Ide untuk menggunakan DMO langsung ke sektor yang memang menyangkut hajat hidup orang banyak seperti listrik ( atau yang lain ) ini memang perlu mendapat perhatian.Sekarang ini misalnya harga listrik dari Gas itu sekitar 200 Rp/Kwh dg asumsi harga gas kira kira 3 $/mmbtu, kalau harga ini bisa ditekan lagi ( karena ada DMO ) maka listrik bisa tidak disubsidi lagi namun harga masih terjangkau. Kemarin ada tekor listrik di Jamali ( Jawa - Bali ) ini sekitar 290 an MW ( shg dibeberapa tempat diglir pemadaman terutama pd beban puncak ), akibat tidak beroperasinya PL di Tambak Lorok Dan Grati, dimana kedua PL ini didesain untuk operasi dg Gas, namun di karena tdk ada Gas maka diganti dg BBM ( HSD) akibat kelangkaan HSD tsb ( belum dikirim dr Ptm ) maka terpaksa kedua pembangkit tsb nganggur, dan kasus semacam ini ternyata banyak.Nah disinilah peran DMO itu yang harus diperjelas, dimana tujuan utamanya untuk memenuhi pasar ( suplai ) di DN, sehingga industri DN tdk pada gulung tikar ( industri yg berbasis migas) jangan sampai ayam mati dilumbung padi.Lha nanti apa kalau sumber energi primernya ( SDA) habis dan industri yang notabene bisa memeberikan multipel efek perekonomian tidak ada ( tdk berkembang ) , tinggal nunggu saja semuanya hrs ndatangkan dr luar Ism
> Di dalam akunting bagi-hasil migas Pusat-Daerah yang sejak > 2002 dokumennya dibagikan ke daerah (rakyat/publik), DMO > selalu dijadikan faktor pengurang dari revenue pemerintah > (yang akhirnya ditanggung proporsional antara pemerintah > pusat dan daerah). Istilah akuntingnya disebut sebagai > "prorata". Dalam penjelasan verbal seringkali disebutkan > bahwa besaran pengurang tersebut berasal dari harga yang > harus dibayarkan pemerintah (GOI=Government of Indonesia) > kepada kontraktor (PSC) karena kontraktor menyerahkan 25% > jatah minyaknya kepada pemerintah dengan harga 10% atau 25% > dari harga pasar (percentage tergantung dari bunyi > kontraknya PSCnya). > > Dalam dokumen itung2an tersebut kalau kita periksa dibagian > kolom penerimaan negara dari prosentase ETS (equity to be > split), yang masuk sebagai revenue hanyalah split standard > sesuai dengan yang tertera dalam dokumen PSC, misalnya > 55.3571% dr ETS untuk minyak sebelum pajak (untuk tipikal > 75-25 split). Nampaknya tidak ada penambahan revenue dari > monetisasi minyak DMO. Apakah hal ini karena minyak > tersebut langsung dimasukkan ke refinery tanpa harus > di-rekord akuntansi-nya, atau kelupaan menghitung (salah > rumus),... sampai sekarang juga belum jelas. Usaha-usaha > untuk mempertanyakan hal tersebut (mencoba berdialog > tentang rumus-rumus-nya, membandingkan rumus-rumus itungan > apple-to-apple) sampai sekarang terus dilakukan oleh daerah > dalam rangka transparansi, tetapi hasilnya masih sangat > minim. > > Jadi, kalau memang benar2 bahwa semua revenue hasil DMO > langsung masuk ke Kas Negara, mustinya itu tercermin juga > dalam akuntansi bagi-hasil migasnya. > > Dalam kaitannya dengan transparansi, ide Prof. RPK untuk > langsung memakai minyak hasil DMO sebagai subsidi untuk PLN > (misalnya) merupakan ide trobosan yang perlu disuarakan, > ditimbang , dan dibahas lebih lanjut. Jadi, minyaknya tidak > perlu dimonetisasi lebih dulu, tapi LANGSUNG dipakai > subsidi. Dengan demikian menjadi tidak relevan lagi > membicarakan "kerugian kesempatan" (opportunity lost) > karena perbedaan harga pasar minyak dengan pemakaian > sendiri, karena sebenarnyalah bahwa minyak2 DMO itu dibeli > oleh pemerintah (Pusat dan Daerah) bukan dengan harga > pasar. > > Mudah-mudahan bermanfaat > > > Salam > Andang Bachtiar > Dewan Pakar Forum Konsultasi Daerah Penghasil Migas > > > ----- Original Message ----- > From: "R.P. Koesoemadinata" <[EMAIL PROTECTED]> > To: <[email protected]> > Sent: Monday, May 15, 2006 8:10 PM > Subject: Re: [iagi-net-l] Perlunya 'Geographical source > based energy policy' > > >> Nah itu adalah penyelewengan, karena dmo itu domestik >> market obligation dengan harga murah, seharusnya digunakan >> untuk "mensubsidi" domestik market, sebetulnya dapat saja >> domestik market itu dialihkan khusus untuk PLN >> >> ----- Original Message ----- >> From: "Achmad Luthfi" <[EMAIL PROTECTED]> >> To: <[email protected]> >> Sent: Monday, May 15, 2006 8:15 AM >> Subject: RE: [iagi-net-l] Perlunya 'Geographical source >> based energy policy' >> >> >>> DMO berlaku setelah 5 th produksi bila lapangan itu >>> mendapat incentive new field, semua revenue hasil DMO >>> langsung masuk ke kas Negara melalui Bank Indonesia. >>> >>> Salam: LTH >>> >>> -----Original Message----- >>> From: R.P. Koesoemadinata [mailto:[EMAIL PROTECTED] >>> Sent: Saturday, May 06, 2006 5:53 AM >>> To: [email protected] >>> Subject: Re: [iagi-net-l] Perlunya 'Geographical source >>> based energy policy' >>> >>> SEbetulnya kan ada yang disebut DMO, setiap PSC harus >>> menjual 25% dari produksinya dengan harga 10% dari harga >>> pasaran international untuk pasaran >>> dalam negeri. Nah alihkan saja DMO ini untuk PLN. >>> BTW kemana larinya DMO ini? >>> >>> ----- Original Message ----- >>> From: "Liamsi" <[EMAIL PROTECTED]> >>> To: <[email protected]> >>> Sent: Wednesday, August 03, 2005 9:47 PM >>> Subject: Re: [iagi-net-l] Perlunya 'Geographical source >>> based energy policy' >>> >>> >>>> >>>> Salah satu faktornya adalah banyak yang dulu ( terutama >>>> industri ) mempunyai >>>> Pembangkit listrik sendiri dg BBM (PLTD) karena sekarang >>>> harga BBM nya >>> >>>> mahal >>>> maka banyak yang menggunakan listriknya dari PLN yang >>>> lebih murah , >>> karena >>>> tarif listrik PLN tidak bisa dinaikan sesuai mekanisme >>>> pasar ( regulated ) >>>> akibatnya PLN kelebihan beban.Kalau kapasitas tdk >>>> ditambah ya byar pet terus, Dengan harga BBM industri >>>> 5500 Rp/l maka kalau 1 kwh >>> membutuhkan >>>> 0,3 >>>> liter BBM maka hanya untuk biaya bahan bakarnya saja >>>> sudah 1650 >>> Rp/Kwh , >>>> padahal kalau beli listrik dari PLN cuma paling mahal >>>> 1000 Rp/Kwh, >>> disisi >>>> lain PLN didaerah ini karena masih banyak pakai BBM maka >>>> harus nombok. Apakah Mahal Listrik itu ? kalau ruang tamu >>>> kita ada lampu neon 40 W >>> kita >>>> hidupkan 12 jam ( jam 6 sore - 6 pagi ) maka kita cuma >>>> menghabiskan >>> uang >>>> sbb = 12 x 40 W = 480 Wh atau 0,480 Kwh , kalau >>>> direkening listrik >>> kita >>>> per >>>> Kwhnya Rp.600,- maka kamar Tamu kita yang semalaman >>>> terang benderang >>> cuma >>>> kena 300 Rp , untuk Beli krupuk didepan rumah saja tidak >>>> dapat. >>>> >>>> ISM >>>> >>>> >>>> Orang luar kaltim suka mentertawakan kondisi kaltim, >>>> punya apa saja untuk PTL selain air, tapi selalu >>>> byar-pet. Ada niatan sebenarnya membangun Power plant yg >>>> lebih besar kapasitasnya, tapi masalah yang timbul >>>> kelebihan dayanya mau dikemanakan?, karena Industri tak >>>> banyak disini.jadi saja rencana tinggal rencana, >>>> akibatnya tiap rumah sedia gen-set untuk mengantisipasi >>>> musim byar-pet. >>>> >>>> On 5/5/06, Nataniel Mangiwa <[EMAIL PROTECTED]> >>>> wrote: >>>>> sekedar informasi kecil.. >>>>> Balikpapan yang termasuk Kalimantan Timur dan yang juga >>>>> termasuk daerah kaya sumber energi (coal+hydrocarbon), >>>>> tetapi keadaan >>>>> kesehariannya tidak tercermin demikian. >>>>> >>>>> Balikpapan cukup akrab dengan kasus Byar-Pet. bahkan hal >>>>> ini termasuk dari 2 hal Janji Palsu yang selalu >>>>> dielu-elukan pada PILKADA >>>>> Balikpapan kemarin, yaitu: >>>>> 1. menjamin tidak ada lagi Byar-Pet >>>>> 2. menjamin ketersediaan air bersih. >>>>> >>>>> sepertinya tetep saja faktor efisiensi manusia masih >>>>> sangat bereperan penting dalam pengelolaan energi, yang >>>>> dalam kasus Balikpapan ini energi berlimpah tetapi >>>>> Byar-Pet pun berlimpah. dan ini masih terjadi sampai >>>>> sekarang ;-( >>>>> >>>>> Salam Wik-en, >>>>> Natan >>>>> >>>>> On 5/5/06, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote: >>>>> > > >>>>> > Rekan rekan >>>>> > >>>>> > Memang benar diperlukan "geographical source based >>>>> > energy" spt >>> yang >>>>> > dikatakan Rovicky TAPI ini tidak akan berarti >>>>> > apabila energi >>> listrik >>>>> > yang dihasilkan ditransfer ke Jawa untuk menghidupi >>>>> > industri di >>>>> > P.Jawa. >>>>> > Kita sama sama menyadari betapa beban sosial/ekonimi >>>>> > dan >>> lingkungan >>>>> > yang ditanggung oleh P.Jawa. >>>>> > >>>>> > Strategi berikutnya adalah harus memaksa kegiatan >>>>> > ekonomi pindah >>> ke- >>>>> > daerah yang memiliki sumber energi .(Sumbagsel, >>>>> > Kaltim , Kalsel) >>>>> > >>>>> > Tentunya dengan syarat syarat yang menarik para >>>>> > pengusaha dan >>> investor >>>>> > (umpama : tax holiday bagi pajak daerah , energi >>>>> > mestimya lebih >>> murah >>>>> > dsb). >>>>> > >>>>> > Apakah ini mungkin ?Saya kira sangat mungkin , >>>>> > apalagi kalau >>> PemDa-nya >>>>> > tidak berfikiran "ingin dapat PAD dalam waktu >>>>> > singkat" ( sehingga baru saja investor kulonuwun >>>>> > sudah di"pajak"-i), dengan >>> mengeluarkan >>>>> > PerDa 2 yang kurang masuk akal. >>>>> > >>>>> > >>>>> > Si - Abah >>>>> >>>>> --------------------------------------------------------------------->>>>> >>>>> To unsubscribe, send email to: >>>>> iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send >>>>> email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI >>>>> Website: http://iagi.or.id >>>>> >>>>> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: >>>>> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta >>>>> No. Rek: 123 0085005314 >>>>> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) >>>>> >>>>> Bank BCA KCP. Manara Mulia >>>>> No. Rekening: 255-1088580 >>>>> A/n: Shinta Damayanti >>>>> >>>>> IAGI-net Archive 1: >>> http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ >>>>> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi >>>>> --------------------------------------------------------------------->>>>> >>>>> >>>> >>>> >>>> -- >>>> OK TAUFIK >>>> >>>> --------------------------------------------------------------------->>>> >>>> To unsubscribe, send email to: >>>> iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send >>>> email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id >>>> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id >>>> >>>> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: >>>> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta >>>> No. Rek: 123 0085005314 >>>> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) >>>> >>>> Bank BCA KCP. Manara Mulia >>>> No. Rekening: 255-1088580 >>>> A/n: Shinta Damayanti >>>> >>>> IAGI-net Archive 1: >>>> http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ >>>> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi >>>> --------------------------------------------------------------------->>>> >>>> >>>> >>>> >>>> --------------------------------------------------------------------->>>> >>>> To unsubscribe, send email to: >>>> iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send >>>> email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id >>>> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id >>>> >>>> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: >>>> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta >>>> No. Rek: 123 0085005314 >>>> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) >>>> >>>> Bank BCA KCP. Manara Mulia >>>> No. Rekening: 255-1088580 >>>> A/n: Shinta Damayanti >>>> >>>> IAGI-net Archive 1: >>>> http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ >>>> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi >>>> --------------------------------------------------------------------->>>> >>> >>> >>> --------------------------------------------------------------------->>> To >>> unsubscribe, send email to: >>> iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send >>> email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id >>> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id >>> >>> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: >>> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta >>> No. Rek: 123 0085005314 >>> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) >>> >>> Bank BCA KCP. Manara Mulia >>> No. Rekening: 255-1088580 >>> A/n: Shinta Damayanti >>> >>> IAGI-net Archive 1: >>> http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ >>> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi >>> --------------------------------------------------------------------->>> >>> >>> >>> >>> --------------------------------------------------------------------->>> >>> ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru >>> ----- Call For Papers until 26 May 2006 >>> ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] >>> --------------------------------------------------------------------->>> To >>> unsubscribe, send email to: >>> iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send >>> email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id >>> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id >>> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: >>> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta >>> No. Rek: 123 0085005314 >>> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) >>> Bank BCA KCP. Manara Mulia >>> No. Rekening: 255-1088580 >>> A/n: Shinta Damayanti >>> IAGI-net Archive 1: >>> http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ >>> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi >>> --------------------------------------------------------------------->>> >>> >> >> >> --------------------------------------------------------------------->> >> ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru >> ----- Call For Papers until 26 May 2006 ----- >> Submit to: [EMAIL PROTECTED] >> --------------------------------------------------------------------->> To >> unsubscribe, send email to: >> iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email >> to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id >> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id >> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: >> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta >> No. Rek: 123 0085005314 >> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) >> Bank BCA KCP. Manara Mulia >> No. Rekening: 255-1088580 >> A/n: Shinta Damayanti >> IAGI-net Archive 1: >> http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net >> Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi >> --------------------------------------------------------------------->> > > ---------------------------------------------------------------------> ----- > PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru > ----- Call For Papers until 26 May 2006 > ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] > > ---------------------------------------------------------------------> To > unsubscribe, send email to: > iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > To subscribe, send email to: > iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta > No. Rek: 123 0085005314 > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) > Bank BCA KCP. Manara Mulia > No. Rekening: 255-1088580 > A/n: Shinta Damayanti > IAGI-net Archive 1: > http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net > Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > --------------------------------------------------------------------- ___________________________________________________________ indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id --------------------------------------------------------------------- ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru ----- Call For Papers until 26 May 2006 ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi ---------------------------------------------------------------------

