IAGINETTERS,..
Bu Rita (yang tidak masuk dalam milis kita) membalas email saya ttg landslide/creep Bogor dengan menekankan pada pentingnya pemberdayaan masyarakat dalam memitigasi bencana dengan fasilitasi dari kaum intelektual kebumian baik yang di perguruan tinggi maupun di assosiasi profesi. Melengkapi tanggapan beliau saya ingin mengingatkan bahwa ide "pemberdayaan" ini sebenarnya juga sudah bergaung di kalangan kawan-kawan yg di pemerintahan, baik yang di lembaga riset (LIPI, BPPT) maupun di BG (DVMGB). Ide/wacana ttg masyarakat yang memetakan potensi longsor-nya sendiri sudah dituangkan oleh kawan2 BPPT di harian Kompas Sabtu 11 Pebruari yang lalu (tapi baru sekedar wacana), dan bahkan format-format pelaporan (dari masyarakat) sudah dibuat sesuai dengan arahan dalam SNI untuk pemetaan daerah longsor (info dari Dr Surono dalam wawancara dg penulis 6 Januari 2006). Yang diperlukan lebih lanjut adalah PENGORGANISASIAN dan IMPLEMENTASI. Masyarakat di Kota Padang dengan KOGAMI-nya (Komunitas Siaga Tsunami), Masyarakat Ngelo di Magelang yg sempat dibina Bu Rita dkk, Masyarakat Desa Srimulyo di Dampit (yang KamiTuwo-nya fasih menerangkan peta-peta jalur longsor yang sengaja ditinggalkan di dinding rumahnya) adalah sebagian dari contoh nyata keberhasilan pengorganisasian dan implementasi pemberdayaan masyarakat sadar mitigasi bencana tersebut. Mungkin banyak lagi kelompok-kelopok masyarakat di berbagai daerah rawan potensi bencana yang juga sudah melakukan hal yang sama, yang mungkin masih luput dr pemberitaan. Tetapi saya yakin, faktor utama keberhasilan tersebut pada umumnya sama, yaitu keterlibatan kawan-kawan outdoor activist, LSM, NGO, mahasiswa, dan Perguruan Tinggi di dalamnya. Dimana letak peran IAGI? Dalam hal ini saya idem ditto dg komentar penutup Bu Rita (yang kebetulan sekarang masuk di jajaran PP-IAGI) bahwa: " ..... organisasi IAGI dengan Pengda Pengda yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia sangat strategis dalam menunjang pembangunan budaya tersebut..." Dengan meninggalkan menara gading eksklusifitas dan mau turun bergaul dengan kawan2 mahasiswa, outdoor activist, LSM, NGO, maka peran strategis IAGI tersebut akan sangat dapat diimplementasikan.

Silakan IAGI,..... maju terus


Andang Bachtiar
amc-073
iagi-0800


----- Original Message ----- From: "Dwikorita Karnawati" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "Andang Bachtiar" <[EMAIL PROTECTED]>; <[email protected]>
Cc: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Wednesday, February 22, 2006 6:22 PM
Subject: Re: [iagi-net-l] Fw: landslde/creep di Kabupaten Bogor


Yth. Bapak/mas/ibu/ mbak2 .

Saya sangat setuju dengan apa yang disampaikan oleh pak Andang Bachtiar.
Memang sudah terbukti beberapa kali kepedulian mahasiswa, dosen dan para
outdoor activist maupun ahli kebumian yang punya concern - sangat membantu
masyarakat dalam menghadapi bencana geologi seperti longsor, rayapan dan
banjir bandang. Misalnya seperti yang telah dilakukan di Desa Srimulyo,
Kecamatan Dampit Kabupaten Malang bulan Januari - Pebuari yang lalu, serta
yang telah dilakukan beberapa kali oleh para mahasiswa, dosen dan outdoor
activist untuk emergency action di lokasi longsoran di Kulon Progo,
Purworejo, Kebumen dan Magelang, dsb.
Saya melihat bahwa hasil karya mahasiswa dalam bentuk yang sederhana dan
praktis sangat bermanfaat dalam membantu warga dan aparat dalam mensikapi
bencana longsor dan rayapan. Action ini juga sangat bermanfaat bagi
mahasiswa dalam meningkatkan daya analitis dan skill mereka untuk
mengaplikasikan ilmunya. Bahkan Emotional dan Spiritual skills para
mahasiswa tersebut juga dapat lebih terasah melalui program tersebut.

Namun target utama program manajement bencana adalah memberdayakan
masyarakat (masyarakat berarti termasuk warga dan aparat) agar mampu
menolong diri mereka dan agar mampu mensikapi bencana secara tepat, sehingga
korban jiwa dan kerugian sosial-ekonomi dapat diminimalkan. Berarti
pemberdayaan APARAT setempat juga sangat penting untuk menjaga keberlanjutan
program manajemen bencana yang berbasis masyarakat. Pemberdayaan ini dapat
dilakukan melalui proses komunikasi dan pendampingan. Sebagai contoh th 2002
yang lalu terjadi rayapan tanah yang merusak rumah -rumah hunian di Dusun
Ngelo Desa Pucungroto Kecamatan Kajoran. Pada saat itu beberapa mahasiswa
dengan didampingi pembimbingnya juga turun langsung memetakan sebaran zona
rawan dan zona aman, dan kemudian diteruskan dengan proses komunikasi/
pendampingan pada warga dan APARAT setempat. Akibat komunikasi/pendampingan
ini maka aparat menjadi lebih sadar dan merasa bertanggungjawab atas
keselamatan warganya. Akhirnya beberapa rumah yang terletak di zona rawan
telah direlokasi dengan bantuan aparat/PEMDA. Bahkan beberapa warga ada yang
secara sadar memilih berpindah tempat tinggal atas initiatif sendiri. Pada
saat ini kadang-kadang kami ikut memantau perkembangan proses manajement
bencana longsor di wilayah Kab Magelang tersebut. Yang menggembirakan, di
sana warga sudah cukup mahir menjelaskan ke kami atau kepada para pendatang
mengapa longsor dan rayapan terjadi, serta bagaimana upaya mengatasi/
mensikapinya. Bahkan aparat setempat bersama warga sudah secara otomatis
melakukan langkah-langkah antisipasi bencana secara mandiri.

Pada suatu ketika saya secara kebetulan berada di lokasi rawan longsor di
wilayah Magelang tersebut, tiba-tiba hujan deras turun.........saya melihat ada permuda (petugas) dengan mengendarai motor berteriak-teriak mengingatkan
seluruh warga untuk segera menyingkir ke shelter yang aman. Seketika itu
juga saya lihat ibu-ibu, anak-anak dan beberapa warga turun berduyun-duyun
menuju shelter.
Dari sini saya belajar, bahwa tidak selamanya kita (yang kebetulan memahami
geologi) dapat selalu menemani atau mendampingi warga. Memang ada suatu
periode dimana masyarakat (warga dan aparat) perlu pendampingan. Namun
jangan sampai kita terjebak bahwa proses pendampingan yang kita lakukan ini
justru malah membuat masyarakat menjadi TERGANTUNG kepada kita. Rekan saya
dari Psikologi selalu mengingatkan saya bahwa menolong itu tidak mudah,
bahkan cukup sering terjadi pertolongan yang kurang tepat yang justru dapat
merugikan orang-orang yang kita tolong. Jadi sebaiknya proses pendampingan
ini juga sekaligus membuat masyarakat (warga dan aparat) akhirnya dapat
berkembang dan mampu menolong diri mereka sendiri.

Khusus untuk kasus di Magelang tadi, kurang lebih 2 - 3 tahun diperlukan
untuk proses pemberdayaan masyarakat di lokasi bencana. Ini bukan berarti
sekarang kami sudah tidak peduli lagi dengan masyarakat Magelang. Kami masih
memantau proses manajemen bencana di sana dalam periode tertentu.
Kadang-kadang dalam kondisi khusus proses komunikasi dan diskusi tetap
diperlukan, untuk tetap memelihara motivasi mereka dalam menjaga lingkungan
dan meminimalkan kejadian bencana.

Jadi apa yang disampaikan pak Andang perlu kita dukung, direalisasikan dan
diKEMBANGKAN untuk MEMBANGUN BUDAYA MASYARAKAT BERDAYA TERHADAP BENCANA
GEOLOGI.
Mari kita mulai dari yang paling mudah, dengan berkarya di daerah terdekat
dengan tempat tinggal kita, sesuai dengan kapasitas kita masing-masing. Saya
melihat organisasi IAGI ini (dengan PengDa-PengDa yang tersebar di seluruh
wilayah Indonesia) sangat strategis dalam menunjang pembangunan budaya
tersebut.

Salam,
Rita

Dwikorita Karnawati

----- Original Message -----
From: "Andang Bachtiar" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Cc: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Wednesday, February 22, 2006 11:22 AM
Subject: Re: [iagi-net-l] Fw: landslde/creep di Kabupaten Bogor


Situasi rayapan tanah di Curug, Bojong Koneng Bogor ini kemungkinan hampir
sama dengan landslide di Desa Srimulyo, Kecamatan Dampit Kabupaten Malang
yang sempat ditangani oleh Tim Gabungan AMC-IAGIJatim-Unibraw
Januari-Pebruari 2006 ini. Emergency nature dari situasi tsb seringkali
tidak ditanggapi dengan benar oleh aparat pemerintahan, terutama karena
"masih belum ada korban", "masih belum kejadian" dsb dsb. Untuk
membangkitkan perhatian/keseriusan yang lebih kepada penyelenggara negara
/pemerintahan, sudah seharusnya kita - para outdoor activist maupun ahli
kebumian yang punya concern - bersiasat dan segera turun ke lapangan
mengerjakan kerja-nyata pemetaan awal sehingga bisa jadi contoh-nyata bagi
para birokrat untuk sgra berbuat sesuatu. Dalam hal ini: PENGORGANISASIAN
dan kerjasama menjadi hal yang sangat-sangat penting. Kerja pemetaan-nya
cukup sederhana; semua mahasiswa geologi yang sudah pernah kuliah lapangan
pasti bisa melakukannya. Dengan demikian, pilihan pengorganisasian yang
paling optimum adalah: mengandalkan pada pecinta alam dan mahasiswa untuk
bergerak di lapangan memetakan daerah potensi longsor tersebut secara
cepat
dengan BIMBINGAN/SUPERVISI dari 1 atau 2 expert (Pak Syafuan, Bu Teti, Pak
Syaiful, Pak nDaru, Pak Assegaf ... yang kebetulan orang Bogor semua
mustinya bisa mensupervisi pekerjaan tersebut).

Dari contoh pengerjaan voluntary project serupa di Malang dihasilkan peta
rinci daerah longsoran sampai skala 1:2500 (bukan 25000 spt yang
dituliskan
bu Rita). Bahkan blok diagramnyapun juga dibuat lengkap dengan
cross-section
geologinya yang memuat patahan, longsoran, dan litologinya. Dari hasil
pemetaan 3-4 hari tersebut kepala desa sudah bisa menentukan daerah mana
yang aman dan dapat dijadikan tempat berlindung sementara terutama kalau
hujan deras turun di daerah tsb. Saat ini di Desa Srimulyo Dampit sudah
dibangun temporary shelter di luar daerah crown longsoran yang bisa
dipakai
sewaktu-waktu oleh penduduk untuk "mengungsi" apabila ada hujan besar
datang
dan lama.

Bagaimana dengan pendanaan? Karena voluntary dan quick-response program,
maka pendanaan hanya untuk menutupi operational cost saja. Tidak ada fee
sama sekali untuk siapapun yang terlibat didalamnya. Kita bisa kumpulkan
kencleng sumbangan baik dari komunitas geosains (dulu pak Syaiful Jazan
pernah usulkan), maupun dari pecinta alam, maupun dari orang-orang
setempat
yang sudah berhasil di Jakarta untuk digugah rasa sosialnya menyumbang
menyelematkan tetangga-rakyatnya dari kemungkinan bencana. Di Malang, kami
lakukan hal tersebut dan kami berhasil bergerak dengan dana sumbangan dr
berbagai kalangan tersebut.


Selamat bekerja.

Salam

andang bachtiar
amc-073
iagi-0800



----- Original Message -----
From: "Sukmandaru Prihatmoko" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Wednesday, February 22, 2006 8:50 AM
Subject: [iagi-net-l] Fw: landslde/creep di Kabupaten Bogor


> Dari Bu Rita.............
>
> SP
>
> ----- Original Message -----
> From: "Dwikorita Karnawati" <[EMAIL PROTECTED]>
> To: "Rendhi Iswarajati" <[EMAIL PROTECTED]>;
> <[EMAIL PROTECTED]>
> Cc: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>; "Achmad Luthfi"
> <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>;
> <[EMAIL PROTECTED]>; "Sukmandaru Prihatmoko" <[EMAIL PROTECTED]>;
> "'Dwikorita Karnawati'" <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Wednesday, February 22, 2006 8:15 AM
> Subject: landslde/creep di Kabupaten Bogor
>
>
>> Yth. Bapak/Ibu/Mas 2.
>>
>> Harian Kompas memberitakan  16 rumah roboh perlahan-lahan akibat
>> landslide/land`creep di kampung Curug , Desa Bojong Koneng Kecamatan
>> Babakan
>> Magang  Kabupaten  Bogor.
>> Berkaitan dengan berita tersebut, berikut saya sampaikan beberapa
>> tanggapan
>> yang barangkali dapat membantu.
>>
>> Dengan mempertimbangkan kondisi batuannya, yaitu formasi Jatiluhur >> yang
>> terdiri dari napal dan serpih, nampaknya ada kemiripan antara kasus
>> rayapan
>> di daerah tersebut dengan yang di jalan tol Cipularang. Serpih sangat
>> sering
>> bersifat labil (kehilangan kekuatan gesernya) apabila dalam kondisi
jenuh
>> air. Rayapan ini biasanya terjadi pada kaki gunung atau pada lembah
yang
>> cenderung menjadi zona jenuh air.
>>
>> 1. Saran untuk upaya rekayasa :
>> Perlu dilanjutkan penyelidikan lapangan untuk :
>>    a)mendeliniasi zona yang bergerak merayap
>>    b) menyelidikan kondisi morfologi di sekitar lokasi rayapan untuk
>> menganalisis pengaruh morfologi terhadap drainase (aliran     air
>> permukaan
>> dan bawah permukaan). Analisis ini perlu karena mekanisme akumulasi >> air
>> ke
>> lokasi rayapan perlu dikontrol     agar tidak menjenuhkan lapisan
serpin
>> dan
>> atau napal. Jadi analisis atau evaluasi terhadap kondisi hidrogeologi
ini
>> perlu untuk mendesain sisterm drainase yang dikombinasi dengan sistem
>> penanaman vegetasi (bio-engineering system) di lokasi rayapan.
>> c) ada baiknya dilihat kandungan mineral yang ada di dalam lapisan
>> serpih.
>> Kalau ternyata serpih tersebut mengandung mineral smektite atau illite
>> atau
>> montmorillonite, berarti lapisan tersebut memang sangat sensitiv untuk
>> bergerak dalam kondisi jenuh air.
>>
>> 2. Saran dari sudut pandang geologi :
>> Dari berbagai kasus rayapan yang pernah terjadi, umumnya rayapan
tersbut
>> tidak akan langsung membunuh manusia.........namun umumnya merusak
>> bangunan-bangunan dan luas area yang merayap cukup luas, lebih dari
>> beberapa
>> hektar. Jadi meskipun tidak pernah menimbulkan korban manusia, namun
>> sangat
>> merugikan dari segi ekonomi dan kenyamanan tinggal.
>> Apabila kasus 1c. di atas yang terjadi (yaitu ternyata serpih tersebut
>> mengandung montmorillonite), maka sebaiknya rumah-rumah hunian di
lokasi
>> rayapan direlokasi saja ke tempat yang lebih aman, yaitu ke daerah
datar
>> yang tidak mengandung serpih dan napal. Kenyataannya sudah banyak >> kasus
>> di
>> Indonesia menunjukkan upaya mengendalikan rayapan ini tidak pernah
>> berhasil
>> secara permanen. Demikian pula pemikiran saya tentang tol cipularang,
>> perbaikan-perbaikan yang dilakukan saat ini sifatnya hanya perbaikan
yang
>> tidak dapat tuntas mengatasi permasalahan. Ibaratnya hanya akan
memencet
>> atau mengobati jerawat pada wajah dengan pergi ke salon, bukan
mengobati
>> penyebab utama jerawat tadi. Namun terus terang saran saya ini sangat
>> konservatif dari sudut pandang teknik sipil.
>>
>> Jadi saya usulkan agar dengan initiatif IAGI, dapat diusulkan ke PEMDA
>> setempat untuk memetakan zona yang rentan merayap dan longsor dengan
>> skala
>> yang memadai, yaitu skala 1 : 25.000 atau lebih teliti lagi. Dalam hal
>> ini
>> dapat berkoordinasi dengan Direktorat Volkanologi dan Mitigasi Bencana
>> Geologi (sekarang sudah ganti nama lagi belum ya?) dan ada baiknya
>> melibatkan perguruan tinggi setempat. Saya rasa apa yang telah
dilakukan
>> rekan-rekan dari UNPAK perlu didukung dan ditindaklanjuti.
>>
>> Saat ini kami juga sedang meneliti masalah rayapan tanah ini, dan
>> kebetulan
>> kami ada laboratorium lapangan di Kalibawang Kulon Progo dilengkapi
>> dengan
>> beberapa alat pantau. Silakan mampir ke lab tsb untuk saling berbagi
>> pengalaman.
>>
>> Demikian tanggapan dari saya, mohon maaf sebelumnya apabila ada ang
>> kurang
>> berkenan.
>>
>> Salam
>> Dwikorita Karnawati
>>
>> Head of Geological Engineering Department
>> Gadjah Mada University
>> Host Institution of Asean University Network/SEED Net
>> Jl. Grafika no. 2 Bulaksumur, Yogyakarta 55281
>> INDONESIA
>> Phone : 62 274 513 668
>> Fax : 62 274 513 668/ 62 274 883 919
>> email : [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
>> www.geologi.ugm.ac.id
>>
>> ----- Original Message -----
>> From: "Rendhi Iswarajati" <[EMAIL PROTECTED]>
>> To: <[EMAIL PROTECTED]>
>> Sent: Wednesday, February 22, 2006 3:54 AM
>> Subject: FW: [iagi-net-l] landslde/creep di Kabupaten Bogor
>>
>>
>> Bu Rita, FYI e-mail dari milist IAGI.
>>
>> Best regards,
>> Rendhi
>>
>>
>> ________________________________
>>
>> From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
>> Sent: Tue 2/21/2006 10:41 AM
>> To: [email protected]
>> Subject: Re: [iagi-net-l] landslde/creep di Kabupaten Bogor
>>
>>
>>
>>>
>>  Terima kasih Pak Ndaru , kalau Bu Dwikorawati baca komunikasi ini ,
>>  pls commnent.
>>
>>  Si Abah
>>
>>  Barusan telepon Bu Teti (UnPak), ternyata internal Unpak sudah sempat
>>> berdiskusi untuk melakukan action (field checking, penelitian dsb).
>>> Kompas
>>> hari ini memberitakan kalau masyarakat menunggu-nunggu penelitian >>> dari
>>> pemerintah, apakah desa mereka masih layak huni (perlu relokasi?).
>>>
>>> Mungkin pp-iagi bisa bantu fasilitasi ttg inisiatif Unpak ini. Ini
saya
>>> cc
>>> ke email pak Agus Karmadi (dosen Unpak). Barangkali rekan yg
pengalaman
>>> melakukan ini bisa juga urun rembug (Pengda Jatim/ AMC atau Yogya).
>>>
>>> Salam - Daru
>>>
>>> ----- Original Message -----
>>> From: <[EMAIL PROTECTED]>
>>> To: <[email protected]>
>>> Sent: Monday, February 20, 2006 10:17 AM
>>> Subject: [iagi-net-l] landslde/creep di Kabupaten Bogor
>>>
>>>
>>>>
>>>>
>>>>
>>>>     Rekans
>>>>
>>>> Harian Kompas memberitakan  16 rumah roboh perlahan-lahan akibat
>>>> landslide/land`creep di kampung Curug , Desa Bojong Koneng Kecamatan
>>>> Babakan Magang  Kabupaten  Bogor.
>>>>
>>>> Pada peta Lembar Bogor 1/100.000 , kampung Curug terletak diatas
>>>> Formasi
>>>> Jatiluhur yang terdiri dari napal dan serpih, akan tetapi mungkin
>>>> sebagian
>>>> dari Kampung Curug ( sebelah selatan dan timur ) terletak diatas
breksi
>>>> vulkanik  dan lava sebagai hasil dari kegiatan Gn. Kencana dan Gn
Limo
>>>> dan menutupi
>>>> Formasi Jatiluhur yang terdiri dari napal dan serpih tadi.
>>>>
>>>> Kondisi geologi yang sangat umum menyebabkan terjadinya
>>>> longsor/pergeseran tanah.
>>>>
>>>> Proses "creeping" masih /sedang terjadi , 1000 orang warga sedang
>>>> menunggu
>>>> dengan cemas apa yang akan terjadi dengan rumah , sawah , kebun dan
>>>> harta
>>>> miliknya, APA yang dapat dilakukan IAGI untuk menguranga "ketidak
>>>> pastian
>>>> "
>>>> mereka?
>>>>
>>>>
>>>> Si- Abah
>>>>
>>>>

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke