utk PCR dalam isolasi
> DNA masih relatip
> mahal (100-200 ribu rups .... ini harga utk kebutuhan klinis looh 
> (Rumah Sakit). Reagent-reagent kitsnya pun kebanyakanmasih impor. Saya

> ngga tau apakah Trina tahu dimana ada reagent kits yg dibuat didalam 
> negeri yg mungkin lebih ekonomis.
> >
> > Kalau boleh Trina cerita Donk buat temen-temen
> IAGI (Ikatan Ahli Geologi
> Indonesia) ini tentang identifikasi DNA. Dasar teori yang basic-basic 
> dasar bagian bottom yg paling mudah saja lah.
> >
> > Thx
> >
> > RDP
>

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI
Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1:
http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id) Komisi
Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id) Komisi Sertifikasi : M.
Suryowibowo(soeryo[at]bp.com) Komisi OTODA : Ridwan
Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi
Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------



                        
---------------------------------
 Yahoo! Mail - Helps protect you from nasty viruses.


---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke