Rekans,


Teman saya yang bekerja di Afrika mengirim surat berikut.. cukup menarik untuk 
pembelajaran kita semua terutama berkaitan dengan euforia proyek Cepu....: 
tidak menjadi operator bukan akhir segalanya. Masih ada tiga lapis kontrol yang 
bisa dimanfaatkan: partnership, regulator, dan publik. Kalau ketiganya masih 
bisa di"kadalin" juga ya kebangetan sekali kita ini...:-). 



salam,

====

PETROLEUM INDUSTRY: YANG BELUM DITEMUKAN DI INDONESIA

 

Beberapa hari yang lalu saya melakukan (Field Development) Project Review 
dengan perusahaan minyak negara selaku partner (spt Pertamina di Cepu), dan 
dengan departemen petroleum-nya selaku regulator (spt BP Migas) dan terakhir 
public review..... 

Beberapa hal yang menarik dari pertemuan pertemuan tersebut: 

-         fighting spirit-nya tinggi menjadikan mereka sangat kritis terhadap 
setiap proposal dari operator

-         setiap argumennya selalu didukung data lengkap dan solid (data dari 
10 tahun terakhir dari berbagai proyek sejenis) 

-         objectif yang jelas : nasionalisasi dan turunkan biaya (cost recovery)

-         kemampuan personal dari seluruh delegasi (HRD, Accounting, 
production, drilling, geoscience, etc) merata : mengerti operation secara detail

 

Pertemuan dengan Partner (National Oil Company) 

Pertemuan semacam ini biasanya dilakukan tiap enam bulan. Bagi National Oil 
Company, minimal ada dua hal yang diharapkan:

- 'belajar' baik teknik maupun cara mengelola proyek   

- media untuk mengontrol operator     

Mereka sadar betul akan perannya ini sehingga mengoptimalkan pertemuan dengan 
diskusi dan banyak bertanya. Semua delegasi bertanya / memberikan tanggapan 
secara akurat. Beberapa contoh dialog:

'berdasar data proyek dari tahun 2000, rate tenaga kerja per jam adalah $X, 
dari perusahaan anda nilai tertinggi yang pernah diajukan adalah $Y dan untuk 
proyek sejenis (termasuk dari perusahan lain): $Z, maka usulan proyek anda 
harus tidak lebih dari (nilai tertinggi antara $X, $Y and $Z) plus 20 %' . 
data-nya akurat !!

Selebihnya, mereka memverifikasi setiap item biaya secara detail. 

 

Pertemuan dengan Departement Petroleum

Obyektif Departement Petroleum adalah mengoptimalkan local content, 
nasionalisasi ...seperti item di bawah:

'berapa persen HRD lokal yang terlibat langsung di dalam proyek (mulai dari 
level management, engineer sampai technician), di setiap level pekerjaan mulai 
dari basic design sampai detail engineering, peningkatan HRD lokal harus 
significant setiap tahun'

'operator diharuskan 'memaksa' service company untuk menggunakan engineer lokal 
dan mereka mengakomodasi training aboard bagi engineer lokal'

'apa target investasi dan berapa perusahaan/ service baru yang bisa dibuka/ 
diperbesar sebagai impact dari proyek ini'

Departemen Petroleum sendiri mempunyai list perusahaan local yang sudah go 
public di oil/gas business sehingga bisa 'mengkapling' pekerjaan yang harus 
diserahkan ke perusahan lokal. Boleh dibilang, terdistribusi merata di seluruh 
bidang pekerjaannya operator. 

 

Tidak hanya sampai disitu, untuk local content ini mereka membuat aturan yang 
sangat ketat. Selain persyaratan pajak, semua perusahaan harus mengikuti 
peraturan berikut (official rule):

-         detail engineering harus dilakukan di dalam negeri

-         project management team dan procurement centers harus dilakukan di 
dalam negeri

-         semua peralatan dan material terkait yang sudah diproduksi di dalam 
negeri harus digunakan 

-         project management + engineering sebisa mungkin dilakukan 100% SDM 
lokal, minimum 50%

Untuk menyempurmakan skenario local content mereka, operator harus melakukan 
evaluasi call for tender dan memberi rekomendasi bersama sama dengan National 
Oil Company, yang tujuannya adalah memasukkan perusahaan lokal dan bekerja pada 
proyek tersebut.   

Secara teknis, cara ini susah diterima (oleh operator) tapi dengan cara inilah 
mereka dapat membangkitkan industri nasional dengan metode 'learning by 
doing/dipaksa'. Sehingga pada akhirnya meskipun berkategori perusahaan 
internationalpun, seperti Weatherford, Baker, Halliburton dan Schlumberger-pun, 
selalu dipenuhi oleh resource lokal.  

 

Public Review : Environment Impact Assesment

Setelah melakukan environmental study, mengirimkan laporan tentang efek proyek 
dan kompensasi pada masyarakat kepada departemen terkait. Operator  diwajibkan 
melakukan public review kepada masyarakat, terbuka untuk umum. Pertemuan ini 
difasilitasi oleh pemerintah yang dihadiri oleh departemen terkait, pakar, 
akademisi (petroleum engineering, environment, soil/ocean engineering, 
sicio-economic etc.) dan masyarakat umum.   

Para pakar selaku panelist akan mengkomunikasikan program operator kepada 
masyarakat dan sekaligus mengevaluasi kebijakan operator. Disini masyarakat 
berjuang/ mempertanyakan program operator yang ber-impact bagi rakyat setempat:

- waste treatment and management

- smokeless flare

- sustainable development: tenaga/lapangan kerja bagi penduduk lokal 

- community development: scholarship (berapa ratus, universitas mana, teknik 
apa)

 

Pada akhirnya, meskipun National Oil Company bukan operator, proyek 
pengembangan lapangan minyak tsb menjadi proyek nasional yang benar benar 
membawa harapan, meningkatkan pendapatan negara, investasi baru dan terbukanya 
lapangan kerja. Disinilah peran 'aktor perminyakan' dari negara sangat 
menentukan.

 

Mudah mudahan dari tulisan ini, ada manfaat yang bisa diambil, khususnya bagi 
Pertamina dan BP-Migas sebagai penjaga sumber minyak bumi. Paling tidak bisa 
memanfaatkan golden moment-nya Cepu: meningkatkan sikap kritis dan fighting 
culture untuk mengoptimalkan resource national kita demi kesejahteraan rakyat. 

 

 

*) anak bangsa yang berharap bisa berbangga dan berkarya di negeri sendiri 

Kirim email ke