On 7/20/06, M Fakhrur Razi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pak Kusuma,
kalo membaca beberapa paper dari Freund, sebenarnya dia sudah melakukan
research itu, jadi tidak hanya mengandalkan statistic data. sayangnya memang
kesimpulan ttg adanya hubungan antara EM signature dan gempa ini masih perlu
data yang lebih banyak dan mereka terkendala oleh sedikitnya sensor yang
mereka punyai diseluruh dunia.

regards,
Razi

Kalau mnurut Pak Djedi (dibawah ini) emang perjalanan masih jauh. Jadi
kalau menggunakan data EM sebagai warning saat ini aku pikir
"peringatan dini"nya masih teralu dini.

rdp
====================================
"Djedi S. Widarto" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pak Franc dan Pak Prajuto:
Fenomena EM untuk prediksi gempa (baca: 'scientific prediction', NOT
'practical prediction') sudah cukup lama dipelajari. Awalnya dimulai oleh
Prof. Varotsos dari Athens University sekitar 1980-an (20 tahun lalu),
dengan cara menanam electrode untuk mempelajari variasi beda potensial
geolistrik pada EQ prone area di Athens sana. Varotsos dkk mencoba berbagai
macam panjang bentangan electrode, mulai dari ratusan meter sampai ada
electrode yang 15 km-an. Atensi mereka terutama untuk mempelajari EM
anomalous signals yang terjadi di litosfer. Banyak paper mereka di
Tectonophysics, J. Geodynamics, GJI dll. Kegiatan riset ini lalu diikuti
oleh Jepang, Taiwan, Cina dan Rusia. Mereka tidak hanya mempelajari fenomena
EM di litosfer, tetapi juga di atmosfer dan ionosfer. Phill Holis-Watt
adalah salah satu amateur practitionist di Espereance Aussie yang getol
mempelajari fenomena EM di atmosfer melalui antenna-antena yang dia pasang
disana.
Sementara itu, dengan bantuan dana RIKEN Japan, saya memulainya dengan EM
monitoring di Liwa, Lampung sejak 1997 sampai saat ini. Banyak duka daripada
sukanya. Maklum, bangsa kita memang belum siap dengan kegiatan monitoring
spt itu. Kalau tidak battery pemasok listrik yang hilang (dicuri), ya solar
panel yang diembat. Bahkan, fluxgate magnetometer + main unit-nya dibabat
sampai habis, mengenaskan. Saat ini, kami hanya punya 1 unit saja (2 E + 3
H, 5-channel).
Frankly speaking, kami baru dapat sinyal-sinyal anomaly EM yang muncul
sesaat setelah EQ terjadi. Hanya ada 1 sinyal yang dapat di-indikasikan sbg
precursor, yakni beberapa jam menjelang gempa Bengkulu 2000 June lalu.
Lalu saya mencoba mempelajari anomalous sinyal di ionosfer dengan cara
menghitung variasi Total Electron Content dari GPS receiver. Banyak sekali
didapatkan anomalous sinyal berupa "penurunan nilai TEC" beberapa hari
(antara 2-6 hari) menjelang gempa-gempa besar bersekala M>6. Saya pelajari
hal ini di Taiwan selama 4 bulan, dengan data GPS dari Taiwan maupun dari
Sumatra. Sangat menarik, tapi tetap saja masih perlu perjalanan panjang
untuk dipakai sebagai "practical prediction". Saya telah presentasikan topic
ini pada GEOFORUM 5 minggu lalu di Bandung. Saya merencanakan akan
presentasikan kembali pada PIT HAGI mendatang di Semarang, sebagai upaya
untuk memperkenalkan bidang ini.
Salam,
Djedi
-------------

---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
----- Call For Papers until 26 May 2006 ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] ---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke