Terimakasih penjelasannya Pak Awang. Saya rasa cukup bagus penjelasannya.

Dan ada satu pelajaran yg perlu diambil dari uraiannya pak Awang
adalah --> kehati-hatian dalam menggunakan sebuah terminologi dan
teori dalam sebuah analisa. Pengertiannya harus tepat, seringkali
dengan cara melihat sejarah berkembangnya teori itu. Sehingga tidak
tergesa-gesa menerapkan sebuah terminologi utk semua kondisi. Juga
perlu diperhatikan "hierarchy" (skala atau tingkatan) pembandingan yg
harus sepadan. Misalnya meneliti perkembangan/perubahan lingkungan
pengendapan "layer-by-layer" mungkin akan sulit dan mustahil. Analisa
lingkungan pengendapan akan tepat kalau untuk "bed set" (parasequence,
cmiiw).
Memang ada kecenderungan alam ini "scale invariance" (tidak bergantung
skala) terutama kalau mempelajari fractal geometri. Namun fractal
geometry ini masih disebut sebagai "experimental math", bukan "applied
math" bahkan oleh Mandelbrot yg dikenal sebagai bapaknya fraktal
geometri. Hal ini disebabkan buanyaknya hal-hal yg tidak dapat
dijelaskan hanya dengan satu teori saja.

Juga ada penjelasan bagus dan sangat jelas, bahwa ada kondisi-kondisi
tertentu ketika sebuah teori itu dibangun dan dikembangkan. Ada
keterbatasan dalam setiap teori. Tidak lazim sebuah teori di klaim
akan memenuhi segala kondisi, wong teori itu justru dibangun karena
adanya akan keterbatasan pengamatan (ruang dan waktu).

Trims Pak Awang

RDP

On 5/10/06, Awang Harun Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Saya pikir, terlalu lebar mengaitkan Wilson Cycle dengan sejarah rifting suatu 
cekungan (pre-rift, syn-rift, post-rift, sagging, syn-inversion, 
post-inversion). Memang Daur Wilson itu dimulai dengan rifting episode. Sampai 
sejarah sagging masih mungkin diikuti, tetapi dari titik ini kemudian terjadi 
perbedaan yang jauh antara Daur Wilson dan sejarah rifting cekungan. Daur 
Wilson menghendaki ocean-floor spreading yang berujung ke pembukaan samudra 
baru. Dan, itu tak dipenuhi oleh sejarah cekungan. Sebab, di Indonesia Barat, 
tak ada sejarah pemekaran dasar lautan yang didahului oleh rifting. Maka, tak 
cocok membawa Wilson Cycle ke sejarah rifting cekungan.

Coba kita dudukkan dulu terminologi Wilson Cycle dengan benar agar tak terjadi 
kelirumologi. J. Tuzo Wilson, seorang ahli geologi Kanada, mengajukan suatu 
daur tektonik tentang pembukaan dan penutupan lautan pada awal 1970-an 
(kemudian daurnya itu dikenal sebagai Wilson Cycle). Di dalam daur ini termasuk 
continental fragmentation (yang didahului rifting), pembukaan dan penutupan 
ocean basin, dan re-assembly kontinen. Satu Daur Wilson ini lamanya rata-rata 
sekitar 500 juta tahun. Nah, sejarah rifting cekungan hanya masuk di awal-awal 
saja bukan ?

Saat ini, Wilson Cycle telah berkembang menjadi apa yang disebut "Supercontinent 
Cycle Hypothesis", yaitu bahwa supercontinent terjadi telah melalui daur-daur Wilson 
sebab superkontinen disusun oleh semua atau hampir semua massa daratan di Bumi, break-up, 
dan re-form dalam suatu cyle yang lamanya 500 juta tahun.

Kita masih ingat dengan baik supercontinent Pangaea (Pan-gaea = seluruh Bumi), 
sebuah superkontinen yang ada di penghujung Masa Paleozoikum. Mengikuti Daur 
Wilson, Pangaea mulai pecah selama Trias, dan sampai sekarang masih belum 
bersatu lagi, terdistribusi menjadi sebaran benua dan lautan seperti sekarang. 
Umur Bumi tak hanya sejak Paleozoik. Benua telah ada sejak 4000 juta tahun yang 
lalu. Maka, Pangaea tentu bukanlah satu-satunya superkontinen yang pernah 
dipunyai Bumi. Di Kurun Proterozoikum, pernah ada beberapa superkontinen (a.l. 
Rodinia di sekitar 3000-2500 Ma) yang pecah lagi, melalui beberapa 
superkontinen lebih muda, dan akhirnya re-assembly menjadi superkontinen yang 
kita kenal dengan baik : Pangaea.

Begitulah menempatkan terminologi Wilson Cycle. Kita kembali ke Gunung Kidul, 
Yogyakarta. Mengapa kita mesti harus selalu menggunakan terminologi syn-rift, 
post-rift, sagging, syn-inversion dll. di mana-mana ? Tidak akan cocok. 
Terminologi itu hanya cocok dan bagus untuk diterapkan di cekungan2 belakang 
busur Indonesia Barat (back-arc basin). Ke Indonesia Timur, kita menggunakan 
terminologi yang lain yang berhubungan dengan proses rift-drift-collision- 
proses pecahnya tepi utara Australian Plate dan pisahnya beberapa 
mikro-kontinen serta perbenturan mikrokontinen ke massa terrane lain.

Apakah Gunung Kidul dalam sejarah stratigrafinya pernah menjadi back-arc basin 
? Saya meragukannya, sehingga mencoba menerapkan terminologi sejarah rifting 
back-arc basin di Gunung Kidul tak akan cocok atau akan mengalami kesulitan. 
Saya pikir, Gunung Kidul pernah menjadi cekungan intra-arc pada Oligo-Miosen, 
dan setelah itu fore-arc basin. Tak pernah menjadi back-arc basin, kecuali 
kalau kita bisa menemukan jalur volkanik umur Eosen di Samudra Hindia sekarang. 
Lalu apa setting Wungkal-Gamping yang Eosen itu. Agak sulit melihatnya sebab 
setting Eosen Jawa sulit dimengerti karena datanya jarang. Dengan data yang ada 
sekarang, mungkin oceanic basin. Kondisi baru jelas saat Old Andesite Kebo 
Butak diendapkan, itu setting intra-arc dan sejarah tektonostratigrafinya 
adalah syn-orogen sediments (tak ada kan syn-rift ?). Nglanggran dan Wonosari 
pun hampir sama, hanya Wonosari reefal carbonates yang tebal itu memanfaatkan 
saat-saat volkanisme di wilayah ini reda pada 18-12 Ma.

Jadi, dalam pikiran saya, kalau sekuen-sekuen syn-rift terus loncat menjadi 
sekuen kompresi, membingungkan, ya wajar saja sebab tak seharusnya terminologi 
back-arc basin diterapkan di wilayah yang bukan back-arc basin. Maka, untuk 
konfirmasi dulu, harus dicari, apakah setting tektonik Gunung Kidul pada saat 
pengendapan Gamping dan Wungkal. Kalau ia benar back-arc basin di mana volcanic 
arc nya. Yang jelas, pada saat Kebo Butak, Gunung Kidul adalah intra-arc, dan 
sejak Miosen Akhir ia adalah fore-arc.

Petroleum system ? Ada beberapa fasies karbonat Wonosari yang bagus untuk jadi 
reservoir. Beberapa pasir turbidit volkaniklastik di Nglanggran dan Sambipitu 
pun bisa. Tetapi apa yang mau jadi source rocks ? Wonosari diendapkan sebagai 
barrier reef yang menghadap ke Cekungan Batur Agung di utaranya. Tetapi, apakah 
ada source-quality rocks yang diendapkan di depresi Batur Agung ? Saya 
melihatnya bahwa depresi ini masih diisi dominan volkaniklastik. Sementara trap 
pun kita tak/belum bisa banyak bicara sebab tak ada satu line seismik pun yang 
memotong Peg. Kidul. Kalau saja ada satu titik oil seepages aktif di wilayah 
ini, itu sudah indikasi sangat positif, tetapi kata teman2 UGM/UPN nihil 
katanya. Tetapi, kabarnya ada carbonaceous beds/coal di dalam Wungkal. Evaluasi 
petroleum system di wilayah ini masih dini, kerangka petroleum geology-nya pun 
belum tuntas kita mengerti.

Salam,
awang

-----Original Message-----
From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Wednesday, May 10, 2006 6:52 AM
To: Hendra Wahyudi; [email protected]
Subject: [iagi-net-l] Tectonic Cycle --> Need info Re: wilson cycle

Need help --> Ada yg tahu tentang tectonic cycle.
Saya jarang sekali bermain di Fore-arc sehingga ilmu ttg tectonic ini
dangkal banget.

Thanks.

RDP
--> Hendra, aku fw ke IAGI-net ya ...

On 5/9/06, Hendra Wahyudi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Assalamu'alaikum....
> Perkenalkan pak,nama saya hendra wahyudi dari jurusan teknik geologi ugm
> angkatan 2003. Saya pertama kali bertemu dengan bapak waktu temu alumni ugm
> Saya kagum dengan bapak, karena penjelasan bapak sangat menarik.
> Saya mau bertanya tentang evolusi cekungan yang ada di pegunungan selatan.
> Saya agak bingung apakah evolusi fore arc basin tsb bisa dikaitkan dengan
> wilson cycle?
> Berdasarkan penjelasan yang saya dapat di kampus, dikatakan bahwa formasi
> Wungkal-gamping berada pada saat fase syn-rift tapi kemudian formasi yang
> diendapkan setelahnya : formasi Nglanggran - Wonosari dikatakan berada di
> dalam fase kompresi. Saya bingung, bukankah dalam wilson cycle setelah fase
> syn-rift harusnya post rift, sagging, baru kemudian kompresi? Kemudian
> apakah konsep wilson cycle itubisa diterapkan di segala jenis cekungan?
> Mungkin tidak Formasi - formasi yang ada di kulonprogo dan struktur yang ada
> di sana membentuk petroleum system?
> Terima kasih atas perhatiannya pak. Maaf kalau saya mengganggu bapak
--
"uniformity does not necessarily signify connectivity"

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti

IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke