Info gempa masalalu dari seorang sahabat baru.

RDP

On 5/30/06, Ma'rufin Sudibyo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Assalamu'alaykum..
Salam kenal pak Rovicky

Saya Ma'ruf, tinggal di Yogya (yang baru saja luluh
lantak kena gempa) dan sedikit2 pernah belajar geologi
(meski abstrak banget) pas di SMA dulu, di Kebumen.
Kebetulan kota itu berdekatan dengan kampus
lapangannya LIPI dan tentu pak Rovicky sudah tahu apa
isinya. Kalo interest saya lebih ke bidang energi,
tapi juga suka sekali belajar sejarah, arkeologi,
fisika.

Menarik sekali uraian dalam Blog anda. Salah satunya
tentang gempa 1867. Yang saya ingat, betul pada tahun
itu memang telah terjadi gempa besar, kalo tidak salah
dengan magnitud 6,7 (saya kurang tahu apa ini Mw atau
Ms). Kitab2 Kraton Yogya mencatat gempa ini dengan
suryasengkala " obah lapis pitung bumi ", karena gempa
itu menyebabkan getaran amat keras sehingga dikatakan
telah menggerakkan tujuh lapisan Bumi (catatan :
disini harus diingat terminologi tujuh dalam
kesusateraan Jawa merupakan kata serapan dari Arab,
dan pengertian tujuh dalam sastra Arab digunakan untuk
menyatakan jamak).

Kerusakannya ? Bangunan Tamansari hancur lebur (dan
tak pernah diperbaiki atau digunakan lagi hingga
sekarang). Bangunan Tugu yang menjadi simbol Yogya
(namanya Tugu Golong Gilig), hancur total. Kraton
sudah tentu ikut hancur. Ada banyak longsoran di Yogya
waktu itu, sehingga kemudian muncul nama daerah Terban
(yang lokasinya di selatan kampus UGM, persis di tepi
tebing Code yang curam itu).Korbannya ga diungkap
jelas, tapi tentu sangat banyak. Di tahun 1990-an
koran KR pernah memuat berita soal gempa 1867 ini.

Ketika dulu heboh dengan bencana gempa dan tsunami 26
Des 2004, kebetulan saya jadi hobi mengumpulkan dan
mengkliping artikel2 tentang gempa di surat2 kabar.
Salah satunya yang menarik, untuk tanah Jawa, terutama
Jawa bagian selatan (selain Jawa Barat), dikatakan
pernah terjadi gempa besar (dan sekaligus tsunami)
pada 1904. Gempa yang sama terjadi lagi pada 1944,
disebutkan magnitudnya mencapai 8,0 skala Richter
(saya tidak tahu juga ini Mw apa Ms). Dari dua
kejadian ini saya sempat mengambil kesimpulan (amat
prematur) bahwa ada periode ulangan setengah abad
untuk gempa2 besar di tanah Jawa bagian selatan. Namun
waktu itu saya berpendapat, gempa 1994 di Banyuwangi
(yang juga diikuti tsunami) telah mewakili periode
setengah abad tadi, dan Jawa boleh dikatakan " aman "
untuk setengah abad ke depan. Ternyata itu salah ya
pak Rovicky ?

Kembali ke gempa Yogya saat ini. Maaf pak Rovicky,
setahu saya, dengan magnitude 5,9 (versi BMG hingga
6,3 (versi USGS) yang terhitung tidak sekuat gempa 27
Maret 2005 di Nias, mengapa dampaknya begitu dahsyat ?
Saya mencatat ada yang unik, bahwa kehancuran akibat
gempa Sabtu kemarin itu ternyata menerpa daerah2 yang
berada dalam sumbu imajiner mengarah ke utara-timur
laut, meliputi Bantul - Yogya - Klaten (dan Boyolali
selatan). Dari beberapa artikel yang saya baca, hanya
anda yang berpendapat gempa ini ada kaitannya dengan
sesar geser di selatan Yogya yang memang mengarah ke
timur laut, sesar yang (setahu saya) dormant, apa bisa
aktif lagi ? Anda menyebutnya ada kaitan dengan
aktivitas Merapi. Bagaimana hubungannya ? Sementara
dari Dr. Fauzi di BPPT, ketika heboh gempa Aceh,
beliau mengatakan bahwa gempa Aceh takkan memicu
aktifnya supervolcano Toba, karena keberadaan fluida
(magma) 40 km di bawah Gunung Pusukbuhit itu justru
membuat sesar Sumatra di dekatnya menjadi aseismik
(tak bergetar) karena terpanasi oleh fluida tadi
sehingga menjadi ' lunak '.

Soal fault dalam gempa Yogya ini, kalo saya
mendasarkan pada datanya USGS NEIC Fast Moment Tensor
Solution dengan data2 episentrumnya BMG, dan diplot ke
dalam peta, koq ada di dasar laut ya, dan
pergerakannya 'seolah-olah' justru ke barat daya,
bukan ke timur laut. Namun, kemanapun gerakan sesar
ini, kira2 apakah akan menekan segmen2 di dekatnya
sehingga kelak akan memicu gempa lain di masa yang
akan datang ?

Saya pikir cukup sekian dulu tukar informasinya pak
Rovicky. Matur nuwun..


Wassalamu'alaykum
Walaikum salam Mas Ma'ruf dan salam kenal juga.

Wah terimakasih banyak info yang sangat menarik. Dan saya rasa akan
memberikan sumbangan yg bagus untuk perkembangan ilmu geoscience
terutama gempa.

Saya sangat setuju dan tidak menyangkal bahwa gempa-gempa besar yang
merusak sangat mungkin memang sudah beberapa kali mengenai Jogja.
Hanya saja barangkali dulu sering diasosiasikan dengan aktifitas
Gunung Merapi. hal ini yg cukup menarik untuk dipelajari dan diteliti
lebih lanjut.
Kalau Mas Ma'ruf bisa menggali lagi barangkali ada beberapa info
tambahan yg diperlukan ahli geologi misalnya :
1. Dimana lokasi kerusakan yg paling parah, yang barangkali dapat
dipakai sebagai acuan dimana letak epicenter gempa. Posisi (koordinat)
episenter ini sangat penting dalam analisa kegempaan.
2. Apakah  waktu itu "hanya" gempa saja, sehingga bisa diperkirakan
kegempaan ini hanya berhubungan dengan aktifitas tektonik saja ?
Ataukah juga ada informasi aktifitas Gunung Merapi ?
3. Catatan lain tentang kerusakan, korban serta usaha-usaha perbaikan
(relief). Pendekatan-pendekatan sosial dalam usaha pasca bencana
mungkin bisa dipelajari sebagai pendekatan kultural.
4. Catatan lain yang penting misalnya prediksi ataupun tanda-tanda
sebelum kejadian. Saya termasuk yg berpikiran terbuka dengan segala
macam metode serta pemikiran baik yang bersifat kejawen (klenik)
maupun ilmiah. Menggabungkan beberapa pendekatan menurut saya akan
lebih baik dibandingkan mengembangkan metode secara terpisah-pisah.

Saya yakin informasi-informasi kegempaan selama beberapa abad yang
lalu akan sangat banyak dijumpai dalam catatan-catatan arkeologis. Dan
ini rasanya memerlukan kerjasama antara ahli gempa (seismologist)
dengan ahli arkeologi (arkeologist) untuk membedah kitab-kitab kraton
dan juga kitab-kitab serta prasasti peninggalan masa lalu.

"Periodisasi" kegempaan memang sering saya baca dalam beberapa
penelitian gejala-gejala alam yg terjadi dan dianalisa dalam sebuah
"time series". Pendekatan dengan priodisasi ini memang hal yg sering
dilakukan dengan cara yang paling sederhana hingga pendekatan kompleks
dengan metode fraktal yg dilakukan Sigit Sukmono dari ITB tentang
untuk gempa Sumatra. Hal ini karena banyaknya perulangan-perulangan
setiap kejadian fenomena alam. Salah satu tujuannya jelas untuk
prediksi dan "peramalan", kapan dan dimana akan terjadi "next event".

Namun seperti yang Pak Ma'ruf tuliskan bahwa periodisasi 50 tahun yg
disebutkan dahulu bahwa diramal  tidak terjadi lagi ternyata kejadian
seblaum jangka 50 tahun. Barangkali ini disebabkan periodisasi lebih
banyak berlaku untuk individual segmen gempa. Sedangkan segmen-segmen
zona gempanya sendiri saling terkait satu dengan yang lain.

Saya termasuk kelompok yang lebih konsen dengan kewaspadaan terhadap
bencana alam ketimbang prediksi (peramalan). Sehingga saya tidak
begitu tertarik dengan metode2 peramalan gempa. Namun saya juga yakin
kita juga perlu mengetahui hal ini (prediksi).
Barangkali saya juga mirip dengan and yg tertarik dengan energi,
tetapi sangat konsen dengan kebencanaan juga.

Btw, imil anda saya teruskan ke teman-teman saya di IAGI dan HAGI
sebagai tambahan informasi baru.

Walaikum salam

Rovicky

---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
----- Call For Papers until 26 May 2006 ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] ---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke