Kiriman informasi dari tetangga “Banjir Lumpur Porong “.
   
  
  
   
    ...buat temen2 geolog, ditunggu komentarnya...

     

          Assalamu'alaykum Wr.Wb.

    Masa Allah...Astaghfirullah al adziiim...Benarkan demikian?  Namun Ustadz 
Nana Djumhana kebetulan memang juga seorang geolog, tentunya sangat layak 
tausiyahnya  kita percayai.  Yang mengherankan jika "bencana Porong" ini memang 
"natural disaster", kenapa ya Lapindo yg notabene Bakrie Group committed untuk 
mengganti?   Apa karena akan ada penggantian asuransi jika "human error"? Apa 
hanya sejumlah itu (US$. 27 Juta) cukup untuk mengkompensasi semua kerugian 
yang ada?  Wallahu a'lam.
Wassalamu'alaykum Wr.Wb.
[EMAIL PROTECTED] (Kakek 3 Cucu).

     

    ----- Original Message ----- 
    From: Nila Anggria 

    To: undisclosed-recipients: 

    Sent: Friday, June 23, 2006 12:48 PM

    Subject: FW: [bdi-kps] Mimbar Jum'at 258 : Bencana Porong


     

    Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.
  Bencana ternyata bukan dari sumur Lapindo… mungkin juga pulau jawa bakal 
tenggelam..
  Bacalah ulasan pak Ustadz yg seorang geolog ini…
  Wassalamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.
  -----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Nana Djumhana
Sent: Friday, June 23, 2006 6:43 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Cc: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [bdi-kps] Mimbar Jum'at 258 : Bencana Porong
            Assalamu'alaikum wr.wb.

    Allah berfirman, bismillahirrahmaanirrahiim,

    "Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung, 
dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah 
menjadikan untukmu segala keperluan hidup di bumi, dan (menciptakan) 
makhluk-makhluk yang sekali-kali kamu bukan pemberi rizki kepadanya. Dan tidak 
ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami lah khazanahnya, dan Kami tidak 
menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu" (QS Al Hijr 19-21).

    "Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua di dunia 
dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar karena pembicaraanmu 
tentang berita dusta itu. (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita dusta itu 
dari mulut ke mulut, dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu 
ketahui sedikitpun juga dan kamu menganggapnya sesuatu yang ringan saja, 
padahal di sisi Allah (hal itu) adalah besar. Dan mengapa kamu tidak berkata di 
waktu mendengar berita dusta itu : 'Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita 
memperbincangkan hal ini. Maha suci Allah, ini merupakan dusta yang besar'. 
Allah memperingatkan kamu agar (jangan) berbuat yang seperti itu kembali untuk 
selama-lamanya jika kamu orang-orang beriman, dan Allah menerangkan 
ayat-ayatNya kepadamu. Dan Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana. 
Sesungguhnya orang-orang yang menginginkan agar perbuatan keji itu tersiar di 
kalangan orang-orang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di 
akhirat. Dan
 Allah maha mengetahui sedang kamu tidak mengetahui" (QS An Nuur 14-19).

    Maha benar segala firman Allah. Maha suci Allah yang telah menurunkan 
al-Furqaan kepada hambaNya, agar ia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh 
alam, yang kepunyaanNya lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai 
anak dan tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan, dan Dia telah menciptakan 
segala sesuatu dan Dia menetapkan kadar ukurannya dengan sangat akurat (QS Al 
Furqaan 1-2). Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu 
sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang maha pemurah itu sesuatu yang 
tidak seimbang. Maka lihatlah berulangkali adakah yang kamu lihat itu sesuatu 
yang tidak seimbang ? (QS Al Mulk 3). Segala puji dan ungkapan syukur hanya 
bagi Allah atas segala karunia dan rahmatNya yang berlimpah kepada kita semua, 
dan atas perkenaanNya kita dipertemukan kembali melalui mimbar yang hadir di 
pagi hari Jum'at terakhir di bulan Jumadil Awal (26 Jumadil Awal 1427 H), yang 
bertepatan dengan tanggal 23 Juni 2006, dengan kajian tentang
 musibah banjir lumpur di Porong, Sidoarjo, yang selama ini dianggap sebagai 
human error dari pemboran eksplorasi minyak dan gas, benarkah demikian ? Maka 
ikutilah bahasannya. Namun sebelum itu, selaku umat Nabi Muhammad salallahu 
alaihi wassalam, seyogyanya kita bermohon semoga shalawat dan salam senantiasa 
tercurah kepada beliau, seluruh keluarga dan para sahabatnya, serta semua 
pengikutnya yang senantiasa istiqamah mendakwahkan Islam dimana dan kapan saja.

    Muslimin dan muslimat dimana saja berada,

    Ketika kita sedang terkonsentrasi kepada pemberitaan masalah gempa yang 
melanda wilayah Jogjakarta dan sekitarnya serta penanganan korban pasca gempa 
tersebut, dan juga berita tentang Gunung Merapi yang dianggap sudah menurun 
aktivitasnya sehingga statusnya diturunkan dari "awas" menjadi "siaga", namun 
baru beberapa jam kemudian justru gunung tersebut memuntahkan lava pijar yang 
diikuti awan panas "wedhus gembel" yang lebih besar, yang memakan korban dua 
orang relawan yang berusaha berlindung di dalam bunker. Nun di timur, di Jawa 
Timur, tepatnya di daerah Porong, Sidoarjo terjadi pula musibah yang cukup 
merepotkan dan mengganggu penduduk setempat dan kegiatan industri yang berada 
di sekitarnya, yaitu banjir lumpur panas, yang terjadi dua hari setelah gempa 
bumi yang mengguncang Jogja dan sekitarnya. Sehingga penduduk setempat 
diungsikan ke tempat yang aman dan kegiatan industri berhenti total karena 
lumpur panas terus mengalir dari dalam bumi, dan menutupi daerah
 setebal lebih dari satu meter serta mengganggu kelancaran arus lalu-lintas 
jalan toll Gempol - Surabaya, bahkan saat ini ditutup sebagian dan akan 
dialihkan melalui jembatan bailley yang hampir selesai dibangun. Semburan 
lumpur panas tersebut keluar melalui tiga titik dengan volume sekitar 40.000 - 
50.000 meter kubik per hari, yang masih terus mengalir hingga hari ini, dan 
tidak tahu sampai kapan akan berhenti. Sehingga timbunan lumpur di sekitar 
sumber semburannya saat ini telah mencapai dua-setengah meter tingginya, dan 
mungkin akan terus bertambah dan membentuk gunung kecil. Kebetulan di dekat 
lokasi semburan lumpur tersebut, perusahaan minyak nasional Lapindo Brantas 
sedang melakukan pemboran eksplorasi, sehingga semburan lumpur itu dianggap 
"drilling hazard", oleh karenanya Lapindo Brantas yang harus bertanggung-jawab 
sepenuhnya atas bencana ini. Sejak awal seluruh media massa menyampaikan hal 
ini dan membentuk opini masyarakat awam, termasuk pemerintah, dimana
 semburan lumpur panas tersebut berasal dari kebocoran gas yang terjadi karena 
adanya pemboran tersebut. Atau dengan kata lain bencana semburan lumpur panas 
tersebut sebagai akibat "human error". Benarkah demikian ?

     

    Bencana semburan lumpur panas ini terjadi dua hari setelah gempa bumi yang 
mengguncang wilayah Jogja dan sekitarnya. Sejak ditayangkan pertama kali di 
televisi dan diberitakan di media massa, sebagai seorang geolog yang kebetulan 
mempunyai data bawah tanah daerah bencana Porong, terus terang saya menyangkal 
apa yang diberitakan oleh media massa, dan meyakini bahwa kejadian itu 
merupakan bencana alam murni. Hal ini disampaikan tanpa ada maksud membela 
Lapindo yang harus bertanggung-jawab atas bencana ini, tetapi karena sebagai 
praktisi pemboran yang mengetahui prosedur dan akibat yang terjadi jika 
drilling hazard. Dan hal ini semakin jelas dan lebih meyakinkan lagi ketika 
saya rapat dengan eksplorasi BP Migas yang dihadiri juga oleh staf dari bagian 
pemboran, pada hari Kamis siang 15 Juni pekan lalu (materi rapatnya tentang 
pemboran di Irian Jaya Barat, dan usai rapat dibicarakan tentang banjir lumpur 
tersebut), bahwa tidak ada kesalahan prosedur akibat human error dalam
 pemboran yang dilakukan oleh Lapindo, dan semburan lumpur tersebut merupakan 
bencana alam sebagai "mud vulcano" yang muncul di tiga titik agak jauh dari 
lokasi pemboran, kemungkinan sebagai dampak dari adanya gempa Jogja terhadap 
daerah bencana Porong. Lumpur panas yang menyembur keluar itu jelas dan dapat 
dipastikan bukan lumpur yang digunakan dalam pemboran eksplorasi, tetapi 
merupakan lumpur laut yang diperkirakan berumur sekitar 5 sampai 15 juta tahun, 
yang terjebak dan tidak sempat membatu di antara batuan sedimen yang lebih tua 
dan lebih muda dalam lapisan kulit bumi. Sehingga ketika ada kesempatan  keluar 
ke permukaan bumi melalui rekahan atau patahan, maka muncullah semburan lumpur 
panas yang berbau tidak enak dan berasa asin, yang dalam istilah geologi 
disebut dengan "mud vulcano". Hal ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan 
kegiatan gunung api seperti yang sedang terjadi di Gunung Merapi, meskipun ada 
kata vulcano. Pernahkah anda mendengar "Bledug Kuwu" ?
 Itulah contoh mud vulcano.

     

    Mud vulcano "Bledug Kuwu' letaknya empat kilometer selatan kota kecil 
Wirosari (di tepi barat jalan Wirosari - Sragen), yaitu antara Purwodadi - 
Blora, Jawa Tengah, atau kira-kira 200 kilometer sebelah barat agak barat-laut 
dari lokasi bencana semburan lumpur di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Sudah 
ratusan tahun mengalirkan lumpur panas, meskipun saat ini alirannya intermitten 
(terputus-putus), dan sudah lama airnya dibuat garam oleh penduduk setempat. 
Kalau kita perhatikan lumpur yang keluar dari "Bledug Kuwu" dan dibandingkan 
dengan lumpur yang keluar dari semburan di daerah bencana Porong, maka secara 
fisik akan mirip. Data bawah tanah yang ada di wilayah bencana (lihat sketsa 
yang terlampir, atau kalau ada yang penasaran dan ingin tahu, bisa datang ke 
tempat saya), struktur Porong secara geologi merupakan sebuah antiklin barat 
timur agak ke timur-laut melanjut ke Selat Madura, terbentuk karena adanya 
"shale diapir" yang berasosiasi dengan pensesaran. Padahal target
 pemboran yang dilakukan Lapindo itu adalah batuan karbonat formasi Kujung yang 
ada di bawah "shale diapir" tersebut, dan lokasi pemboran berada menjauhi atau 
di tepinya "shale diapir", karena sangat berbahaya dan tidak mungkin lokasi 
pemborannya di tengah atau puncak dari "shale diapir" untuk dapat mencapai 
target tersebut. Kalau kita lihat Peta Struktur Elemen Utama separuh bagian 
timur Pulau Jawa (juga bisa dilihat di tempat saya), maka sistim sesar atau 
patahan yang ada, secara langsung atau tidak langsung tampak saling berkaitan, 
sebagai akibat adanya sistim tumbukan lempeng Samudra Hindia dan lempeng 
Kontinen Asia Tenggara. Sehingga ketika terjadi gempa bumi di daerah Jogja, 
dimana yang banyak menimbulkan kehancuran bangunan dan menelan korban jiwa 
adalah yang berada di jalur-jalur sistim patahan, maka sangat mungkin akan 
berpengaruh ke tempat lainnya juga, yang dalam hal ini adalah ke daerah Porong. 
Barangkali dampak gempa tersebut telah mengaktifkan sesar antiklin
 Porong  atau membuat rekahan pada batuan penutup yang menahan "shale diapir" 
tadi, sehingga lumpur panas yang bertekanan cukup tinggi dan membentuk "shale 
diapir" tersebut keluar melalui rekahan atau patahan, dan terjadilah "mud 
vulcano" pada tiga titik, sebagai suatu bencana alam murni, dan boleh kita 
namai sebagai "Bledug Porong". Kalau dianggap sebagai "drilling hazard", 
seharusnya lumpur itu keluar dari satu titik pemboran, dan kenyataannya lumpur 
itu keluar dari tiga titik yang agak jauh dari titik pemboran. Tetapi mengapa 
sampai saat ini bencana tersebut dianggap "human error" dari aktivitas pemboran 
yang dilakukan oleh Lapindo Brantas, dan bukan sebagai bencana alam ?

     

     

    Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah,

     

    Meskipun bencana banjir lumpur yang terjadi di Porong, Sidoarjo ini tidak 
menimbulkan korban jiwa manusia secara langsung, namun akan berdampak luas dan 
merugikan bagi kehidupan di wilayah bencana. Dari segi lingkungan, adanya 
banjir lumpur panas dan asin serta mengandung sedikit gas hidrogen sulfida yang 
beracun ini jelas merupakan pencemaran dan akan merusak lingkungan. Lumpur 
tersebut akan terus mengalir sampai waktu yang tidak kita ketahui, seperti 
halnya "Bledug Kuwu" yang sudah ratusan tahun masih terus mengalir sampai saat 
ini meskipun alirannya terputus-putus. Jika aliran lumpur ini tidak segera 
ditangani secara tepat dan benar, akan mencemari wilayah yang lebih luas. Dan 
tanah yang tercemari lumpur ini tidak akan dapat ditanami lagi karena kadar 
garam yang terkandung dalam lumpur tersebut sangat tinggi. Sedang untuk 
menghentikan aliran lumpur tersebut dengan pemboran miring akan sangat sulit 
dan memakan biaya yang sangat besar, dan belum tentu berhasil baik.
 Maka sebaiknya melokalisir atau membatasi ruang gerak tempat keluarnya lumpur 
dan kemudian mengalirkannya ke suatu tempat lain yang beresiko lebih rendah. 
Dampak yang membahayakan dengan adanya aliran lumpur dari dalam bumi ini adalah 
cepat atau lambat akan terjadi penurunan tanah atau ambles karena terjadi 
"settlement" di daerah bencana dan jalurnya, sehingga bangunan yang ada di 
atasnya akan mengalami kerusakan atau ambruk. Jika turunnya permukaan tanah 
hanya beberapa sentimeter saja, tidak begitu bermasalah. Tetapi jika turunnya 
lebih dari dua meteran, maka tidak menutup kemungkinan air laut Selat Madura 
akan menginvasi masuk ke daratan sehingga daerah itu akan menjadi teluk, atau 
paling tidak menjadi rawa untuk selamanya. Hal ini sebenarnya merupakan suatu 
sunnatullah pada alam, khususnya pada muka bumi yang akan terus mencari 
keseimbangan, sesuai firman Allah dalam QS Al Hijr 19-21 yang terjemahannya 
dikutipkan pada awal mukadimah mimbar ini. Maka untuk menghindari
 kemungkinan tersebut, sebaiknya pemerintah daerah Jawa Timur, khususnya 
Kabupaten Sidoarjo, segera bertindak untuk memindahkan pemukiman dan industri 
serta fasilitas kehidupan yang ada di wilayah mud vulcano yang rawan bencana 
penurunan tanah. Bukankah Allah telah mengingatkan pula sunnahNya bagi manusia 
: "Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu masyarakat sehingga mereka 
merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah 
menghendaki keburukan terhadap suatu masyarakat, maka tak ada yang dapat 
menolaknya, sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia" (QS Ar Ra'd 
11).

     

    Dari segi sosial dan ekonomi, tentu adanya banjir lumpur ini akan berdampak 
negatif. Belum diketahui berapa kerugian material maupun non-material akibat 
banjir lumpur ini, karena aliran lumpur tersebut tidak diketahui sampai kapan 
akan berhenti. Yang jelas berapa banyak penduduk akan kehilangan tempat tinggal 
dan berapa banyak buruh yang menganggur karena industri di wilayah bencana 
berhenti total. Apalagi jika kemudian terjadi settlement sehingga permukaan 
tanah tempat bangunan pemukiman dan industri berdiri itu ambles dan menyebabkan 
kerusakan atau kehancuran bangunan dan berbagai prasarana kehidupan yang ada di 
daerah bencana tersebut. Belum lagi dengan tersendatnya transportasi dan 
lumpuhnya jalan toll Gempol-Surabaya yang berdampak kerugian ekonomi yang tidak 
sedikit. Apakah semua ini harus ditanggung oleh Lapindo ? Kasihan benar. Kita 
tidak tahu mengapa para pakar kebumian di perusahaan itu tidak menyampaikan 
kebenaran sesuai data yang dimiliki, untuk menyanggah
 pemberitaan dari media massa yang sudah menjadi opini publik. Atau memang ada 
maksud tertentu dengan membiarkan anggapan orang bahwa bencana banjir lumpur 
itu disebabkan oleh human error dari aktivitas pemboran eksplorasi yang 
dilakukan Lapindo ? Wallahu'alam. Untuk diketahui saja bahwa pemilik perusahaan 
tersebut adalah seorang mentri koordinator pada kabinet SBY saat ini. Disamping 
itu, operasi pemboran tersebut diasuransikan dengan ganti rugi sebesar US $ 27 
juta, namun jika terbukti bencana itu disebabkan oleh alam, maka tidak akan 
mendapat ganti rugi. Dan secara bisnis, bisa saja perusahaan itu kemudian 
dianggap "force majeure", tetapi dampaknya terhadap perusahaan lain seperti JOB 
Pertamina-Petrochina Tuban yang juga melakukan operasi di sebelah wilayah kerja 
Lapindo, akan bercitra negatif dan ditolak masyarakat setempat. Maka berkaitan 
dengan hal ini, Allah telah mengingatkan : "Sesungguhnya mereka merencanakan 
(suatu) rekayasa dengan perekayasaan (yang canggih).
 Dan Aku pun merekayasa (pula) dengan perekayasaan (yang jauh lebih canggih). 
Karenanya diberi tangguh orang-orang ingkar itu dengan pemberian tempo yang 
sebentar kepada mereka" (QS Ath Thaariq 15-17). Bagi kita, berhati-hatilah 
terhadap suatu berita, apalagi berita itu diragukan kebenarannya atau berita 
yang tidak benar alias dusta. Allah telah mengingatkan hal ini dan mengancam 
dengan azab yang keras di dunia dan di akhirat kelak bagi yang menyebarkan 
berita yang tidak benar dan dianggap sebagai suatu kebenaran, seperti dalam 
firmanNya QS An Nuur 14-19 yang terjemahannya dikutipkan pada mukadimah mimbar 
ini. Sebelum mengakhiri mimbar ini, dengan adanya musibah yang datang 
berturut-turut, termasuk banjir bandang di Sulawesi Selatan pada pekan ini, 
mari kita berdo'a agar diselamatkan dari berbagai musibah, seperti yang 
diajarkan oleh Rasulullah saw : "Allahumma innii a'udzubika min jahdil balaai 
wa darkisy syaqaai wa suuil qadhaai wa syamaatatil a'daai (Ya Allah, aku
 berlindung kepadaMu dari musibah berat, dari kecelakaan yang menimpa, dari 
ketentuan yang jelek, dan dari kejahatan musuh yang aniaya)" (HR Bukhari, 
Muslim dan Nasa'i dari Abi Hurairah). Akhirul kalam, alhamdulillahi rabbil 
'aalamiin.

    Wassalamu'alaikum wr.wb.

    Nana Djumhana







   





                
---------------------------------
Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs.Try it free. 

Kirim email ke