Sumbangan riset di Industri Migas sepertinya akan paling banyak
berpengaruh dalam tatanama stratigrafi di Indonesia, terutama dalam
hal pemanfaatan data seismic sumur dll. Namun utk mengikuti aturan SSI
tentunya mesti ada data-data yg harus "dibuka", sebagai "lokasi tipe"
dari satuan stratigrafi yg diusulkan. Misal data core-nya data lognya
serta seismic yg mendukung penamaan satutan stratigrafi.

Summary dari simposium SSI di jogja ada disini :
http://fosi.iagi.or.id/document/rangkuman_simposium_ssi_1996.pdf

Saya yakin pak Awang dapat memulai membuka data-data kunci ini untuk
dipakai sebagai lokasi tipe. Terutama juga untuk penamaan dengan
kaidah kronostratigrafi yg sebenernya juga sudah ada dalam SSI.

Mungkin IAGI juga perlu RoadMap tentang tatanama stratigrafi di
Indonesia (semoga sudah ada). Roadmap ini yg akan digunakan oleh
kepengurusan IAGI selanjutnya. Target-target waktu penyusunan
penerbitan serta sosialisasi dikalangan industri, riset dan institusi
pendidikan, serta masyarakat geologi umumnya.

Hasil diskusinya saya lampirkan dibawah utk mengingatkan komitemen
bersama penggunaan ssi :

==start quote ==
B. HASIL DISKUSI

1. Dunia industri sering menggunakan data sifat fisika batuan yang
bersifat interpretatif ( seismik, log) dalam pembagian satuan
stratigrafi. Dengan berbagai pertimbangan data diskriptif satuan
batuan seringkali belum didapatkan. Satu-satumya cara adalah
memanfaatkan perangkat yang ada untuk melakukan pendeteksian dalam
pembagian satuan. Untuk itu agar pembagian satuan stratigrafi secara
interpretatif (seperti dengan data seismik, log, dll.) tetap diterima.

2. Diakui oleh anggota Komisi Sandi Stratigrafi Indonesia bahwa
pencanangan SSI 1996 di Bandung terasa kurang greget dan kurang
mendapatkan respon yang memadai bahkan blueprintnya pun belum
tercetak. Agar Sandi Stratigrafi Indonesia 1996 disosialisasikan lebih
luas.

3. Pada kenyataannya syarat-syarat pembakuan satuan resmi stratigrafi
terlalu rumit (pasal 19; 20, SSI 1996) sehingga banyak peneliti yang
enggan mengangkat satuan stratigrafi daerah yang ditelitinya menjadi
satuan resmi, hanya sebagai satuan tak resmi (pasal 4; 5; 14, SSI 96).

4. Paper bidang geologi di berbagai media publikasi mengindikasikan
ketidak seragaman kaidah dalam penulisan berkaitan dengan stratigrafi.
Baik paper bidang kebumian internal dalam masyarakat geologi (MGI;
Majalah FOSI; Berita IAGI, Prosiding PIT IAGI) maupun penerbitan
profesional terkait (Prosiding IPA; API; HAGI; IMA) seyogyanya
berpatokan pada SSI 1996. Oleh karena itu PP IAGI hendaknya mendorong
dan mengusulkan agar Sandi Stratigrafi Indonesia 1996 menjadi pedoman
bagi penyusunan stratigrafi oleh para penulis, redaksi buletin majalah
kebumian.

5. Agar IAGI mengusulkan SSI sepatutnya diputuhi oleh dunia industri
(perminyakan,
pertambangan, airtanah dll. Terkait). Melalui Badan Pelaksana Migas PP
IAGI dapat
mengusulkan hal tersebut. Jika perlu bahkan menjadi bagian/persyaratan
perundangan di bidang Industri bidang kebumian yang beroperasi di
Indonesia.

6. Akhir-akhir ini banyak peneliti berkesempatan menyusun Leksikon
stratigrafi. Penyusunan Leksikon tersebut yang dilakukan baik oleh
beberapa ahli geologi dan atau institusi agar mengacu pada SSI 1996
dan didikoordinasi oleh PP IAGI.

7. Keberadaan prosedur amandemen SSI (pasal 12) memberi peluang
penyempurnaan SSI dari tahun ketahun. PIT IAGI merupakan wadah yang
tepat untuk ini sebagaimana tertera dalam pasal tersebut. Pengaktifan
dan pengembangan Komisi Stratigrafi Indonesia, merupakan hal penting
dalam melakukan pembenahan SSI didasarkan pada perkembangan geologi.
Untuk tahap awal Komisi SSI sekarang dapat menyiapkan rencana kerja
termasuk merangkum saran, usulan dan kritik, perbaikan dan aspirasi
berkenaan dengan SSI. Untuk itu agar PP IAGI memfasilitasi pertemuan
secara berkala demi penyempurnaan dan sosialisasi SSI dan Leksikon
Stratigrafi Indonesia.

8. Untuk itu seyogyanya kita pergunakan SSI 1996 secara konsisten
sebagaimana teratur di dalamnya. Apa lagi International Subcommission
for Stratigraphic Classification menyerahkan masalah stratigrafi pada
Kode Stratigrafi Nasional masing-masing negara, sesuai dengan
kebutuhan masing-masing.

==-end quote ==.


On 2/15/06, Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Yang di Yogyakarta 28-29 Agustus 2002 itu sebenarnya lebih kepada membahas 
> Sandi Stratigrafi Indonesia 1996, bukan ke stratigrafi Jawa (yang stratigrafi 
> Jawa baru di Bandung 2003 itu).
>
>   Workshop di Yogya itu mengawali semua pertemuan2 berantai untuk 
> membicarakan stratigrafi Indonesia (baru membahas Jawa - Bandung 2003 dan 
> Sumatra - Duri, 2005). Membicarakan stratigrafi Indonesia, lebih kepada usaha 
> mengumpulkan problem2 stratigrafi yang ada dan usaha mengatasinya. Penyusunan 
> Lexicon Stratigrafi Indonesia sudah berjalan, dilakukan oleh P3G, berdasarkan 
> pemetaan geologi bersistem skala 1 : 100.000 (Jawa) dan 1 : 250.000 (luar 
> Jawa). Penyusunan Lexicon Stratigrafi Indonesia yang sub-surface belum 
> dilakukan sebab aturan sub-surface stratigraphy di SSI 1996 pun belum cukup 
> terakomodasi, maka penyusunan lexicon-nya masih belum punya dasar yang "pas". 
> SSI 1996 masih kuat didasarkan kepada geologi permukaan.
>
>   Workshop stratigrafi Sumatra tidak membahas Natuna, tetapi secara regional 
> membahas cekungan2 intra-arc dan fore-arc basins. Detailing ada di Cekungan 
> Sumatra Tengah dan Sumatra Selatan. Yang Sumatra Utara sedikit terbahas 
> (karena operator yang bekerja di sana tidak ada yang aktif). Masukan dari 
> bukan perusahaan minyak juga minimal sekali, saat itu hanya datang sebagai 
> peninjau, bukan pemakalah.
>
>   Bagaimana menertibkan pemakaian tatanama stratigrafi Indonesia yang 
> mengikuti SSI (1996 misalnya) agar perusahaan2 minyak, mineral, batubara, dll 
> ekstraksi sumberdaya alam tertib dan taatasas, adalah masalah pelik. Saya 
> ambil kasus pertama usaha penertiban itu, yang dilakukan oleh sesama 
> perusahaan2 minyak di Kutei tahun 1981-1982. Pertamina, Total, Huffco/Vico, 
> Unocal duduk bersama mendiskusikan pemakaian tatanama formasi yang menjadi 
> target penelitiannya di Cekungan Kutei. Pekerjaan ini dipublikasikan di 
> Proceedings IPA (Marks et al., 1982). Bagaimana sekarang setelah 24 tahun ? 
> Tak ada penyeragaman, masih sama seperti sebelum 1982. Pertamina tetap 
> memakai Formasi Pulubalang, Balikpapan, Kampungbaru. VICO masih menggunakan 
> lapisan I..., I...., N.... Total masih menggunakan U5, U4, MF.., MF.... 
> Unocal masih menggunakan X..., X..., Z... Bila ditanya, apa korelatif lapisan 
> ini ke nama formasinya ? Tak segera bisa dijawab.
>
>   Penertiban di Jawa (Timur) lebih susah lagi daripada di Kutei. Sekalipun 
> sudah ada workshop2 stratigrafi jangan segera berpikir bahwa tatanama 
> stratigrafi sudah beres. Hm, mungkin banyak tantangan dalam usaha penertiban 
> ini. Apakah BPMIGAS bisa menggunakan otorisasinya untuk "memaksa" para 
> operator minyak menertibkan nomenklaturnya ? Bisa saja, sekedar surat untuk 
> dikirim ke para operator gampang saja dibuat, hanya tak akan sesederhana itu, 
> berakhir di situ. Butuh usaha terus-menerus dalam penertiban.
>
>   salam,
>   awang
>   (anggota Komisi SSI, pemakalah di workshop Stratigrafi Indonesia Yogya 2002 
> dan Duri 2005)
>
> Andang Bachtiar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>   Mas Vicky, saran sampeyan itu sudah dilakukan sejak diaktifkannya kembali
> Komisi Sandi Stratigrafi Indonesia tahun 2002 yang lalu ( 4 tahun yg lalu);
> yaitu:
> 1. Hasil dari Workshop Stratigrafi Jawa I di Yogja Agustus 2002
> dipresentasikan dalam Lunch Meeting di PIT IAGI 31 Surabaya 1 Oktober 2002.
> 2. Hasil dari Workshop Stratigrafi Jawa II di Bandung 20-21 Oktober 2003
> dipresentasikan dalam Lunch Meeting di PIT IAGI 32 (JCJ) Jakarta 16 Desember
> 2003
> 3. Hasil dari Workshop Stratigrafi Sumatra I di Riau 12-13 Sept 2005
> dipresentasikan dalam Side Meeting di PIT IAGI 34 (JCS) Surabaya 29 November
> 2005
>
> Semua workshop ada prosidingnya tersedia di sekretariat IAGI dan dalam
> setiap PIT selalu dipajang di booth IAGI. Presentasi-presentasi hasil
> workshop bukan sekedar presentasi yang masuk dalam technical session (yang
> dijatah 20 menit), tapi menjadi event khusus yaitu Luncheon Talk dan/atau
> Side Meeting yang bisa sampai 1 jam lamanya (termasuk diskusinya).
>
> Pada 2004 tidak satupun Workshop Stratigrafi yang terlaksana karena pada
> saat itu Pengda yang menyatakan siap (Kalimantan dan Riau) ternyata masih
> belum bergeming juga. Akhirnya dengan berkali-kali pendekatan, lewat email
> maupun datang secara fisik ke Duri / Pekanbaru, Riau-pun siap melaksanakan
> tapi harus mundur ke 2005. Sementara itu di 2005 Pengda Kalimantan mulai
> cerai-berai (karena para aktifis-nya banyak hengkang ke luar negeri).
>
> Pada 2005 provokasi ke Pengda Sulawesi untuk menyelenggarakan Workshop
> Stratigrafi Sulawesi juga intensif dilakukan oleh PP. Pra-workshop session
> dilakukan pada 7 Pebruari 2005 menghadirkan Pak Fauzie Hasibuan dan Pak
> Djuhaeni dr Komisi SSI. Pematangan ide itu perlu setahun lamanya sampai baru
> pada bulan ini (setahun kemudian) leaflet ttg Workshop Stratigrafi Sulawesi
> itu keluar.
>
> Mudah-mudahan program2 Komisi SSI ini terus berjalan di kepengurusan Pak
> Luthfi. Pak Djuhaeni sebagai Ketua Komisi SSI masa kerjanya juga masih
> berlangsung s/d 2007 (5tahun dr 2002), jadi masih cukup waktu merampungkan
> beberapa workshop da lexicon.
>
> Salam
>
> ADB
> Exploration Think Tank Indonesia
>

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke