Tujuh (7) dam ada di masing-masing Kali (sungai) Gendol, dan Kali Boyong, dan nadanya di sungai lainnya di kaki Merapi ini. (Barangkali, perancang dam-nya suka angka 7). Awan panas terjauh th 2006 ada pada minggu purnama kini, tgl 12 komariah di Jum'at serta tgl 17 di Rabu, dengan jarak luncur berturut-turut 5 km dan 7 km. Nomor dam di mulai dari terdekat dengan puncak. Lava itu hingga mencapai dam nomer 4 setelah nomor 1 hingga 3 di penuhi lava. Di hari keempat setelah keluar dari puncak Merapi, lahar itu masih panas, mengeluarkan asap yang ujungnya sampai di Kaliadem, ku lihat hari Minggu kemarin. Kali Gendol merupakan jalur awan panas baru, dari sebelumnya kearah barat, kini ke selatan/tenggara. Kali Tengah, sedikit tertutupi jalur oleh tebing, dengan lava sekitar 500 m lebih pendek dari pada Gendol. Keduanya kelilingi Kinarjo, tempat simbah yang aman karena lereng amat tinggi di kedua sungai. Kaliadem kini menjadi daerah rawan awan panas, penduduk banyak yang di usingkan, rumah di tinggal, jadikan amat sulit orang tak di kenal masuk ke kampong itu takut pencurian, walau banyak yang datang kesana sebenarnya hanya ingin tahu lava/lahar. Untung saya ketemu tetangga, yang jadi pemanduku, yang tahu medan serta di kenal orang kampong setempat (Cangkringan), jadikan ku bisa lihat bekas-bekas lahar, juga ngobrol dengan embah-embah setempat, tetangga embah Maridjan, menjadi saksi mata lahar kemarin, suka duka Merapi. Kali Adem, lapangangan hijau di sebelah sungai Gendol (yang dasar sungainya seratusan meter), kini rata dengan tanah di isi lava/lahar. Apa lagi di utaranya, mata-air Goa Jepang, sudah penuh material volkanik, pipa air putus, jadikan beberapa kampong jadi kesulitan air bersih. Kali Tengah, tergasak lava dengan tanaman pinggirnya ~25 m hangus. Kali Kuning, dengan mata airnya umbul nganten, masih aman dari lahar, karena letaknya yang lebih terutup dari puncak. Kali Boyong pun malah aman dari awan panas itu. Senyum lebar pak Panut, penjaga pos Kaliurang, sewaktu ku temui, pikirkan banyak kebenaran pesanku 2 bulan lalu waktu ketemu di situ:"purnama mungkin banyak aktifitas Merapi". Sejam diskusi di situ, beliau critakan juga "warning sirine" sudah bunyi 3 jam sebelum awan panas mematikan 2 orang relawan, memastikan bahwa seharusnya tak ada korban kalau itu di ikuti semua orang atas awan panas jam 15:00 hingga 7 km itu. Mungkin juga salah perhitungan relawan itu, dugakan lahar tak akan tutupi bungker. Bungker, hanya untuk pelindung awan panas, dan bukan pelindung lava. Bagus juga kalau bungker ini di kasih terowongan hingga tembus daerah aman, misal hingga Sempol, km 14 dari puncak itu. Tempat rekresasi Kaliurang sudah menggeliat, penduduk sudah kembali ke rumah. Dam Kali Boyong juga sudah penuh hingga dam no.4. Pak Bandriyo masih terus saja infokan update - Merapi, tunjukkan mana yang menarik di lihat, atawa nyatakan kondisinya aman dari "wedhus gembel" di suatu tempat. Airport Adi sucipto termasuk rusak oleh gempa Bantul lalu, sehingga sempit sekali kini di ruang tunggu. Sodaraku di Kretek (dekat episentrum), terus britakan kegempaan Bantul. Daftar 2 x 7 turunan, ku berasal dari lereng ini, dengan saudara ada yang di ujung utara (Kaliurang), juga ujung selatan (pantai) Bantul. Merapi masih terus menggeliat, keluarkan awan panas, dengan jarak luncur memendek juga lebih sedikit di minggu lemah ini. Salam, Maryanto. Lumayan, menjadi bisa lihat kondisi Jogja paska Merapi/gempa itu setelah lega, selesai dari acara mendadag, lihat/temui A'an di Solo. Kini kembali lagi bisa amati olah raga pagi di Monas.

