Pak Awang,

Menarik juga nih kasusnya Sukowati-4.... walaupun tidak terlalu
mengherankan mengingat ini karbonat.
Si Banyu Uripnya sendiri kan sudah di 3D seismic , apakah mereka sudah
minta ijin ke BPMigas melakukan inversi dengan 3D nya ini ? ... bu Nuning
kali yang tahu ya .....hasilnya mungkin belum ditunjukkan ke BP Migas
sebelum mereka minta ijin ngebor .....tapi setidak tidaknya dengan inversi
mereka mungkin bisa 'melihat' porosity jadi bisa cukup hati hati ....
Soal inversi memang sulit  juga sih ....saya dulu pernah ribut sama kakak
saya yang geologist itu yang kecewa dengan hasil inversinya ...dia bilang
ah kalian geophy tukang banyak omong segala soal porosity ....
Memang sih secara teknis  kita mungkin saja meramal porosity ....tapi
banyak aturannya : seismic mesti bagus, di process dengan benar, tidak ada
fluid effect, metoda inversinya benar .....dan ada studi petroelastique
pendukung ....

salam,
yn




|---------+---------------------------->
|         |           basuki puspoputro|
|         |           <[EMAIL PROTECTED]|
|         |           com>             |
|         |                            |
|         |           27/02/2006 04:11 |
|         |           PM               |
|         |           Please respond to|
|         |           iagi-net         |
|         |                            |
|---------+---------------------------->
  
>------------------------------------------------------------------------------------------------------------------|
  |                                                                             
                                     |
  |       To:       [email protected]                                         
                                     |
  |       cc:                                                                   
                                     |
  |       Subject:  RE: [iagi-net-l] Kasus Cepu :Mulailah dari evaluasi secara 
ilmiah-akademis yang benar !          |
  
>------------------------------------------------------------------------------------------------------------------|




Pak Awang menulis:
  Sukowati-4 baru saja dibor JOB Pertamina-PetroChina, dan kering karena
tight reservoir.
  Numpang tanya, apakah sewaktu memprediksi reservoir ini telah menggunakan
  sophisticated geophysical tools? Kalau ya, dimana kelirunya prediksi?
  Salam,
  Basuki Puspoputro


Awang Harun Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Semula, yang mengemuka itu hanya Banyu Urip. Dokumen resmi ExxonMobil
yang masih saya simpan menulis cadangan lapangan ini (bukan blok Cepu)
punya kisaran 200-700 MMBO (Steve Buck, 2000). Kala itu belum seismik 3D.
Setelah dilakukan seismik 3D katanya struktur malah membesar. "Katanya"
sebab saya pun sudah tak punya akses ke data mereka sebab ExxonMobil sudah
tak lapor lagi ke Pertamina MPS (saat itu).

Lalu, di media yang ramai lebih mengemuka cadangan blok, bukan Banyu Urip
lagi. Berapa besar ? Angka bervariasi sekali, dari 400-1200 MMBO. Ini sudah
bias. Berapa sebenarnya cadangan Banyu Urip sebenar2-nya. Tak ada yang
tahu, bahkan EMOI pun saya pikir tak akan tahu pasti sebab hanya ada 3
titik sumur yang berderet di tengah. Closure-nya memang gede, tetapi sangat
kasar kalau mau memastikan reserve-nya sekarang ini, lalu jadi pertimbangan
keputusan. Berbahaya !

Sukowati-4 baru saja dibor JOB Pertamina-PetroChina, dan kering karena
tight reservoir. Nah, Sukowati bertetangga dengan Banyu Urip. Pelajaran
penting, siapa bisa mengira sepasti-pastinya reserve, apalagi di karbonat ?


Salam,
awang

-----Original Message-----
From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Monday, February 27, 2006 1:22 PM
To: [email protected]; HAGI-Net; migas indonesia;
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Subject: [iagi-net-l] Kasus Cepu :Mulailah dari evaluasi secara
ilmiah-akademis yang benar !

"Mungkin yang ditulis Mas Syaiful Jazan ada benarnya. Pada akhirnya
mungkin putusan politis yg dipergunakan dalam memutuskan operatorship
Cepu Block."

On 2/27/06, Syaiful Jazan wrote:
>
> Sudah kelihatan dengan jelas bahwa block Cepu sarat dengan nuansa
Politisnya,jadi apapun kehendak kita semua tidak akan terlaksana,dan
sebaiknya ikuti aja dan biarkan masyarakat setempat yang akan menentukan
nantinya,yang penting agar hydrocarbon segera bisa dimanfaatkan.
>
> sjn

Mulailah dari evaluasi secara ilmiah-akademis yang benar !

Technical Background

Sejak awal saya selalu berusaha mencari dan berusaha memberikan
informasi yang berdasarkan atas penelaahan secara ilmiah-akademis.
Salah satunya krono-logis, melihat urut-urutan terjadinya benang kusut
dalam kerangka waktu. Juga pendekatan saintifik akademis harus lebih
didahulukan dalam setiap evaluasi. Banyak istilah-istilah yg
merancukan dalam keputusan lanjut yg menjadikan keputusan tidak tepat.
Awalnya saya sangat keberatan ketika banyak menyebutkan BanyuUrip
sebagai Giant Field. Tentunya ada kaidah-kaidah tertentu dalam
menyebutkan Giant Field. Pertama perhitungan dengan kaidah ilmiah dan
akademis yg benar. Apakah benar "dia" sebesar angka itu. Kedua apakah
angka itu masuk dalam kategori Giant Field ?
Istilah giant field hanya utk satu individu lapangan, bukan kolektif
dalam satu block. Jadi tidak ada istilah Giant Block. Lapangan Banyu
Urip-pun sudah membusang (mirip kasus busang dengan exagerasi
reserves).

Konsekuensi logis dari pemberian istilah ini saja sudah akan
memberikan dampak yg cukup berat ketika kelanjutan proses ini berjalan
alot dengan munculnya kalimat "Mampukah Indonesia mengelola GIANT
field". Beberapa komentar bernuansa politis serta merta bermunculan.
Apakah Pertamina mampu, apakah orang Indonesia mampu. Nuansa inipun
sudah mulai sarat dengan muatan politis dan kepentingan.

Hanya dengan istilah ini saja sudah akan sangat memojokkan Pertamina
bahkan secara khusus keahlian bangsa Indonesia. Disisi lain ada
beberapa yg menganggap bahwa teknologi untuk mengelola giant field
adalah teknologi canggih. Tentunya anggapan ini sudah menjadi
kelirumologi. Teknologi yg dipergunakan untuk memproduksi lapangan
giantpun bukan secanggih teknologi NASA bukan ? Teknologi mengelola
lapangan besar sudah dibuktikan mampu dikerjakan oleh perusahaan
nasional. Medco berhasil mengembangkan lapangan dengan kondisi mirip
(carbonates reservoir di Selatan Sumatra). Istilah giantpun
terpelintir untuk mempengaruhi keputusan.

Hukum
Proses lain yg berjalan paralel dengan evaluasi teknis adalah
perjalanan kasus hukum yg dimulai sejak awal daerah ini dioperasikan
oleh Humpuss, sebagai TAC contract area. Namun situsasi politik dalam
negeri yg berubah serta awal dari sebuah kesalahan dalam "awarding"
the block yg semakin runyam. Dahulu, sekitar tahun 90an ketika aku
masih bekerja di LASMO New Venture, pernah terbesit issue bahwa
daerah-daerah prosepct di daratan Pulau Jawa hanya akan dioperasikan
oleh perusahaan nasional. Namun keputusan2 kemaren menjadikan impian
yg masih issue tersebut buyar. Pada prinsipnya PSC (Production Sharing
Contract) ini mirip BOT (Build Operate and Transfer). Artinya pada
akhir kontrak daerah tersebut dikembalikan dahulu ke negara. Proses
perpanjangan yg aslinya dalam setiap kotrak "optional"-pun sudah
terpelintir menjadi sebuah "keharusan" demi menjaga masuknya investor
asing. Sesuatu yg seharusnya sebuah pemberian approval perpanjangan
diplintir menjadi "dispute". Bener-bener pemelintiran kontrak yg
akhirnya membuyat.

Ekonomi
Pada saat berlangsungnya "negosiasi" (maaf dalam tanda kutip karena
bisa saja yg terjadi adalah pemaksaan :), kondisi perekonomian di
Indonesia sedang carutmarut juga kondisi kondisi politis ygtegang
menjelang pemilihan presiden langsung. Busung lapar-pun pernah diusung
sebagai issue untuk sesegera mungkin mendapatkan income dengan
mengocorkan minyak dari lapangan-lapangan ini. Harga minyak yg
melambungpun menjadikan keinginan ini semakin berubah menjadi "nafsu"
untuk sesegera mungkin mengucurkan minyak. Namun pada saat ini dan
hari ini semua sudah melupakan si korban "busung lapar" yg namanya
pernah dicatut dalam "negosiasi".

Keekonomian ini tentunya bisa saja sebagai dasar dalam memutuskan.
Tentunya setelah memiliki angka cadangan yg diperoleh dari kaidah
ilmiah dan akademis diatas. Bila angka-angka cadangan dan keekonomian
sudah siap, mungkin lebih mudah memutuskan siapa diantara kemungkinan2
perusahaan-perusahan EP yg paling banyak memberikan manfaat ekonomi
pada negara, pada bangsa Indonesia. Tentunya hanya dengan adu POD-lah
(POD=Plan Of Developement) yang paling tepat. Belum tentu Pertamina
memberikan yg terbaik buat negara dan bangsa, belum tentu ExxonMobil,
bisa jadi third option company (bukan diantara keduanya). Namun
keputusan cara inipun juga tidak pernah terjadi.

Politis.
Karena beberapa langkah awal sudah terpelintir (twisted), maka
memutuskan dengan kaidah bisnis sudah menjadi begitu sulit. Aspek
bisnispun sudah tercoreng, bahkan aspek hukum yg harus dijunjung
terkena cipratan noda, dimana TAC berubah menjadi PSC menjadi preseden
buruk di dunia perminyakan. Masing-masing yg bertikai menggunakan
segala cara untuk memperoleh bagian. Keputusan inipun akan melukai
semua pemain-pemain industri migas di Indonesia. Mulai dari aspek
ilmiah-akademis, aspek hukum, aspek ekonomi semua runyam karena
politis.

Nah apa yg bisa kita pelajari dari kasus ini ?
Saya selalu mengajak untuk memulai dari menelaah sesuai kaidah "ilmiah
akademis" dalam memulai setiap assesment. Sebagai seorang yg selalu
kekeuh dengan memulai evaluasi sesuai kaidah ilmiah akademis dan juga
praktisi di bidang migas, terus terang saya malu. Ya malu .... mengapa
keputusan yg seharusnya diawali dengan landasan pemikiran
ilmiah-akademis dan evaluasi keekonomian yg benar "terpaksa" harus
diputuskan secara politis.

I lost my power !


Salam

RDP
"power = ability to make descision"

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau
[EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------


--
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.1.375 / Virus Database: 268.1.0/269 - Release Date: 2/24/2006


--
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.1.375 / Virus Database: 268.1.0/269 - Release Date: 2/24/2006


---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau
[EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------



Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com


This e-mail (including any attached documents) is intended only for the
recipient(s) named above.  It may contain confidential or legally
privileged information and should not be copied or disclosed to, or
otherwise used by, any other person. If you are not a named recipient,
please contact the sender and delete the e-mail from your system.


---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke