Sekedar menyampaikan pertanyaan dari rekan
Mungkin ada yang bisa memberi penjelasan
Bagaimana kemungkinan aktifnya sesar mandiri di daerah Bandung dan gunung
api di sekitarnya , apakah dimungkinkan dengan adanya aktifitas Merapi
ini...?
Regards
Kartiko-Samodro
Telp : 3852
|---------+---------------------------->
| | "Rovicky Dwi |
| | Putrohari" |
| | <[EMAIL PROTECTED]|
| | m> |
| | |
| | 05/06/2006 12:29 |
| | PM |
| | Please respond to|
| | iagi-net |
| | |
|---------+---------------------------->
>-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------|
|
|
| To: [email protected]
|
| cc:
|
| Subject: [iagi-net-l] Fwd: Gempa 1867 (Merapi dan kegempaan di Jogja
dsk) |
>-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------|
Berikut diskusi saya dengan seorang rekan netter tentang hubungan
kronologi kegempaan di jawa dan aktivitas Merapi.
Ma'rufin Sudibyo <[EMAIL PROTECTED]>
Assalamu'alaykum
Salam kenal kembali pak Rovicky.
MS>
Masih berkait dengan gempa Yogya. Kompas 31 Mei kemarin, bersumber
dari BMG, menyebut gempa2 kuat memang pernah mengguncang Yogya pada 10
Juni 1867, 27 September 1937, 23 Juli 1943 dan 13 Maret 1981. Posisi
episentrumnya, gempa 1867 : 8,7 LS 110,8 BT dengan guncangan 8 - 9
MMI. Gempa 1937 : 8,7 LS 108 BT dengan guncangan 8 MMI. Gempa 1943 :
8,6 LS 109,9 BT dengan guncangan 8 MMI dan gempa 1981 : 8,7 LS 110,4
BT dengan magnitude 5,6 SR. Besar guncangan dihitung dari Yogya, dan
data episentrumnya saya kutip apa adanya (meski kalo dilihat dari
grafisnya, karena semua episentrum berada darat dan dekat dengan
Yogya, lintangnya mungkin bukan 8 LS tapi 7 LS).
Kalo saya kaitkan dengan data tahun2 letusan Merapi (berdasarkan
Suparto S. Siswowidjojo di http://vsi.esdm.go.id) yang dicatat sejak
1871, ketika gempa 1937 Merapi justru sedang beristirahat (antara 1935
- 1939) dan baru meletus lagi dengan puncaknya pada 23 Desember 1939
serta 24 Januari 1940. Pada gempa 1943, Merapi sedang memasuki tahap
akhir meletusnya setelah mencapai puncak letusan pada Juni 1942 (dan
disebutkan Merapi istirahat pada masa 1943 - 1948). Dan saat gempa
1981, Merapi memang sedang aktif2nya (dengan letusan antara 1975 -
1985 alias 10 tahun periode terpanjang dalam catatan) dengan puncak
letusan pada 15 Juni 1984. Untuk gempa 1867 mohon maaf tidak ada
catatan keaktifan Merapi saat itu. Kalo dilihat dari sini hanya gempa
1981 (dan juga gempa 2006 ini) yang terjadi bersamaan dengan
meningkatnya aktivitas Merapi. Apakah kemudian bisa dikatakan kalo
gempa2 kuat di Yogya seperti gempa 2006 ini berkaitan dengan kegiatan
Merapi, seperti pendapat Dr. Surono (PVBMG Dept. ESDM), Dr Benyamin
Sapi'ie (Teknik Geologi ITB) dan USGS ? Saya merasa koq tidak begitu
ya, jika melihat waktu2 terjadinya gempa kuat Yogya tidak selalu
sinkron dengan saat2 aktivitas Merapi.
Apalagi Dr. Fauzi (dari BMG, kemarin saya salah menyebutnya dari
BPPT) pernah berpendapat aktivitas dapur magma justru membuat patahan
didekatnya menjadi ' lunak ' hingga aseismik. Bagaimana menurut anda ?
RDP>
Saya berpendapat bahwa kegiatan Gunung Api sendiri merupakan rangkaian
kegiatan tektonik. Sehingga saya yakin ada hubungan diantara keduanya.
Yang meyulitkan adalah ketika kita mencoba merangkai apakah Gunung Api
memicu kegempaan atau gempa memicu volkanisme. Saya kira bisa
dua-duanya. Hanya saja kita perlu hati-hati mengkajinya. Salah satu
nya dengan kronologi kejadian tersebut.
Saya sendiri yakin hubungan feedback-effect (bolak-balik) keduanya.
Nah yg lebih menyulitkan kalau dihubungkan dengan tektonik regional
dan global.
Gempa Aceh dengan kekuatan 9.2 SR akhir tahun 2004 lalu sangat mungkin
sebagai pemicu gempa di Nias, Bengkulu, serta aktifitas Gunung Api di
Sumatra dan Jawa barat (Merapi dan Tangkuban Perahu). Jarak antara
lokasi-lokasi ini sangat jauh, tetapi urutan kronologisnya memang
seperti itu. Hanya saja kita mesti tahu bahwa hubungan kronologis
(urutan) belum tentu menunjukkan hubungan kausalis (sebab akibat).
MS>
Kembali ke gempa 2006 ini, kalo soal daerah2 yang rusak parah -
moderat akibat gempa ini, sepertinya sudah ada petanya berdasarkan
foto satelit. Dapat saya tambahkan disini, berdasarkan koran lokal, di
Piyungan - Patuk jalan beraspalnya retak2 dan beberapa terbelah (kalo
menurut data EMSC, daerah ini adalah episentrumnya). Di Prambanan
Stasiun KA-nya hancur, tinggal dinding2nya saja, sementara stasiun2 KA
lain tidak separah itu. Rel KA pada ruas Prambanan - Srowot ada yang
bengkok, bahkan patah. Di sekitar Klaten pula ada penduduk yang
menyaksikan muncratnya air berlumpur setinggi +/- 2 m di pekarangan
rumahnya ketiga gempa meletup (mungkin sand volcano ya pak Rovicky,
atau akibat liquiefaction ?). Mata air besar di Jl. Kaliurang km 10
sekarang mengeluarkan air berlumpur (liquiefaction juga ?). Di kota
Bantul - yang saya lihat sendiri - ada jalan yang aspalnya juga
terbelah. Kalo untuk Parangtritis, terus terang saya belum punya
gambaran, kemarin tidak bisa sampai ke sana. Demikian pula dengan
posisi jembatan Kretek - di atas Sungai Opak dan persis juga di atas
patahan - belum ada informasinya apakah retak / bergeser apa tidak.
Yang jelas tidak diragukan lagi kalo gempa ini terkait dengan
aktivitas patahan Opak, seperti yang anda duga.
RDP :
Peta kerusakan yang saya peroleh dari UNOSAT menunjukkan daerah
piyungan Patuk sangat parah. Daerah ini paling dekat dengan
aftershock. Dan inilah yang saya kira bener-bener menunjukkan bahwa
aftershock lebih membahayakan ketimbang mainshock, karena kondisi
bangunan yg sudah rapuh dihantam mainshock.
Tempat-tempat yg mengalami kerusakan terutama disebelah barat dari
lokasi gempa ini. Mengapa ?
Selain daerah kerusakan ini lebih padat penduduk dibandingkan sebelah
timur yg berupa pegunungan selatan, daerah ini dibawahnya terususun
oleh batuan lunak yg akan meredam energi gempa artinya terjadi
percepatan gelombang dilokasi ini. Bayangkan kalau energi diserap
disini artinya banyak energinya yg dilepaskan dalam menggetarkan
daerah ini. Bagian timur dari daerah ini berupa perbukitan terdiri
atas batuan keras. Dengan demikian energi gelombang akan melewatinya
dan percepatan gelombangnya relatif lebih kecil dan daya rusaknya juga
lebih kecil. Namun gelombang gempa ini menjalar jauh kearah timur.
Bahkan menurut laporan USGS getaran ini dirasakan hingga di daerah
Bali.
MS>
Memang luar biasa kalo gempa dengan magnitude Mb = 5,9 SR ini (Mw
= 6,3) ternyata bisa mematahkan rel KA, satu hal yang - menurut saya -
tidak mungkin kecuali jika ada patahan di bawah rel KA itu yang
bergeser. Dan kalo saya (iseng) menghitung, dengan panjang patahan 100
km (menurut BMG) dan lebar (anggap saja) 20 km (terkaan sangat kasar
dari distribusi episentrum aftershock-nya), patahan ini telah bergeser
7,5 cm (jika merunut pada nilai momen seismik versi USGS).
Saya sendiri kurang paham apakah gempa 1867, 1937, 1943 dan 1981
juga berkait dengan patahan ini, bagaimana menurut anda ?
RDP
Pengetahuan gempa yg disebabkan oleh aktifitas tektonik sendiri baru
diketahui beberapa dekade belakangan ini. Teori plate tektonikpun juga
baru setengah abad yang lalu diketahui. Artinya menghubungkan keduanya
harus dilakukan ulang dengan menggunakan teori baru. Kita harus
mencoba memisahkan gejala gempa yg dipicu volkanis dan sebaliknya.
Lokasi-lokasi episenter jaman dulupun belum tentu memiliki ketepatan
yg diharapkan membantu analisa ini. Data kegempaan yg saya miliki juga
dimulai tahun 1960. (dari USGS). Sehingga hanya satu gempa (1981) yg
masuk dalam database.
MS>
Saya tertarik dengan masa depan dari aktifnya patahan ini. Kalo
orang2 berpendapat patahan ini bergerak kembali akibat meningkatnya
aktivitas Merapi, menurut saya koq sebaliknya ya. Berkaca dari Gempa
Filipina Juni 1990 - yang juga ditimbulkan oleh patahan geser dengan
episentrum 100 km dari Gunung Pinatubo - yang diduga kuat membangunkan
Gunung Pinatubo (setelah tertidur 600 tahun) dan menimbulkan erupsi
ultraplinian di Juni 1991, saya berpendapat justru aktivitas patahan
Sungai Opak ini bisa memicu dapur2 magma disekitarnya (Merbabu,
Merapi, Lawu). Apalagi Merbabu dan Lawu sudah sangat lama tertidur,
sementara
Merapi punya sejarah erupsi dahsyat di masa silam (seperti kata
van Bemmelen).
RDP
Saya juga sekarang konsen dengan patahan-patahan selatan Pulau Jawa.
Mulai dari Patahan Cimandiri , hingga Patahan Opak (Opak Fault),
Grindulu Fault serta patahan-patahan di Tulung agung. Patahan-patahan
ini perlu diteliti lebih lanjut tentunya, terutama sisi
seismisitasnya.
MS>
Tentang Merapi, meski sudah lama saya membaca teorinya van
Bemmelen tentang erupsi dahsyat 1006 M yang memaksa migrasi Kerajaan
Mataram Hindu ke Jawa Timur, sebelumnya saya merasa ragu. Apalagi pak
MT Zen - yang ber kali2 mendaki Merapi - dalam sarasehan menyambut VIG
2006 kemarin menyatakan tidak ada endapan vulkanik sangat asam sebagai
bukti terjadinya erupsi eksplosif di Merapi. Namun pasca gempa 2006
ini - dan setelah secara kebetulan membaca erupsi Gunung St Helena
1980 di Wikipedia - saya jadi ada gambaran tentang (kemungkinan)
letusan Merapi saat itu. Mungkin saja letusan itu didahului dengan
gempa kuat seperti gempa 2006 ini, dengan episentrum persis di bawah
lereng barat Merapi, hingga lereng itu ambrol, longsor ke barat daya
mengubur candi Borobudur, sekaligus membuka diatrema hingga ke
puncaknya. Akibatnya magma pada reservoir di bawah puncak Merapi
langsung berhubungan dengan udara luar, hingga langsung keluar
menghasilkan erupsi besar tipe plinian. Mekanisme sejenis juga
berlangsung menjelang erupsi St Helena dan saat itu magnitud gempanya
pun tak besar (5,1 menurut USGS) Tapi sudah cukup membuat lereng utara
gunung (dan juga cryptodome di puncaknya) rontok dengan volume
ultragigantik (3 milyar meter kubik). Bagaimana menurut anda ?
RDP
Sepertinya status AWAS Gunung Merapi harus dipertahankan selama
beberapa waktu mendatang. Memang banyak indikasi bahwa aktifitas gempa
yg memicu aktifitas gunung api sudah banyak dijumpai, walaupun tidak
spesifik untuk Gunung Merapi. Secara proses pembentukannya keduanya
memang saling berhubungan sejak terciptanya bumi ini. Saat ini
hanyalah proses kelanjutan dari proses terciptanya bumi dengan segala
aktifitasnya.
---------------------------------------------------------------------
----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
----- Call For Papers until 26 May 2006
----- Submit to: [EMAIL PROTECTED]
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------
----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
----- Call For Papers until 26 May 2006
----- Submit to: [EMAIL PROTECTED]
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------