Ikutan nimbrung. Pa Awang selain penggunaan oleanana
untuk penentuan umur relatif saya juga pernah
menggunakan rasio moretana/hopana bisa di cek dgn m/z
191. Grantham (1986), menyatakan bahwa minyak dari
batuan induk tersier menunjukkan rasiomor/hop (0,1-0,3
dgn nilai umum 0,15-0,20) daripada batuan yang lebih
tua (umumnya 0,1 atau kurang). Untuk GC, biasanya
analisis awal Seb C20 dominasi alga (marin) dan
setelah C20 dominasi terrestrial. Kalau terjadi 2
peak, biasanya khas untuk endapan fluvio-deltaik.
Untuk cluster analysis tentunya prioritas parameter
jadi kunci untuk pengelompokkan dan tidak dipengaruhi
kematangan. Untuk oleanana kan lebih dominan di daerah
darat, tapi sy dapat melimpah ke arah marin. Kira2
selain dari mekanika transportnya faktor apa lagi yang
mempengaruhinya. 

salam,
lambok

--- Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Pak Andang,
>    
>   Preferensi nomor atom ganjil terhadap nomor atom
> genap cukup dapat dilihat di GC scan untuk
> lingkungan manapun, dan jelas fingerprint
> merefleksikan sesuatu tentang deret ini, kalau tidak
> tak mungkin ada formulasi preferensi ini.
>    
>   Minyak Kangean, seperti posting2 saya sebelumnya,
> memang menunjukkan anomali, tetapi sekali lagi bukan
> anomali marin seperti yang Anda sebutkan, tetapi
> anomali sangat khas dominasi terestrial. Marine oil
> dari type II kerogen di Indonesia akan punya average
> pr/ph 1.22, pris/nC17 0.85, dan C31/C19 (wax ratio)
> 0.25. Dan nilai2 kisaran ini tak muncul untuk minyak
> Kangean. Intensitas atom2 nomor tinggi di minyak
> Kangean malah menggelembung (C24-C30), suatu hal
> yang tidak akan terjadi untuk minyak2 marin. Saya
> berpendapat bahwa minyak Kangean sangat terestrial.
>    
>   Tentang oleanane, saya menggunakan referensi dari
> Peters et al. (1999) - Geochemistry of crude oils
> from Eastern Indonesia - AAPG Bull v 83 n 12, p.
> 1927-1942, December 1999. Dan, cut off
> olenane/hopane 0.20 berasal dari publikasi ini. Saya
> pikir, ini cut off yang logis sebab di Indonesia
> Timur, seperti kita tahu, kita bisa meng-exercise
> dengan baik minyak Mesozoic vs Tersier berdasarkan
> kandungan olenanane karena keduanya terjadi. Di
> Salawati Basin, yang pernah dulu dianggap minyaknya
> berasal dari sumber pra-Tersier (Phoa and Samuel,
> 1984, IPA), saya dengan yakin bahwa minyaknya semua
> berasal dari Klasafet/Kais yang berumur Miosen (itu
> berdasarkan pemelajaran oil geochemistry yang saya
> lakukan di Salawati Basin 1997-2000), lihat di
> publikasi Satyana et al. (2000)-IPA.
>    
>   Saya suka kalau di SE Sundaland ini ada play
> Mesozoic, hanya saya belum mendapatkan buktinya yang
> kuat.
>    
>   salam,
>   awang
> 
> Andang Bachtiar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>   Pak Awang, kalau anda lihat kembali gambar
> finger-print berbagai jenis 
> minyak East-Java di paper anda yang anda bandingkan
> dg typical 
> fluvio-deltaic chromatogram (Robinson, 1987), maka
> akan anda lihat anomali 
> (bukan dominasi kesamaan) di finger-print minyak
> dari Kangean (Phillip, 
> 1991). Selain itu, finger print tersebut juga tidak
> merefleksikan apapun 
> tentang preferensi odd carbon number chains (kecuali
> kalau mata kita sangat 
> awas menelisik frekuensi garis-garis chromatogram
> yang diassign berdasarkan 
> rentention time-nya untuk mendapatkan kalibrasi
> nomor karbon tsb). Point 
> saya: mungkin saja C24-C30 peak yang saya lihat pada
> minyak Kangean yg anda 
> tampilkan dari Phillips, 1991 tersebut berkaitan
> dengan dominasi long-chain 
> lengths yg berikutnya juga terkait dengan waxiness,
> tetapi yang pasti, 
> minyak Kangean tersebut secara kasat mata
> finger-print-nya menampakkan peak 
> yang sangat berbeda dengan minyak fluvio-deltaik
> lainnya yang anda tampilkan 
> dalam gambar tsb.
> 
> Menurut saya, justru kunci menuju ke discovery
> konsep-konsep baru di daerah 
> frontier seperti segitiga Jawa Timur - Kalimantan -
> Sulawesi ataupun di 
> ujung timur Cekungan Jawa Timur tersebut adalah
> mencoba mencari "anomali" 
> dari "sistematika yang mendominasi". Anomali finger
> - print minyak Kangean 
> (Phillips, 1991), anomali delta C13 saturate vs
> delta C13 aromatics, anomali 
> pr/C17 vs ph/c18, dan anomali maturity "basement"
> yang hanya 1-1,2%Ro di 
> daerah tinggian Sepanjang tentunya dapat dijadikan
> starting point untuk 
> meneliti konsep2 play lebih luas / dalam di daerah
> tsb.
> 
> Permasalahan oleanane vs hopane yang "typical"
> Tersier (>0.20) mungkin 
> sudah saatnya untuk agak diketatkan sedikit
> pemakaiannya di Indonesia bagian 
> Timur, dimana kemungkinan kita juga bisa mendapatkan
> angka rasio yang 
> mendekati atau lebih kecil dari 0.20 untuk minyak2
> yang dihasilkan dari 
> endapan2 Mesozoic - Cretaceous (toch pada saat itu
> angiosperm juga sudah 
> mulai ada).
> 
> Pemodelan yang pernah saya lakukan untuk endapan2
> Jurasic - Cretaceous di 
> beberapa mini Mesozoicum basins di ujung timur
> Cekungan Jawa Timur tersebut 
> menunjukkan bahwa pada umumnya minyak Mesozoicum
> paling potential untuk 
> mengisi reservoir-reservoir Eocene-Early Oligocene
> karena sejarah 
> kematangannya yang sudah sangat lanjut. Tetapi
> khusus di daerah Tinggian 
> Sepanjang ada indikasi bahwa minyak-minyak
> Mesozoicum tersebut dapat juga 
> mengisi reservoir sampai ke level Kujung.
> 
> Salam
> 
> Andang Bachtiar
> Exploration Think Tank Indonesia
> 
> ----- Original Message ----- 
> From: "Awang Satyana" 
> To: ; 
> Sent: Wednesday, February 22, 2006 12:22 PM
> Subject: Re: [iagi-net-l] reservoir clastics di NE
> Java Basin
> 
> 
> > Pak Andang,
> >
> > Justru peak di C24-C30 itu menunjukkan
> terrestrially sourced oil, 
> > menunjukkan dominasi long chain lengths (wax) dan
> preferensi odd carbon 
> > number chains. Dan X plot yang saya lakukan untuk
> parameter2 lain 
> > menunjukkan tak ada dominasi marin di wilayah East
> Java, termasuk Kangean.
> >
> > Oil grouping yang saya lakukan memang tidak
> menggunakan PCA dan itu saya 
> > sebut di paper sebagai further studies yang
> dibutuhkan (hierarchical 
> > cluster analysis - dendogram, lihat section
> interpretation methods). 
> > Tetapi, analisis dendrogram pun tetap harus
> dirasionaliasasi dengan 
> > setting geologi.
> >
> > Kalau ada Mesozoic source di sini, kenapa semua
> minyak asal Kangean 
> > memunculkan olenanane di triterpane m/z 191 dan
> bikin rasio dengan hopane 
> > yang khas Tersier ( > 0.20) ? Tak ada oil di
> Kangean yang mirip Aliambata 
> > seeps di Timor atau Oseil oil yang memang asalnya
> dari Jurassic marine 
> > source. Lagi pula, kalau mikrokontinen Kangean
> diasumsikan dari utara 
> > Gondwana, ia akan mengikuti prosedur rifting yang
> berjalan di sini, yang 
> > bisa diwakili oleh Jurassic Plover yang
> fluvio-deltaik bukan marin. 
> > Prosedur peri-rift graben pasti terestrial dan
> bukan marin.
> >
> > Dan, umumnya sumur2 di East Java berakhir di
> basement yang metamorphic 
> > atau metasedimen. Ada pre-Ngimbang di Pagerungan,
> tetapi betul seperti 
> > yang dibilang Pak Bambang, dominan meta-sedimen.
> >
> > salam,
> > awang
> >
> > Andang Bachtiar wrote:
> > Pak Awang,
> >
> > Saya melihat konsistensi "marine" classification
> dari minyak-minyak di
> > offshore bagian timur Cekungan Jawa Timur ini pada
> x-plot pristane/n-C17 
> > vs
> > phytane/n-C18, x-plot delta C13 aromatics vs delta
> C13 saturates , dan 
> > juga
> > dari finger-print C5+ chromatogram yang
> menunjukkan peak di sekitar 
> > C24-C30
> > yang lebih besar dari peak di sekitar C17-an.
> >
> > Karena terlalu banyaknya parameter yang bisa
> diplot, di-cross-plot, dan
> > diklassifikasikan, dalam dunia petroleum
> geochemistry kita seringkali
> > menggunakan Principal Component Analyses atau yang
> sederhana: STAR DIAGRAM
> > untuk membuat klassifikasi yang lebih "sound" dan
> bisa mengcover semua
> > komponen/parameter determinan. Dalam hal ini
> memang 
=== message truncated ===


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke