Memperkaya diskusi soal air di dalam reservoir, water-drive reservoir
mechanism, dan hubungannya dengan setting geologi surface-subsurface, saya
tambahkan beberapa hal di bawah ini:
1. Fresh-water reservoir bisa didapatkan sampai di kedalaman 6000-8000 feet,
terutama di delta-delta besar seperti Mahakam dan Mamberamo, dimana sedimen
pengisi cekungannya tebal sekali (14 Km di Kuta-Mahakam, >7Km di
Mamberamo-Yapen) dan terdapat komunikasi intensif antara subsurface dengan
surface outcrop (sebagai recharge area). Di Kutai (Mahakam) di daerah
Badak-Nilam, zona-zona B & C (sebagian D) yang berada di kedalaman s/d 8000
feet air formasinya pada umumnya fresh, kurang dari 5Kppm NaCl (tipikal
dibawah 1K). Ke arah down-dip di dapatkan ekivalen zona-zona tersebut di
Lapangan Tunu sebagai FWZ (Fresh Water Zone) di kedalaman yang lebih besar.
Ke arah up-dip, zona-zona tersebut ekivalen-nya cropping out di sepanjang
sayap timur antiklin Semberah, Lampake - SungaiNangka, dan Samboja. Tentu
saja di-antara daerah-daerah yang disebutkan tadi (dari Semberah sampai
Tunu) antiklin2-nya dipisahkan oleh sinklin-sinklin sehingga yang dimaksud
dg istilah up-dip dan down-dip dalam uraian di atas bukan merupakan hubungan
langsung lapisan dalam pelamparan homoklin yang miring ke arah timur, tetapi
secara umum level (kedalaman) dari reservoir2 tsb dari barat ke timur makin
dalam, sehingga net-potential-head yang ditimbulkannya juga makin lama makin
besar. Hal ini mengakibatkan natural flow (seperti artesis) pada
reservoir-reservoir tersebut apabila diproduksikan (baik airnya maupun
apalagi hidrokarbonnya -kalau dia mengandung hidrokarbon)
2. Di model passive-margin seperti daerah Missisipi, dimana cekungan secara
aktif terus mengalami penurunan (actively subsiding basin): rejim
hidrologi-nya terdiri dari: "meteoric regime" (s/d 2,5km=8200feet) yang arah
pergerakan fluidanya down-dip, dan 3 regim dibawahanya yang arah pergerakan
fluidanya updip yaitu compactional hydrostatic regime (1,5 - 4,5 km),
compactional geopressure regime (3-7 km), dan thermobaric regime (lebih
dalam dari range 3-7 km) (Harrison, 1989, Galloway, 1984). Dari dokumentasi
model tersebut terlihat bahwa fresh-water encroachment sampai sedalam 8000
feet adalah sesuatu yang biasa terjadi di cekungan-cekungan sedimen besar.
Implikasinya: kondisi keterhubungan reservoir migas di sub-surface dengan
ekivalen outcrop-nya di permukaan (yang bisa berfungsi sebagai recharge
area)dalm setting seperti itu memungkinkan terjadinya water-drive reservoir
mechanism di kedalaman-kedalaman besar.
3. Selain keterhubungan reservoir dengan "real" recharge area yang langsung
kontak dengan surface meteoric water,... dalam konteks water-drive mechanism
perlu juga dipertimbangkan setting pelamparan reservoir tersebut sampai ke
daerah SUB-CROP-nya, dimana daerah sub-crop tersebut mempunyai posisi
potential head lebih tinggi dari posisi reservoir dimaksud, walaupun
sama-sama berada di sub-surface. Setting seperti ini biasanya berkaitan
dengan water-drive mechanism (walaupun tidak berhubungan dengan otkrop).
4. Connate water juga mengalami kompresi volume (walau tidak se-besar
kompresi pada minyak apalagi gas) pada saat kompaksi (burial) sedemikian
rupa sehingga tekanannya menjadi besar, apalagi jika kolom air yang
menyertainya juga besar,... maka seringkali hal inilah yang dianggap
menyebabkan terjadinya water-drive reservoir mechanism di subsurface apabila
kondisi 1-2-3 diatas tidak terpenuhi.
Mudah2an bermanfaat
Salam
Andang Bachtiar
Exploration Think Tank Indonesia
----- Original Message -----
From: "tony soelistyo" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Tuesday, May 16, 2006 6:08 PM
Subject: Re: [iagi-net-l] Reservoir Drive Mechanism >> pengaruh permeability
Pak Roby,
mungkin penjelasan Pak Nengah soal perbandingan volume HC dan water/akifer
(apapun jenis-nya) bisa menjelaskan mengapa reservoir dgn kedalaman >3700
feet di cekungan sekitar selat sunda menunjukkan fenomena "water drive"
meskipun kondisi strukturnya diinterpretasikan sebagai struktur yang
tertutup (i.e. isolated system). Bisa jadi karena rasio volume water : HC
itu besar sekali. Unik tetapi bisa terjadi khan. Lebih jauh, dgn mengacu
pada konsep diatas, mestinya suatu masa nanti reservoir tersebut akan
menunjukkan "depletion" akibat produksi jika akifernya tertutup (besar tapi
tertutup, makanya saya sebut unik), nah kalau boleh berbagi info, sudah
berapa lama reservoir tersebut diproduksi, Pak ?
salam,
tony
On 5/16/06, [EMAIL PROTECTED] <
[EMAIL PROTECTED]> wrote:
setahu saya water drive / bukan tidak ditentukan dari jenis airnya...mau
dari surface / dari connate water, tapi cenderung adalah kestabilan
pressure setelah diproduksi.
mis : setelah diplot ternyata kita melihat bahwa pressure yang harusnya
memiliki trend turun yang tinggi ternyata malah memiliki trend yang
stabil, maka bisa kita katakan ada drive lain yang menjaga pressure di
situ.
Regards
Kartiko-Samodro
Telp : 3852
|---------+---------------------------->
| | "Soerya Adhi" |
| | <[EMAIL PROTECTED]|
| | l.com> |
| | |
| | 16/05/2006 10:27 |
| | AM |
| | Please respond to|
| | iagi-net |
| | |
|---------+---------------------------->
>---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------|
|
|
| To: [email protected]
|
|
cc:
|
| Subject: Re: [iagi-net-l] Reservoir Drive Mechanism >> pengaruh
permeability |
>---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------|
Yang namanya water source itu kan gak mesti dari surface.
Water yang terperangkap yang kemudian jadi formation water juga bisa
menjadi
water source.
Sebelum ada HC migration, kan reservoir terisi air dulu.....
Hanya sekedar mengingatkan, bahwa geologi melibatkan cara berpikir yang
komprehensif, jadi bukan hanya dari satu sisi...
-soerya-
On 15/05/06, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> nah justru itu mas pertanyaannya, kok bisa reservoir2 yg secara geologi
> tidak memiliki access ke surface (tidak ada fault yg sampai ke surface,
> geometri reservoir yg pinch out, seal yg sangat bagus) memiliki water
> drive mechanism?? karena itu saya berkesimpulan seperti itu. Karena
> overburden / proses sedimentasi yg cepat memungkinkan formation water
utk
> terperangkap didalam pori batuan sehingga tekanan formasi cukup besar
utk
> mengalirkan minyak dengan cepat. Apa sih yg gak mungkin, teori plate
> tectonic saja dianggap teori aneh kan sebelumnya?
>
> regards,
> roby nurzaman
---------------------------------------------------------------------
----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
----- Call For Papers until 26 May 2006
----- Submit to: [EMAIL PROTECTED]
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------