mangkanya kembangkan  segala yang alternative seperti yang disarankan
GusDur....
energi alternative..biar enggak tergantung melulu ama minyak..
makanan alternative ...biar enggak tergantung sama beras saja...
militer alternative...kalau enggak bisa beli peralatan dari omsam , ya beli
aja dari negara lain atau bikin sendiri...kalau tetap enggak bisa juga ya
pake jin aja ...

selama masih tergantung ama omsam mah sampai kapankun tragedi ini bakalan
ada lagi...

Regards

Kartiko-Samodro
Telp : 3852



                                                                                
                                                                    
                      [EMAIL PROTECTED]                                         
                                                                    
                                               To:       [email protected]    
                                                                    
                      27/02/2006 03:02         cc:                              
                                                                    
                      PM                       Subject:  Re: [iagi-net-l] Kasus 
Cepu :Mulailah dari evaluasi secara      ilmiah-akademis yang benar 
                      Please respond to         !                               
                                                                    
                      iagi-net                                                  
                                                                    
                                                                                
                                                                    
                                                                                
                                                                    




>h
  Vick

  Kalau aku bisa nangis darah sebagai WNI danm kebetulan sebagai geologist
  berkewarganegaraan Indonesia , maka saat inilah aku akan nagis darah.
  Tapi apa cukup nangis darah ?

  Tentunya kita tidak bisa mengubah apapun yang kelak akan ditetapkan
  oleh Pemerintah ( ??????????? apa iya Pemerintah masih bisa yaaa ???).

  Kita semua harus memakai "cepu tragedi" (kalau lah ini mau dikatakan
  demikian), sebagai pelajaran paling mahal bagi Bangsa Indonesia , agar
  hal ini tidak terjadi lagi.

  Bagaimana ???? Saya serahkan kepada Anda - Anda untuk menentukan nasib
  Bangsa Indonesia agar kita tidak dicaci maki oleh anak cucu kita .

  Semoga.

  Si-Abah.


_________________________________________________________________________


 "Mungkin yang ditulis Mas Syaiful Jazan ada benarnya. Pada akhirnya
> mungkin putusan politis yg dipergunakan dalam memutuskan operatorship
> Cepu Block."
>
> On 2/27/06, Syaiful Jazan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>>
>> Sudah kelihatan dengan jelas bahwa block Cepu sarat dengan nuansa
>> Politisnya,jadi apapun kehendak kita semua tidak akan terlaksana,dan
>> sebaiknya ikuti aja dan biarkan masyarakat setempat yang akan menentukan
>> nantinya,yang penting agar hydrocarbon segera bisa dimanfaatkan.
>>
>> sjn
>
> Mulailah dari evaluasi secara ilmiah-akademis yang benar !
>
> Technical Background
>
> Sejak awal saya selalu berusaha mencari dan berusaha memberikan
> informasi yang berdasarkan atas penelaahan secara ilmiah-akademis.
> Salah satunya krono-logis, melihat urut-urutan terjadinya benang kusut
> dalam kerangka waktu. Juga pendekatan saintifik akademis harus lebih
> didahulukan dalam setiap evaluasi. Banyak istilah-istilah yg
> merancukan dalam keputusan lanjut yg menjadikan keputusan tidak tepat.
> Awalnya saya sangat keberatan ketika banyak menyebutkan BanyuUrip
> sebagai Giant Field. Tentunya ada kaidah-kaidah tertentu dalam
> menyebutkan Giant Field. Pertama perhitungan dengan kaidah ilmiah dan
> akademis yg benar. Apakah benar "dia" sebesar angka itu. Kedua apakah
> angka itu masuk dalam kategori Giant Field ?
> Istilah giant field hanya utk satu individu lapangan, bukan kolektif
> dalam satu block. Jadi tidak ada istilah Giant Block. Lapangan Banyu
> Urip-pun sudah membusang (mirip kasus busang dengan exagerasi
> reserves).
>
> Konsekuensi logis dari pemberian istilah ini saja sudah akan
> memberikan dampak yg cukup berat ketika kelanjutan proses ini berjalan
> alot dengan munculnya kalimat "Mampukah Indonesia mengelola GIANT
> field". Beberapa komentar bernuansa politis serta merta bermunculan.
> Apakah Pertamina mampu, apakah orang Indonesia mampu. Nuansa inipun
> sudah mulai sarat dengan muatan politis dan kepentingan.
>
> Hanya dengan istilah ini saja sudah akan sangat memojokkan Pertamina
> bahkan secara khusus keahlian bangsa Indonesia. Disisi lain ada
> beberapa yg menganggap bahwa teknologi untuk mengelola giant field
> adalah teknologi canggih. Tentunya anggapan ini sudah menjadi
> kelirumologi. Teknologi yg dipergunakan untuk memproduksi lapangan
> giantpun bukan secanggih teknologi NASA bukan ? Teknologi mengelola
> lapangan besar sudah dibuktikan mampu dikerjakan oleh perusahaan
> nasional. Medco berhasil mengembangkan lapangan dengan kondisi mirip
> (carbonates reservoir di Selatan Sumatra). Istilah giantpun
> terpelintir untuk mempengaruhi keputusan.
>
> Hukum
> Proses lain yg berjalan paralel dengan evaluasi teknis adalah
> perjalanan kasus hukum yg dimulai sejak awal daerah ini dioperasikan
> oleh Humpuss, sebagai TAC contract area. Namun situsasi politik dalam
> negeri yg berubah serta awal dari sebuah kesalahan dalam "awarding"
> the block yg semakin runyam. Dahulu, sekitar tahun 90an ketika aku
> masih bekerja di LASMO New Venture, pernah terbesit issue bahwa
> daerah-daerah prosepct di daratan Pulau Jawa hanya akan dioperasikan
> oleh perusahaan nasional. Namun keputusan2 kemaren menjadikan impian
> yg masih issue tersebut buyar. Pada prinsipnya PSC (Production Sharing
> Contract) ini mirip BOT (Build Operate and Transfer). Artinya pada
> akhir kontrak daerah tersebut dikembalikan dahulu ke negara. Proses
> perpanjangan yg aslinya dalam setiap kotrak "optional"-pun sudah
> terpelintir menjadi sebuah "keharusan" demi menjaga masuknya investor
> asing. Sesuatu yg seharusnya sebuah pemberian approval perpanjangan
> diplintir menjadi "dispute". Bener-bener pemelintiran kontrak yg
> akhirnya membuyat.
>
> Ekonomi
> Pada saat berlangsungnya "negosiasi" (maaf dalam tanda kutip karena
> bisa saja yg terjadi adalah pemaksaan :), kondisi perekonomian di
> Indonesia sedang carutmarut juga kondisi kondisi politis ygtegang
> menjelang pemilihan presiden langsung. Busung lapar-pun pernah diusung
> sebagai issue untuk sesegera mungkin mendapatkan income dengan
> mengocorkan minyak dari lapangan-lapangan ini. Harga minyak yg
> melambungpun menjadikan keinginan ini semakin berubah menjadi "nafsu"
> untuk sesegera mungkin mengucurkan minyak. Namun pada saat ini dan
> hari ini semua sudah melupakan si korban "busung lapar" yg namanya
> pernah dicatut dalam "negosiasi".
>
> Keekonomian ini tentunya bisa saja sebagai dasar dalam memutuskan.
> Tentunya setelah memiliki angka cadangan yg diperoleh dari kaidah
> ilmiah dan akademis diatas. Bila angka-angka cadangan dan keekonomian
> sudah siap, mungkin lebih mudah memutuskan siapa diantara kemungkinan2
> perusahaan-perusahan EP yg paling banyak memberikan manfaat ekonomi
> pada negara, pada bangsa Indonesia. Tentunya hanya dengan adu POD-lah
> (POD=Plan Of Developement) yang paling tepat. Belum tentu Pertamina
> memberikan yg terbaik buat negara dan bangsa, belum tentu ExxonMobil,
> bisa jadi third option company (bukan diantara keduanya). Namun
> keputusan cara inipun juga tidak pernah terjadi.
>
> Politis.
> Karena beberapa langkah awal sudah terpelintir (twisted), maka
> memutuskan dengan kaidah bisnis sudah menjadi begitu sulit. Aspek
> bisnispun sudah tercoreng, bahkan aspek hukum yg harus dijunjung
> terkena cipratan noda, dimana TAC berubah menjadi PSC menjadi preseden
> buruk di dunia perminyakan. Masing-masing yg bertikai menggunakan
> segala cara untuk memperoleh bagian. Keputusan inipun akan melukai
> semua pemain-pemain industri migas di Indonesia. Mulai dari aspek
> ilmiah-akademis, aspek hukum, aspek ekonomi semua runyam karena
> politis.
>
> Nah apa yg bisa kita pelajari dari kasus ini ?
> Saya selalu mengajak untuk memulai dari menelaah sesuai kaidah "ilmiah
> akademis" dalam memulai setiap assesment. Sebagai seorang yg selalu
> kekeuh dengan memulai evaluasi sesuai kaidah ilmiah akademis dan juga
> praktisi di bidang migas, terus terang saya malu. Ya malu .... mengapa
> keputusan yg seharusnya diawali dengan landasan pemikiran
> ilmiah-akademis dan evaluasi keekonomian yg benar "terpaksa" harus
> diputuskan secara politis.
>
> I lost my power !
>
>
> Salam
>
> RDP
> "power = ability to make descision"
>
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina
> (Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
> Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
> Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
> Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
> Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau
> [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
> Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
> ---------------------------------------------------------------------
>
>





---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau
[EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------




This e-mail (including any attached documents) is intended only for the
recipient(s) named above.  It may contain confidential or legally
privileged information and should not be copied or disclosed to, or
otherwise used by, any other person. If you are not a named recipient,
please contact the sender and delete the e-mail from your system.


---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke