Rekans,
Terlampir di bawah pandangan seorang senior pendaki gunung terhadap mBah 
Maridjan.

Wassalam,
komo 

To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] 
From:  "Suel Damar" < [EMAIL PROTECTED]>  
Date: Mon, 22 May 2006 08:57:32 +0700 (ICT) 
Subject: [mermounc] Pak Marijan 

 
Kinahrejo pagi-pagi setelah subuh, 21 Mei 2006
 
Setelah semalaman aku menunggu, pagi itu, seperti biasa pak Marijan datang 
bersama senyumnya yang arif, memasuki rumahnya. Darimana dia? Dari mengungsi? 
Ternyata bukan. Pak Marijan datang dari kondangan, diundang oleh dhalang 
terkenal ki Timbul, serta semalaman, lelaki tua ini menonton wayang didaerah 
Bantul. 
 
Diantara rasa capai yang disandangnya pagi itu, senyumnya yang arif selalu 
mengiringi wajahnya. yang keriput. Sejenak ia berusaha mengingatku, namun 
ketika aku menyebut namaku langsung saja ia teringat, bahkan sejak kapan aku 
selalu dolan ke Kinahrejo, semasa ayahandanya masih hidup. ( Cerita tentang 
ayahanda pak Marijan akan aku sampaikan dilain waktu)
 
Setelah beristirahat sejenak, sarapan pagi dan membasuh muka sekadarnya, pak 
Marijan menyiapkan diri untuk menyambut tamunya. Aku menyoingsongnya sebentar 
karena ada yang ingin aku sampaikan ke beliau, “Ono opo, badhe matur 
menopo?” Pertanyaannya setelah duduk diruang tamu, kami hanya berdua. Sejenak 
aku memandang wajahnya, untuk meyakinkan bahwa pak Marijan tetap sehat dan 
bersedia menerimaku. 
 
Setelah mendengarkan apa yang aku sampaikan, pak Marijan hanya bisa mengucapkan 
terimakasih, namun bukan itu yang membuat aku senang, ternyata apa yang aku 
sampaikan diterima dengan baik. Sejenak kami berdua terdiam, namun tak lama, 
karena terpotong suara derum kendaraan berhenti didepan rumahnya: “Ono tamu, 
aku tak nemoni disik, mengko dibacutake maneh, sampeyan kersa ngancani aku?” 
katanya. Aku cuma tersenyum, karena yang ingin menemani pak Marijan sudah siap 
disana, Ada Budi, ada Muji, ada Irfan dan ada putra-putrinya. 
 
Didepan rumahnya sudah tertulis “ Jam Bicara” yaitu wawancara hanya bisa 
dilakukan antara jam 09/00 s/d 12.00 dan jam 14.00 s/d 17.00. namun hari Minggu 
ini, tamu dari berbagai lapisan telah mulai dating jam 07.00, dari wartawan, 
perkumpulan supranatural dan keluarga-keluarga yang ingin berfoto bersama, 
tidak hanya dari Jogjakarta, tetapi dari kota lain, seperti Solo, Semarang, 
Jakarta, Bandung, Malang, Surabaya, Salatiga dls. 
 
Pertanyaan selalu berkisar mengenai: “ Mengapa mBah Marijan tidak mau 
mengungsi, Sejak kapan diangkat menjadi abdi dalem Juru Kunci? Ada surat resmi 
tidak? Darimana, Keraton atau Pemerintah? Kekuatan magis apa yang dimiliki 
beliau?” dan masih banyak lagi yang mereka tanyakan. 
 
Lelaki tua ini memang sungguh luar biasa, diantara rasa capai nya semalam tak 
tidur, masih mampu melayani mereka yang datang dengan sagala keramahannya, 
ketenangan dan kata-kata bijaknya. Kendati dengan bahasa Indonesia yang 
terkadang sulit dimengerti, namun kata-kata yang keluar tetap saja mudah 
dimengerti. Pak Marijan jarang mengungkapkan “kemampuan” magisnya, kekuatan 
yang datang secara alami. Namun aku yakin wibawa yang timbul bukan dari 
ilmu-ilmunya, tetapi dari ketulusan hati, kesabaran, rasa welas asih, tidak 
membeda-bedakan yang selalu terlontar ketika siapapun berbicara kepadanya. 
Lelaki ini tak perlu memamerkan hartanya dan kata-kata manis. Harta yang paling 
berharga yang dimilikinya ada didalam hati dan   jiwanya. Dengan dukungan 
seluruh keluarganya jadilah pak Marijan sebuah sosok yang penuh kekuatan. 
 
Pernah sekali aku katakan kepada Bu Marijan : “ Bu nggak ikut nemoni tamu?” 
jawabannya sungguh membuatku tertegun. : “ Itu sudah tugas bapak, kuajibanku 
menyiapkan dibelakang, jangan sampai bapak terlewatkan jika meminta segala 
sesuatu, untuk dia atau tamunya” Katanya: “ Kamu sendiri sudah sarapan 
belum, itu sudah aku siapkan didapur”   Sebuah ketulusan yang indah dan itu 
menjadi gambaran perempuan timur khususnya di  Jawa. Masih adakah yang lain?
 
Pagi itu, beberapa teman akhirnya memutuskan, kalau tidak di cegah pak Marijan 
tidak akan beristirahat. Sampai sampai ada Wakapolsek Cangkringan datangpun 
tidak bisa kita terima dengan alasan :” Pak Marijan baru istirahat, nanti jam 
3 sore baru bisa ditemui.”
 
Ada yang menunggu, namun ada yang pulang dulu, dengan resiko, nanti jika 
kembali ke Kinahrejo, pintu masuk desa tidak di tutup oleh pihak pemerintah 
karena Merapi masih berstatus AWAS. 

Kirim email ke