Pak Awang kalau boleh saya minta mapnya utk aku masukkan di blog : http://hotmudflow.wordpress.com
Kalau bisa jpg biar gampang aplodnya. rdp On 7/5/06, Awang Harun Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Dengan berbekal peta tua (tetapi powerful) "physiographic sketchmap of Java and Madura" (van Bemmelen, 1949) dan pola2 struktur di Jawa, kita sebenarnya bisa mengerti mengapa gempa Yogya tak mengaktifkan Bledug Kuwu di selatan Kuwu, Purwodadi - tetapi justru malah mengaktifkan wilayah yang lebih jauh dari Kuwu (relatif terhadap Yogya) yaitu dalam hal ini katakanlah wilayah sekitar Banjar Panji. Angka batas maksimum 100 km agar gempa bisa mengaktifkan mud volcano (earthquake-genic mud volcano) saya pikir bukan angka mutlak, tetapi relatif. Dalam banyak kasus, propagasi gelombang gempa sangat dikendalikan oleh retakan-retakan sesar. Kalau ada tempat berpotensi mud volcano eruption sejauh 250 km dari suatu sumber gempa, tetapi secara kompleks tempat tersebut terhubung dengan pola-pola sesar yang sejenis dengan sesar utama di dekat sumber gempa, saya pikir gelombang gempa akan merambat ke situ lebih mudah via sesar2 tersebut dan mengaktifkan mud volcano. Bila ada mud volcano di suatu tempat yang berjarak 100 km dari suatu episentrum , tetapi secara struktural ia tak terhubung ke sesar utama di dekat sumber gempa, maka goyangan gempa tak akan terlalu mudah mempengaruhinya. Gaya-gaya Bumi termasuk tectonic stress dan gelombang gempa cenderung mencari wilayah2 lemah (seperti sesar) dibanding berpropagasi via kerak yang masif. Posisi Bledug Kuwu sangat berlainan dengan Banjar Panji dalam peta fisiografi Jawa van Bemmelen (1949). Kuwu terjadi di lereng selatan Rembang Zone saat masuk ke Depresi Randublatung. Tentu saja ini wilayah rapid sedimentation sehingga tak mengherankan banyak diapir di situ. Pola-pola struktur di wilayah ini sangat khas barat-timur hasil kombinasi antara RMKS (Rembang-Madura-Kangean-Sakala) sinistral wrench dengan Kendeng thrust yang semua vergency-nya ke arah utara (sedangkan di Rembang verging ke selatan - maka ia menenggelamkan Randublatung karena posisi Randublatung sebagai subthrust di triangle zone Kendeng vs Rembang). Posisi Banjar Panji ada di batas timur Ngawi Zone dan batas selatan Kendeng Zone. Ngawi dan Kendeng Zone sama-sama merupakan Central Depression Jawa tempat rapid sedimentation volcanoclastic sediments terjadi yang akan memicu diapirism. Dan, wilayah Banjar Panji secara regional ada dalam jalur sesar besar sinistral BD-TL yang memanjang dari batas barat Pulau Madura ke Gresik ke Mojokerto sampai hilang di bawah sayap volkanik BL gunungapi Kuarter Anjasmoro. Sebagian orang menyebut sesar ini Sesar Gresik, ada juga yang menyebutnya Sesar Watukosek. Sebuah sesar mendatar besar tentu punya sesar2 sejenis sintetiknya. Berdasarkan data seismik, sebuah sesar sintetiknya melewati wilayah Banjar Panji dan memotong Kujung sampai ke kedalaman dangkal, bukan crestal fault memang, tetapi di sayap struktur Banjar Panji, hanya di beberapa kedalaman dangkal data seismik menunjukkan bisa saja di wilayah itu ditarik beberapa sesar (termasuk yang sekarang mungkin memotong a series of mud volcano stack-nya). "Sesar Gresik" tak hanya berdiri sendiri sebab makin ke baratdaya ternyata banyak sesar2 sejenis - yang lalu makin turun ke selatan, termasuk ke Sesar Opak dan Sesar Grindulu-Ponorogo, Ini merupakan kompleks wrench faults yang "right stepping". Saya hanya melihat kemungkinan bahwa saat Sesar Opak direaktivasi gempa, tak akan sulit untuk gelombang gempa terpropagasi ke timur dan timur laut via array of faults yang right stepping tersebut dan akhirnya sampai ke Banjar Panji dengan magnitude di sekitarnya terukur 4.9 Mw (momen magnitude). Dua hari sesudah gempa Yogya muncullah semburan lumpur dan hotsprings di timurlaut dan baratdaya wellhead Banjar Panji. Dan tiga hari sesudah gempa, Semeru pun menunjukkan aktivitas yang meningkat secara signifikan. Mengapa tak mengaktifkan Bledug Kuwu walaupun lebih dekat ke pusat gempa Yogya. Tak ada array of faults yang menghubungkan sumber gempa ke Bledug Kuwu. Lagipula, untuk sampai ke Bledug Kuwu ada barier tektonik yang sangat masif yang menghalangi Bledug Kuwu dengan pusat gempa Yogya : Kendeng deformed (thrust & reverse fault) zone yang Barat-Timur. Deformasi saat gempa Yogya itu menunjukkan strike-slip faulting pada front rupture-nya (focal mechanism), ini akan jauh lebih gampang mengaktifkan Sesar Opak sebagai strike-slip fault yang hampir sejajar dengan vector slip subduction di Jawa. Ada space relationship antara sesar2 di wilayah Banjar Panji-Kali Opak, ada temporal relationship antara gempa Yogya, semburan lumpur Banjar Panji, dan aktivitas Semeru. Tetapi, jelas juga ada space and temporal relationship antara kejadian semburan lumpur Banjar Panji dengan actual design casing sumur ini dan peristiwa2 pemboran beberapa hari sebelum bencana terjadi. Tak mudah memahaminya dan saya yakin tim2 penelitian yang ada pun, atau saksi2 ahli pun akan selalu menyisakan ruangan yang tak bisa dijangkau dan dipahami. Siapa yang berani menjamin memahami Mother Earth 100 % ? Salam, awang -----Original Message----- From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Tuesday, July 04, 2006 4:45 PM To: [email protected] Subject: Re: [iagi-net-l] Semeru Diaktifkan Gempa Yogya Mungkin bisa dicari korelasi-korelasi aktifitas gempa dan volkanisme yg pernah tercatat selama ini. kalau memang mereka merupakan link kausal (sebab akibat). Atau hanyalah temporal relation. Hal yg sama dengan mud volcano dengan gempa jogja. Seperti yg saya tuliskan yg saya sitir dari penelitian mud volkano erupstion triggering by earthquake. Bahwa di dunia lain sana ada jelas hubungan antara mud volcano dengan gempa. Tetapi relasional yg ada menunjukkan jarak antara pusat gempa dengan lokasi mudvolkano itu kurang dari 100Km dengan kekuatan gempa diatas 6M. Sedangkan antara Jogja dengan BPJ-1 kira-kira 250Km. Epicenter Jogja dengan Bledug Kuwu (mud volkano yg sudah ada) hanya 120Km pun tidak ngefek. Namun juga harus dicatat, seperti yg juga saya tuliskan, bahwa kearah timur getarannya lebih kuat diteruskan ketimbang kebarat, dimana getarannya saja terasa di Bali, tapi tidak terasa kuat di kebumen. Demikian juga kalau melihat kerusakannya, terlihat gelombang tersebut "dihabiskan" untuk bergetar di sekitar bantul dan hanya lemah merembet ke barat. Hanya saja menurut penelitian yang saya sitir tersebut menunjukkan bahwa getaran yg dirasakan di tempat mud volkano paling tidak 6M. sedangkan di surabaya hanya terasa 3M (BMG). Sehingga kesimpulanku "probabilitas" gempa memicu mudvolcano sangat kecil. Seandainya tidak ada pemboran waktu itu mungkin juga tidak akan ada erupsi mudvolcano BARU (karena yg sebelumnya tidak ada mudvolcano dipermukaan sekitar well location). Kalau toh dipaksakan barangkali probabilitas kecil ini teramplifikasi oleh aktifitas pemboran, "by chaotic behavior" yg akan lebih sulit lagi dibuktikan. Dan seperti yg saya tulis di blog saya juga bahwa saya cenderung menggunakan "occam razor" - "the simple explanation may be the truth". Namun kata "simple" bisa jadi merupakan ekspresi subjektif. Sehingga silahkan saja mana yg simple menurut masing-masing :) RDP - http://rovicky.wordpress.com On 7/4/06, Awang Harun Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Petikan dari berita NASA, citra satelitnya ada, yang menunjukkan aktivitas meningkat Semeru (citra diambil 30 Mei 2006). > > Salam, > awang > > Volcanic Activity on Semeru > > The volcanoes of Java are part of the HYPERLINK "http://pubs.usgs.gov/gip/dynamic/fire.html""Ring of Fire," an area of heightened seismic activity around Pacific Ocean Basin. Just three days after an earthquake struck Java, on May 27, 2006, the island's Semeru Volcano showed signs of heightened activity. > The Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer HYPERLINK "http://modis.gsfc.nasa.gov/"(MODIS) flying onboard NASA's HYPERLINK "http://terra.nasa.gov/"Terra satellite took this picture on May 30, 2006. In this image, Semeru's summit is outlined in red. The outline indicates that MODIS detected unusually high surface temperatures. To the west of the summ
--------------------------------------------------------------------- ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru ----- Call For Papers until 26 May 2006 ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi ---------------------------------------------------------------------

