sekedar nimbrung........
Beberapa bulan ke belakang pun saya sering di ributkan
oleh temen-temen di daerah(kepala daerah) mengenai
kenyataan persepsi bahwa pertamina tidak melakukan
apapun terutama menyangkut COMDEV (terutama
perusahaan2 TAC), padahal kenyataannya bahwa uang yang
digunakan untuk COMDEV tersebut ya uang
pertamina-pertamina juga....saya jadi bingung ada
salah dimana ya kalau ada perkeliruan persepsi di
masyarakat non migas, sementara di kalangan kita
sendiri pun masih ada perkeliruan tersebut, sehingga
sangat wajar apabila masyarakat awam pun melakukan
hal-hal yang menganggu kegiatan migas indonesia
(sosialisasi atau ada hal lain yang menyebab kan ini ?
)....

ODEN/DNR
ETTI


--- [EMAIL PROTECTED] wrote:

> >
>   Rekans
> 
>   Supaya  tidak terlalu pusing , coba diingat
> kejadian kejadian yang
> didongengkan itu terjadi tahun berapa.
> Ya , kalau jaman itu yang tidak harus terjadi  bisa
> JADI , dan yang
> harusnya bisa terjadi bisa TIDAK TERJADI.
> 
> Nah , faktor faktor ini yang dimanfaatkan secara
> "cerdik" oleh MOI.
> 
> Sekarang yang penting bagaimana memanfaatkan apa
> yang sudah tercapai
> sehingga manfaat-nya maksimal dan optimal bagi
> Bangsa (cwiiiw).
> 
>  Si-Abah
> 
>
__________________________________________________________________________
> 
> 
> 
>   Ada lagi tambahan perbedaan "PLUS" nya itu:
> > Dalam kontrak aselinya participation interest
> (equity?) tidak boleh dijual
> > ke pihak asing.
> > Tetapi terjadi amandement dengan side-letter
> sehingga Ampolex/Mobil Oil
> > memperoleh participating interest 49%, bahkan
> kemudian 100% dan
> > operatorship, atas persetujuan Dirut Pertamina dan
> Menteri Pertambangan
> > Sekian koreksinya.
> > ----- Original Message -----
> > From: "Andang Bachtiar" <[EMAIL PROTECTED]>
> > To: <[email protected]>
> > Sent: Tuesday, May 02, 2006 12:07 PM
> > Subject: Re: [iagi-net-l] Perkeliruan Persepsi?
> ==>Re: [iagi-net-l] Re:
> > FW:An tara Dr Rizal Mallarangeng & Mr Rovicky,...
> >
> >
> >> Yan,
> >>
> >> "PLUS"nya waktu itu sebenarnya adalah karena:
> >> 1) Mereka boleh eksplorasi ke zona yang lebih
> dalam
> >> 2) Mereka boleh jual equity (bahkan operatorship)
> ke pihak asing
> >>
> >> Selebihnya, saya pikir sama saja dengan TAC-TAC
> lain yang mengharuskan
> >> mereka selalu lapor dan dapat persetujuan dari
> Pertamina untuk segala
> >> macam kegiatan E&P mereka.
> >>
> >> Nah, kalau ternyata (waktu itu) Pertamina sulit
> meng-akses data dsb,
> >> ...(bahkan masuk ke lokasi untuk memeriksa
> operasi saja tidak boleh(?))
> >> sebenarnya menurut saya itu adalah masalah
> ketidak-mengertian,
> >> ke"minder"an, bahkan mungkin kekeliruan persepsi
> sebagian kalangan
> >> kawan-kawan di Pertamina saja. Namanya juga
> merekla TAC alias
> >> "Contractor"nya Pertamina,.... mustinya Pertamina
> sebagai OWNER sadar
> >> akan
> >> hak-nya dong; bahwa mereka boleh mengakses,
> memeriksa, dan mencampuri
> >> urusan-urusan operasional E&P-nya Kontraktor.
> >>
> >> Hal ini sebenarnya berlaku juga dalam skala yang
> berbeda untuk PSC-PSC
> >> dibawah komando BPMigas (dulunya BPPKA-MPS
> Pertamina). Masalah kelemahan
> >> bargaining, kekurangsadaran atas "hak" sebagai
> penguasa, pengontrol,
> >> penyetuju dan penolak program dan keuangan juga
> terjadi pada waktu
> >> PSC-PSC
> >> masih dikontrol oleh kawan-kawan di BPPKA-MPS.
> Hal ini tidak lepas dari
> >> kurang optimalnya penyusunan / jumlah personel
> dan sistim kerja
> >> kawan-kawan di lembaga kontrol tersebut. Lepas
> dari kekurangan tsb
> >> diatas,
> >> kita musti acung jempol juga untuk prestasi yang
> telah di-ukir oleh
> >> BPPKA-MPS dalam kurun 80-an dan 90-an, sehingga
> walaupun dengan
> >> personnel
> >> yang sangat terbatas (tidak lebih dari 20(?)
> G&G&E&R untuk mengontrol
> >> lebih dari 100 blok PSC di tahun 90-an) Indonesia
> masih terus survive
> >> dengan penambahan cadangan-cadangan migas baru
> dan produksi yang
> >> meningkat. Mudah-mudahan kawan-kawan di BPMigas
> banyak belajar dari
> >> ke-ruwet-an administrasi teknik dan kekurangan
> personnel dari masa-masa
> >> sebelumnya (BPPKA-MPS) sehingga lembaga kontrol
> PSC kita sekarang dapat
> >> lebih meningkatkan cadangan dan produksi migas di
> Indonesia.
> >>
> >> Salam
> >>
> >> ADB
> >> ETTI
> >>
> >>
> >>
> >> ----- Original Message -----
> >> From: "Yan Indryanto" <[EMAIL PROTECTED]>
> >> To: <[email protected]>
> >> Sent: Tuesday, May 02, 2006 11:36 AM
> >> Subject: Re: [iagi-net-l] Perkeliruan Persepsi?
> ==>Re: [iagi-net-l] Re:
> >> FW:An tara Dr Rizal Mallarangeng & Mr Rovicky,...
> >>
> >>
> >>> Mas Andang,
> >>> Mungkin itu karena EMCL merupakan TAC "PLUS"
> sehingga peran Pertamina
> >>> disitu nggak keliatan ? Bahkan kita2 yang di
> Pertamina aja sangat sulit
> >>> untuk meng-akses data blok cepu yang diakuisisi
> oleh EMCL.
> >>>
> >>> BTW, ada ga ya contract term TAC "PLUS"...???
> >>>
> >>> Salam,
> >>> YI
> >>>
> >>> On Tue, 2006-05-02 at 10:29, Andang Bachtiar
> wrote:
> >>>> Pak Vicky,
> >>>> aku cuplik 2 paragraph terakhir saja dari
> posting sampeyan soal
> >>>> (lagi2)
> >>>> Cepu
> >>>> karena aku ingin meng"highlight" kenyataan
> bahwa diantara kita yang
> >>>> ada
> >>>> di
> >>>> industri migas Indonesia-pun seringkali salah
> persepsi tentang "who's
> >>>> in-charge" (legally & operationally) dalam
> kasus-kasus penguasaan
> >>>> blok/lapangan migas Indonesia.
> >>>>
> >>>> Ketika sampeyan katakan "AMDAL dilakukan Mobil
> Oil, Pertamina belum
> >>>> melakukan apa-apa" sebenarnya ada yang tidak
> pas di sini; yaitu bahwa
> >>>> yang
> >>>> melakukan AMDAL itu bukan EMCL (Exxon Mobil
> Cepu Limited) tapi TAC
> >>>> Pertamina-EMCL. Ketika mereka presentasi
> AMDAL-nya di KLH 3-4 tahun
> >>>> yang
> >>>>
> >>>> lalu-pun, saya yang saat itu mewakili KLHsecara
> teknis juga tidak
> >>>> hanya
> >>>> berhadapan dengan Exxon Mobil semata-mata,
> tetapi di dalam tim-nya
> >>>> juga
> >>>> ada
> >>>> wakil dari Pertamina, karena yang mengajukan
> AMDAL saat itu bukan
> >>>> Exxon
> >>>> Mobil, tapi TAC Pertamina-EMCL.
> >>>>
> >>>> Pada saat EMOI melakukan pendekatan persuasif
> ke penduduk lokal-pun,
> >>>> sebenar-benarnyalah (secara hukum) bahwa mereka
> melakukannya itu dalam
> >>>> kapasitas badan hukum legal yang bernama TAC
> Pertamina-EMCL, bukan
> >>>> semata-mata EMOI.
> >>>>
> >>>> Implikasi dari kedua hal tsb diatas sudah
> jelas: Pertamina (saat itu)
> >>>> juga
> >>>> mengakui COST yang dikeluarkan oleh management
> TAC Pertamina-EMCL baik
> >>>> yang
> >>>> dikeluarkan untuk AMDAL maupun untuk
> pendekatan-persuasi (ComDev) dll
> >>>> yang
> >>>> berkaitan dengan operasi blok tersebut.
> >>>>
> >>>> Repotnya, kesatuan manajemen TAC yang seperti
> itu TIDAK DICERITAKAN ke
> 
=== message truncated ===


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti

IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke