abdul mutalib masdar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:          Selasa, 14 Maret 2006 
19:54 WIB

Struktur Organisasi Blok Cepu Tidak Efisien


  JAKARTA--MIOL: Struktur organisasi Blok Cepu yang menempatkan tenaga-tenaga 
ahli asing di posisi kunci dinilai tidak efisien karena akan membengkakan biaya 
operasional.
  Demikian antara lain kesimpulan diskusi yang diadakan Ikatan Ahli Geologi 
Indonesia (IAGI) dan Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI), di Jakarta, 
Selasa (14/3). Hadir sebagai pembicara diskusi, anggota Komisi XI DPR dari 
Fraksi Reformasi, Dradjad H Wibowo.
  Juru bicara IAGI dan HAGI, A Mutalib Masdar mengatakan, kesepakatan 
pengelolaan Blok Cepu tidak mencerminkan proporsi yang maksimal bagi tenaga 
ahli Indonesia dalam menduduki posisi kunci. Semestinya, pengelolaan Proyek 
Cepu dari mulai tingkat ahli hingga teknis pelaksana sebanyak-banyaknya 
diduduki tenaga lokal.
  "Dari sisi kemampuan teknis, tenaga ahli dalam negeri keberadaannya cukup 
diakui di mancanegara. Terbukti, ada lebih dari 80 orang ahli perminyakan dan 
geologi Indonesia bekerja di perusahaan minyak Malaysia. Masih ada puluhan lain 
yang bekerja di Timur Tengah, Eropa dan Amerika Serikat," paparnya.
  Dalam pengelolaan proyek-proyek semacam Proyek Cepu-pun, tenaga ahli 
Indonesia terlibat secara penuh. Mutalib mengambil contoh Proyek Lapangan Mudi 
dan Sukowati oleh JOB Pertamina-Petrochina East Java, sebanyak 99% tenaga ahli 
dari Indonesia/Pertamina.
  Menurut Mutalib, anggota IAGI dan HAGI yang tercatat bekerja di Pertamina 
terdiri dari 187 lulusan S2 dan S3 dari berbagai perguruan tinggi terkemuka AS 
dan Australia. Selain itu, masih ditambah sebanyak 1.115 orang S1 lulusan 
perguruan tinggi terkemuka Indonesia dan luar negeri yang dipastikan mampu 
menunjang pengembangan Blok Cepu.
  Di sisi lain, adanya posisi Deputi General Manager dan Wakil Manager, tidak 
lazim dikenal di dunia perminyakan. Umumnya, para General Manager dan Manager 
tidak memiliki wakil dan langsung membawahi tingkat teknis pelaksana.
  "Struktur organisasi Proyek Cepu itu tidak efisien dan hanya akan 
menghambur-hamburkan biaya," ujarnya.
  Sementara itu, Dradjad juga mengatakan, pos-pos yang mendadak ada tersebut 
menimbulkan kesan penyelesaian masalah pengelolaan Blok Cepu seperti kompromi 
politik. Padahal, biaya tinggi yang timbul nantinya akan menjadi beban negara.
  Dradjad menegaskan, sebagai anggota DPR, jika ada rencana memakai hak angket 
di kalangan legislatif terkait masalah penyelesaian Cepu, dia pasti akan turut 
menandatangani. (Ndy/OL-06)

----------------------------------------
Sumber: Media Indonesia Online

                
---------------------------------
Yahoo! Travel
 Find  great deals to the top 10 hottest destinations!

Kirim email ke