IAGI, tanya, berapa ya iuran anggota IAGI sekarang , soale belum pernah
bayar,karena dulu tahun 1991 didaftarkan CPI, dan ngak ada beritanya sampai
sekarang. kartu anggota pun tidak nyampe sejak 2000. Dan mau bayar pakai apa
ya, jbls, dan caranya gimana.

Heri F
1393

----- Original Message ----- From: "benyamin sembiring" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Wednesday, July 12, 2006 5:21 PM
Subject: Re: [iagi-net-l] MENGEBOR TANPA CASING (?) / LALAI MEMASANG CASING
(?)


setuju Pak Luthfi,
Melakukan pembelaan terhadap anggota dibutuhkan dana, iuran anggota itu
penting. Sudahkah kita mebayara iuran anggota?


salam
benz

Pada tanggal 06/07/12, Achmad Luthfi <[EMAIL PROTECTED]> menulis:

IAGI tetap melakukan best effort utk melindungi anggotanya, keterangan
wakil IAGI kepada Polda Jatim tetap berpihak pada dunia kegeologian,
sementara itu kita lihat perkembangan, dlm organisasi IAGI ada tim adhoc
yg
terkait dengan berbagai aspek Hukum, ...tapi ngomong2...jangan lupa bayar
iuran lho yg merasa memiliki IAGI

-----Original Message-----
From: Ariadi Subandrio [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Wednesday, July 12, 2006 10:57 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] MENGEBOR TANPA CASING (?) / LALAI MEMASANG
CASING (?)

Sharing idea,
  Terlepas dari siapapun yang menjadi tersangka dalam kasus lumpur porong,
apakah orang-orang yang menangani surface atau pun orang2 sub-surface, tak
adakah tim pembelaan hukum dari IAGI..... mengingat masalah lumpur porong
adalah problema bawah permukaan yang menjadi domain para ahli kebumian,
IAGI.......

  Rasa2nya kok sudah perlu bagi IAGI (+HAGI+IATMI barangkali) untuk
memberikan perlindungan hukum anggotanya atau pun geologists dan para ahli
kebumian Indonesia pada umumnya. Pembicaraan SALAH atau BENAR adalah
produk
hukum nantinya, yang penting proses pembelaan hukum penting diberikan oleh
asosiasi ini bagi para ahli kebumian..... inilah wadah, inilah organisasi,
inilah asosiasi yang mengayomi warga/anggotanya...


  lam-salam,
  ar-


[EMAIL PROTECTED] wrote:

Ada yang punya press release Lapindo 15/06/06 ?
Kalau boleh saya minta ke Japri saja .

Si-Abah

________________________________________________________________________

MENGEBOR TANPA CASING (?) / LALAI MEMASANG CASING (?)
*andang bachtiar - arema*

  Istilah "mengebor tanpa casing" atau "lalai memasang casing" - sehingga
mengakibatkan kejadian munculnya lumpur dalam skala massif ke permukaan -
yang dijadikan argumen dari tuduhan banyak pihak (termasuk kepolisian)
terhadap Lapindo merupakan istilah yang membingungkan. Karena sebenarnya
yang terjadi adalah: dalam mengebor sumur Banjar-Panji-1 Lapindo "sudah"
memasang casing 30 inchi pada kedalaman 150 feet, casing 20 inchi pada
1195
feet, casing (liner) 16 inchi pada 2385 feet dan casing 13-3/8 inchi pada
3580 feet (Bahan presentasi Lapindo Press Rilis ke wartawan, 15 Juni
2006).

  Nah, ketika mereka mengebor lapisan bumi dari kedalaman 3580 feet sampai
ke 9297 feet, mereka "belum" memasang casing 9-5/8 inchi yang rencananya
akan dipasang précis di kedalaman batas antara Formasi Kalibeng Bawah
dengan
Formasi Kujung, yang dalam hal ini ternyata ketemunya di kedalaman 9297
feet
tersebut. Dalam teknik pengeboran lapisan bumi, tentunya kita tidak
mengebor
lapisan baru dengan memasang casing menembus lapisan terlebih dulu, tapi
setelah menembus/membuka lapisan baru tersebut menjadi lubang - barulah
kita
turunkan casing untuk menahan lubang supaya tidak runtuh, dan supaya dapat
digunakan dalam proses eksplorasi selanjutnya (testing, produksi dsb).

  Ada juga argumen yang dipicu oleh bocornya surat internal partner
(Medco) ke media massa (Kompas, 14 Juni 2006) yang menyebutkan bahwa pada
18
Mei 2006, Medco sudah mengingatkan Lapindo sebagai operator untuk
konsisten
pada program, yaitu memasang casing 9-5/8 inchi di kedalaman 8500 feet.
Maksudnya mungkin setelah memasang casing untuk melindungi lubang dari
3580
s/d 8500 feet itu, maka diperkirakan operasi pemboran akan aman di
kedalaman-kedalaman berikutnya. Belum tentu juga! Pada saat itu mereka
belum
mengetahui sampai berapa dalam lagi mereka harus mengebor dalam kondisi
tekanan tinggi (over-pressure) sehinga mencapai puncak Formasi Kujung yang
relatif tekanannya lebih rendah dari Formasi Kalibeng yang sedang mereka
tembus di kedalaman 8000-9000an feet tersebut. Yang menarik lagi dari
argumen-argumen yang mendasari surat yang "bocor" tersebut adalah:

  1.. Sebenarnya bagaimana bunyi program casing 9-5/8 yang tertulis dalam
> buku program pemboran Banjar-Panji-1?
> 1.. Kalau bunyinya: "Pasang casing di kedalaman +/- 8500 feet atau
> apabila telah menembus puncak dari Formasi Kujung; tergantung dari mana
> yang
> dicapai terlebih dulu" maka dalam hal kedalaman 8500 feet telah dicapai
> tapi
> belum menyentuh puncak dari Formasi Kujung, seharusnyalah pemboran
> dihentikan untuk evaluasi dalam rangka memasang casing.
> 2.. Tetapi kalau bunyinya: "Pasang casing di puncak Formasi Kujung
> yang
> diperkirakan pada kedalaman +/-8500 feet", maka pemasangan casing pada
> kedalaman 8500 feet bukan sesuatu yang mandatory (harus dilakukan)
tetapi
> hanya perkiraan saja; sementara tujuan utamanya adalah memasang casing
di
> puncak Formasi Kujung yang dalam hal ini ditembus pada kedalaman 9297
feet
> (pada saat terjadi loss-circulation atau terhisapnya lumpur ke dalam
> lubang
> pemboran karena diasumsikan sudah memasuki Formasi Kujung yang sangat
> berongga).
> 2.. Menurut informasi internal dari Lapindo bahwa sebenarnyalah mereka
> berhenti mengebor pada kedalaman +/- 8700 feet, yaitu setelah menembus
> 8500
> feet tapi belum juga mendapatkan puncak Formasi Kujung (informasi ini
> harus
> dicek kebenarannya dengan melihat Daily Drilling Report). Dalam operasi
> pemboran, diperlukan "rat-hole" (lubang tambahan di bawah target
> penghentian
> pemboran) untuk mendapatkan informasi lengkap dari kedalaman target yang
> bisa di-cover oleh panjangnya alat logging (perekam sifat lapisan batuan
> di
> lubang pemboran). Dalam hal ini rat-hole tersebut panjangnya 200 feet
> dibawah 8500 feet. Data keratan batuan (cuttings) dari kedalaman +/-
6100
> feet sampai 8700 feet semuanya menunjukkan bahwa sumur Banjar-Panji-1
> menembus lapisan batupasir pada interval tersebut. Demikian juga info
yang
> didapat dari alat perekam lapisan batuan (logging) juga menunjukkan hal
> yang
> sama (open hole log ini-pun harus di-cek kebenaran interpretasinya)
> 3.. Karena ternyata masih belum menembus puncak Formasi Kujung
> (dibuktikan
> dengan terus menerus munculnya lapisan batupasir s/d kedalaman 8700
feet),
> dan karena masih berada pada interval batupasir (yang secara prosedur
> teknis
> keselamatan pemboran TIDAK COCOK UNTUK DIPASANGI CASING-SHOE karena
> kekuatannya terhadap tekanan akan sangat lemah dibandingkan dengan
> batulempung), dan juga belajar dari pengalaman pemboran Porong-1 yang
> memasang casing 9-5/8" masih di interval overpressure Kalibeng -
> menyisakan
> puluhan feet overpressure Kalibeng Clay untuk dibor lagi sebelum tembus
> Formasi Kujung - dan setelah itu mengalami "loss" dan "kick"
> berulang-ulang
> ketika sudah menembus Kujung (sehingga harus merelakan sumur Porong-1
> sebagai sumur gagal: disemen "plug" dan ditinggalkan), maka keputusan
> untuk
> tidak memasang casing 9-5/8" di 8500 feet merupakan keputusan yang
SANGAT
> RASIONAL, TEKNIKAL, DAN AMAN (SAFE) pada waktu itu.
> 4.. Tentu saja keputusan untuk meneruskan pemboran tanpa memasang casing
> 9-5/8" terlebih dulu (setelah run logging pada 8700-an feet) harus
> didasarkan pada prasayat (asumsi) bahwa:
> 1.. Seluruh rangkaian casing dangkal sampai intermediate (30", 20",
> 16",
> dan 13-3/8") telah terpasang dan TERSEMENKAN dengan sempurna, sehingga
> kalau
> terjadi tendangan (kick) dari daerah lubang terbuka di bawah
casing-casing
> tersebut, maka rangkaian casing tidak akan goyang, rusak, atau bahkan
> jebol.
> Perlu dicatat bahwa pada waktu mengebor Porong-1, Huffco Brantas juga
> mengalami loss & kick yang dapat diatasi di permukaan dan tidak
> menyebabkan
> retakan di bawah permukaan (underground blow-out) karena casing-casing
> dangkal & intermediate-nya terpasang sempurna.
> 2.. Kekuatan menahan tekanan pada sepatu casing (casing-shoe) yang
> terdalam (yaitu 13-3/8" pada 3580 feet) - yang diukur dari proses
Leak-Off
> Test (LOT) sebelum mengebor lebih dalam dari 3580 feet - benar-benar
> seperti
> yang dituliskan dalam laporan pemboran, yaitu: 16.4 ppg EMW, dan
maksimum
> berat lumpur yang dipakai dalam pemboran berikutnya sampai kedalaman
> maksimum 9580 feet tidak melebih 15.4 ppg (dengan menghitung ECD
tambahan
> 1
> ppg).
> 5.. Prasyarat (asumsi) butir 4-a merupakan prasyarat mutlak yang harus
> diyakinkan pada waktu selesai logging pada 8700 feet dan memutuskan
untuk
> terus mengebor sampai ketemu puncak Formasi Kujung. Apabila pada waktu
itu
> (bahkan pada waktu di awal-awal pengeboran interval 3580-8700 feet)
proses
> evaluasi kekuatan casing-casing yang sudah terpasang tidak dilakukan
atau
> dilakukan dengan seadanya atau dilakukan tanpa mempertimbangkan lebih
> lanjut
> tentang factor keamanan-nya lebih rinci, maka hal ini patut disayangkan.
> Pada kenyataannya terjadinya under-ground blow-out mengindikasikan bahwa
> casing 13-3/8" telah rusak dan bahkan "menjepit" pipa pada waktu mereka
> memutuskan untuk mencabut rangkaian pipa secara keseluruhan (Lihat Bahan
> presentasi Lapindo Press Rilis ke wartawan, 15 Juni 2006). Apabila pada
> saat
> itu telah diyakini (dan diketahui) bahwa kondisi casing yang telah
> terpasang
> TIDAK AMAN, maka selayaknyalah pengeboran dihentikan saja dan dicarikan
> rekayasa untuk memperbaiki kondisi casing yang tidak aman tersebut, ..
> sampai aman,.. baru diteruskan pemborannya. Tetapi apabila kondisi
casing
> yang tidak aman tersebut TIDAK BISA DIAKALI (tidak bisa dikoreksi), maka
> pilihan terburuknya adalah menge-"plug" lubang dengan semen, merancang
> ulang
> disain casing dan mengimplementasikannya di casing-casing dangkal, baik
> dengan meneruskan pemboran di lubang yang lama, maupun side-track,
> ataupun.
> membuat lubang baru.
> 6.. Prasyarat (asumsi) butir 4-b merupakan prasyarat yang harus diikuti
> pada waktu sudah memutuskan untuk mengebor lanjut dari 8700 feet-an
sampai
> ketemu dengan puncak Formasi Kujung. Apabila sampai kedalaman 9580 feet
> dan
> berat lumpur sudah 15.4 ppg tetapi tetap belum menembus Formasi Kujung
> (karena prediksi dari seismic meleset), maka mau tidak mau pengeboran
> harus
> dihentikan. Selanjutnya: plug dengan semen, mau tinggalkan sumur atau
> side-track (tentunya setelah evaluasi seismic lagi) terserah kepada
> operator, tergantung seberapa kuat secara ekonomis Lapindo berani
beresiko
> lagi dengan ketidakpastian interpretasi tsb).
> 7.. Yang terjadi ternyata: pada 9297 feet matabor menembus formasi yang
> menyebabkan LOSS CIRCULATION (dengan berat lumpur 14.7ppg??), yang besar
> kemungkinan itulah puncak dari Formasi Kujung yang ditunggu-tunggu.
> Prosedur
> yang dilakukan pada waktu itu adalah mengatasi loss dengan LCM,
membuatnya
> menjadi static, kemudian mencabut rangkaian untuk diganti dengan
> Open-ended
> Drill-pipe dalam rangka menyemen-plug zona loss Kujung tersebut. Barulah
> setelah zona loss ditutup semen, maka casing 9-5/8" akan dipasang précis
> di
> puncak Formasi Kujung tsb. NOTHING WRONG dengan rencana tersebut. Malah
> memang sebenarnya itulah yang harus dilakukan.
> 8.. Tetapi dalam proses mengimplementasikan rencana tersebut terjadilah
> hal-hal dibawah ini:
> 1.. Tendangan (kick) pada waktu matabor sdh diangkat pada kedalaman
> 4241
> feet (masih di open-hole). è Ini kemungkinan disebabkan oleh kecepatan
> POOH
> yang terlalu cepat (effek swabbing), atau pada saat akan mencabut,
hi-vis
> pill tidak cukup berat menahan tekanan formasi (dari sepanjang interval
> 4241-9297 yang terbuka tersebut)
> 2.. Tendangan dapat diatasi dengan menutup BOP, menyalurkan ke
> diverter
> yang keluar berupa gas H2S dan air. Ini juga OK, sesuai dengan prosedur.
> Hanya saja setelah itu dihitunglah killing mud berdasarkan info SIDP dan
> SICP yang kemungkinan hasil perhitungannya dan juga "the real" killing
mud
> yang dimasukkan beratnya melebihi kekuatan daya dukung casing shoe di
3580
> feet,.. sehingga menyebabkan retakan di sekitar casing shoe, goyangnya
> casing 13-3/8" (mungkin semennya kurang =è musti diteliti juga) yang
terus
> merembet ke atas, akhirnya muncul ke permukaan membawa lumpur dari
> Kalibeng
> Clay (2000-6000 feet). Harap dicatat: letak casing shoe 13-3/8" ada di
> tengah-atas dari interval Lempung Kalibeng ini, sehingga
material-material
> inilah yang akhirnya terbawa ke permukaan.
> 3.. Menganggap bahwa kick sudah bisa diatasi, maka usaha pencabutan
> rangkaian pemboran diteruskan. Tetapi yang terjadi: STUCK di dalam
casing.
> Hal ini ada 2 kemungkinan penyebabnya: "pack-off" dari cutting, material
> batuan yang ikut terbawa ke atas pada waktu kick telah membuat casing
> menjadi "choked-off" sehingga menyempit, atau terjadi CASING COLLAPSE,
> yaitu
> casingnya mengkerut di titik terjadinya stuck karena ada tendangan
tekanan
> dari samping yang tidak dapat ditahan karena semennya tidak bagus.
Manakah
> diantara keduanya yang benar: SNUBBING UNIT akan menjawabnya. Jika
> snubbing
> unit dapat melewati titik jepitan hanya dengan "washing" the hole maka
> berarti telah terjadi "pack-off" tapi bila snubbing unit tidak bias
> melewatinya, berarti casingnya memang telah mengkerut.
> Dari uraian diatas, secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa
> permasalahannya bukan karena tidak memasang casing 9-5/8" di 8500 feet.
> Tapi
> karena masalah-masalah lain. Tentunya Tim Investigasi-lah (Pak Rudi
> Rubiandini dkk) yang nantinya dapat menjelaskan secara rinci kepada kita
> semua apa sebenarnya masalah yang terjadi. Merekalah yang punya
previllege
> melihat dan menelisik data-data yang ada. Kita hanya dapat mengamati
dari
> kejauhan sambil mencoba menganalisis dari info-info berseliweran yang
> keabsahannya belum tentu benar. Hanya saja, kalau menggunakan
> logika-logika
> operasional pemboran secara umum, maka hal-hal seperti diataslah yang
> dapat
> kita sumbangkan kepada anda semua. Belum tentu benar. Harus diTEST ,
DICEK
> ,
> DIKRITISI dengan menengok, memeriksa, melihat data2nya langsung.
>
>
>
> Jakarta, 7 Juli 2006
>
> ADB


---------------------------------
How low will we go? Check out Yahoo! Messenger's low  PC-to-Phone call
rates.

---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
-----  Call For Papers until 26 May 2006
-----  Submit to: [EMAIL PROTECTED]
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------




__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam http://id.mail.yahoo.com
---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
----- Call For Papers until 26 May 2006 ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] ---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke