Menarik pertanyaan dari Sdr. Silvia. Mengapa di Timor minim gempa sedangkan di 
Flores utara dan Alor utara banyak gempa. Saya pikir itu karena perbedaan 
konfigurasi tektonik antara Timor dengan Flores-Alor. Di selatan Timor, 
walaupun ada jalur subduksi, itu bukan jalur subduksi seperti di barat-selatan 
Sumatra-Jawa. 

Tetapi, yang di selatan Timor itu adalah jalur benturan (collision) antara 
benua Australia dengan busur kepulauan Timor-Tanimbar-Kei. Lempeng benya 
(paparan-lereng benua) Australia yang masif tetapi banyak tersesarkan menyusup 
masuk ke bawah busur kepulauan Timor-Tanimbar-Kei. Tentu ini berbeda dengan 
lempeng Samudra Hindia yang masuk di bawah Sumatra-Jawa. Tebal segmen lempeng 
benua bisa 50 km, sedangkan tebal lempeng samudra maksimal hanya 10 km. Saya 
pikir, jelas ini akan berpengaruh ke rigiditas batuan saat tertekan, kerak 
benua akan lebih masif, tidak gampang pecah, rupture, maka di Timor langka 
gempa.

Beda dengan Flores dan Alor. Di sebelah utara kedua pulau ini ada kerak samudra 
yang menyusup (subduksi) di bawah busur kepulaan Flores-Alor. Di utara Flores 
ia suka disebut Flores thrust, sebenarnya kerak Flores Basin di utara Flores 
masuk menyusup di bawah Flores. Saya pikir Flores Basin adalah marginal basin 
yang dilandasi kerak samudra. Gempa di Maumere dipicu oleh subduksi ini. Di 
utara Alor pun demikian, kerak samudra (ini jelas samudra) South Banda Basin 
menunjam (subduksi) di bawah jalur Alor-Wetar dan sekaligus membuat gunungapi 
di kedua pulau ini. Gempa jelas banyak, ini berhubungan dengan subduksi itu. 

Kembali ke pertanyaan : 

1. Zone miring subduksi justru paralel dengan hiposentrum2 gempa. Jadi jelas 
gempa bisa terjadi baik di zone subduksi maupun di lempeng atasnya (overriding 
plate). Yang di zone subduksi dalam pusat gempanya, di Jawa bisa sampai 600 km, 
dan itu semua ada di utara Jawa. Kalau pusat gempa di zone subduksi di sekitar 
Yogya, ia ada di kedalaman 100-200 km. Saya pikir terlalu dalam untuk 
menimbulkan kerusakan besar, kecuali kalau diestafetkan oleh sekian rangkaian 
sesar ke permukaan.

2. Gempa2 dua tahun belakangan ini kelihatannya banyak aktif dan menular di/ke 
zone sesar aktif. Misalnya gempa2 di Sumatra banyak berhubungan dengan Sesar 
Mentawai atau Sesar Sumatra. Gempa2 di Papua banyak berhubungan dengan Sesar 
Sorong, gempa2 di Sulawesi banyak berhubungan dengan Sesar Palu-Koro. Kalau 
kedalaman gempa dangkal, mungkin ia tak mengaktifkan zone subduksi.

Salam,
Awang


-----Original Message-----
From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Friday, June 02, 2006 10:11 AM
To: [email protected]; HAGI-Net
Subject: [iagi-net-l] Fwd: Tanya gempa dari Kupang

Nah ini saatnya memberikan ke orang awam,
Silahkan membantu pertanyaan ybs.

RDP
---------- Forwarded message ----------
From: Silvia Fanggidae <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Jun 3, 2006 11:02 AM
Subject: Tanya gempa dari Kupang
To: [EMAIL PROTECTED]


Pak Rovicky yang baik,

Saya pelanggan blog bapak, web IAGI juga milis peduli bencana. Saya
tinggal di Kupang - NTT, di Timor Barat. Sedikit banyak saya mengikuti
penjelasan-penjelasan tentang gempa, walaupun secara awam. Saya sadari
bahwa kami berada di wilayah rawan gempa, utamanya karena dekat dengan
zona subduksi pertemuan lempeng australia dan eurosia. Selama ini kami
memahami zona tersebut sebagai stabil, dan juga sangat minim catatan
gempa-gempa besar di wilayah ini. Yang lebih rawan dari
catatan-catatan bencana adalah daerah utara Flores dan Kep. Alor.

Tetapi gempa besar di Jogja kemudian membuat saya berpikir lagi
tentang wilayah kami. Mohon penjelasan:
1. Apakah zona subduksi bisa mengalami gempa besar walaupun tanpa adanya sesar?
2. Apakah gempa-gempa di Indonesia dalam 2 tahun terakhir ini lebih
'menular' ke sesar-sesar aktif atau juga bisa mempengaruhi kembali
(meningkatkan) aktivitas di zona subduksi?

Sekian dulu, saya sangat menunggu jawabannya.

Silvia Fanggidae
Perkumpulan PIKUL
Jl. Arjuna No 9, Kelapa Lima
Kupang 85228 NTT
Telp. +62 380 830218
Fax. +62 380 833257
Email. [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED]

---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
-----  Call For Papers until 26 May 2006             
-----  Submit to: [EMAIL PROTECTED]    
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------


-- 
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.1.394 / Virus Database: 268.8.1/354 - Release Date: 6/1/2006
 

-- 
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.1.394 / Virus Database: 268.8.1/354 - Release Date: 6/1/2006
 

---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
-----  Call For Papers until 26 May 2006
-----  Submit to: [EMAIL PROTECTED]
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke