tsunami? bantul?
kalau saya hanya melihat dari kacamata sederhana dan hanya dengan 2
data itu, naif atau tidak jika saya interpretasikan bahwa pusat gempa
adanya memang di darat di sekitar bantul?

dengan logika sederhana bahwa daerah yang akan mengalami kerusakan
paling hebat itulah daerah yang paling dekat dengan pusat gempa, yaitu
bantul. sedangkan tsunami itu kan jika pusat gempa-nya berada di bawah
permukaan laut. atau apa ada tsunami yang pusat gempa-nya di darat?

kalau logika ini benar, harusnya rakyat jogja bisa sedikit tenang
kemarin (at least thdp isu tsunami) dan bisa yakin bahwa tidak akan
ada tsunami. karena daerah pusat gempa ada di daratan yang
dimanifestasikan lewat luluh-lantahnya bantul (dan menerus ke klaten).

lagian, bingung aja..kok bisa-bisanya ditafsirkan pusat gempa di bawah
laut kalau yang jelas-jelas terlihat bahwa jalur bencana seperti
membentuk suatu kelurusan bantul-klaten dan itu memang ada kelurusan
sesar OPAK.

On 5/29/06, Ismail Zaini <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Isu Tsunami merupakan isu yang paling menghebohkan kemarin itu, ada yang
bilang Kali Code airnya sudah naik, ada yang bilang Air laut sudah sampai
Madukismo , bahkan di Klaten sendiri Isu tsunami tidak kalah hebatnya, ada
yang mengatakan air laut sudah sampai Wedi ( Kota Kecamatan 5 Km dari
Klaten ) , dst. sehingga terjadi hiruik pikuk dijalan raya Solo Jogya
sepanjang Pagi -Siang Sabtu  minggu lalu  sehabis Gempa., Belum lagi adanya
Isu akan adanya gempa susulan Yang sama bahkan lebih Besar lagi.Inilah
Realita yang terjadi di lapangan.
Ini semua Tidak lain akibat Trauma masyarakat melihat Tsunami dan Gempa Aceh
yg lalu.
Sebetulnya beberapa diskusi dan seminar seminar ttg kegempaan dan tsunami
setelah gempa Aceh cukup banyak sekali, dan kalau gak salah ada pernyataan
kalau Tidak akan ada ( Kemungkinan Kecil sekali ) terjadi Tsunami di Jawa,
itupun kalau terjadi didekat laut Selatan. Nah karena semunaya ada di
ruangan seminar , maka akibatnya masyarakat yang sebagian besar  tidak paham
dg bahasa seminar tetap saja bingung, jadinya setiap ada Gempa diasumsikan
akan disusul dg Tsunami , dimanapun mereka berada ( terbukti dg kejadian
kemarin )
Coba kalau setelah Tsunami Aceh dulu dibikin Peta Tsunami untuk seluruh
wilayah Indonesia( ada daerah Awas , ada Daerah Waspada , ada daerah Bebas
Tsunami ) yang disebarkan ke masyarakat < maka paling tidak dibenak
Masyarakat sudah ada bayangan, shg tdk mudah terkena isu ( ini sekedar
contoh sederhana saja ).
Ada lagi data yang dilansir oleh BMG dimana dikatakan sejak Gempa sabtu pagi
sampai Minggu Siang telah terjadi Gempa > 200 kali , tanpa dijelaskan macam
gempa apa itu, akibatnya masyarakat semakin takut , lha kok gempanya semakin
banyak saja ( padahal gempa 2 itu merupakan gempa susulan yang tdk besar/tdk
bisa dirasakan tanpa dg alat ).Sebetulnya masalah masalah begini ( data
gempa susulan)cukup diruang seminar saja dikemukakan.
Pengalaman lain yang tak kalah memillukan adalah penanganan pasca bencana,
bayangkan letak Gempa itu ada di Jawa (Jogya ) yang relatif lengkap (
sempurna) infra strukturnya ,dan ditunjang "pindah" nya pemerintahan RI di
Jogya ( SBY berkantor di Jogya )  lha kok sampai 2 hari belum dapat
terjangkau semua.dan podo kleleran kena hujan ( bayangkan luka luka tidur di
emperan terbuka dan diguyur hujan dg perut kosong.) Mungkin Bakornas Bencana
ini diserahkan ke Logistik atau Zeni nya tentara saja, biar sekali meniup
Peluit ( Priiiit ) , langsung kumpul dan Siaap ( tidak perlu rapat
koordinasi dulu dan prosedure birokrasi  lapor melapor dulu , celakanya
katanya petugasnya masih cuti karena long week end )
Rupanya Tsunami Aceh belum bisa menjadi pelajaran berharga, bahkan lebih
buruk karena semua sarana dan prsarana sudah ada tapi tetep saja telat dalam
penangannya.
Mungkin diperlukan Reformasi dibidang perbencanaan alam seperti halnya
dibidang politik.

ISM

---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
----- Call For Papers until 26 May 2006 ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] ---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke