On 3/5/06, Sulastama Raharja <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Mas Vicky, > kenapa lapangan2 yang baru diketemukan cadangannya kecil? Karena cekungan2 > yang belum dieksplorasi cadangan kecil, atau eksplorasi di lakukan di
Ada beberapa kemungkinan yg diketemukan hanya lapangan kecil2 dan tidak dikembangkan oleh Contractor (PSC). - Hanya melanjutkan "play type" yg sudah ada. Ini dapat disebabkan oleh kurangnya "iming-iming" untuk melakukan eksplorasi di daerah baru dengan cara baru, maupun daerah lama dengan cara baru, bahkan mungkin belum berani mencoba cekungan baru. Exploration insentif juga pernah diberikan, namun juga belum menghasilkan seperti yg kita inginkan. Barangkali sebenernya bukan hanya insentif split saja yg akan mempengaruhi keekonomian. Salah satunya ketidak pastian. Karena insentif ini tidak diberikan dalam bentuk grant tertulis didalam aturan tetapi akan diberikan sesuai dengan "kebijakan" pemerintah (cq BPMIGAS/BPPKA dulu). Nah kata-kata "kebijakan" ini yg mengandung ketidak pastian yg sangat tidak disukai oleh bisnisman (investor). Mungkin lebih baik kalau disebutkan saja akan diberikan insentif sekian persen split seandainya menemukan explorasi di frontier atau new play. Defined by technical background. - Daerah yg "prospek", biasanya di "kangkangi" (hold by) oleh perusahaan lama yg sudah lama berproduksi. Ini yg saya sebut sebagai "sleeping hold area". Banyak lapangan marginal ini berada didalam lokasi (area) daerah producing PSC. Hal inilah yang berbeda dengan sistem PSC di Malaysia. Di Malaysia, lapangan yg diketemukan pada tahap explorasi (4-6 tahun pertama) tetapi tidak direncanakan dikembangkan oleh PSC yg bersangkutan akan dikembalikan ke host country. Biasanya PSC ini akan berkonsentrasi pada lapangan-lapangan besar dahulu. Lapangan marginal disimpen utk nanti. Coba lihatlah lapangan2 yg sekarang "idle" di beberapa Producing-PSC, juga mungkin ada yg tahu berapa jumlah "idle field" yg dikelola Pertamina. - Kurangnya insentif untuk lapangan marginal. Insentif dari BPMIGAS sepertinya pernah juga diberikan beberapa tahun yang lalu. Tapi ntah mengapa saya juga ngg tahu mengapa kok masih tersisa hingga 70 lapangan marginal seperti yg dikutip Pak SBY. Barangkali hanya belum berproduksi karena masih "sedang" (on going project) dalam pengembangan, semoga. Salah satu yg dilakukan Petronas adalaj memberikan split berbeda utk lapangan2 kecil. Misalnya kita pakai "Reserves Threshod Split". Jadi kalau kontraktor menemukan lapangan offshore minyak dengan reserves (P4) dibawah 30MMBO maka splitnya 40-60. Namun kalau reservesnya diatas 30MMBO splitnya tetap 15-85. Dengan demikian ketika mereka masih baru menemukan proven resrves kecil mereka sudah akan berani mengembangkan lapangan tersebut. Walaopun toh nantinya kalau dikembangkan lagi ternyata reservesnya lebih dari threshold 30MMBO ya splitnya baru berubah sejak itu. Aturan tidak boleh mundur kan ? Nah angka 30MMBO ini yg harus kita cari bersama, karena akan berbeda utk offshore dan onshore. Juga kategori reserves apa yg akan dipakai P1 atau P4 ? Apa untungnya dengan RTS ? Host country (BPMIGAS) akan "berantem" dengan kontraktor dalam tataran "teknis ilmiah-akademis", karena yg menjadi patokan adalah jumlah angka reserves. Sehingga si Host Country GGEnya juga harus pinter2an secara teknis. Bukan dengan negosiasi ekonomi, kan ? Mengapa saya tidak memilih "threshold" dalam tataran ekonomi ? Tataran ekonomi ini variabelnya sangat banyak, fluktuatif, dan juga beresiko dimana risiko ini tidak bisa ditentukan oleh siapapun, misal harga minyak dll. Juga keekonomian ini adalah "mainannya" businesman (investor). Sebaiknya host country tidak terlalu banyak turut campur dalam hal ini. Seolah-olah host country jadi ikut2an menghitung dompetnya kontraktor (investor), jelas mereka akan tidak suka lah yaw. Kalau toh investor ini untung 50-80% dalam setahun aku rasa sangat wajar, karena bunga bank kira-kira hanya 20% maksmum, tetapi kalau sampai mereka beruntung 400-500% itu bukan bisnis tapi itu namanya ngrampok ! Aku rasa masih banyak cara-cara yg bisa kita gali, yg penting data kita yg dimiliki harus akurat dan presisi. Aku rasa banyak yg bisa menambahkan info utk wacana diskusi. Salam Kerja dulu yuuk ! RDP --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina (Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id) Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id) ---------------------------------------------------------------------

