Sekedar urun rembug. Kebanyakan orang yang sudah berumur (>30 thn) dan kurang beruntung dalam mengecap pendidikan tidak begitu antusias atau curious dengan hal yang berbau ilmiah. Bahkan menjadi semacam budaya bagi bangsa kita untuk lebih mempercayai hal yang berbau spiritual.
Kondisi yang sangat berbeda adalah pada anak kecil, remaja, dan pemuda yang masih haus akan ilmu dan berkeinginan untuk maju serta belum 100% memikirkan urusan harta dan kemapanan. Akan lebih mudah untuk memupuk kesadaran mereka, dalam hal ini bencana alam, di suatu kerangka ilmiah dan tanggap darurat. Mereka (remaja/pemuda) pun bisa dijadikan motor penggerak aktivitas tanggap darurat (seperti juga rekan-rekan muda mahasiswa yang jauh lebih aktif dalam sosialisasi di kalangan ahli kebumian, atau kader muda organisasi/partai/pecinta alam dalam aid working). jadi menurut saya fokus sosialisasi geologi akan lebih efektif apabila diberikan kepada kelompok muda tersebut (5-30 thn di sekolah, organisasi, atau lingkungan ibadah) serta pemuka masyarakatnya, minimal untuk memupuk kesadaran dalam jangka menengah dan panjang. Sedangkan bagi kelompok tradisional berusia lanjut, sosialisasi mungkin akan lebih efektif bila dilakukan oleh pemuka masyarakat itu sendiri, daripada langsung oleh pihak di luar komunitas mereka. Salam, Wikan -----Original Message----- From: wahyu budi [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Tuesday, May 30, 2006 4:28 PM To: [email protected] Subject: [iagi-net-l] Problem Waktu dan Proses Geologi Yang Abstrak Berkaitan dengan penjelasan atau sosialisasi tentang bencana geologi kepada masyarakat, pengalaman yang saya alami mengajarkan bahwa ada masalah yang sangat sulit dipahami oleh masyarakat umum tentang Waktu Geologi dan Proses Geologi. Keduanya sangat abstrak, dan sulit dipahami. Kedua hal tersebut menyebabkan masyarakat menjadi tidak peduli dengan bencana geologi yang belum pernah mereka alami sendiri. Masalah seruan mengungsi dari bahaya dari erupsi gunug Merapi bisa menjadi contoh. Bagi masyarakat Turgo yang pernah mengalami dilanda awan panas, seruan untuk mengungsi akan serta merta ditaati (karena mereka pernah mengalami hal itu sebelumnya); sementara bagi masyarakat daerah lain, mereka masih berpikir bahwa awan panas belum pernah mereka alami melanda daerah mereka sehingga sulit sekali meminta mereka mengungsi. Pemerintah pun demikian. Sebelum tsunami di aceh, berbicara masalah bahaya tsunami rasanya seperti membicarakan suatu dongeng. tetapi sekarang, setelah bencana tsunami itu benar-benar terjadi, persoalannya menjadi lain. Masalah gempa di yogya juga demikian. Di tahun 1970-an akhir, ketika saya melihat saudara yang membangun rumah tanpa tulang besi dan mempertanyakannya, hal itu dikatakan "ngak apa". tetapi barang kali sekarang, setelah melihat banyak bangunan tanpa tulang roboh karena gempa, mungkin akan lebih mudah berbicara masalah itu. Apakah karakter masyarakat kita memang demikian? Harus mengalami dahulu baru percaya? Atau kita (yang paham geologi) tidak memiliki bahasa yang mudah dipahami masyarakat? Salam, WBS --- Awang Harun Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Tentu saja masyarakat Yogya dan sekitarnya akan menganggap bahwa gempa > Yogya kemarin itu berhubungan dengan Merapi sebab telah berminggu2 ini > mereka melihat Merapi bergiat. Dan, itulah yang kasat mata > sehari-hari. > > Tidak ada yang kasat mata terlihat di selatan Yogya bahwa 300 km dari > Parangtritis di kedalaman 5000-7000 meter dua kerak batuan > sesungguhnya sedang saling tindih-menindih, tekan-menekan. Dan, > retakan akibat tekan-menekan itulah yang membangkitkan guncangan ke > seantero Yogya dan sekitarnya Sabtu pagi lalu. > > Gawir Kali Opak sudah ada dari dulu, apa masyarakat Bambanglipuro, > Jetis, dan wilayah2 Bantul lainnya yang sebelah-menyebelah dengan > gawir itu tahu bahwa itu gawir sesar, gawir dua batas litologi yang > sangat kontras, dan yang kemudian telah menjadi "garis kematian" > menebar malapetaka ke sekitarnya ? > Dari tahun 1970-an sampai sekarang, bahkan mungkin sejak zaman Bothe > tahun 20-30an, para ahli geologi sudah tahu itu sesar, tetapi sekarang > pun masyarakat di sekitarnya tak tahu itu sesar pembunuh. Tak ada yang > memberitahukannya kepada mereka. > > Memang ada seminar geotechnical hazard di Yogya tepat sebulan sebelum > bumi Yogyakarta dan sekitarnya diguncang gempa, tetapi itu terkunci di > ruang seminar, atau dibawa yang hadir, dilihat-lihat lagi materinya > sebentar dan...dilupakan ! Atau ada sosialisasi hasil seminar ke Pemda > karena geotechnical hazard menyangkut hajat hidup orang banyak ? Bagus > kalau ada, tetapi tak akan menjamin info sampai ke pelosok2. > Dan...lagi-lagi kita lalu tertikam dari belakang oleh gempa ini. > > Perlu dipikirkan bagaimana caranya kita meneruskan > info2 geotechnical hazard ini ke masyarakat sampai pelosok. Setiap > mahasiswa atau ahli geologi yang melakukan pemetaan di pelosok2 yang > mereka tahu rawan bencana geologi, mestinya menyosialisasikan > penemuannya ke masyarakat di balai2 pertemuan dusun. > Dan, mereka juga harus diperlengkapi dengan pengetahuan bagaimana > tindakan tanggap darurat menghadapi bencana geologi dan bagaimana > membangun di daerah rawan dengan mengikuti earthquake code of > building. > > Geologist adalah ilmuwan pengabdi kemanusiaan, kita tak ingin hanya > diskusi2 ilmiah di ruang seminar atau tumpukan tebal paper2. > > Salam, > awang > -----Original Message----- > From: Rovicky Dwi Putrohari > [mailto:[EMAIL PROTECTED] > Sent: Tuesday, May 30, 2006 7:15 AM > To: Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI); [email protected] > Subject: [iagi-net-l] Re: Mengapa pengamatan kita terlepas ? > > Wah trims infonya. > Dan seperti yang saya duga bahwa hampir setiap gejala gempa di Jogja > dan sekitarnya lebih diasosiasikan akibat aktifitas G Merapi. Tidak > (belum) terpikirkan bahwa itu aktifitas tektonik aktif. Dan mungkin > yang lebih menarik adalah bahwa adanya hubungan antara gempa tektonik > dengan aktifitas G Merapi. Catatan yg dikemukakan Danny ini datingnya > bisa jadi mirip dengan aktifitas G Merapi. Ini yg menjadi pelajaran > dan barangkali "alert" buat G Merapi dalam dua minggu ini. Status Awas > merapi mungkin masih perlu diteruskan. > > Dan bukan hal yang aneh kalau Gempa Jogja selama ini tidak dipikirkan > akibat tektonik. Coba bayangkan 50 tahun yang lalu kalau ada gempa, > siapa sih yg berpikir akibat aktifitas plate tectonik ? Lah wong teori > plate tektonik saja belum lama kita kenal, kok. Mungkin saja kalau > kejadian gempa ini terjadi 50 tahun yang lalu orang masih berpikiran > adanya pertempuran penjaga Merapi dengan Penjaga Laut kidul ..... > bahkan sekarang masih ada yg berpikir begitu. > > Btw, info Danny ini perlu ditindak lanjuti untuk melihat hubungan > antara Merapi dengan kegempaan tektonik di Jawa (khususnya Merapi). > > Salam > > RDP > > __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com --------------------------------------------------------------------- ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru ----- Call For Papers until 26 May 2006 ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- --------------------------------------------------------------------- ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru ----- Call For Papers until 26 May 2006 ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi ---------------------------------------------------------------------

