Ada berita menarik yg saya ambil dari koran Pikiran Rakyat. http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/072006/06/0308.htm Kalau musibah yg di sidoarjo kebetulan kejadiannya di sumur aktif yg sedang/baru di bor, yg dituding bertanggung jawab masih aktif juga disitu.

Sedangkan di wilayah yg sudah ditinggalkan bagaimana? Saat ini sih masih aman2 saja karena sebelumnya juga pasti sudah ada langkah prosedural utk menutup sumur, tetapi kita tidak tahu perkembangan kondisi berikutnya. Nah jika ada musibah siapa yg akan bertanggung jawab? Musibah di BP-1 sangat fenomenal shg mjd perhatian banyak orang, sedangkan kalau musibahnya hanya kapal yg nabrak pipa bekas sumur/bangkai platform di malam hari, mungkin dianggap kecil, dan dianggap yg lalai adalah yg nabrak. Tapi bagi kapal yg nabrak itu musibah yg besar, karena dia mengalami kerugian. Bisakah minta ganti rugi? pada siapa? trus bagaimana kalo ada yg mleduk?

salam,
pr


Pipa Bekas Bertebaran di Laut Jawa
Sangat Membahayakan Pelayaran dan Rawan Terjadi Kebocoran Gas
INDRAMAYU, (PR).-
Di perairan Laut Jawa, khususnya di wilayah Jabar dan DKI Jakarta, ternyata terdapat ratusan pipa bekas kegiatan pengeboran minyak dan gas (migas) lepas pantai. Pipa yang biasa disebut torn itu jumlahnya mencapai ratusan dan berbahaya bagi keselamatan pelayaran karena bertebaran di laut. Keberadaan pipa tadi, juga menimbulkan kerawanan terjadinya kebocoran gas. Apalagi pipa berdimater 10 sampai 15 inci itu selama ini terkena panas, hujan, serta air laut yang memungkinkan terjadinya korosi (karat). Kepala Syahbandar Pelabuhan Indramayu, Sofyandi mengungkapkan hal tersebut kepada "PR", Rabu (5/7). Dituturkan, pipa-pipa itu telah berusia belasan tahun, ditinggalkan begitu saja setelah kegiatan eksplorasi migas di lepas pantai (off-shore) berhenti. "Bagi nelayan atau masyarakat pelayaran yang melalui Laut Jawa, keberadaan torn itu sudah jadi rahasia umum. Keberadaannya bisa menimbulkan banyak kekhawatiran, dari mulai soal keselamatan pelayaran sampai kemungkinan terjadinya kebocoran," ujarnya. Pipa atau torn itu terpasang secara vertikal dan jalinannya menembus sampai ke bawah laut. Pipa itu dulunya bekas kegiatan pengeboran migas, hanya saja setelah tidak lagi terpakai, lantas ditinggalkan. Menurut informasi, lanjut Sofyandi, pipa yang tingginya bervariasi antara 7 sampai 10 meter di atas permukaan laut, merupakan bekas kegiatan eksplorasi sejumlah perusahaan migas swasta, seperti BP-West Java, Unocal, dan BUMN Pertamina. "Pipa-pipa ini terpancang sampai ke dasar laut. Semuanya tertutup rapat. Kenapa ditutup, menurut informasi yang saya peroleh, karena di dalamnya mengandung gas. Kondisi ini tentu rawan, sebab bila berkarat dan bocor itu berarti gasnya akan keluar dari pipa itu," ujar dia. Dituturkan Sofyandi, karena rawan terhadap keselamatan pelayaran, sejumlah perusahaan migas sempat memasang lampu di atas pipa itu. Hanya saja yang jadi masalah, lampu-lampu yang memakai baterai energi matahari itu hilang. Hilangnya lampu-lampu tersebut diduga diambil oleh para nelayan karena lampunya memang sangat terang. "Karena sering jadi sasaran pencurian, kini pipa itu banyak yang tidak diberi lampu. Bila malah hari, ini sangat rawan menjadi penyebab kecelakaan, apalagi pada saat cuaca sedang buruk. Tenggelamnya sebuah tanker belum lama ini laporannya juga karena menabrak salah satu pipa itu," ujar Sofyandi.

Tempat bersandar

Menurut dia, keberadaan "torn" selama ini sering pula dimanfaatkan para nelayan maupun pemancing. Pipa itu sering dijadikan tempat bersandar, terutama bila nelayan kelelahan. "Di kalangan pemancing, pipa itu terkenal disebut dengan daerah Pancer Balok. Di situ perahu pemancing sering disandarkan. Ikannya juga cukup banyak. Hanya saja, di balik itu, ada bahaya yang bisa mengancam setiap saat, yakni kemungkinan terjadinya kebocoran gas," ujar dia. Selain torn, berdasarkan data dari DPLH (Dinas Pertambangan & Lingkungan Hidup) Indramayu, bekas kegiatan pengeboran migas lepas pantai juga banyak terdapat di Laut Jawa dalam bentuk anjungan atau platform. Di Laut Jawa antara Cirebon-Indramayu-Subang, terdapat sedikitnya 40 platform. "Sebagian besar sebenarnya sudah menjadi bangkai, sebab banyak yang sudah ditinggalkan setelah deposit migasnya habis," ujar Kasubdin LH Pemkab Indramayu, Ir. Sholahudin, M.M.(A-93)***


---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
----- Call For Papers until 26 May 2006 ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] ---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke