supaya tidak kecolongan lagi, mungkin baik juga IAGI membuat semacam riset kecil untuk mempelajari kemungkinan terjadi nya gempa beikut nya terutama di daerah sekitar ring of fire ini. gunanya bukan untuk membuat panik, tetapi untuk masukan ke "authorities" untuk mengadakan latihan early warning baik persiapan early warning untuk tsunami maupun untuk antisipasi efek dari gempa. pertanyaan saya apakah daerah sekitar gempa di Sumatra dengan daerah gempa yang barusan juga rentan untuk gempa? misalnya sekitar krakatau, selat sunda terus ke utara dekat2 fault Semangko (Sumatra fault) ? hari ini kawan dari aussie kirim lagi berita bahwa dia ada reading em signature lagi, cuma dia tidak mau sebut tempat lagi katanya sekitar p Jawa. soalnya pengukuran dia salah 1 % saja, maka range kesalahan nya sudah antara yogya sampai padang, atau mungkin lebih besar range nya fbs
----- Original Message ---- From: soegiri <[EMAIL PROTECTED]> To: Intranet PND <[EMAIL PROTECTED]> Cc: Iagi-Net <[email protected]> Sent: Tuesday, July 18, 2006 8:35:17 AM Subject: [iagi-net-l] Simulasi Gempa dan tsunami di Pangandaran (Kompas online,18/7/2006) Memahami Tsunami di Pangandaran JAKARTA, KCM - Aceh kebobolan dan sekali lagi Pangandaran pun sedikit lepas dari perhatian saat gempa dan tsunami lewat di sekitar pekarangan kita. Ibarat tamu tak diundang, gempa dan tsunami selalu datang tiba-tiba. Sampai sekarang, tidak seorang ahli pun yang terbukti mampu mendeteksi kedatangannya dengan tepat. Ancaman tsunami di Pangandaran, Jawa Barat memang telah diprediksi jauh-jauh hari seperti halnya gempa dan tsunami seperti di Aceh atau gempa merusak di Yogyakarta. Namun, tidak dapat dipastikan dengan tepat kapan datangnya, bisa ratusan tahun, puluhan tahun, bahkan hitungan bulan dan hari. Sejauh ini, para ahli geologi, geofisika, dan disiplin ilmu lain yang mendukung telah dapat memperkirakan terjadinya gempa dan tsunami di sutau kawasan berdasarkan siklus catatan sejarah. Sayangnya belum semua daerah teramati dan memiliki catatan sejarah kegempaan. Maka, pemahaman mengenai terjadinya gempa dan tsunami menjadi hal yang sangat penting untuk mengantisipasi jatuhnya korban. Pangandaran dan Aceh Ketidaktahuan masyarakat atau pemahaman yang bermacam-macam sering menimbulkan kebingungan dan keresahan saat terjadi bencana. Pemahaman yang tepat perlu ditanamkan, misalnya, tidak semua gempa bisa menimbulkan tsunami. Menurut Kepala Bidang Seismologi Teknik dan Tsunami Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Fauzi, Ph. D., tsunami umumnya dipicu gempa yang berkekuatan lebih dari 6,5 Skala Richter (SR) dan pusat gempa berada di laut. Gempa yang terjadi Senin (17/7) pukul 15.19 WIB, misalnya, berpusat di selatan Pulau Jawa, tepatnya 9,46 Lintang Selatan (LS) dan 107,19 Bujur Timur (BT) pada kedalaman 33 kilometer. Terukur dengan kekuatan 6,8 Skala Richter (SR) oleh BMG dan 7,2 Mw (momen magnitude) yang kemudian direvisi menjadi 7,7 Mw oleh United States Geological Survey (USGS), gempa terjadi di laut sehingga berpotensi menghasilkan tsunami. Pacific Tsunami Warning System di Hawaii juga sempat mengingatkan potensi tsunami karena gempa. Alat pengukur tinggi gelombang (tide gauge) terdekat yang terpasang di Benoa, Bali mengukur kenaikan muka air laut setinggi 4 centimeter yang menunjukkan potensi terjadinya tsunami di pantai-pantai terdekat dari pusat gempa baik di Indonesia maupun Australia. Proses terjadinya tsunami di Pangandaran dan sebagian pantai selatan Pulau Jawa pada dasarnya tidak berbeda dengan tsunami di Aceh. Keduanya sama-sama dipicu gempa tektonik di sekitar zona subduksi atau penunjaman lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Hanya saja, kekuatan gempa yang lebih kecil dan jarak yang jauh dari daratan membuat tsunami yang menyapu sebagian pantai selatan Pulau Jawa itu lebih lemah daripada tsunami di Aceh. Pusat gempa berada di sekitar zona penunjaman yang merupakan ujung pertemuan lempeng Indo-Asia dengan Australia. Pergeseran lempeng ini sebenarnya terus terjadi sejak terbentuknya lempeng-lempeng tersebut jutaan tahun lalu. Seiring berjalannya waktu, gaya dorong mendorong kedua lempeng menyebabkan energi terkumpul di titik tersebut. "Karena kedua lempeng tidak sanggup lagi menahan energi yang terkumpuk, energi dilepaskan sehingga menghasilkan gempa," kata Fauzi. Saat energi dilepaskan, lempeng Eurasia yang berada di atas lempeng Indo-Australia terangkat sehingga mendorong gejolak air laut di atasnya. Gejolak air laut akan mengalir ke segala arah dalam bentuk gelombang yang merambat dengan kecepatan hingga 800 kilometer perjam. Air laut di daratan terdekat sempat surut karena tertarik energi gelombang yang terangkat di atas zona penunjaman. "Ketinggian gelombang saat masih di dekat epicenter (pusat gempa) hanya sekitar 1 hingga 1,3 meter," kata Fauzi. Namun, ketinggian gelombangnya akan semakin tinggi ketika mendekati pantai yang mendangkal. Sebagaimana dilaporkan masyarakat di lapangan, tinggi gelombang saat memecah bibir pantai mencapai 4 meter hingga 10 meter. Beruntung gempa tidak sebesar di Aceh dan pusat gempa tidak dekat daratan sehingga tidak terjadi tsunami hebat seperti di Aceh. Karena jaraknya cukup jauh energi yang dibawa gelombang juga meredam. Namun, begitu memecah bibir pantai, air laut masih menyisakan energi untuk menyapu daratan hingga sejauh 100 hingga 200 meter. Karena pantai lebih rendah daripada daratan, air laut akan kembali dengan arus balik yang kecepatannya mungkin lebih tinggi daripada saat masuk ke darat. Arus balik setelah tsunami inilah yang bisa menjadi penyebab terseretnya korban manusia maupun benda-benda di dekat pantai ke laut. Simulasi terjadinya tsunami di pantai selatan Pulau Jawa yang dilakukan Tsunami Research Group Institut Teknologi Bandung (ITB) menunjukkan bahwa gelombang telah mencapai daratan sekitar 15 menit sejak terjadinya gempa. --------------------------------------------------------------------- ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru ----- Call For Papers until 26 May 2006 ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- --------------------------------------------------------------------- ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru ----- Call For Papers until 26 May 2006 ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi ---------------------------------------------------------------------

