To: Merapi - Hipotesa Bemmelen disangkal oleh Prof Dr MT Zen Subject:
[email protected]
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0602/24/jogja/21340.htm
MENGUAK MISTERI TEKA-TEKI MERAPI
Oleh Agung Setyahadi
Puncak Gunung Merapi sudah 100 kali didaki oleh Prof Dr MT Zen. Tetapi,
setiap kali mengamati bentuk puncak Merapi dari empat penjuru arah yang
berbeda, masih saja ada teka-teki sejarah letusan dan perkembangan Merapi
yang terus menantang untuk dipecahkan. Jawaban teka-teki itu masih
tersimpan di wajah Merapi dan menunggu untuk dipecahkan. Guru Besar
Emeritus pada Jurusan Teknologi Geofisika, Fakultas Ilmu Kebumian dan
Teknologi Mineral, Institut Teknologi Bandung, itu mengungkapkan
hipotesanya tentang Merapi yang ia namakan Hipotesa Zen, dalam Sarasehan
Budaya "Enigma Merapi dan Sejarah Mataram", di Universitas Pembangunan
Nasional Yogyakarta, Kamis (23/2).
Sarasehan ini merupakan bagian dari peringatan 1.000 tahun letusan Merapi
dalam Volcano International Gathering (VIG) 2006. Zen mengunjungi Merapi
pertama kali pada tahun 1954 dan ia terkesan dengan perubahan bentuk
kerucut Merapi jika dilihat dari arah yang berbeda. Kerucut Merapi
bentuknya lebih sempurna jika dilihat dari arah selatan di Pos Pengamatan
Merapi, Ngepos, Muntilan. Dari arah timur melalui Boyolali dan naik ke
Cepogo, kerucut tadi menghilang dan berganti dengan kerucut Merapi Muda
bagian atas karena bagian bawahnya terhalang tubuh reruntuhan material
Merapi Tua. Dari arah utara, sebelum kerucut bagian atas ada punggungan
yang menuju ke dinding besar yang disebut dinding Pusung London.
Dari arah tenggara, di Pos Pengamatan Deles, Merapi seakan dikelilingi ring
wall atau dinding besar yang melengkung dan hanya ada di sisi utara. Di
tengah ring wall itu muncul kerucut muda yang merupakan kerucut Gunung
Merapi saat ini. Teka-teki Merapi itu menantang Zen untuk menelaah lebih
jauh, bahkan ia beberapa kali menginap di puncak Merapi untuk mencari
jawaban. Salah satu kunci jawaban yang ia cari adalah endapan piroklastik
bersifat sangat asam yang berasal dari sebuah erupsi dahsyat seperti
disebutkan van Bemmelen.
Pencarian yang penuh risiko itu membawa pada kesimpulan bahwa endapan
sangat asam sebagai ciri letusan dalam volume besar belum pernah ditemukan.
"Dalam sejarah letusan besar yang menghasilkan kaldera atau depresi-depresi
volkano-tektonik selalu disertai oleh produksi bebatuan piroklastik ultra
asam. Batuan ultra asam ini terdapat di Toba, Ranau, Maninjau, dan valley
of Ten Ton Thousand Smokes hasil peletusan Gunung Katmai," kata Zen dengan
mantap. Bemmelen juga menyebutkan bahwa letusan besar Merapi disertai
runtuh tubuh atas karena batuan dasar belum terkonsolidasi. Runtuhan tubuh
atas Merapi itu membendung Sungai Progo dan melipat perbukitan Gendol.
Hipotesa Bemmelen ini disangkal oleh Zen karena batuan dasar Merapi relatif
lunak. Kalau beban Merapi melampaui daya tahan batuan dasarnya, seluruh
Gunung Merapi akan terperosok seperti halnya dengan Gunung Ungaran. Prof Dr
Edi Sedyawati, arkeolog dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas
Indonesia, mengatakan, satu-satunya prasasti yang secara eksplisit
menyebutkan ada letusan gunung berapi adalah Prasasti Rukam bertahun 829
Saka atau 907 Masehi, yang ditemukan di tepi Sungai Ngasinan, Desa
Petarongan, Parakan, Temanggung, Jawa Tengah. Prasasti yang dikeluarkan
oleh Sri Maharaja Rake Watukura Dyah Balitung Sri Dharmmodaya Mahasambu itu
mengatakan bahwa Desa Rukam telah hilang oleh "guntur". Kata "guntur" dalam
kamus Jawa Kuno-Inggris susunan PJ Zoetmulder dijelaskan sebagai "banjir
disertai batuan dan lava dari letusan gunung berapi".
Data tekstual dari prasasti maupun sastra tidak ada lagi yang bercerita
tentang letusan gunung. Dalam karya sastra, gunung disebut sebagai bagian
dari pemandangan alam. Gunung secara khusus disebut sebagai tempat untuk
mencari nilai-nilai religius, baik untuk belajar, berlatih, ataupun
menjalankan laku keagamaan. Edi menegaskan, dengan adanya beberapa gunung
berapi dalam lingkungan hidup orang Jawa, mestinya letusan gunung bukanlah
kejadian langka untuk menjadi perhatian para pujangga.
Namun, tema- tema baku bagi penulisan kesusastraan membatasi pada tema
kepahlawanan dan keutamaan laku keagamaan. "Gunung sebagai arah perjalanan
dan tujuan pemujaan terlihat pula oleh fakta terdapatnya tempet-tempat suci
keagamaan di lereng- lereng gunung dengan arah hadap menuju puncak," ucap
Edi. Sultan Hamengku Buwono X, Gubernur DIY sebagai pembicara kunci,
menuturkan, hilangnya peradaban Mataram Kuna belum pernah ada kajian dari
sudut pandang lain selain akibat letusan gunung berapi. Fakta menunjukkan
bahwa ada pergeseran paradigma dari pembangunan fisik ke pengembangan
budaya sastra. Budaya pembangunan fisik itu ditandai karya besar Candi
Borobudur.
Para elite keraton meninggalkan tradisi budaya material untuk lebih
mendalami sistem budaya dan sistem sosial berupa karya-karya sastra seperti
Jangka Jayabaya, Arjuna Wiwaha, Sutasoma, Negara Kertagama, dan Pararaton.
"Terjadi paradigma shift dari tradisi olah nalar ke olah rasa yang lebih
mengarah ke spiritualitas. Ini seakan menegaskan makna kata Mataram atau
mata-arum yang artinya hati nurani yang berdasar pada semangat hidup
spiritual," tutur Sultan. Semua teka-teki yang berkaitan dengan Merapi dan
sejarah Mataram itu masih tersembunyi di balik kabut zaman. Yang bila
dilakukan oleh masyarakat Mataram di abad ini adalah hidup arif selaras
dengan alam lingkungan di sekitarnya. Olah rasa perlu dilakukan untuk
menyelaraskan laku hidup manusia dengan alam. .
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------