iya ya bah....harusnya diusulkan disentralistik sektoral atau otonomi sektoral, jadi uang yang diperuntukan untuk migas harusnya dipake sebagian besar untuk menunjang industri migas, wlaupun mungkin akan tetap saling subsidi lintas sektoral,sehingga akan mengstimulasi sektor-sektor lain untuk berperan,tidak hanya mengandalkan sektor migas...jangan dikumpul dulu baru dibagi but harus masuk saku kanan keluar saku kanan,kalau kita asumsikan negara ini adalah suatu perusahaan,maka sangat riskan apabila kita punya usaha, terus mengcampur adukan antara uang pribadi,uang pajak,uang keuntungan dan uang perusahaan.....pasti kacau....,pokokna lieur...
ODEN/DNR [EMAIL PROTECTED] wrote: > > > Ndang > > Ini kan semangat lama , yaitu uang gue kumpulin > dulu nanti gua bagi, > artinya kalau uang sudah ditangan gua kan > bagaimana Gua. > Sebetulnya apapun sistim-nya , yang penting > semangat seperti diatas > perlu dirubah dulu. > > Si- Abah. > > _________________________________________________________________________ > > Di dalam akunting bagi-hasil migas Pusat-Daerah > yang sejak 2002 dokumennya > > dibagikan ke daerah (rakyat/publik), DMO selalu > dijadikan faktor pengurang > > dari revenue pemerintah (yang akhirnya ditanggung > proporsional antara > > pemerintah pusat dan daerah). Istilah akuntingnya > disebut sebagai > > "prorata". > > Dalam penjelasan verbal seringkali disebutkan > bahwa besaran pengurang > > tersebut berasal dari harga yang harus dibayarkan > pemerintah > > (GOI=Government > > of Indonesia) kepada kontraktor (PSC) karena > kontraktor menyerahkan 25% > > jatah minyaknya kepada pemerintah dengan harga 10% > atau 25% dari harga > > pasar > > (percentage tergantung dari bunyi kontraknya > PSCnya). > > > > Dalam dokumen itung2an tersebut kalau kita periksa > dibagian kolom > > penerimaan > > negara dari prosentase ETS (equity to be split), > yang masuk sebagai > > revenue > > hanyalah split standard sesuai dengan yang tertera > dalam dokumen PSC, > > misalnya 55.3571% dr ETS untuk minyak sebelum > pajak (untuk tipikal 75-25 > > split). Nampaknya tidak ada penambahan revenue > dari monetisasi minyak DMO. > > Apakah hal ini karena minyak tersebut langsung > dimasukkan ke refinery > > tanpa > > harus di-rekord akuntansi-nya, atau kelupaan > menghitung (salah rumus),... > > sampai sekarang juga belum jelas. Usaha-usaha > untuk mempertanyakan hal > > tersebut (mencoba berdialog tentang > rumus-rumus-nya, membandingkan > > rumus-rumus itungan apple-to-apple) sampai > sekarang terus dilakukan oleh > > daerah dalam rangka transparansi, tetapi hasilnya > masih sangat minim. > > > > Jadi, kalau memang benar2 bahwa semua revenue > hasil DMO langsung masuk ke > > Kas Negara, mustinya itu tercermin juga dalam > akuntansi bagi-hasil > > migasnya. > > > > Dalam kaitannya dengan transparansi, ide Prof. RPK > untuk langsung memakai > > minyak hasil DMO sebagai subsidi untuk PLN > (misalnya) merupakan ide > > trobosan > > yang perlu disuarakan, ditimbang , dan dibahas > lebih lanjut. Jadi, > > minyaknya > > tidak perlu dimonetisasi lebih dulu, tapi LANGSUNG > dipakai subsidi. Dengan > > demikian menjadi tidak relevan lagi membicarakan > "kerugian kesempatan" > > (opportunity lost) karena perbedaan harga pasar > minyak dengan pemakaian > > sendiri, karena sebenarnyalah bahwa minyak2 DMO > itu dibeli oleh pemerintah > > (Pusat dan Daerah) bukan dengan harga pasar. > > > > Mudah-mudahan bermanfaat > > > > > > Salam > > Andang Bachtiar > > Dewan Pakar Forum Konsultasi Daerah Penghasil > Migas > > > > > > ----- Original Message ----- > > From: "R.P. Koesoemadinata" > <[EMAIL PROTECTED]> > > To: <[email protected]> > > Sent: Monday, May 15, 2006 8:10 PM > > Subject: Re: [iagi-net-l] Perlunya 'Geographical > source based energy > > policy' > > > > > >> Nah itu adalah penyelewengan, karena dmo itu > domestik market obligation > >> dengan harga murah, seharusnya digunakan untuk > "mensubsidi" domestik > >> market, sebetulnya dapat saja domestik market itu > dialihkan khusus untuk > >> PLN > >> > >> ----- Original Message ----- > >> From: "Achmad Luthfi" <[EMAIL PROTECTED]> > >> To: <[email protected]> > >> Sent: Monday, May 15, 2006 8:15 AM > >> Subject: RE: [iagi-net-l] Perlunya 'Geographical > source based energy > >> policy' > >> > >> > >>> DMO berlaku setelah 5 th produksi bila lapangan > itu mendapat incentive > >>> new field, semua revenue hasil DMO langsung > masuk ke kas Negara melalui > >>> Bank Indonesia. > >>> > >>> Salam: LTH > >>> > >>> -----Original Message----- > >>> From: R.P. Koesoemadinata > [mailto:[EMAIL PROTECTED] > >>> Sent: Saturday, May 06, 2006 5:53 AM > >>> To: [email protected] > >>> Subject: Re: [iagi-net-l] Perlunya 'Geographical > source based energy > >>> policy' > >>> > >>> SEbetulnya kan ada yang disebut DMO, setiap PSC > harus menjual 25% dari > >>> produksinya dengan harga 10% dari harga pasaran > international untuk > >>> pasaran > >>> dalam negeri. Nah alihkan saja DMO ini untuk > PLN. > >>> BTW kemana larinya DMO ini? > >>> > >>> ----- Original Message ----- > >>> From: "Liamsi" <[EMAIL PROTECTED]> > >>> To: <[email protected]> > >>> Sent: Wednesday, August 03, 2005 9:47 PM > >>> Subject: Re: [iagi-net-l] Perlunya 'Geographical > source based energy > >>> policy' > >>> > >>> > >>>> > >>>> Salah satu faktornya adalah banyak yang dulu ( > terutama industri ) > >>>> mempunyai > >>>> Pembangkit listrik sendiri dg BBM (PLTD) karena > sekarang harga BBM nya > >>> > >>>> mahal > >>>> maka banyak yang menggunakan listriknya dari > PLN yang lebih murah , > >>> karena > >>>> tarif listrik PLN tidak bisa dinaikan sesuai > mekanisme pasar ( > >>>> regulated ) > >>>> akibatnya PLN kelebihan beban.Kalau kapasitas > tdk ditambah ya byar pet > >>>> terus, Dengan harga BBM industri 5500 Rp/l > maka kalau 1 kwh > >>> membutuhkan > >>>> 0,3 > >>>> liter BBM maka hanya untuk biaya bahan bakarnya > saja sudah 1650 > >>> Rp/Kwh , > >>>> padahal kalau beli listrik dari PLN cuma paling > mahal 1000 Rp/Kwh, > >>> disisi > >>>> lain PLN didaerah ini karena masih banyak pakai > BBM maka harus nombok. > >>>> Apakah Mahal Listrik itu ? kalau ruang tamu > kita ada lampu neon 40 W > >>> kita > >>>> hidupkan 12 jam ( jam 6 sore - 6 pagi ) maka > kita cuma menghabiskan > >>> uang > >>>> sbb = 12 x 40 W = 480 Wh atau 0,480 Kwh , kalau > direkening listrik > >>> kita > >>>> per > >>>> Kwhnya Rp.600,- maka kamar Tamu kita yang > semalaman terang benderang > >>> cuma > >>>> kena 300 Rp , untuk Beli krupuk didepan rumah > saja tidak dapat. > === message truncated === __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com --------------------------------------------------------------------- ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru ----- Call For Papers until 26 May 2006 ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi ---------------------------------------------------------------------

