Saya kira, logika pak Koesoema tepat. Sekarang ini
limbah cair yang ada di sungai Porong itu unsur logam
sangat tinggi dari Limbah Industri. Nah, lumpur porong
itu alamiah yaa.. dikembalikan ke alam saja, walau
ditumpukkan di selat madura. Masalahnya tidak sekedar
LSM, pemukiman padat, nelaya udang di delta Porong;
tapi kelihatannya ada tarik ulur "POLITIK" diantara
pejabat-pejabat yang akan memutuskan solusi terbaik
atau "terburuk" jika semburan lumpur melebihi skenario
yang sedang dikerjakan oleh kawan-kawan dari Tim
Penanggulangan Lumpur di lapangan.
Mohon maaf kawan-kawan IAGI-net, saya tidak mampu
membuka cerita ini di millist.

Karena water treatment itu untuk kepentingan mengolah
limbah cair produk industri, nah ini lumpur keluar
dari bumi dengan sangat cepat. Apa mungkin teknologi
pengolahnya airnya itu menandingi kecepatan lumpur
keluar.
Lalu, bagaimana jika musim hujan tiba, maka : lumpur,
pasir-batu (yang ada di tanggul penahan, juga air
hujan, melebihi kapasitas tanggul penahan pada semua
sektor, maka betul-betul akan terjadi MUSIBAH BANJIR
LUMPUR yang daya dorongnya lebih huebat, lebih kuat,
dengan debit yang deras, dan hi..membahayakan. Saya
kecemplung Lumpur tersebut saja (walau pakae sepatu
boot), tetap saya panas, itu di jalan tol (sampai 62
C)...
Tapi kita harus optimis...
Sekalipun merdeka, kita ini masih terus makan lumpur
dan minum air tsunami. Yak opo rek! Kita belum bisa
merdeka dari bencana yang bersumber dari bumi ini.
Atau kita ikhlaskan saja, ada KUALA LUMPUR di Jatim,
siapa tahu akan menjadi obyek geowisata yang uniq dan
memikat.
Muga-muga dapat terselesaikan dengan baik, sekalipun
ada pro dan kontra dalam penyelesaian tersebut.
Lepas dari semua itu, adalah meredam PANIK, dan
TRAUMATIK dari masyarakat Korban LUSI (lumpur
sidoarjo) tersebut. 
Saya hanya bisa membantu menjadi komunikator Tim
Psikologi UGM dengan masayarakat Korban LUSI untuk
menyembuhkan Trauma dan Panik-nya warga korban LUSI.
semoga bisa. yahcc...paling tidak saya sudah membuka
data-data geologi yang relevan, ambil sampel dan sudah
ada komunikasi dengan kawan-kawan di lapangan.

Salam dari Gudeg Gempa,
agus hendratno (geologi ugm)
(mantan Tim Independen untuk Investigasi Semburan LUSI
dan Penanggulangannya versi Dept.ESDM-BPMIGAS)

--- "R.P. Koesoemadinata" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

> Yang ada cuman ikan karena pada waktu itu masih laut
> ----- Original Message ----- 
> From: "oki musakti" <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[email protected]>
> Sent: Wednesday, August 16, 2006 8:49 PM
> Subject: Re: [iagi-net-l] Bila Lumpur di buang ke
> sungai / laut - was Re: 
> [iagi-net-l] BERIKUT ARTIKEL TENTANG KERUGIAN AKIBAT
> LUMPUR PANAS:
> 
> 
> > Pak Koesoema,
> > Masalahnya pada saat plestosen dulu di Sidoarjo
> belum ada penduduk, 
> > nelayan, penambak  dan LSM pak.....
> >
> >  Cheers
> >  Oki
> > "R.P. Koesoemadinata" <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
> >    Buang lumpur Sidoardjo saja khok repot2.
> > Kita mamfaatkan/aplikasikan pengetahuan Geologi
> Sejarah.
> > Van Bemmelen saja sudah tahu bahwa dulunya
> /Pleistocene Selat Madura masih
> > menjorok ke arah Bojonegoro. Sekarang kita yakini
> bahwa semburan lum
> >  pur itu
> > berasal dari lapisan Pleistocene berdasarkan
> fosil. Juga lingkungan
> > pengendapannya juga sama dengan Selat Madura
> sekarang. Jadi membuang 
> > lumpur
> > dari Selat Madura Purba ke Selat Madura Sekarang
> seharusnya tidak masalah,
> > lumpur dari Selat Madura (kuno) kembali ke Selat
> Madura, lingkungan
> > pengendapannya masih sama, bahkan lingkungan selat
> Madura sekarang yang
> > sudah tercemari limbah industri, sedangkan
> lingkungan selat Madura kuno
> > masih bebas limbah.
> > Kalau masih belum yakin ya cek paleoenvironment
> semburan lumpur dengan
> > environment Selat Madura sekarang dengan recent
> fossils-nya.
> > Khok repot2
> > RPK
> > ----- Original Message ----- 
> > From: "Rovicky Dwi Putrohari"
> > To:
> > Sent: Tuesday, August 15, 2006 10:50 PM
> > Subject: Re: [iagi-net-l] Bila Lumpur di buang ke
> sungai / laut - was Re:
> > [iagi-net-l] BERIKUT ARTIKEL TENTANG KERUGIAN
> AKIBAT LUMPUR PANAS:
> >
> >
> >> Kalau lumpur ini dibuang, lantas material apakah
> yg nantinya
> >> menggantikan volume yg dibuang ini ?
> >> Secara natural tentunya ada "supply - demand",
> kalau dibawah terambil
> >> harus ada yg menggantikan, lah kalau dibuang ke
> laut trus apakah
> >> membiarkan terbentuk cekungan karena nantinya
> terbentuk "crater"
> >> (collapse) ?
> >>
> >> rdp
> >>
> >> On 8/15/06, wahyu budi wrote:
> >>> Ya. Tulisan saya sebelumnya dibuat dengan asumsi
> >>> lumpur dibuang ke perairan Selat Madura. Di
> perairan
> >>> selat itu, berdasarkan pada kedalamannya, tidak
> akan
> >>> dijumpai termoklin.
> >>>
> >>> 1. lumpur bisa dipompakan ke laut dalam, sampai
> di
> >>> bawah zona termoklin. Tetapi itu berarti harus
> >>> membangun pipa ke Samudera Hindia di selatan
> yang
> >>> panjangnya mungkin mencapai 75 km.
> >>>
> >>> 2. bisa juga diangkut dengan tongkang lalu di
> lepas ke
> >>> laut lepas. Untuk ini juga hanya mungkin di
> lakukan di
> >>> Samudera Hindia. Ini juga berarti harus menarik
> sekian
> >>> ribu tongkang.
> >>>
> >>> 3. pengeringan juga bisa, tetapi volumenya yang
> sangat
> >>> besar juga perlu diperhitungkan.
> >>>
> >>> Dengan berbagai alternatif itu, selain masalah
> biaya
> >>> yang harus dikeluarkan, hal yang juga perlu
> diingat
> >>> adalah masalah waktu, yaitu bahwa:
> >>>
> >>> 1. kita belum tahu kapan semburan lumpur itu
> akan
> >>> berhenti. Sehingga kita juga belum tahu berapa
> banyak
> >>> lumpur yang akan kita buang dan berapa lama.
> >>>
> >>> 2. kita berpacu dengan kemungkinan datangnya hal
> hang
> >>> lebih buruk bila musim hujan tiba.
> >>>
> >>> Rasanya perlu juga dipikirkan bila ternyata
> semburan
> >>> lumpur itu "permanen".
> >>>
> >>> Salam,
> >>> WBS
> >>>
> >>>
> >>> --- Wayan Ismara Heru Young
> >>> wrote:
> >>>
> >>> > atau mungkin bisa di pompa ke laut dalam
> (seperti
> >>> > tailing tambang newmont nusa tenggara gitu)...
> >>> > tinggal hitung-2an saja, mana yang paling
> murah,
> >>> > paling kecil dampaknya, dan bisa dilakukan
> dengan
> >>> > mudah dan cepat (yang paling feasible)...
> >>> >
> >>> > Ariadi Subandrio wrote:
> >>> > Mas Budi,
> >>> > misalnya lumpur yang seabreg itu (yang water
> >>> > content-nya diatas 70%) itu dikeringkan,
> lantas sisa
> >>> > solid yang ada unload di laut yang lebih lepas
> jauh
> >>> > dari kawasan budidaya (tambak dsb) .....apa
> tidak
> >>> > memungkinkan?.... (anggap saja kayak bawa
> batubara
> >>> > dari Kaltim, tapi dilepas dilautan lepas, jauh
> dari
> >>> > batas thermoklin) ..... itu juga kalau mau
> dibuang,
> >>> > atau barangkali malah bisa dijual ke
> Singapore....
> >>> > jadi gak perlu ngeruk dari pasir Riau atau
> >>> > dimanfaatkan lebih serius lagi sebagai
> sumberdaya
> >>> > baru, misalnya jadi bahan batubata.
> >>> >
> >>> > kayak2nya dengan de-watering (pengeringan) -
> masak
> >>> > teknologi dan modal kuat gak mampu menangani
> sih-
> >>> > dan dilakukan simultan oleh beberapa tim
> permukaan,
> >>> > misalnya :
> >>> > 1. Tim-1 : menangani lumpur yang saat ini
> existing
> >>> > keluar, asumsi 50.000 M3 per hari.
> >>> > 2. Tim-2 : Menangani lumpur yang sudah
> terlanjur
> >>> > nyebar berjuta meter kubik itu, dikeringkan
> juga.
> >>> >
> >>> > Asalkan kita gak buru-buru bilang "susah",
> rasanya
> >>> > kok seberapa truk, berapa tongkang, berapa
> banyak
> >>> > "kompor" untuk nguapin air dari lumpur, dsb...
> pasti
> >>> > bisa dihitung.... dan jangan-jangan jauh lebih
> murah
> >>> > dari pembiayaan selama ini. Syaratnya satu :
> Asal
> >>> > mau, dan yang mau ya kudu kompak dari berbagai
> macam
> >>> > pihak, baik pemerintah, baik lapindo, baik
> >>> > masyarakat..... atau pilihannya adalah tiap
> hari
> >>> > kita saksikan kesedihan masyarakat sekitar
> yang
> >>> > semakin perih.
> >>> >
> >>> > Setelah beres urusan permukaan, putuskan
> >>> > penanganan dengan mengkaitkan fakta bawah
> >>> > permukaannya.
> >>> >
> >>> > salam,
> >>> > ar-
> >>> >
> >>>
> >>>
> >>> >
> >>> > wahyu budi wrote:
> 
=== message truncated ===


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
-----  Call For Papers until 26 May 2006             
-----  Submit to: [EMAIL PROTECTED]    
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke